Ilmu adalah kemuliaan, menuntutnya adalah jalan panjang yang tiada berhujung. Maka tak heran jika ada ungkapan yang mengatakan “tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. Entah mengapa harus sampai ke negeri cina, yang dapat kita petik dari ungkapan tersebut adalah dimanapun ilmu berada walaupun sampai ke kutub utara dan selatan pun tetap harus kita kejar, mendatanginya untuk meraihnya.
Seperti ungkapan Ulama Tabi’in, Ato’ bin Abi Rabah Rahimakumullah “Ilmu itu didatangi bukan mendatangi”. Seperti itulah seharusnya kita menyikapi ilmu, dan itu bagian dari adab kita terhadap ilmu.
Ilmu adalah kemuliaan, maka sesuatu yang mulia itu haruslah kita letakkan pada tempatnya yakni dengan beradab kepadanya.
Bukan sebaliknya, merendahkan tanpa adab sehingga ilmu yang dimiliki tidak memberikan keberkahan dalam hidup. Hal ini perlu menjadi perhatian penting bagi seorang terpelajar atau penuntut ilmu. Dimana, saat zaman sekarang adab bukan lagi menjadi perhatian penting.
Kebobrokan akhlak dan hilangnya adab seperti kata Prof. SMN Al-Attas “The Lost of Adab” yang taterjadi dimana-mana, bahkan itupun terjadi dikalangan para orang-orang terpelajar atau penuntut ilmu, maka memiliki adab sebelum memiliki ilmu adalah hal yang penting untuk dilakukan.
Jika kita menilik para ulama-ulama dahulu, mereka begitu sangat bersungguh-sungguh mempelajari adab dan menjaganya sebelum mereka memiliki ilmu. Sebagaimana Ibnu Mubarak Rahimakumullah mengatakan ‘Aku mempelajari Ilmu selama tiga pulu tahun dan mempelajari ilmu dua pulu tahun”.
Imam Syafi’i pun pernah berkata ketika ia ditanya tentang bagaimana ia mneyikapi adab, ia pun berkata “Aku mencari adab ibarat seorang Ibu yang mencari anak satu-satunya”. Dari ungkapan tersebut menunjukan betapa pentingnya adab terutama bagi seorang penuntut ilmu.
Lantas bagaimana kita menjadi beradab dalam menuntut ilmu, agar ilmu yang kita miliki nampak indah dipandang, terasa harum dan berbuah manis yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Jika kita membaca buku-buku yang membahas tentang adab-adab dalam menuntut ilmu atau yang berkaitan dengannya, sangat banyak sekali, setidaknya ada beberapa hal yang dapat disampaikan yang bersumber dari dua buku yang membahas tentang ilmu dan adab yakni buku Ta’lim al-Muta’alim (Meraih keutamaan ilmu dengan adab dan akhlak mulia) karya Burhanul Islam Az-Zarnuji dan Hilyah Thalibil ‘Ilmi (Perhiasan penuntut ilmu) karya Bakr bin Abdullah Abuzaid. Diantaranya yaitu :
Pertama, Meluruskan Niat karena Allah Ta’ala. Ini adalah adab utama yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu, yaitu beradab pada Allah Ta’ala.
Menuntut ilmu adalah ibadah, maka yang perlu diperhatikan adalah niat kita dalam menuntut ilmu. Dalam sebuah hadist ahad, diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin Khatab Rhadiyallahu’anhu, bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya, amalan itu tergantung niatnya… “ (HR. Buhkari dan Muslim). suatu amalan akan bernilai dengan niatnya, maka menjaga niat dalam menuntut itu adalah hal yang perlu diperhatikan dan dijaga dengan baik.
Sudah selayaknya seorang penuntut ilmu meniatkan dirinya dalam mencari ilmu meniatkannya untuk mencari kerhidaan Allah, mencari kehidupan akhirat, untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri maupun orang-orang yang bodoh, menghidupkan agama dan melanggengkan Islam. Inilah niat yang harus tertancap dengan kokoh dalam diri seorang penuntut ilamu.
Kedua, menghormati Ilmu dan Ahli Ilmu. Menghormati ilmu berkaitan erat dengan yang ahli dalam ilmu tersebut. Menghormati ilmu yaitu dengan tidak memandang remeh setiap ilmu yang diraih walaupun itu sedikit atau bagian yang ringan. Selain itu, hal yang terpenting adalah kita menghormati sang ahli ilmu yakni guru yang dengannya kita mengambil ilmu.
Pada dasarnya, ilmu tidak bisa dipelajari dari buku semata, akan tetapi membutuhkan guru untuk membimbing menguasai kunci-kunci belajar agar selamat dari kesalahan-kesalahan dan tergelincir, oleh karenanya perlu menjaga sikap hormat terhadap guru. Laksanakanlah semua adab sopan santun kepada guru ketika berbicara dengannya.
Hendaknya bertanya dengan baik, mendengar dengan seksama setiap penjelasan yang diberikan, sopan membawa dan membaca buku dihadapannya, jangan bersikap lancang dan berdebat dihadapannya. Jangan mendahuluinya dalam berjalan, berbicara, menyela pembicaraan dan pelajarannya, atau mendesaknya untuk menjawab pertanyaan.
Sampai-sampai Sahabat Ali Rhodiyallahu’anhu berkata “Aku menjadi hamba sahaya bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf. Terserah kepadanya, jika mau dia akan menjual hamba sahayanya, dan jika mau dia tetap memilikinya”.
Pada intinya, seorang penuntut ilmu hendaknya mencari keridhaan gurunya, menjauhi kemurkaannya, serta menjalankan perintahnya selama bukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.
Ketiga, Rendah hati dan tidak sombong. Ini adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu. Olehnya, jagalah diri kita dengan adab-adab pada diri kita, yaitu sikap ‘Iffah (menjaga kesucian diri), santun sabar, tawadhu kepada kebenaran, tenang “seperti burung” yang mencakup penampilan yang berwibawa, sopan dan rendah hati, sabar menanggung kehinaan belajar demi kemuliaan ilmu, serta patuh terhadap kebenaran. Berhati-hatilah dengan sikap yang bertentangan dengan adab-adab tersebut. Hindarilah sikap angkuh, karena ia merupakan kemunafikan dan kesombongan.
Waspadalah terhadap penyakit para tirani (sombong), karena sombong, tamak, dan iri merupakan dosa pertama yang dilakukan sebagai maksiat kepada Allah. Sikap lancang terhadap guru merupakan kesombong, enggan menerima menerima ilmu dari orang yang di bawah merupakan kesombongan,kelalaian mengamalkan ilmu adalah “lumpur” kesombongan dan tanda kesengsaraan.
Keempat, Bersungguh-sungguh dan tekun untuk mendapatkan ilmu. Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh, rajin, dan tekun. Hal ini diisyaratkan oleh Allah Ta’ala yang artinya “Dan orang-orang yang bermujahada untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al-Ankabut ; 69).
Bahkan para ulama kita mengatakan ; Jika engkau memberikan seluruh perhatian hidupmu untuk ilmu, nisacaya ilmu tidak akan memberikannya kecuali sedikit saja. Karena ilmu diperoleh bukan dengan tubuh yang bersantai-santai. Bahkan para ulama kita dahulu mereka rela berjalan hingga berhari-hari hanya untuk mendengarkan ilmu dari sang ‘Alim meskipun hanya untuk mendapatkan satu hadist.
Lain halnya dengan penuntut ilmu hari ini, sambil berbaring di atas kasurpun dapat mendengarkan ilmu, namun keberkahan yang diraih jauh berbeda dengan ulama-ulama kita dahulu. Dikatakan bahwa, “Barangsiapa mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkannya. Dan barang siapa terus menerus mengetuk pintu, maka dia akan bisa memasuki rumah”.
Az-Zarnuji mengatakan, dalam mempelajari dan mendalami ilmu memerlukan kesungguhan dari tiga pihak, yaitu; murid, guru dan ayah si murid jika masih hidup”.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Asy-Syeikh al-Imam yang mulia Sadiduddin Asy-Syairazi yang membacakan syaitu Asy-Syafi’i; Ketekunan akan mendekatkan perkara yang jauh, Ketekunan akan membuka semua pintu yang tertutup.
Beberaka sikap tersebut adalah diantara adab-adab yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilamu, baik adab terhadap diri sendiri, ilmu dan guru sebagai perantara ilmu. Begitu banyak alasan syar’i yang menuntut para kaum muslimin untuk menjaga adab, akhlak, perilaku dan sikap mulia terhadap ilmu hal ini karena ilmu adalah kemuliaan yang amat agung.
***********
Penulis: Masykur, Sos,.I
(Pengurus Pelajar Islam Indonesia, Seorang Penulis dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah













































































