Saat aktivis dakwah mulai mudah berkeluh kesah, hati yang terasa penat, jiwa terasa kosong. Keberadaan diri di dunia serba maya, menatap layar android dan laptop dengan sederet sajian materi-materi dakwah dan keIslaman menjadi sesuatu yang biasa saja.
Aktivitas musyawarah hanya diisi dengan hadirnya nama di zoom meeting, google meet, rutinitas tarbiyah atau mentoring pekanan menjadi pertemuan formalitas semata. Sapa virtual dalam kegiatan online menjadi sekadarnya saja. Gerak dakwah mulai melemah. Ada apa gerangan?
Wabah pandemi covid 19 yang juga belum usai memberi efek menjalar pada setiap lapisan masyarakat di Indonesia. Diantara hal yang cukup menguji khususnya bagi mereka yang bergelar aktivis dakwah. Mereka yang berlabel aktivis, istilah para mentor atau pembina dalam sebuah kelompok belajar Islam (baca : kelompok tarbiyah) baik sebagai ‘guru’ dan atau ‘murid.
Covid 19 hingga saat ini mengajak kita untuk banyak ‘bergaul’ dengan dunia online hingga menjadikannya sebagai kultur baru yang mau tidak mau, suka atau tidak suka walau cenderung ‘terpaksa’ kita harus mampu beradaptasi.
Iklim pertemuan yang biasa digelar secara langsung berpuluh tahun lamanya dalam aktivitas sehari-hari berubah haluan menjadi serba online. Walau kini terasa kebijakan untk bertemu tatap muka secara langsung sudah semakin longgar dan banyak digelar diberbagai daerah di Indonesia tetapi kekhwatiran terhadap wabah pandemi tentu masih saja ada.
Aktivis dakwah ditengah problematika kehidupan dan dinamika dakwah yang pasang surut boleh jadi akan semakin mudah tergerus ditengah maasifnya pengguna dan penikmat media sosial kaum muda yang kini sudah menjadikannya sebagai hajat hidup (kebutuhan).
Sebagai objek dakwah utama, generasi muda, generasi milenial dengan intensitas interaksi internet yang begitu tinggi menuntut untuk mereka yang bergelar penggerak, sang aktivis dakwah, para pembina atau mentor kajian islam baik di lingkup kampus, sekolah atau berbasis komunitas-komunitas milenial untuk melek media dan terus berkreasi dalam setiap misi dakwahnya.
Peluang besar memanfaatkan media sosial sekaligus akan menjadi tantangan aktivis dakwah hari ini. Menumbuhkan iklim dakwah yang segar, sarat akan renungan-renungan kebaikan berbalut misi sosial, lingkungan, kemanusiaan, ekonomi dan tema-tema yang mampu membangkitkan gairah ‘belajar islam’ generasi milenial tanpa harus seolah dipaksa, didoktrin dijustikasi atas halal dan haram nya setiap konsep dalam keberIslaman yang pada akhirnya bisa saja membuat mereka jenuh dan menjauh.
Kerjsama lintas organisasi, komunitas dan lembaga-lembaga yang selalu siaga dan pro mendukung kegiatan dakwah dan syiar islam patut menjadi perhatian bersama.
Selanjutnya, renungan yang harus hadir pada persoalan meyakini dengan mantap atas takdir dari Sang Pencipta, bahwa pandemi atau pun tidak, kita atau mereka yang bergelar aktivis dakwah bukanlah malaikat tanpa dosa dan kesia-siaan.
Daya juang untuk terus melawan lemahnya hasrat beribadah, godaan yang kadangkala hadir meminta agar menjadi apatis dengan amanah dan aktivitas berbalut nilai-nilai syari, semisal tarbiyah atau kajian baik versi online ataupun nanti offline akan terus membersamai kehidupan kita. Lawan dengan ikhtiar taklukan dalam sujud dan doa-doa khusyumu dengan sabar dan ikhlas.
“Yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubana alaa diinika.”: “Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
*************
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Penulis: Fauziah Ramdani, M.Si
(Penulis, Kontributor mujahiddakwah.com dan Ketua Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia)
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)













































































