Kita sering menyaksikan seseorang yang gagah, intelek, dan mengagumkan. Saat ia bicara, maka bicaranya terasa meyakinkan. Kita dibuat takjub kala menyaksikannya. Lalu tanpa sadar, kita mengikuti dan mengamini apa-apa yang dikatakannya. Padahal, apa yang dikatakannya itu tidak punya dasar atau dalilnya lemah.
Tentu hal itu jika kita memikirkan perkataan dan pendapatnya itu secara benar dan mendalam. Kalau kita males berpikir maka kita akan mudah tersirap dengan gaya bicaranya, bisa-bisa kita pun mengiyakan saja tanpa berpikir.
Allah menyebut pendapat orang munafik bagaikan kayu yang disandarkan ke tembok (QS al-Munafiqun: 4). Sepertinya kayu itu kokoh, tapi sebenarnya tidak. Ia tidak berguna dan mudah sekali rusak. Di antara perumpamaan tentang lemahnya suatu pendapat, mengapa Allah memilih perumpamaan kayu yang tersandar? Mengapa tidak lemah seperti orang tua, atau lemah seperti sarang laba-laba, dan sebagainya? Ya tentu karena banyak sekali pelajaran dan hikmah di dalamnya.
Dalam catatan kaki yang disebutkan dalam Al-Quran terjemahan Depag disebutkan bahwa mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar maksudnya adalah untuk menyatakan sifat mereka yang jelek meskipun tubuh mereka bagus dan mereka pandai berbicara. Tetapi sebenarnya otak mereka kosong tidak dapat memahami kebenaran. Imam Zamakhzari menyebutkan ada empat hikmah perumpamaan kayu tersandar tersebut.
Pertama, kayu yang tersandar di tembok karena tidak bermanfaat. Kalau bermanfaat, kayu tersebut tidak disandarkan ke tembok. Tapi sudah jadi atap, lemari, daun pintu, meja, kursi dan sebagainya. Itu menunjukkan pendapat yang dikatakan tidak membawa manfaat sama sekali meskipun kelihatannya meyakinkan. Kedua, kayu tersandar karena tidak lagi berfungsi. Mungkin dulu dia merupakan kayu yang bermanfaat, tapi sekarang -faktanya, ia cuma disandarkan saja di tembok. Orang munafik bisa jadi dulunya baik dan selalu membawa manfaat. Tapi karena satu dan lain hal ia menjadi munafik dan merusak masyarakat.
Ketiga, Allah menyebut neraka berbahan bakar kayu dan batu. Berarti ini pertanda bahwa nanti kayu yang tak bermanfaat ini akan hangus terbakar. Demikian pula orang munafik. Justru pendapatnya yang lemah itu yang akan mencelakakan dirinya, seperti nanti akan diambil contoh kalimat mereka. Keempat, filosofi kayu tersandar berarti pada satu ujung berada di tembok dan ujung lain berada di tanah. Ini menujukkan bahwa orang munafik “main di dua kaki”, plin-plan, ke kiri dan ke kanan tak jelas pendapatnya. Mereka cari aman. Ketika ketemu orang Islam mereka bilang mereka Islam, begitu kembali ke komunitasnya mereka bilang tetap kafir. Kata-katanya tidak dapat dipegang.
Dari segi kekuatan dalil sesungguhnya mereka sangat lemah. Kayu yang disandarkan ke tembok akan mudah jatuh dan patah. Kalau dihantam dari depan bisa patah jadi dua karena tidak ada penyangganya. Kalau dihantam dari samping niscaya jatuh. Intinya, kayu yang bersandar tidak kuat. Dan bila dijadikan perumpamaan atas suatu argumen, berarti argumen itu juga lemah.
Di media sosial beredar perkataan orang terkenal. Ia adalah pemuka kaum liberal. Sudah pasti dia mendukung apabila ada perbuatan yang diharamkan seperti aktivitas L G B T (L esbian, G ay, B iseksual dan T ransgender). Salah satu ciutannya di media sosial adalah, “Kalian yang benci L G B T, setidaknya mesti ingat: komputer yang kalian pakai adalah hasil temuan Alan Turing, seorang gay dari Inggris.” Kontan mendapat reaksi dari netizen yang lain, yang intinya pendapat tersebut absurd dan argumennya tidak nyambung.
Bagi orang awam, apalagi jika sudah nge-fans berat sama tokoh tersebut, mungkin bisa jadi dibenarkan. Karena yang menemukan komputer itu gay, ya jangan pakai komputer kalau anti L G B T. Kalau mau pakai komputer ya dukunglah L G B T. Begitu kira-kira argumen konyolnya. Sebelum menilai logika tersebut, mari kita lihat dulu kebenarannya. Dengan mencuatnya pendapat tersebut banyak yang protes karena penemu komputer sebenarnya bukan Alan Turing, tapi Charles Babbage (1791-1871) yang hidup jauh sebelum Turing (1912-1954). Dunia IT mengenal Babbage sebagai “The Father of Computing”. Dari ini saja, untuk apa diteruskan berdebat.
Kalaupun logika seperti itu mau diikuti boleh saja. Kita katakan kepada mereka, “Kalian yang dukung L B G T, setidaknya mesti ingat: udara yang kalian hirup adalah ciptaan Allah, Dzat yang melarang L G B T.” Selesai.
Kalau mau diikuti lagi, proses penciptaan suatu teknologi tidak sekaligus jadi seperti apa yang ada di tangan kita. Semua itu berkat kerja keras banyak orang. Newton bahkan mengatakan, “If I have seen further, it is by standing on the shoulders of giants. Jika saya bisa melihat jauh ke depan, itu karena saya berdiri di bahu raksasa.” Maksudnya adalah, ia bisa menjadi ilmuwan besar dengan pandangan yang luas karena atas jasa para ilmuwan pendahulunya yang meletakkan dasar-dasar ilmu tersebut.
Demikian pula dengan penemuan komputer yang sekarang tidak asing lagi dipakai setiap orang. Komputer itu tidak tercipta begitu saja. Banyak ahli-ahli sebelumnya yang merintis membuat komputer termasuk sistem bilangan biner (0 dan 1) yang menjadi dasar ilmu komputer. Dan bilangan 0 (yang dahulu di Barat tidak dikenal karena menggunakan bilangan Romawi) ada karena jasa ilmuwan muslim bernama al-Khawarizmi pada abad pertengahan.
Namun argumen bapak tadi yang sebenarnya lemah seperti lemahnya kayu tersandar, justru dipakai para pengikutnya untuk merendahkan penentang kaum L G B T karean dianggap tidak mengerti sejarah. Apabila kita gunakan akal sehat, sejenak saja, tidak perlu berat-berat, justru pernyataan mereka itu lemah tak berdasar. Ini sekaligus nasihat buat mereka agar berhati-hati berkomentar di media sosial.
Makanya, biasakan berpikir sebelum berkata (menulis). Think before speak! Think before write! Apalagi di media sosial, rekam jejaknya sungguh “menyakitkan”.
************
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Penulis: Dr. Budi Handrianto
(Sekprodi S3 Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor dan Peneliti Senior INSISTS)
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































