Nafsu itu seperti anak kecil, jika Anda membiarkannya hingga tua pun dia suka menyusu, tapi bila Anda memyapihmya, ia akan berhenti
Malik bin Dinar berkata, “Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya, ‘Bukankah engkau pelaku ini? Dan bukankah engkau pelaku itu?’ Kemudian ia mencelanya dan mengekangnya, kemudian memaksanya agar selalu berpegang pada Al-Qur’an sehingga menjadi panduan baginya.”
Hati yang lembut akan selalu berusaha mengoreksi setiap langkah dalam perjalanannya menuju Allah, dan akan terus mengekang nafsu. Adapun nafsu yang cenderung berbuat buruk enggan untuk tunduk dengan mudah. Oleh karena itu, harus selalu dicari cara untuk mendidiknya. Tidak ada pilihan lain selain harus dimarahi dan dicela kadang kala. Apabila ia tetap enggan maka harus ditempuh tahapan berikutnya, yaitu tahapan hukuman.
Nafsu itu seperti anak kecil
Jika Anda membiarkannya
Hingga tua pun dia suka menyusu,
Tapi bila Anda menyapihnya,
la akan berhenti.
Abu Hazim Al-Araj -Salman bin Dinar -berkata kepada dirinya, “Celaka engkau, hai A’raj, ketika para pelaku kesalahan ini dan itu dipanggil, engkau bangkit bersama mereka, padahal setelah itu dipanggil pelaku semua kesalahan.”
Itulah contoh dari mencela dan memarahi diri disertai rasa kasihan dan khawatir terhadap apa yang dialaminya nanti di hari saat tidak bermanfaat di dalamnya celaan dan tidak diterima lagi uzur. Umaiyah bin Ash-Shalt, seorang penyair, menuliskan:
Seorang hamba memanggil dirinya lalu mencelanya
Karena tahu bahwa Yang Maha Melihat selalu mengawasinya.
Lebih dari itu, kadang sampai pada tingkat pertengkaran, yaitu setelah memarahi dan mencelanya. Muhammad bin Al-Munkadir mengatakan, “Aku meninggalkan Ziyad bin Abi Ziyad mantan hamba sahaya Ibnu Iyas di masjid tatkala dia memarahi dirinya. la berkata, ‘Duduklah, hendak ke mana kamu? Kamu mau keluar ke tempat yang lebih bagus dari masjid ini? Lihatlah apa yang ada di dalam masjid ini, kamu mau melihat rumah fulan, fulan, dan fulan?” Dia juga mengatakan, Tidak ada jatah makanan bagi kamu kecuali roti dan minyak ini, dan tidak ada jatah pakaian bagi kamu kecuali dua potong kain ini, dan tidak ada wanita bagimu kecuali wanita tua ini, kamu mau mati?’ Maka dirinya berkata, Ya, aku mau bersabar dengan kehidupan seperti ini’ “
Sungguh ini adalah pertengkaran yang bagus, namun sayang kini telah sirna. Betapa kita merindukan ketika manusia berkata kepada dirinya, “lni adalah pemisah antara aku dan kamu, karena kebanyakan orang senang dengan nafsu yang selalu mengajak kepada kemewahan, atau kepada permainan mubah yang menyibukkan sehingga banyak menghabiskan waktu, lalai mempelajari ilmu dan mengulanginya, atau bergaul dengan orang-orang saleh, serta lalai mengerjakan kewajiban yang harus dikerjakan.
Fudhail bin Iyadh berkata, “Aku diberitahu bahwa suatu hari Thalhah bin Musharif tertawa, ia terkejut dan mencaci dirinya, Kamu mentertawakan apa? Yang boleh membuatmu tertawa hanya apabila huru hara hari kiamat telah selesai dan kamu berhasil melewati titian shirat. Kemudian dia berkata, Aku berjanji tidak alkan tertawa hingga aku mengetahui apa yang terjadinanti dihari kiamat’. Maka, tidak pernah dia terlihat tertawa hingga berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla.”
Malik bin Dhaigham mengatakan, “Riyah Al-Qaisi datang setelah ashar menanyakan ayahku. Kami katakan kepadanya bahwa beliau sedang tidur. la berkata heran, “Adakah tidur setelah ashar? Waktu ini? Apakah ini waktu tidur?’ Kemudian ia pergi. Lalu kami mengutus seseorang untuk menyusulnya dan menanyakan kepadanya apakah kami harus membangunkan ayah untuknya? Namun, utusan tersebut terlambat pulang kemudian datang ketika matahari sudah terbenam.
Kami bertanya kepadanya, Kenapa engkau terlambat balik, engkau sudah menanyakannya kepadanya? la menjawab, ‘Dia terlalu sibuk dari memahami apa yang aku katakan karena aku mendapatinya telah masuk ke dalam pekuburan dan dia mencela dirinya sendiri; katanya, ‘Aku berkata, ‘Adakah tidur waktu ini?’ Apa urusanmu dengannya? Orang boleh saja tidur kapan pun ia mau. Kenapa aku berkata, Apakah ini waktu tidur? Dari mana kamu tahu bahwa ini bukan waktu tidur?” Kamu bertanya tentang sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu dan berkata dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Sungguh, aku mempunyai perjanjian dengan Allah yang aku tidak akan melanggarnya; aku tidak akan meletakkan kepala di tanah untuk tidur selama setahun kecuali karena sakit atau hilang akal. Celaka kamu, celaka kamu, apakah kamu tidak malu? Berapa kali kamu mencela orang lain, padahal kamu tidak terlepas dari kecelakaanmu!’
Demi Allah, ini merupakan wujud dari sikap jujur kepada diri sendiri, sikap yang penuh adab, sikap agung dan tinggi yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh para pemilik jiwa yang telah ditempa untuk selalu siap menerima. Maka, wajib bagi kita dan nafsu kita untuk malu terhadapnya.
Al-Mawardi mengatakan, “Harus ada pendidikan untuk nafsu. Karena, apabila masalah pendidikan ini dilalaikan dan diserahkan semuanya kepada akal, atau dibiarkan begitu saja mengikuti tabiat nafsunya maka penyerahan tersebut akan menjauhkannya dari jalan kaum mujtahidin dan akan melahirkan penyesalan.”
Suatu ketika Hisan bin Abi Sinan melewati sebuah kamar, ia berkata, ‘Sudah berapa lama kamar ini dibangun? Lalu dia memarahi dirinya, katanya, “Bukan urusanmu sudah berapa lama kamar ini dibangun. Kamu bertanya tentang sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu’. Maka, dia menghukum dirinya dengan puasa selama setahun.”
Betapa sering nafsu membawa kita kepada hal-hal yang berlebihan sehingga kita mencari tahu apa yang tidak bermanfaat bagi kita. Sementara itu, kita tidak merasa berdosa karena kita telah lalai dari mentarbiyah nafsu kita. Kita membiarkannya sehingga dia melonjak, memerintah dan melarang tanpa ada pedoman dan tidak ada yang meluruskan.
Aun bin Abdillah pernah berkata, “Wahai nafsu, celaka kamu! Tidakkah kamu sadar dengan apa yang kamu perbuat? Kalau sakit kamu menyesal, tetapi kalau sehat kamu berbuat dosa. Mengapa kalau miskin kamu bersedih, sedangkan kalau kaya kamu berbuat kerusakan, kenapa? Apabila sedang bersemangat engkau zuhud, namun kenapa ketika diseru kamu malas-malasan? Aku melihatmu berhasrat sebelum mengerjakan, namun kenapa kamu tidak mengerjakan setelah hasratmu hilang? Wahai nafsu, celaka kamu! Kenapa kamu menyelisihi perintah? Kamu berkata tentang dunia dengan perkataan para ahli zuhud, namun berbuat seperti perbuatan orang yang cinta dunia, celaka kamu!”
Begitulah kebiasaan kaum tabi’in dalam bermuamalah dengan diri mereka, dan dengan perasaan sensitit yang luar biasa ini mereka hidup, serta mentarbiyah diri mereka dengan iman yang mendalam. Apabila kita ingin mengembalikan kemuliaan maka tidak ada jalan selain harus mengikuti jejak mereka dan menetapi manhaj pendidikan yang mereka anut.
Abu Yazid Al-Busthami pernah menasihati dirinya, Katanya, “Hai gudang segala kejelekan! Wanita itu kalau selesai haid mesti menyucikan diri. Ia haid sekitar tiga hari dan paling banyak sepuluh hari. Sedang kamu, hai nafsu! Telah berpangku tangan sejak 20 atau 30 tahun setelah tiba masa suci. Lalu, kapan kamu akan menyucikan diri? Sungguh, engkau akan berdiri menghadap Zat Yang Mahasuci, maka sucikan diri!
Begitulah perjalanan orang-orang saleh, putra generasi ini. Jangan sampai lalai mengkaji keadaan mereka. Apabila Anda merasa tidak mampu melakukan itu maka periksalah siapa yang bisa ditiru lalu ikutilah ia selalu. Yang demikian ini lebih manjur bagi hati dan lebih mendorong untuk bisa mengikuti. Bukanlah kabar itu seperti kenyataannya. Apabila belum ada unta, kambing kacangan pun tak mengapa
Ali bin Abdurrahim mengatakan, “Suatu hari aku mengunjungi An-Nauri dan aku melihat kedua kakinya bengkak. Akupun menanyakannya. Beliau menjawab, “Nafsuku meminta kepadaku agar aku makan kurma dan aku berusaha untuk menahannya, namurn dia tetap terus memintaku. Maka, aku pergi dan membelinya. Setelah aku makan, aku berkata kepada nafsuku, Bangun dan shalatlah! Namun, ia enggan maka aku berkata, ‘Aku berjanji tidak akan duduk di atas selama 40 hari.’ Sejak itu aku tidak duduk’.”
Diriwayatkan dari Harun bin Riab bahwa Ghazwan bin Ghazwan Ar-Riqasyi dalam salah satu peperangan yang dia ikuti, tiba-tiba tampak seorang gadis. Ghazwan pun terpaku melihatnya. Maka, dia mengangkat tangannya lalu menampar matanya hingga bengkak dan berkata, “Sungguh kamu telah memandang sesuatu yang membahayakanmu’.”
Diriwayatkan bahwa Mujma’ mengangkat kepalanya ke atap rumah lalu pandangannya tertuju pada seorang wanita. Menyadari hal itu, ia kemudian berjanji pada dirinya untuk tidak akan mengangkat kepalanya ke langit selama masih di dunia.
Semoga Allah memberi balasan kepada mereka dalam mendidik dan membina nafsu mereka. Tidak sedikit mereka lelah, dan tidak mudah mereka mengerjakannya, namun mereka tetap dengannya hingga mendapatkan apa yang mereka cari.
Saudaraku, mulai sekarang, mari kita segera bersikap kepada nafsu kita. Jangan meniru kebanyakan orang hari ini sehingga tergolong orang-orang yang dungu dan lalai terhadap pendidikan nafsu. Waspadalah, jangan sampai nafsu membisikkan kepada kita bahwa mereka, para tabi’in adalah orang-orang kuat yang tidak mampu untuk diikuti. Akan tetapi, katakan kepadanya sebagaimana perkataan Abu Muslim Al-Khaulani, “Apakah para shahabat Muhammad mengira bahwa hanya mereka yang pantas berebut tanpa kita. Tidak, demi Allah, kami akan turut berebut bersama mereka sampai mereka tahu bahwa mereka meninggalkan para lelaki.”
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 70-75
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































