Dari dalam penjara, Thiago mendiktekan surat ini kepada pengacaranya:
“Teresa tersayang, Maafkan aku karena tidak berada di rumah bersamamu saat ini.
Sayangnya, ayahmu, ibumu, dan begitu banyak orang di seluruh dunia memahami tugas bersejarah yang harus kita penuhi.
Saat ini lebih dari satu juta anak menderita genosida, kelaparan hingga mati, diamputasi tanpa anestesi, dan menderita ide-ide mengerikan dan penuh kebencian, meskipun tidak mengetahui apa itu Zionisme dan Imperialisme.
Aku yakin kau sangat merindukanku dan semua ibu dan ayah anak-anak Palestina juga sangat merindukan mereka dan akan memberikan apa pun untuk menjalani kehidupan yang penuh cinta, kebahagiaan, dan sukacita yang pantas diterima setiap manusia, terlepas dari ras, agama, etnis, atau karakteristik lainnya.
Duniamu akan lebih aman karena banyak orang tua memutuskan untuk memberikan segalanya untuk membangun dunia yang lebih baik ini untukmu.
Kuharap suatu hari nanti kau mengerti bahwa karena aku sangat mencintaimu, tidak ada yang lebih berbahaya bagimu dan anak-anak lain selain hidup di dunia yang menerima genosida.
Harap ingat ayahmu sebagai orang yang akan bernyanyi untukmu dan memainkan gitar agar kamu tertidur.
Dan ketika kamu dewasa, ibumu juga akan memberitahumu bahwa ayahmu adalah seorang revolusioner dan bahwa bahkan ketika menghadapi orang-orang paling mengerikan yang masih hidup – Donald Trump, Benjamin Netanyahu, dan Itamar Ben-Gvir – ia tetap teguh pada keyakinannya untuk membangun dunia yang lebih baik.
Tolong jangan lupakan Palestina!
Dengan semua cintaku…
************

Dua aktivis dari armada bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza, Saif Abu Keshek dan Thiago Avila asal Brasil masih ditahan dan diculik oleh otoritas Israel.
Mereka bukan Islam, tapi rela mati untuk perjuangan.
Gimana kita yang ngaku muslim dan beriman?
Iman… seharusnya membuat kita lebih peka bukan justru membuat kita terbiasa menutup mata.
Benar, yang dibantai di Palestina hari ini bukan hanya muslim.
Tapi bagi kalian yang mengaku muslim, apakah benar-benar tidak ada sedikit pun rasa peduli?
Bukan soal siapa agamanya, tapi soal kemanusiaan yang sedang diinjak-injak.
Dan bagi yang beriman, bukankah kepedulian itu seharusnya jadi hal paling dasar?
Jangan sampai yang jauh justru lebih tergerak,
sementara kita yang merasa “satu saudara” malah memilih diam.
Bangkitlah, jangan diam. Kita sedang mempertaruhkan iman dan aqidah kita sekarang!!
Sejarah pasti akan mencatat, namun catatan Allah jauh lebih lengkap atas sikap abai dan tak peduli kita.
















































































