Diantara Durhaka Kepada Orangtua
Wahai para anak…
Durhaka kepada orangtua itu memiliki banyak bentuk, akan kucukupkan dengan hanya menyebut 7 bentuk durhaka.
Mengutamakan istri daripada orangtua.
Kelakuan sebagian anak laki-laki yang lebih mengutamakan istrinya daripada orangtuanya.
Dia dahulukan ketaatan kepada istri dan kenyamanan istri daripada bapak dan ibunya. Bahkan terkadang anak laki-laki membuat marah orangtua dalam rangka menyenangkan istrinya. Kondisinya semakin jelek jika istrinya adalah orang yang jelek kepribadiannya. Dia membantu setan supaya suaminya durhaka kepada orangtuanya, dan dia sengaja melakukannya. Betapa banyak orang membicarakan adanya istri yang jelek, karena dia menjadi sebab anak laki-laki terpisah dari orangtuanya.
Dia sengaja, bahkan dia mengatakan „pilih aku atau ibumu‟. Akhirnya setelah menikah, tidak kenal lagi dengan orangtuanya.
Contoh : ada laki-laki pergi bersama istrinya bersafar, menempuh jalan yang jauh, menempuh berbagai gurun pasir, membersamai istri perjalanan jauh tanpa bosan, tanpa jenuh. Bahkan perjalanan tersebut penuh sukacita, gembira, bahagia (isinya bahagia, safar jauh bersama istri). Namun ketika anak laki-laki tersebut diminta orangtua untuk menemani safar bersama, dan rekreasi bersama orangtua, dia mengiyakan kemudian menarik kata-katanya, kemudian dia sampaikan permintaan maafnya. Hal yang lebih jelek manakala anak merasa berat di dalam hatinya ketika dimintai tolong orangtuanya.
Sikap yang benar adalah mengutamakan hak orangtua daripada istrinya. Hendaklah dia utamakan kedua orangtuanya daripadaistrinya. Dia tawarkan kepada orangtuanya dan berikan hal yang membuat bahagia orangtua tanpa mendzolimi hak istri. Hak istri dipenuhi kemudian senangkan orang tua.
Menyenangkan orang tua dengan mendzolimi hak istri, itu tidak bisa dilakukan kecuali jika anak laki-laki pegang uang sendiri. Sebagian suami saat ini, ketika ingin berbakti kepada bapak ibu harus ngemis sama istri, dan istri cuma memberi sangat sedikit. Penuhi hak istri, kemudian pegang sisanya, jadi ketika mau beli apa-apa untuk ibu-bapak, tidak masalah. Catatannya adalah jangan dzolim kepada hak istri. Ada sebagian anak laki-laki yang menafkahiorangtua, tapi nafkah istri kurang. Itu tidak benar. Yang benar, penuhi hak istri baru senangkan orangtua.
Dekat dengan orangtua adalah ibadah, dan jauh hatinya dari orangtuaadalah mendekatkan kepada murka Allah.
Berbakti kepada orangtua itu sebab penting berkahnya semua urusan anak, baik harta, badan atau jiwa. Betapa banyak rumah yang baik dan diberkahi disebabkan suami berbakti kepada orangtuanya. Betapa banyak rumah tercerai berai urusannya dan bercerai berai apa apa yang sudah dikumpulkan di dalamnya disebabkan durhaka.
Menampakkan muka masam ketika berjumpa orangtua.
Anehnya, seorang anak ketika bertemu dengan kawannya dia tunjukkan wajah yang ceria. Dia bahkan antusias untuk menjadi yang terdahulu dalam berwajah ceria kepada kawannya. Namun engkau saksikan bahwa wajah ceria tersebut menghilang ketika berjumpa dengan orangtua.
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda : “Andai engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah ceria, sungguh itu bagian dari kebaikan.” Dan Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan, “Senyummu kepadasaudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956)
Jika senyum kepada umumnya kaum muslimin adalah sedekah, maka senyum di hadapan orangtua, selain itu adalah sedekah adalah tanda bakti kepada orangtua, serta itu adalah perkara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Diantara hal yang kontradiktif, sebagian anak pura-pura dan menampakkan diri berwajah ceria untuk ditampakkan kepada orang lain, namun kamu melihat anak itu demikian berat untuk menampakkan dan pura-pura ceria kepada orangtua. Hal yang benar adalah, hendaknya dia kondisikan dirinya untuk membuat bahagia orangtuanya dengan berwajah ceria. Boleh jadi wajah yang ceria, sikap ceria, adalah salah satu hal yang memberi pengaruh yang luar biasa dalam jiwa orangtua.
Bersuara keras, membentak, atau memotong pembicaraan orangtua dengan mghardik keduanya dan memaksakan kehendak anak kepada orangtua.
Ini semua adalah bentuk kehinaan dan tidak mendapat taufik dari Allah. Ketika seseorang itu memiliki muru‟ah, maka muru‟ahseseorang akan menghalangi seseorang untuk bersuara keras kepada teman duduknya sendiri, lebih-lebih lagi memotong pembicaraan teman.
Tindakan tersebut adalah sautu hal yang dicela oleh orang yang berakal. Bagaimana lagi jika tindakan tersebut ditujukan kepadaorangtua. Tidak diragukan lagi itu adalah tindakan yang jelek karena dampak yang menimpa pelakunya adalah dosa.
Memelototi orangtua karena marah.
Hal tersebut dilakukan dengan menajamkan pandangan kepadakeduanya. Tindakan ini menunjukan marah besar, yang berkobarkobar dalam jiwa atau dada anak tersebut kepada orangtuanya. Betapa mengherankannya orang yang seperti ini kelakuannya. Apakah sudah tercabut belas kasihan dalam hatinya?
Mujahid rahimahullah berkata :
“Tidak berbakti anak yang melotot kepada orangtuanya, menajamkan kepadangan kepada orangtua nya.”
Ulama salaf yang lain mengatakan :
“Tidak selayaknya anak yang berbakti menangkis orangtuanya saat orangtuanya hendak memukulnya. “
Maha Suci Allah. Anak yang sudah tercabut penutup rasa malu dari wajahnya. Kemudian dia melempar hak orangtuanya ke samping, dia tidak peduli. Dia ganti sesuatu yang baik dengan sesuatu yang lebih rendah, dia tinggikan suaranya, dia tajamkan pandangannya.
Dikhawatirkan anak yang seperti ini akan disegerakan hukumannya di dunia sebelum hukuman yang tertunda di akhirat.
Menunda-nunda untuk memenuhi kebutuhan orangtua.
Hal yang keji adalah Anda lihat ada bapak atau ibu yang meminta kepada anaknya suatu kebutuhan, keduanya menugasi anaknya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kemudian si anak berkata nanti-nanti. Kemudian anak menyampaikan alasan-alasan tidak bisa. Kemudian, dia berputar-putar cari alasan, sampai keduanya bosan meminta tolong kepada anaknya.
Bahkan sebagian anak durhaka, tidak mencukupkan diri dengan tidak perhatian untuk mewujudkan hajat orangtuanya. Bahkan dia merasa berat ketika orangtua menugasi dengan hal itu, terutama jika orangtua punya anak yang lain. Anda melihat anak tersebut bosan dengan permintaan orangtuanya yang hanya memerintahkan dia tanpa saudara yang lain. Bahkan dia mencela orangtuanya, dalam masalah itu sambil mengatakan,
“Kenapa tidak meminta bantuan saudaraku fulan.”
“Kenapa yang pergi sebagai ganti diriku bukan saudaraku fulan.”
“Kenapa harus aku yang datang dan pergi tanpa saudarasaudaraku yang lain.”
Itulah kalimat-kalimat yang akan ditolak oleh orang yangmemiliki agama yang baik. Juga orang yang punya muru‟ah yang baik tidak akan mengatakan demikian kepada orangtuanya. Karena dengan kalimat ini dia tecegah dari kebaikan yang banyak dan dia datangkan kepada dirinya dosa yang besar.
Sikap yang benar adalah, anak merasa gembira saat diminta tolong orangtuanya, bahkan yang lebih ideal adalah menawarkan dirinya, menawarkan hartanya. Menawarkan dirinya untuk memberikan pelayanan kepada keduanya dan memperhatikan urusannya keduanya. Ini hal yang lebih baik dan lebih besar pahalanya.
Sengaja tidak mengangkat telepon.
Salah satu orangtua memanggil, atau menghubungi lewat telepon, lantas sengaja tidak mengangkat telepon keduanya adalah bentuk durhaka.
Ini perbuatan yang aib dan jelek seandainya yang memanggil adalah orang lain, bagaimana jika yang memanggil adalah orangtua.
Bahkan sebagian ulama fikih jika anak sedang sholat sunnah, kemudian dipanggil salah satu orangtuanya, maka dia jawab dalam rangka menghormati kedudukan orangtua tanpa membatalkan sholat.
Dalilnya, kisah Juraij yang ada dalam shohih muslim. Dan pendapat ini terlarang menurut ulama yang lain, namun hal ini menujukan agungnya kedudukan orangtua.
Mencaci orangtua.
Dengan cara anak itu mencela orangtua orang lain. Kemudian orang lain membalas dengan mencaci orangtuanya. Ini termasuk dosa besar.Termasuk durhaka, karena anak yang mencaci telah menjadi, sebab orangtuanya dicaci maki.
Dari „Abdullah bin „Amr bin Al-„Ash radhiyallahu „anhumacbahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
“Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya. Dia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.” (Muttafaqun „alaih) [HR. Bukhari, no. 5973 dan Muslim, no. 90]40
Termasuk dosa besar yang paling besar, yaitu si A mencaci bapak si B, kemudian gara-gara si A, si B ganti mencaci bapak si A. Si A dapat dosa durhaka. Bagaimanakah lagi dosanya jika si A ini mencaci langsung orangtuanya.
Hal ini tidak bisa dibayangkan di zaman Nabi صلى الله عليه وسلمsehingga sahabat bertanya
“Adakah anak mencaci bapaknya?” tidak bisa dibayangkan. Yang ini sudah tidak bisa dibayangkan di zaman ini saking banyaknya kejadian ini. Ada anak yang orangtuanya tidak mau membelikan Hp, langsung dicaci orangtuanya. Padahal Hp bukan nafkah wajib yang harus dipenuhi kepada anak. Wajib diingat! tidak termasuk nafkah wajib bagi anak membelikan hp, motor, leptop dll untuk anak.
Kenapa ada sebagian anak yang mencaci orangtuanya saat minta hp kepada orangtuanya, tapi tidak dibelikan? Karena dia merasa hp adalah nafkah wajib, padahal bukan. Diantara hal yang penting ditanamkan kepada anak, apa itu nafkah wajib ayah kepada anaknya. Itu yang jadi hak, lebih dari hal itu, itu murni kebaikan. Jika ada orangtua membelikan hp, itu kebaikan bukan hak anak. Kalau dia menyadari ayahnya tidak punya kewajiban membelikan hp, pulsa, motor dll. Itu murni kebaikan. Ingat, ketika barang tersebut diberikan kepada anak, belum tentu menjadi hak anak, bisa jadi statusnya adalah dipinjamkan.
Menyebutkan bentuk kedurhakaan anak satu persatu panjang sekali. Bentuk durhaka itu beragam, bisa jadi dengan perkataan, dengan perbuatan, dan kadang yang lain, berupa ucapan dan perbuatan sekaligus.
Kesimpulannya atau kaidahnya yaitu, semua bentuk durhaka kepadaorangtua, parameternya adalah : semua ucapan atau tindakan ataupun sikap yang menyebabkan tersakitinya hati orangtua dan membuat sedih orangtua padahal permintaan orangtua bukanlah maksiat kepada Allah. Itulah durhaka. Dosanya berbeda-beda tergantung bentuk menyakitinya.
*************
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad As-Sadhan hafizhahullahu
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah









































































