Ketauldanan ketiga dari kisah Ibrahim AS adalah ketauladan dalam kepemimpinan.
Keberhasilan Ibrahim melalui berbagai ujian itu menjadikannya matang dalam menjalani kehidupan ini. Dengan kamatangan hidup itulah Allah mengangkat Ibrahim menjadi pemimpin bagi manusia (اماما للناس)
Kepemimpinan adalah pilar kehidupan. Karenanya semua manusia pada dasarnya adalah pemimpin dalam hidupnya. Rasulullah SAW menggambarkan hidup itu seolah gembalaan yang harus dijaga, tapi sekaligus dipertanggung jawaban.
كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته
“Setiap kalian adalah gembala dan semuanya akan diminta pertanggung jawaban dari gembalaannya”.
Ibrahim AS diangkat menjadi pemimpin bukan dengan tiba-tiba dan serta merta. Tapi melalui proses panjang dengan berbagai penempaan. Al-Quran menyampaikan:
واذابتلي ابراهيم ربه بكلمات فأتمها قال اني جاعلك للناس اماما قال و من ذريتي قال لاينال عهدي الظالمين.
“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah), lalu dia menyempurnakan. Dia (Allah) berfirman: sesungguhnya Aku menjadikan kamu seorang pemimpin. Ibrahim berkata: dan juga dari kalangan anak keturunanku. Dia (Allah) menjawab: sesungguhnya keputusan Aku tidak akan diperoleh mereka yang zholim”.
Setelah mencapai kematangan jiwa dan pengalaman hidup yang solid, Ibrahim AS memang berdoa untuk dijadikan pemimpin. Tapi Ibrahim meminta kepemimpinan yang berasas ketakwaan. Kepemimpinan yang membawa umatnya kepada ketaatan dan kesalehan individu dan kolektif.
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين اماما.
“Wahai Tuhanku karuniakan kepada kami pasangan-pasangan dan anak keturunan yang menyejukkan hati. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”.
Karakteristik kepemimpinan Ibrahim
Secara mendasar, kepemimpinan Ibrahim AS memiliki tiga karakteristik dasar, seperti yang digambarkan dalam Al-Quranul Karim:
وجعلنا منهم اءمةيهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآياتنا يوقنون
“dan Kami jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang berpetunjuk dengan urusan Kami, memilki kesabaran, dan mereka dengan ayat-ayat Kami yakin”.
يهدون بأمرنا berarti mereka berpegang teguh dengan nilai-nilai kebenaran. Perpegang teguh juga berarti memiliki kapasitan keilmuan dan pemahaman dengan masalah-masalah (understanding the issues) yang dihadapi oleh kepemimpinannya. Dalam bahasa politik inilah yang disebut dengan “kapasitas” dan “kapabilitas”.
لما صبروا berarti memiliki mentalitas baja dalam menghadapi berbagai ringangan kepemimpinan. Rintangan yang kita maksud bukan saja kesulitan-kesulitan (challenges) yang ada. Tapi yang lebih penting untuk dihadapi dengan kesabaran ini adalah godaan-godaan (temptations) kekuasaan. Sabar dengan kesulitan itu wajar dan lebih ringan. Tapi sabar menghadapi godaan itu jauh lebih berat dan kadang terlihat aneh.
وكانوا بآياتنا يوقنون berarti yakin dan meyakinkan. Saya ingin mengatakan bahwa kepemimpinan Ibrahim itu dibangun di atas optimisme yang kuat. Tapi juga sekaligus memberikan optimisme yang tinggi. Optimisme dan harapan, bukan sekedar janji-janji yang seringkali gagal terpenuhi.
Ibrahim dan karakter demokratis
Ada satu catatan ringan tapi penting dari kepemimpinan Ibrahim adalah bahwa beliau selalu mendengarkan aspiarasi masyarakatnya. Hal ini terindikasi jelas ketika meminta opini anaknya menyikapi perintah Allah untuk menyembelihnya:
فلما بلغ معه السعي قال يابني اني اري في المنام اني اذبحك فانظر ماذا تري قال ياابت افعل ماتومر ستجديني ان شاء الله من الصابرين
“Maka ketika dia (Ismail) mencapai umur balig dia (Ibrahim) berkata: Wahai anakku, Sesungguhnya Aku bermimpi menyembelihmu, apa pendapatmu? Dia(Ismail) berkata: Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu niscaya insya Allah engkau akan mendapatiku bersabar”.
Keinginan untuk mendengarkan, walaupun dari seorang anak remaja, dan berkenaan dengan urusan keyakinan, menjadikan Ibrahim menjadi “pemimpin” yang bijak. Tidaklah barangkali berlebihan jika saya memakai bahasa politik modern bahwa Ibrahim “master of democracy”?
Kepemimpinan itu amanah
Kepemimpinan itu memang karunia, bukan sekedar kehormatan. Kepemimpinan adalah karunia amanah, kesempatan yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki untuk melakukan “pengabdian” kepadaNya melalui pelayanan publik. Dan karenanya pemimpin yang adil akan berada di posisi para nabi di hari Akhirat.
Kepemimpnan itu “karunia”, bahkan masuk dalam lingkaran “takdir”. Allahlah yang memberikan kepemimpinan kepada Ibrahim: أني جاعلك للناس اماما (sungguh Kami jadikan kamu (Wahai Ibrahim) sebagai pemimpin bagi manusia).
Al-Quran bahkan tegas menyampaikan:
قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك من تشاء
“Wahai Allah, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendak”.
Manusia yang menyadari hakikat ini tidak akan berambisi buta dalam memperebutkan kepemimpinan. Tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepemimpinan. Tidak akan melakukan fitnah dan cara-cara busuk lainnya demi meraih kepemimpina itu.
Karena memang yakin Allahlah yang memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya. Di tanganNya tergenggam kekuasaan langit dan bumi: بيده الملك وهو علي كل شيء قدير
Misi Kepemimpinan Ibrahim
Misi kepemimpinan Ibrahim itu tersimpulkan dalam doa yang beliau dipanjatkan kepada Allah bagi negeri dan dan penduduknya:
واذقال ابراهيم رب اجعل هذا البلد امنا وارزق أهله من الثمرات من أمن منهم بالله واليوم الاخر قال ومن كفر امتعهقليلا ثم اضطره الي عذاب إنار وبئس المصير.
“Dan ingat ketika Ibrahim berdoa: wahai Tuhan kami jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakan kepada penduduknya buah-buahan bagi yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Dia (Allah) berfirman: tapi barang siapa yang ingkar maka Kami akan berikan kesenangan sejenak, lalu kami tarik mereka ke dalam api neraka, tempat kembali yang buruk”.
Ada tiga hal penting yang menjadi misi utama kepemimpinan Ibrahim:
Pertama, Al-amnu (keamanan). Sebab dengan keamanan itu akan tercipta stabilitas). Dan hanya dengan stabilitas akan terbangun kemakmuran.
Kedua, al-Rizqu (rezeki). Dengan pembangunan yang ditopang oleh stabilitas tadi akan tercipta kesejahteraan umum.
Ketiga, al-adlu (keadilan). Tapi kesejahteraan yang benar hanya terjadi ketika terbangun di atas asas keadilan. Kesejahteraan yang berkeadilan itu menjadi misi terpenting dari kepemimpinan.
Kontekstualisasi kepemimpinan Ibrahim
Jika kepemimpinan Ibrahim AS kita kontekstualisasikan dalam kehidupan berbangsa kita, maka semua itu secara substantif tertuang dalam pasal-pasal di Falsafah negara kita, Pancasila.
Kedalaman spiritualitas yang terpatri dalam kepemimpin Ibrahim AS itu terwakili dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kesabarannya membangun etika dalam kepemimpinannya yang berkarakter Itu terwakili dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sosoknya sebagai “ummah qanita” merupakan simbolisasi dari Persatuan Kebangsaan kita.
Bahkan moral dan integritas kepemimpinannya itulah yang tertuang dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Sementara misi kepemimpinannya untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan umum tersimpulkan dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Doa Ibrahim untuk penduduk Mekah adalah bentuk “cinta negeri “ (hubbub wathon). Dan karenanya nasionalisme, selama dimaksudkan untuk kepentingan umum dalam berbangsa dan bernegara adalah bagian dari spirit Islam.
Bersyukurlah kita bangsa Indonesia. Bangsa yang dalam sejarahnya tidak pernah terpisah dari nilai-nilai spiritualitas dan agama. Dan yang lebih khusus lagi, peranan agama dan ulama dari masa ke masa, dalam segala zaman dan situasi, tidak pernah dipandang sebelah mata.
Maka dalam merayakan pengorbanan Ibrahim, sekaligus kita bangun komitmen kepemimpinan yang berkarakter, berakhlakul karimah. Kepemimpinan yang mengedepankan “Rahmah” (kasih sayang) kepada rakyat. Terlebih kepada mereka yang memang berada pada posisi yang termarjinalkan.
Namun tidak kalah pentingnya adalah kita membangun kembali semangat besar kita untuk bangkit dalam kebersamaan untuk membangun bangsa yang besar dan menang. Bahkan lebih jauh, menjadi bangsa dengan “global leadership” (pemimpin global).
Ibrahim AS adalah sosok yang merepresentasi globalitas umat. Bahkan kepemimpinan Ibrahim juga adalah kepemimpinan global. Inilah yang digambarkan dalam bahasa Al-Quran: اماما للناس (pemimpin bagi seluruh manusia).
Dalam konteks ini ada dua hal penting untuk kita sadari sebagai bangsa:
Pertama, pentingnya menyadari realita dunia kita. Bahwa dunia kita adalah dunia global yang menuntut kesiapan penuh dan global mindset dari kita.
Kedua: bangsa ini secara khusus sebagai bangsa berpenduduk Muslim terbesar dunia, harus bangkit untuk mengemban kepemimpinan global itu.
Dunia global adalah dunia yang berkarakter kecepatan, kompetisi, dan ketergantungan (interconnectedness).
Umat dituntut untuk memilki kecepatan dalam menangkap semua peluang yang ada. Umat juga dituntut untuk memiliki kemampuan daya saing (kompetisi) yang tinggi. Tapi tidak kalah pentingnya umat harus menyadari pentingnya membangun “kerjasama” dengan siapa saja demi membangun negeri dan dunia yang lebih baik.
Namun tidak kalah pentingnya sekali lagi, bangsa ini harus bangkit menjadi “imaman linnaas”. Sebagai putra bangsa yang telah lama di luar negeri saya sangat yakin jika Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia sangat kapabel untuk mengambil tanggung jawab “imaamah” atau kepemimpinan itu.
Maka masanya bangsa ini bangkit menampilkan Islam yang berkarakter maju dan menang. Islam yang saat ini sejatinya menjadi dambaan dunia. Islam yang ramah, Islam yang berkarakter tawassuth (moderat) wa tassamuh (toleran), tapi mu’tadil (berkeadilan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan).
Dengan semangat itulah umat Islam di bumi Nusantara ini, bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa, harus bangkit membangun negeri. Bahkan ikut turut dalam mewwujudkan dunia yang berkatakter Qurani: بلدة طيبة ورب غفور
اللهم اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم وًلساءر المسلمينوالمسلمات فاستغفروه انه هوالغفورًالرحبم.
*********
Penulis: Ustadz Dr. Imam Shamsi Ali, M.A
(Direktur Jamaica Muslim Center, Presiden Nusantara Foundaiton, Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































