Rabu malam (1/1/25), saya berkesempatan mengisi sebuah diskusi literasi yang hangat dan penuh semangat. Singkatnya pertemuan itu mengambil kesimpulan bahwa untuk bisa menulis kita harus punya pemikiran. Berpikirlah untuk menulis. Kemudian jangan ragu, jangan takut untuk mulai menulis.
Berbagai pertanyaan menarik dilontarkan oleh teman-teman. Tentu semua itu menggugah saya untuk berbagi tentang dunia tulis-menulis, dunia yang begitu saya cintai.
Ada beberapa pertanyaan yang masuk dan rasanya perlu saya bagikan kembali di sini agar tak menguap. Karena kata orang Yunani “verba volant scripta manent” (ungkapan akan hilang tulisan akan abadi). Tentu saja kali ini lebih bersifat teknis daripada filosofis.
Langkah Bisa Menulis
Fauzan dari UIN Imam Bonjol Padang mengawali dengan pertanyaan fundamental, “Bagaimanakah langkah-langkah bisa menulis? Bagaimana trik awal untuk menulis?”
Pertanyaan ini seperti membuka gerbang menuju petualangan literasi. Jawaban saya sederhana: mulailah. Ya, langkah pertama dan trik paling ampuh adalah dengan memulai.
Secara mendasar, orang bisa menulis kalau dia punya ide, gagasan atau pemikiran. Akar dari itu semua adalah membaca. Jadi, langkah bisa menulis yang paling awal adalah membaca dan memiliki ide, gagasan atau pemikiran.
Setelah itu, jangan takut salah, jangan takut jelek. Tuliskan saja apa yang ada di pikiranmu, apa yang ingin kamu sampaikan.
Seperti bayi yang belajar berjalan, kita pun perlu terjatuh, merangkak, sebelum akhirnya bisa berlari kencang.
Mulailah dengan menulis jurnal harian, catatan sederhana, atau bahkan caption media sosial yang lebih bermakna.
Setiap kata yang tertuang adalah langkah awal menuju tulisan yang lebih baik. Praktik yang konsisten, walau hanya 10-15 menit per hari, akan mengasah kemampuan kita.
Adakah Syarat Minimal Membaca?
Faisal dari Universitas Muhammadiyah Jakarta kemudian bertanya, “Adakah syarat minimal sebelum membuat tulisan?”
Pertanyaan ini menggelitik. Syarat minimal? Menurut saya, syarat minimalnya adalah kemauan dan keberanian. Tapi dalam forum itu saya katakan syarat minimal ya punya tradisi membaca yang melahirkan ide.
Selanjutnya tentu saja harus ada kemauan untuk menuangkan ide. Baru kemudian keberanian untuk menghadapi kritik, termasuk kritik dari diri sendiri. Tidak perlu menunggu sempurna, tulislah dengan apa yang kamu punya saat ini.
Pengetahuan akan bertambah, kosakata akan berkembang, seiring dengan jam terbang menulismu. Yang terpenting adalah jujur pada diri sendiri, tulislah apa yang benar-benar ingin kamu sampaikan, dengan suaramu sendiri.
Keresahan
Basuki Raharjo kemudian menimpali, “Literasi cenderung membaca buku, tapi tidak bisa memproduk buku, jadi perlu belajar menulis. Cara membuat tulisan, etika, gaya, strategi?”
Ini adalah keresahan yang jamak terjadi. Membaca adalah jendela dunia, tapi menulis adalah pintu untuk membagikan duniamu.
Bagaimana caranya? Mulailah dengan menentukan apa yang ingin kita tulis. Apakah cerpen, puisi, artikel, atau esai? Setelah itu, pelajari struktur dan etika penulisannya.
Misalnya, dalam menulis berita, kita mengenal konsep piramida terbalik. Dalam menulis esai, kita perlu argumen yang kuat dan logis.
Soal gaya, temukanlah style yang paling nyaman untuk masing-masing kita. Jangan takut untuk bereksperimen, tapi jangan lupakan kaidah bahasa yang baik dan benar.
Strategi? Buat outline atau kerangka tulisan, tetapkan target harian, dan carilah support system, seperti komunitas menulis atau mentor, untuk saling menyemangati dan memberikan masukan. Puncaknya mulailah membangun budaya membaca yang melahirkan ide.
***********
Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Kepala Humas BMH Pusat, Eks Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)















































































