Wabah Covid-19 sudah hampir dua tahun mendera dunia. Hampir semua negara terjangkit. Berdampak pada hampir semua sendi kehidupan. Terutama dalam bidang ekonomi. Pembatasan aktivitas sosial. Sebagai upaya melawan penyebaran virus covid. Sangat berdampak pada ekonomi.
Akibatnya, kehidupan masyarakat kian susah. Tingkat kemiskinan kian tinggi. Pengangguran semakin banyak. Disebabkan banyaknya perusahan merumahkan karyawannya. Tingkat kriminalitas juga bertambah. Terutama pencurian dipicu karena susahnya memenuhi kebutuhan hidup.
Meskipun demikian. Tak semua juga kena dampak covid. Malah, ada sebagian kian kaya di tengah wabah covid. Seperti dirilis di media beberapa minggu lalu. Sekitar 70% pejabat bertambah kekayaannya. Ada pertambahannya sedikit. Ada bertambah puluhan milyard.
Semakin bertambahnya kekayaan pejabat. Di tengah kondisi carut-marutnya kondisi ekonomi. Memantik kecurigaan. Sinyalemen covid-19 dibisniskan kian terasa. Kecurigaan semakin besar. Setelah membaca hasil investigasi koran Tempo. Tentang tes PCR. Hasilnya, melibatkan Menteri Luhut dan Erick Tohir.
Sungguh terlalu. Menteri berperan membuat kebijakan. Ternyata juga mengambil keuntungan dari hasil kebijakannnya. Disamping kurang elok. Sangat tidak etis. Luhut sendiri seperti dilansir dibeberapa media. Mengakui keterlibatannya dalam bisnis PCR. Meski mengakui tidak mengambil keuntungan.
Berbeda dengan Erick Thohir. Lewat staf khususnya, Arya Sinulingga. Pekan lalu, Arya mengatakan isu yang menyebut Erick ikut berbisnis tes PCR terbilang tendensius. Meski, investigasi koran Tempo jelas menyebut nama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUNM) tersebut.
Apapun alasan dan bantahannya. Bisnis PCR jelas melanggar etika. Jika menilik dalam aturan Komite Pemberantasan Korupsi (KPK). Berpotensi menyalahi aturan. Sehingga, desakan dari berbagai pihak dan elemen masyarakat agar KPK menyeledikinya. Bukan isapan jempol belaka.
Misalnya saja, Elemen mahasiswa dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar demonstrasi menuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelidiki dugaan bisnis dalam pengadaan tes PCR oleh Luhut Binsar Pandjaitan dan Erick Thohir.
“Kami meminta KPK agar segera memeriksa Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan beserta Menteri BUMN Erick Thohir atas kasus dugaan keterlibatan dalam bisnis PCR,” ucap Koordinator Aksi Lapangan, Syamsuddin, seperti dilansir beberapa media.
Mendorong KPK menyelidiki kasus bisnis PCR ini. Sebuah keharusan demi tegaknya keadilan hukum. Tidak hanya itu. Presiden juga perlu mengevaluasi Menteri yang terlibatan mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat. Jika terbukti terlibat. Presiden harus mengganti Menteri tersebut.
Di samping melukai hati rakyat. Menteri tersebut jelas telah menyalahi amanah rakyat. Mereka ditugaskan untuk mengurus rakyat. Melayani rakyat dengan baik. Bukan ambil keuntungan pribadi dari rakyat. Dengan berbisnis dari rakyat. Mereka telah cacat moral, baik dari segi tatanegara. Terlebih lagi, dari hukum agama.
Tanggung jawab Pemimpin
Soalnya jabatan dan pemimpin. Islam sendiri telah mengaturnya. Rasulullah Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Begitu pula agama Islam mengajarkan agar manusia menjadi pemimpin yang baik, adil, jujur, amanah dan bijaksana.
Abdullah bin Umar mengatakan, Rasulullah SAW berkata, “Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka.”
Dalam hadits diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah bersama; “Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggung jawab atasnya. Maka setiap dari kalian adalah adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”
Beberapa sabda Nabi Muhammad SAW di atas. Jelaslah, bahwa tanggung jawab pemimpin sungguh besar dan berat. Apqpun dilakukan, baik besar maupun kecil. Semua akan dimintai tanggung jawab di dunia dan akhirat sangat berat.
Olehnya itu, hendaknya setiap pemimpin perlu berhati-hati. Jangan pernah main-main dengan jabatannya. Lalai dengan jabatannya. Hukuman berat menanti di akhirat kelak. Sebaliknya amanah terhadap jabatannya. Bisa menjadi bekal untuk meraih surgaNya di akhirat.
************
Penulis: Burhanuddin Marbas, S.Pd
(Aktivis Muda dan Direktur Eksekutif Center For Islamic Research And Consultasy (CIRC))
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

















































































