Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah bersama para sahabat jalan-jalan di pasar, Hingga mereka melewati suatu gundukan makanan, kemudian Rasulullah memasukkan tangannya kedalam gundukan makanan tersebut, didapatinya makanan yang didalam basah, lalu Rasulullah bertanya pada si pedagang. “Wahai fulan apa ini?” la berkata, “yang bugian itu terkena air hujan wahai Nabi.”Beliau bersabda, “Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas, agar orang yang akan membeli dapat manelihatnya? Barangsiapa yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan bagian dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Cerita diatas merupakan sababul wurud dari hadits “Man Ghasyana Falaisa Minna”, kalimat singkat yang sarat akan kaedah bermuamalah kepada sesama.
Rasululiah memang senang dan sering mengingatkan umatnya dengan kalimatnya yang lugas dan mudah dipahami. Sebagaimana hadits ini, beliau mengingatkan kita agar senantiasa was-was dan menjauhi sifat curang dalam bentuk apapun, karena Nabi mengancam, “Barangsiapa yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.
Ghisy atau curang maknanya adalah menutupi keburukan agar terlihat indah dan baik dimata orang lain, atau lebih mudahnya menghalalkan suatu cara untuk keuntugan duniawi, bahkan ada yang meniatkannya untuk memperoleh keuntungan ukhrawi, dengan mengakal-akali syariat atau membuat syariat baru yang diyakini akan mendatangkan pahala sedemikian rupa padahal Rasulullah tidak sekalipun memberikan contoh sebelumnya. Sebagaimana yang dilakukan para rahib dan pendeta orang-orang yahudi, mereka menutupi kebenaran kepada pengikutnya dan mengajarkan kebatilan kepada mereka.
Dewasa ini sering dan hampir disetiap tempat bisa kita dapati praktek Curang. Dalam jual beli, dalam sekolahan, dalam kepemimpinan dan ada saja peluang curang dalam setiap amalan. Dalam jual beli misalnya, seorang penjual buah menutup- nutupi bagian busuk dan memperlihatkan bagian buah yang masih segar agar para pembeli terkecoh dan mau membeli buahnya. Ada juga yang mengurangi takaran dengan memanipulasi timbangan agar yang didapat pembeli sedikit dan keuntungan semakin membukit.
Kemudian curang dalam kepemimpinan, dalam prakteknya masih banyak sekali para pemimpin yang curang dan lalim. Akibatnya para bawahan dan ajudan pun ikut menyuburkan praktek terlarang ini. Seorang jaksa berlaku semena-mena kepada terdakwa dan para hakim tidak adil dalam menjatuhkan keputusan.
Kepemimpinan bukan hanya sebatas pemimpin negara, sampai ayah sebagai pemimpin ruman tangga, ibu sebagai pimpinan bagi anak-anaknya, guru dan pengajar sebagal pimpinan dalam lembaga sekolahan dan pak RT sebagai pimpinan dalam masyarakatnya. Padahal Rasulullah mengancam bagi pemimpin yang curang dalam sabdanya, “Barangsiapa yang diberikan Allah kepemimpinan lalu mati dalam keadaan (menipu) curang kepada rakyatnya, maka Allah mengharamkan Surga atasnya.”(Muttafaq ‘alaih)
Ketika seseorang berlaku curang setidaknya ada dua akibat yang dia dapat. Dia akan bermusuhan dengan orang-orang yang ia tipu karena sudah menzalimi dengan mengambil hak mereka dengan tidak benar dan yang lebih parah adalah dia mencacati keimanan dan bukan termasuk golongan Orang-orang yang beriman sebagaimana yang disabdakan Nabi pada hadits diatas.
Demi keuntungan yang tidak seberapa masih banyak kaum mukminin yang terlena, dengan melakukan praktek ghisy ini, selain Instan mendatangkan hasil yang lebih juga tidak terlalu repot dibandingkan harus berlaku adil dan jujur.
Padahal apabila la mencermati perkataan salah seorang ulama ia akan menyesal berbuat sedemikian rupa. Abi al- Atahiyah berkata,
“ada hidup kecuali dengan agama dan tidak ada agama kecuali dengan perilaku yang mulia. Sesungguhnya berbuat jahat dan menipu itu tempatnya di neraka, keduanya adalah perbuatan orang-orang munafik.”
Oleh karena itu, hedaknya kita sebagai hamba yang beriman yang selalu berdoa agar dihindarkan dani nifak dan kekafiran untuk selalu memohon kepada Allah agar menghindarkan kita dari perbuatan Ghisy ini. Kita selalu waspada dan merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi kita, karena sekat antara jujur dan dusta adalah Muraqabah, bisa saja kita curang dalam jual-beli, perkataan dan perbuatan, tapi Allah maha melihat, Allah maha menghisab dan Allah maha adil lagi maha bijkasana dalam membuat keputusan. Dan tidak ada satupun amalan yang disembunyikan oleh seorangg hamba yang luput dari pengawasan-Nya.
Mari kita menjadi pribadi bertaqwa seutuhnya dengan memperhatikan kehalalan agar tidak terjerumus kepada yang haram. Sebagaimana perkataan yang diriwayatkan oleh lbnu Abi Dunya tentang orang bertaqwa, “Kalian berhati-hati dengan perkara halal karena takut terjerumus kepada yang haram, itulah yang Allah namakan orang-orang bertaqwa.”
Karena pribadi gemilang tak kenal Curang. pribadi bertaqwa selalu bertindak dan berkata apa adanya.
*************
Sumber: Majalah ar-risalah, edisi no.08, februari 2017
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah










































































