Semua manusia pasti pernah menghadapi masalah dalam hidupnya. Meski kadarnya berbeda, masalah akan datang silih berganti sebagai bentuk ujian dari Allah kepada hamba-Nya. Seperti yang telah tertulis dalam Al-Qur’an:

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta” (QS Al- Ankabut: 2-3).

Dalam menghadapi masalah kehidupan, kita dapat mengambil teladan dari ulama-ulama terdahulu. Salah satunya adalah Buya Hamka, seorang ulama nusantara yang telah memberikan banyak kontribusi dalam dunia dakwah. Beliau juga merupakan sastrawan Indonesia yang telah menghasilkan ratusan karya sastra semasa hidupnya. Setidaknya ada tiga peristiwa yang dapat kita ambil darinya sebagai contoh.

Pertama, ketika Hamka kembali ke kampungnya setelah merantau di Jawa untuk menuntut ilmu dari para tokoh pergerakan. Tujuannya adalah untuk mengajarkan pidato bagi pemuda di kampungnya. Meski awalnya disambut baik, namun tetap saja pada akhirnya Buya Hamka hanya dianggap sebagai “tukang pidato”. Beliau pun seringkali diremehkan karena masih terdapat kesalahan gramatikal dalam pidato-pidatonya.

Sebagai seorang pemuda berusia 19 tahun, Buya Hamka cukup merasa frustasi dengan keadaan tersebut. Maka, beliau pun memutuskan untuk “nekat” berhaji ke Makkah menumpang kapal haji dari Subang. Menariknya ini adalah sikap yang diambil oleh Buya Hamka ketika ia merasa frustasi dalam menghadapi masalah. Di sana ia pun bekerja sekaligus mengasah kembali kemampuan Bahasa Arabnya.

Poin yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah jangan sampai kita melarikan diri ke hal-hal yang negatif ketika sedang menghadapi masalah. Justru seharusnya kita melarikan diri ke hal-hal yang bisa mendekatkan kita kepada Allah.

Kedua, ketika majalah yang dipimpin oleh Buya Hamka, Panji Masyarakat, “dibredel” oleh pemerintah pada tahun 1960 disebabkan munculnya tulisan Hatta yang sangat keras mengkritik Pemerintah kala itu.

Meski cukup rumit, dalam menghadapi masalah ini, Buya Hamka sama sekali tak merasa putus asa. Selesai dari Panji Masyarakat dan beralih ke Majalah Gema Islam, ia mampu mengambil langkah yang sangat strategis.

Langkah pertama adalah berkolaborasi dengan TNI yang merupakan salah satu kekuatan politik di Indonesia kala itu untuk menjalankan Majalah Gema Islam.

Langkah kedua, ia mampu membuat namanya tidak tercatat dalam daftar pimpinan redaksi. Padahal, faktanya ia menjabat sebagai pimpinan redaksi. Sehingga dengan begitu pemerintah tak lagi memiliki alasan untuk mencampuri majalah baru yang dipimpinnya itu.

Poin pentingnya adalah sikap tenang dalam menghadapi masalah sembari berikhtiar mencari solusi dan berdoa kepada Allah.

Ketiga, ketika Buya Hamka ditangkap atas tuduhan makar dan dianggap bekerjasama dengan Malaysia pada tahun 1964. Beliau pun dipenjara dan diasingkan di tempat yang berbeda dari kawan-kawannya. Hamka sempat terpukul dan kecewa atas peristiwa ini. Karena penangkapan tersebut adalah atas perintah seseorang yang telah beliau anggap sebagai sahabat, yaitu Soekarno.

Meski begitu, Hamka tidak berlarut-larut dalam kekecewaan. Dengan segala keterbatasan di dalam penjara, beliau kembali produktif mengerjakan hal yang bisa ia kerjakan. Hamka banyak membaca lagi karya-karyanya sebagai bentuk refleksi diri serta banyak menulis.

Hebatnya, selama dua tahun di penjara, ia berhasil mengkhatamkan al-Qur’an lebih dari 200 kali. Bahkan Hamka pun berhasil menyelesaikan karyanya yaitu Tafsir al-Azhar hingga rampung 27 juz.

Poin dari peristiwa terakhir ini adalah tidak perlu larut dalam kekecewaan tatkala menghadapi masalah. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi, kita harus tetap memanfaaatkan waktu dengan produktif untuk membenahi masa depan yang masih bisa diperbaiki.

Maka, dapat dirumuskan tiga hal yang dapat kita teladani dari sikap Buya Hamka dalam menghadapi masalah: pertama, kita harus tenang namun tetap senantiasa berikhtiar dan berdoa. Kemudian, jangan sampai kita terlalu berlarut-larut dalam sebuah masalah sehingga kita tidak tidak menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.

Terakhir, sesulit apapun masalah yang kita hadapi, jangan sampai kita melarikan diri kepada hal-hal yang negatif. Akan lebih baik jika momen tersebut kita manfaatkan untuk berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Karena tidaklah sebuah masalah menjadi mudah melainkan dipermudah oleh pencipta-Nya. Allah pun telah menjamin dalam Q.S Al-Baqarah ayat 286, bahwa “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

***********

Penulis: Reisya Callista P. Prawira
(Mahasiswi At-Taqwa College Angkatan II)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan