MUJAHIDDAKWAH.COM,ย GAZA – Sistem kesehatan di Jalur Gaza berada di ambang kehancuran total, dengan tenaga medis terpaksa mengandalkan metode improvisasi untuk menyelamatkan nyawa pasien.
Direktur bantuan medis Gaza selatan, Bassam Zaqout, menyebut sistem kesehatan kini hanya berfungsi secara minimal, tanpa dukungan peralatan diagnostik yang memadai.
Ketiadaan alat penting seperti elektrokardiogram, tes hormon, dan deteksi kanker membuat diagnosis menjadi hampir mustahil. Selain itu, krisis obat-obatan, termasuk untuk penyakit kronis dan kanker, semakin memperburuk keadaan.
Kondisi lingkungan yang memburuk, kekurangan air bersih, penumpukan sampah, dan kepadatan pengungsi memicu risiko wabah penyakit yang sulit dikendalikan.
Lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan dilaporkan hancur sejak awal perang, dengan kerugian mencapai 1,4 miliar dolar AS.
Para dokter kini menghadapi dilema moral setiap hari, mencoba menyelamatkan pasien dengan sumber daya yang nyaris tidak ada.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, dua warga Palestina tewas dan empat lainnya terluka akibat serangan Israel yang terus berlanjut.
Dalam laporan hariannya, kementerian menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata Oktober 2025, jumlah korban tewas telah mencapai 786 orang, dengan 2.217 korban luka.
Sementara itu, sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa telah meningkat menjadi 72.562 orang, dan korban luka mencapai 172.320.
Tragedi ini semakin diperparah oleh fakta bahwa banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan, tanpa akses bantuan medis akibat keterbatasan sumber daya dan kondisi keamanan yang memburuk.
Sumber: Palinfo
















































































