Menjenguk Orang Sakit
Wanita Muslimah yang mendapatkan pancaran sinar ajaran agamanya tidak merasa berat dan kesal dalam mengunjungi orang sakit karena suasana kesedihan, kemurungan dan kebingungan. Tetapi dia akan merasa senang dan dengan jiwa yang lapang dalam menjenguk orang sakit. Hal itu hanya akan dilakukan oleh orang yang merenungi makna-makna yang terkandung dalam sebuah hadits Rasulullah yang menggambarkan keagungan kunjungan ini yang mengandung kebaikan, pahala dan keberkahan:
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala akan befirman pada hari Kiamat kelak, Wahai anak Adam, Aku sakit sedang engkau tidak menjenguk-Ku. Maka anak Adam menjawab, ‘Ya Allah, bagaimana aku akan menjenguk-Mu sedang Engkau adalah Rabb semesta alam?” Allah befirman, Tidakkah engkau tahu bahwa salah seorang hamba-Ku sakit sedang engkau tidak menjenguknya ? Tidakkah engkau menge-tahui bahwa seandainya engkau menjenguknya engkau akan mendapatkan-Ku berada di sisinya? Wahai anak Adam, Aku telah memberimu makan tetapi kamu tidak memberi-Ku makan ?’ Anak Adam menjawab, ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku akan memberi-Mu makan sedang Engkau adalah Rabb semesta alam?’ Allah befirman, Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya ada salah seorang hamba-Ku yang meminta makan kepadamu sedang kamu tidak memberinya makan ? Tidakkah kamu mengetahui seandainya kamu memberinya makan niscaya kamu akan
mendapatkannya berada di sisi-Ku? Wahai Anak Adam, ‘Aku telah memberimu, minum tetapi kamu tidak memberi minum kepada-Ku? Anak Adam menjawab, Wahai Rabbku, bagaimana mungkin aku akan memberi minum kepada-Mu sedang Engkau adalah Rabb semesta alam? Dia befirman, ‘Salah seorang hamba-Ku ada yang meminta minum kepadamu tetapi kamu tidak memberinya, tidakkah kamu mengetahui bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya kamu akan mendapatkannya berada di sisi-Ku’,” (HR. Muslim)
Begitu besar berkah ibadah menjenguk orang sakit, dan betapa agungnya kebiasaan berkunjung ini dan sesungguhnya itu merupakan perbuatan yang amat besar pahalanya. Ibadah tersebut dilakukan oleh wanita Muslimah terhadap saudara-saudara yang lain yang dalam keadaan sakit atau lemah, dan ternyata dengan demikian itu dia berada di sisiAllah Rabbul Izzati yang menyaksikan amal kebaikannya tersebut serta memberinya pahala yang sangat besar. Apakah ada perbuatan yang lebih besar, agung dan berbarakah dari ibadah menjenguk orang sakit yang langsung disaksikan dan diberkati oleh Allah Rabb langit dan bumi.
Begitu besar kesengsaraan dan kerugian yang akan diterima oleh wanita yang malas menjenguk orang sakit ini dan begitu berat siksaan dan laknat yang akan diterimanya dari Allah Raabul Izzati. Perhatikanlah firman- Nya berikut ini:
“Wahai anak Adam, Aku sakit sedang engkau tidak menjenguk- Ku. Maka anak Adam menjawab, ‘Ya Allah, bagaimana aku akanmenjenguk-Mu sedang Engkau adalah Rabb semesta alam?’ Allah befirman, Tidakkah engkau tahu bahwa salah seorang hamba-Ku sakit sedang engkau tidak menjenguknya ? Tidakkah engkau mengetahui bahwa seandainya engkau menjenguknya engkau akan mendapatkan- Ku berada di sisinya?”
Selanjutnya, biarkan orang-orang yang tidak mau menjenguk orang sakit itu membayangkan pahitnya penyesalan, kegagalan dan rasa malu yang mengusik jiwa orang-orang yang malas dan tidak mau menjenguk saudaranya yang sakit.
Sesungguhnya orang sakit di masyarakat Islam pada saat sedih dan sengsara akan merasa tidak sendirian, karena perasaan orang-orang yang menjenguk yang berada di sekelilingnya telah menghibur kesedihannya. Itulah puncak ketinggian kemanusiaan dan luhurnya rasa kemanusiaan. Dalam sejarah, tidak ada satu umat pun yang mengetahui keluhuran perasaan dan reaksi sosial ini seperti yang dikenal umat Islam.
Orang yang sakit di Barat mungkin akan dengan mudah mendapatkan rumah sakit yang mau menampungnya dan dokter yang setia dan berkenan mengobatinya, tetapi dia jarang mendapatkan sentuhan kasih sayang, kata-kata pengobat rasa sakit, senyuman yang menggembirakan, ucapan yang tulus serta perasaan jujur yang ikut merasakan rasa sakitnya.
Yang demikian itu karena filsafat materialisme yang menyelimuti kehidupan masyarakat Barat telah mematikan cahaya rasa kemanusiaan, mengganjal berkembangnya rasa persaudaraan, dan menutup manusia dari berbuat kebaikan melainkan berupa materi.
Masyarakat Barat tidak akan mendapatkan dorongan yang memotivasi mereka menjenguk orang sakit, kecuali jika akan mendatangkan keuntungan material baik pada saat itu maupun yang akan datang. Sedankan kita temukan orang Muslim menjenguk orang sakit karena didorong keinginan dan harapan akan mendapatkan pahala yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata’ala bagi mereka yang melakukannya.
Nash-nash yang membahas masalah itu sangat banyak, yang mengalirkan sumber-sumber rasa persaudaraan dan mendorong manusia untuk menjenguk orang yang sedang sakit dari perasaan yang paling dalam. Di antara nash-nash tersebut adalah sabda Rasulullah berikut ini:
“Sesungguhnya orang Muslim apabila menjenguk saudaranya maka dia masih tetap berada di taman buah surga sehingga dia pulang kembali.” (HR. Muslim)
Demikian juga dengan sabdanya,
“Tidaklah seorang Muslim menjenguk saudaranya yang Muslimpada pagi hari melain kan 70. 000 (tujuh puluh ribu) malaikat memohonkan ampunan baginya sampai datang sore hari. Dan, jika dia menjenguknya pada malam hari maka 70.000 (tujuh puluh ribu) malaikat akan memohonkan ampunan baginya sampai pagi hari tiba. Dan, dia mendapatkan buah-buahan di surga.”(HR. Tirmidzi)
Rasululah dengan pandangannya yang sangat tajam dan memahami jiwa manusia telah mengetahui bahwa menjenguk orang sakit itu memiliki pengaruh psikologis pada diri orang yang sakit dan juga keluarganya. Oleh karena itu, beliau senantiasa menjenguk orang sakit dan mendoakan dengan suara pelan dan ucapan ikut berduka, sampai jiwanya yang mulia itu terus membumbung hingga membawa langkahnya untuk mengunjungi seorang raja Yahudi yang pernah menjadi pembantunya, seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik Radhiallahu Anhu,
“Ada seorang pemuda Yahudi yang pernah menjadi pembantu Nabi jatuh sakit, lalu Nabi menjenguknya, kemudian beliau duduk didekat kepalanya, dan beliau pun bertutur, Masuklah agama Islam. Dan, Nabi mengarahkan pandangannya ke arah ayah pemuda itu yang ada di sisinya. Maka bapaknya itu berkata, “Turutilah Abu Qasim. Maka pemuda itupun masuk Islam. Selanjutnya Nabi keluar seraya berucap, Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)
Dalam menjenguk pemuda Yahudi yang sedang sakit itu Rasulullah tidak lupa untuk berdakwah, mengajaknya masuk Islam, karena beliau mengetahui pengaruh yang sangat besar dari besukannya itu terhadap jiwa pemuda itu dan juga bapaknya yang keduanya telah dibanjiri dengan kemuliaan, kebaikan, kelembutan dan keramahan Rasulullah. Dan, keduanya pun mau memenuhi seruan beliau. Dengan demikian, menjenguk orang sakit itu dapat mendatangkan hidayah. Sekembalinya beliau dari menjenguk si sakit itu beliau mengucapkan puji syukur kepada Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka. Begitu agung dan besarnya jiwa Rasulullah, seorang dai yang cerdas lagi bijak.
Di antara keseriusan dan perhatianterhadap besukan terhadap orang sakit itu adalah beliau telah meletakkan beberapa prinsip dan tata cara, yang senantiasa dipertahankan oleh para sahabat dan telah tertulis di dalam hadits.
Di antaranya adalah duduk di sisi kepala orang yang berbaring di atas tempat tidur, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah pada saat menjengukpemuda Yahudi, dan seperti yang diberitahukan oleh Ibnu Abbas memalui ceritanya:
“Bahwasanya Nabi menjenguk orang sakit duduk di sisi kepalanya, lalu mengucapkan tujuh kali bacaan berikut: Aku memohon kepada Allah yang Mahaagung, Tuhan Pemilik Arsy yang agung, semoga menyembuhkanmu. “(HR. Bukhari)
Tata cara menjenguk yang lain adalah mengelus badan orang yang sakit dengan tangan kanan serta mendoakannya, sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah Radhiallahu Anha, di mana dia mengatakan, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah menjenguk sebagian keluarganya, lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya seraya mengucapkan,
“Ya Allah, Rabb seluruh umat manusia, hilangkanlah penderitaan, sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau penyembuh penyakit, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit. ” (Muttafaq Alaih)
Dari lbnu Abbas Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi pernah masuk menemui seorang Badui dalam rangka men-jenguknya. Setiap kali beliau datang menjenguk orang sakit beliau mengucapkan,
“Tidak mengapa, semoga sakitmu akan mensucikan dosamu, jika Allah menghendaki.” (HR. Bukhari)
Wanita Muslimah yang perasaannya telah dipoles oleh Islam dan telah dibukakan dalam hatinya sumber-sumber kemanusiaan, akan bersegeramenjenguk orang sakit setiap kali mendengarnya, tidak mengulur-ulur dan tidak juga merasa keberatan, karena menjenguk orang sakit memiliki makna yang cukup mulia yang dirasakannya di kedalaman jiwanya. Hal itu telah dilukiskan oleh nash-nash shahih dari hadits Rasulullah h dan telah diterjemahkan oleh kaum wanita mulia pada awal lslam ke dalam tingkah laku dan praktek kemanusiaan yang sangat terpuji. Beliau tidak hanya menjenguk wanita yang sakit saja telah beliaujuga menjenguk orang laki-laki dalam batas-batas yang tidak menimbulkan fitnah.
Dalam buku Shahih Bukhari disebutkan bahwa Ummu Darda’ pernah menjenguk seorang laki-laki dari kalangan kaum Anshar yang aktif di masjid yang sedang sakit:
“Qutaibah telah bercerita kepada kami, dari Malik, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah Radhiyallahu Anha , dia menceritakan, ‘Ketika Rasulullah berkunjung ke Madinah, Abu Bakar dan Bilal jatuh sakit. Lanjut Aisyah, “Maka aku pun masuk menemui keduanya dan berkata, ‘Wahai ayahku, bagaimana rasa sakit yang engkau rasakan? Wahai Bilal, apayang kau rasakan?“(HR. Bukhari)
Wanita Muslimah pada awal Islam telah mengetahui makna yang terkandung pada perbuatan menjenguk orang sakit, yangjuga mengandung rasa persaudaraan, kecintaan, kasih sayang dan rasa saling memikul kesedihan bersama. Sehingga wanita Muslimah pada masa itu akan
segera melaksanakan kewajiban tersebut setiap mendengar saudara atau temannya yang sakit dalam rangka menghilangkan kesedihannya dan mengurangi penderitaannya serta membangkitkan rasa persaudaraan dan menumbuhkan rasa cinta kasih serta menghiburjiwa yang dilanda kesedihan. Hendaknya wanita Muslimah sekarang ini menghiasi dirinya dengan akhlak itu dalam rangka menghidupkan sunah Islam yang manusiawi dan terpuji
โ**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 440-445)
Demikian Semoga Bermanfaatโฆ
@Wallahu โalam bishowabโฆ
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qurโan dan Sunnah)












































































