Berparas Menarik
Bukan suatu hal yang baru jika wanita Muslimah yang benar-benar sadar akan ajaran agamanya sangat memperhatikan pakaian dan penampilannya serta berparas menawan, tanpa harus dengan tabarruj (bersolek), tidak juga berlebih-lebihan, yang menyenangkan jika dilihat oleh suami, anak-anaknya dan juga muhrim serta wanita Muslimah lainnya. Dia tidak akan pernah memperlihatkan diri kepada orang-orang yang diperbolehkan melihatnya dengan paras acak-acakan dan serba semrawut, tetapi sebaliknya senantiasa berdandan dengan rapi dan berparas menarik sesuai dengan yang diajarkan Islam yang senantiasa mengajak kepada penampilan baik dan menarik serta berhias diri.
Allah Subhanahu Wata’ala pernah befirman,
“Katakanlah, Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Alah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan juga rezeki yang baik’.” (Al-Araf: 32)
Dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, Imam Qurthubi berkata “Diriwayatkan Makhul dari Aisyah Radhiallahu Anha , dia berkata, “Beberapa orang dari sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah menunggu beliau di depan pintu. Lalu beliaupun keluar menemui mereka, sedang di dalam rumahnya terdapat bejana yang berisi air, sebelum menemui mereka, beliau becermin ke air tersebut dan merapikan jenggot dan rambutnya.
Aisyah melanjutkan ceritanya, Lalu ku bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau juga melakukan hal seperti ini?”
Beliau menjawab, “Benar, apabila seseorang akan keluar mendatangi saudaranya, maka hendaklah dia mempersiapkan diri, karena sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
Seorang Muslim akan senantiasa melakukan hal itu sesuai dengan konsep Islam, agama pertengahan dalam segala hal. Itulah konsep keseimbangan yang tidak mengenal sikap berlebihan atau melampaui batas. Dan itu telah tercermin dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala ,
“Dan, orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya. ” (AI-Furqan: 67)
Islam benar-benar menginginkan umatnya baik laki-laki maupun perempuan, khususnya para dai untuk bergaul di masyarakat sebagai daya tarik yang selalu enak dipandang. Bukan sebaliknya berpenampilan buruk sehingga tidak enak dipandang dan bahkan menyakitkan mata serta mempersempit pernafasan. Bukan dari Islam jika ada orang baik laki-laki maupun perempuan yang berpenampilan tidak rapi dan menarik, sampai pada tingkat diremehkan orang lain, dengan dalih zuhud dan tawadhu’ Rasulullah merupakan “Bapaknya” orang-orang yang bertawadhu’, tetapi beliau tetap memakai pakaian yang bagus, dan selalu berdandan bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya. Bahkan beliau menganggap penampilan menawan dan menarik merupakan pengejawantahan bagi nikmat Allah Subhanahu Wata’ala,
“Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (pengaruh) nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya “( Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Hakim)
Dalam buku lbnu Sa’ad yang berjudul Thabaqaar disebutkan sebuah hadits, dari Jundub bin Makits bercerita,
Apabila Rasulullah kedatangan utusan, maka beliau senantiasa mengenakan pakaian yang terbaik dan menyuruh para sahabatnya untuk melakukan hal yang sama. Sedang aku sendiri pernah melihat Rasulullah ketika kedatangan utusan dari Kindah, pada saat itu beliau mengenakan pakaian khas Yaman. Hal yang sama juga dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar Radhiallahu Anhu .
Diriwayatkan oleh lbnu Mubarak, Thabarani, Baihaqi, dan lain- lainnya, dari Umar Radhiallahu Anhu, beliau bercerita, “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam diambilkan baju baru, lalu beliau mengenakannya. Ketika mengenakannya baru sampai tulang di atas dada, beliau berdoa:
“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku pakaian, yang dengannya aku dapat menutupi auratku dan dapat mempercantik din dalam hidupku.”
Selama mempercantik diri tidak melampaui batas, maka hal itu termasuk perhiasan yang baik yang dibolehkan dan dianjurkan Allah bagi hamba-hamba-Nya:
“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan rezeki yang baik?” Katakanlah, ‘Sesungguhnya itu disediakan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus untuk mereka di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. “(Al-A’raf: 31-32)
Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan sebuah hadits dari lbnu Mas’ ud Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda,
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar buah dzarrah.”
Lalu seseorang berucap, “Sesungguhnya ada orang yang senang memakai pakaian bagus dan sandalnya juga bagus.”
Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan tidak menghargai orang lain.”
Demikian itulah yang dipahami oleh para sahabat dan pengikut-pengikutnya. Dan bertolak dari hal itu, Imam Abu Hanifah senantiasa berpenampilan menarik dan berbaju bagus dan berbau harum. Keseriusannya untuk memperindah penampilan dan memperbagus pakaian itu terlihat pada usahanya menganjurkan orang-orang untuk melakukan itu. Pada suatu hari beliau pernah melihat salah seorang sahabatnya mengenakan pakaian yang sudah rusak. Lalu dia mengajaknya ke tempat sepi dan memberinya uang 1.000 dirham untuk memperbaiki penampilannya. Maka sahabatnya itu berkata, “Aku ini orang kaya dan hidup senang, sama sekali tidak perlu itu.”
Abu Hanifah pun berucap, “Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (nikmat-Nya) yang diberikan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu kamu harus mengubah penampilanmu sehingga kamu tidak direndahkan oleh rekanmu.” Sudah barang tentu, para dai yang menyeru ke jalan Allah baik laki-laki maupun perempuan harus senantiasa berpenampilan menarik, rapi serta menyenangkan untuk dilihat, dan tampil lebih menarik daripada orang-orang lain sehingga lebih mudah menyentuh hati mereka serta memasukkan dakwahnya ke dalam jiwa mereka.
Bahkan mereka ditunfut untuk berpenampilan seperti itu, meskipun tidak sedang berada di tengah-tengah orang banyak. Karena penyeru ke jalan Alah harus senantiasa memperhatikan penampilan, kebersihan badan, pakaian, kuku, dan rambut mereka, meski sedang berada dalam kesendirian Hal itu dilakukan sebagai upaya memenuhi seruan fitrah yang sehat yang diberitahukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui sabdanya,
“Lima perkara yang merupakan bagian dari fitrah: “Khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kurmis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, memelihara keindahan fitrah kemanusiaan termasuk hal yang dicintai oleh agama Islam dan oleh setiap orang yang memiliki karakter lembut dan citra rasa yang sehat.
Menghindari Tabarruj dan Tidak Berlebih-lebihan dalam Berhias
Namun demikian, perhatian pada penampilan ini tidak boleh menyebabkan wanita Muslimah melakukan tabarruj dan memperlihatkan perhiasannya kepada selain suaminya dan muhrimnya, dan tidak menjadikannya berlebih-lebihan dalam berpenampilan, yaitu dengan melanggar batas-batas keseimbangan yang telah ditetapkan Islam. Oleh karena itu, wanita Muslimah yang benar-benar sadar akan agamanya dan jujur serta membuka mata lebar-lebar akan senantiasa mengutamakan kesederhanaan dan keseimbangan dalam segala hal.
Selain juga tidak pernah lepas dari benak hatinya bahwa Islam telah menganjurkan untuk memakai perhiasan yang baik dan halal. Islam juga telah memperingatkan untuk tidak berlebih-lebihan dan melampuai batas dalam mengenakannya, yang menjadikan wanita sebagai budak kehidupan. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits:
“Celakalah hamba dinar dan dirham, hamba sutera dan beludru. Apabila diberi, dia akan merasa senang, dan apabila tidak diberi, dia akan marah.”
Wanita-wanita sekarang ini banyak tunduk dan terpengaruh oleh showroom maupun toko-toko pakaian, sehingga wanita kaya di antara mereka sering berganti-ganti pakaian mahal. Mereka telah terjerumus ke dalam penghambaan diri terhadap materi yang sudah sejak dari awal telah diwanti-wanti oleh Rasulullah Sja Alaihi Wasallam . Mereka ini senantiasa mendekati tepi jurang kesengsaraan yang mematikan yang dapat memerosokkan mereka ke dalam penghambaan kepada pakaian-pakaian mewah serta perhiasan-perhiasan yang sangat mahal yang sudah melampaui batas-batas keseimbangan dan kesederhanaan yang telah ditetapkan Islam sehingga menyimpang dari tujuan penciptaan mereka di dunia ini.
Di antara malapetaka besar yang menimpa banyak wanita Muslimah pada zaman sekarang ini adalah kesenangan berlomba-lomba dalam memakai pakaian mewah dan mengoleksi pakaian termahal pada hari pernikahan, sehingga resepsi pernikahan mereka berubah menjadi tempat pameran pakaian, yang semakin memperketat persaingan hingga benar benar telah berlebihan dan melakukan pemborosan yang semuanya jauh dari sendi-sendi pemikiran sehat dan keseimbangan. Fenomena ini muncul secara jelas pada saat pengantin mengenakan semua gaunnya yang jumlahnya sampai sepuluh buah, yang dikenakannya secara bergantian. Di mana setiap kali mengenakan gaun baru, sang pengantin memamerkan gaunnya kepada para tamu, L persis seperti apa yang dilakukan oleh peragawati di Barat. Penyelenggara resepsi itu tidak sadar bahwa di antara tamu tersebut ada dari kalangan orang miskin yang tidak mampu membeli pakaian bernilai mahal tersebut, sehingga mereka merasa tersinggung dan sedih, serta akan memancing kecemburuan, kedengkian, dan iri hati terhadap penyelenggara acara pernikahan ini dan keluarganya, juga terhadap orang-orang kaya seperti mereka yang hidup dalam kesenangan dan kemewahan. Hal itu tidak akan pernah terjadi jika acara pemikahan itu dilaksanakan dengan penuh kesederhanaan. Fenomena di atas jelas bertentangan dengan jiwa Islam yang selalu menjunjung tinggi kemudahan, toleransi, keseimbangan, dan kesederhanaan, serta melarang untuk berbuat berlebih-lebihan, boros, dan sombong.
Tidak diragukan lagi, wanita Musimah yang benar-benar sadar akan petunjuk agamanya terhindar dari keterperosokan ke dalamnya, karena telah dibentengi dengan petunjuk agamanya yang agung serta berpegang pada prinsip keseimbangan dan kesederhanaan yang telah dibawa oleh ajaran islam yang penuh dengan toleransi.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 100-104)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)















































































