• Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kirim Tulisan
Senin, September 21, 2026
Advertisement
  • HOME
  • ARTIKEL
    • All
    • Adab & Ibadah
    • Al-Qur'an & Hadits
    • Aqidah & Manhaj
    • Fiqih Islam
    • Sirah Nawabiyah
    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Fatwa MUI: Mengapa Memanfaatkan Dana Hasil Investasi Setoran Awal untuk Jamaah Lain Haram?

  • KHAZANAH
    • All
    • Biografi
    • Islam & Indonesia
    • Pendidikan & Ilmu
    • Sejarah Islam
    • Tazkiyatun Nafs
    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Nasehat yang Menggugah, Dialah Kematian

    Putra Abu Jahal Menjadi Mujahid Handal

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 10): Hijrah Ustadz Umar Soleh ke Kota Makassar

    Sejarah Ulama Nusantara (Bag 5): Jelajah Dakwah Syaikh Yusuf al-Maqassari

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 9): Semangat Menuntut Ilmu Ustadz Umar Soleh Mulai Dari Sekolah Dasar

  • NASIONAL
    • All
    • Berita Nasional
    • Feature
    • Info Kegiatan
    • Kabar Kampus
    • Kabar Ummat
    • Sekolah & Universitas
    Bukan Sekadar Prestasi, MQL Batch 10 Ajak Muslimah Bertumbuh Bersama Teman Taat

    Bukan Sekadar Prestasi, MQL Batch 10 Ajak Muslimah Bertumbuh Bersama Teman Taat

    Presiden Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

    Presiden Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

    SAJID Audiensi dengan KPI, Soroti Disrupsi AI dan Dorong Percepatan Revisi UU Penyiaran

    SAJID Audiensi dengan KPI, Soroti Disrupsi AI dan Dorong Percepatan Revisi UU Penyiaran

    LAZNAS Dewan Dakwah Mudahkan Umat Tunaikan ZIS untuk Dakwah Pedalaman

    LAZNAS Dewan Dakwah Mudahkan Umat Tunaikan ZIS untuk Dakwah Pedalaman

    Besok di UINAM! Moslem Qur’anic Learning (MQL) Batch 10 Ajak Muslimah Kampus Bertumbuh

    Besok di UINAM! Moslem Qur’anic Learning (MQL) Batch 10 Ajak Muslimah Kampus Bertumbuh

    Perayaan 100 Tahun Gontor: Jejak Silaturahmi Tujuh Presiden RI, Mulai Soekarno Hingga Prabowo

    Perayaan 100 Tahun Gontor: Jejak Silaturahmi Tujuh Presiden RI, Mulai Soekarno Hingga Prabowo

  • KALAM
    • All
    • Akhir Zaman
    • Ghazwul Fikr
    • Jihad Fisabilillah
    • Khutbah Jum'at
    • Siyasah Syar'iyyah
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

  • LIFESTYLE
    • All
    • Cinta Dunia
    • Gender & Feminisme
    • Jendela Hati
    • Parenting
    • Ramadhan
    • Tips Bahagia
    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Ayat Al Quran yang Patut Direnungi, Sebelum Berpisah dengan Ramadhan (Menutup Kebaikan dengan Istigfar)

    Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan

    Kuliah Ramadhan 01: Taqwa dan Adab

    Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orangtua (Bag 1)

    Catatan Pendidikan (Bag 7): Tua Sebagai Pendidik Pertama dan Utama dalam Keluarga

    Catatan Pendidikan (Bag 6): Covid 19 dan Masa Depan Pendidikan Kita

    Cadar Dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (Bag 1)

  • DUNIA ISLAM
    • All
    • Info Haji & Umrah
    • Internasional
    • Kabar Turki
    • Palestina
    • Timur Tengah
    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    Genosida Terus Berlanjut, Jenazah 19 Warga Gaza Ditemukan dari Reruntuhan Bangunan

    Genosida Terus Berlanjut, Jenazah 19 Warga Gaza Ditemukan dari Reruntuhan Bangunan

  • TSAQOFAH
    • All
    • Ekonomi Islam
    • Jejak Hidayah
    • Kolom
    • Opini Anda
    • Resensi Buku
    Ketua Umum LIDMI Ajak Mahasiswa STIBA Makassar Berkontribusi dalam Politik di Indonesia

    Hikmah Maulid dari Aspek Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Keteladanan Pemimpin

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

  • PAHAM SESAT
    • All
    • Ahmadiyah
    • Feminisme
    • Lainnya
    • Sepilis
    • Syi'ah
    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Pandangan Hindu Terhadap Pluralisme Agama

    Melanjutkan Tongkat Estafet Perjuangan M. Natsir Membendung Arus Deras Sekularisme Dalam Pendidikan

    Pandangan Protestan Terhadap Pluralisme Agama

    Pandangan Katolik Terhadap Pluralisme Agama

    Upaya Meliberalkan Guru Agama

    Kebebasan Konsep Penting Worldview Sekular

    Promosi Lesbi, Hina Nabi dan Lecehkan Al-Quran

No Result
View All Result
  • HOME
  • ARTIKEL
    • All
    • Adab & Ibadah
    • Al-Qur'an & Hadits
    • Aqidah & Manhaj
    • Fiqih Islam
    • Sirah Nawabiyah
    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Hikmah di Balik Bencana Nepal, Panggilan untuk Bermuhasabah

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Cara Menjadi Manusia Terbaik Menurut Ibnu Qayyim

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Meneladani Nabi Ibrahim AS di Tengah Dunia yang Penuh Konflik

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ketauladanan Ibrahim AS dalam pengabdian dan kepemimpinan

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Ibadah Haji: Antara Ritual dan Pengabdian Sosial

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Tujuan Hakiki Pendidikan, Menanamkan Nilai dan Adab

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Satu Dinding Cukup Menjadi Pemisah Antara Kubur dan Masjid

    Fatwa MUI: Mengapa Memanfaatkan Dana Hasil Investasi Setoran Awal untuk Jamaah Lain Haram?

  • KHAZANAH
    • All
    • Biografi
    • Islam & Indonesia
    • Pendidikan & Ilmu
    • Sejarah Islam
    • Tazkiyatun Nafs
    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Kepemimpinan Ekoteologi Perempuan dan Lingkungan

    Nasehat yang Menggugah, Dialah Kematian

    Putra Abu Jahal Menjadi Mujahid Handal

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 10): Hijrah Ustadz Umar Soleh ke Kota Makassar

    Sejarah Ulama Nusantara (Bag 5): Jelajah Dakwah Syaikh Yusuf al-Maqassari

    Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 9): Semangat Menuntut Ilmu Ustadz Umar Soleh Mulai Dari Sekolah Dasar

  • NASIONAL
    • All
    • Berita Nasional
    • Feature
    • Info Kegiatan
    • Kabar Kampus
    • Kabar Ummat
    • Sekolah & Universitas
    Bukan Sekadar Prestasi, MQL Batch 10 Ajak Muslimah Bertumbuh Bersama Teman Taat

    Bukan Sekadar Prestasi, MQL Batch 10 Ajak Muslimah Bertumbuh Bersama Teman Taat

    Presiden Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

    Presiden Prabowo Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor

    SAJID Audiensi dengan KPI, Soroti Disrupsi AI dan Dorong Percepatan Revisi UU Penyiaran

    SAJID Audiensi dengan KPI, Soroti Disrupsi AI dan Dorong Percepatan Revisi UU Penyiaran

    LAZNAS Dewan Dakwah Mudahkan Umat Tunaikan ZIS untuk Dakwah Pedalaman

    LAZNAS Dewan Dakwah Mudahkan Umat Tunaikan ZIS untuk Dakwah Pedalaman

    Besok di UINAM! Moslem Qur’anic Learning (MQL) Batch 10 Ajak Muslimah Kampus Bertumbuh

    Besok di UINAM! Moslem Qur’anic Learning (MQL) Batch 10 Ajak Muslimah Kampus Bertumbuh

    Perayaan 100 Tahun Gontor: Jejak Silaturahmi Tujuh Presiden RI, Mulai Soekarno Hingga Prabowo

    Perayaan 100 Tahun Gontor: Jejak Silaturahmi Tujuh Presiden RI, Mulai Soekarno Hingga Prabowo

  • KALAM
    • All
    • Akhir Zaman
    • Ghazwul Fikr
    • Jihad Fisabilillah
    • Khutbah Jum'at
    • Siyasah Syar'iyyah
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Memaknai All Eyes on Rafah, Buka Mata Dunia Atas Genosida di Gaza

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Tragedi Gaza, Apakah Kita Masih Ada?

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Kita Bisa dan Wajib untuk Berjuang bagi Al Aqsha, Gaza dan Palestina

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat: Gaza Masih Berdarah, Jangan Tinggalkan

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Kita Adalah Gaza

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Istqomah Peduli Gaza Adalah Ujian Iman

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Hukuman Mati Tahanan Palestina, Dimana Peran Kita?

  • LIFESTYLE
    • All
    • Cinta Dunia
    • Gender & Feminisme
    • Jendela Hati
    • Parenting
    • Ramadhan
    • Tips Bahagia
    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Kuliah Ramadhan 03: Kedisiplinan Itu Adab

    Ayat Al Quran yang Patut Direnungi, Sebelum Berpisah dengan Ramadhan (Menutup Kebaikan dengan Istigfar)

    Amalan Terbaik di Bulan Ramadhan

    Kuliah Ramadhan 01: Taqwa dan Adab

    Rambu-Rambu Berbakti Kepada Orangtua (Bag 1)

    Catatan Pendidikan (Bag 7): Tua Sebagai Pendidik Pertama dan Utama dalam Keluarga

    Catatan Pendidikan (Bag 6): Covid 19 dan Masa Depan Pendidikan Kita

    Cadar Dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (Bag 1)

  • DUNIA ISLAM
    • All
    • Info Haji & Umrah
    • Internasional
    • Kabar Turki
    • Palestina
    • Timur Tengah
    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    Genosida Terus Berlanjut, Jenazah 19 Warga Gaza Ditemukan dari Reruntuhan Bangunan

    Genosida Terus Berlanjut, Jenazah 19 Warga Gaza Ditemukan dari Reruntuhan Bangunan

  • TSAQOFAH
    • All
    • Ekonomi Islam
    • Jejak Hidayah
    • Kolom
    • Opini Anda
    • Resensi Buku
    Ketua Umum LIDMI Ajak Mahasiswa STIBA Makassar Berkontribusi dalam Politik di Indonesia

    Hikmah Maulid dari Aspek Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Keteladanan Pemimpin

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Rasisme: Dosa Asal Amerika

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

    Allah Senantiasa dan Secara Misterius Bekerja untuk Kemenangan Al-Haqq

  • PAHAM SESAT
    • All
    • Ahmadiyah
    • Feminisme
    • Lainnya
    • Sepilis
    • Syi'ah
    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Melalui Perpres, Prabowo Tetapkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter Setara dengan Terorisme

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Menolak Normalisasi LGBT, Menjaga Integritas Moral dan Akademik Kampus

    Pandangan Hindu Terhadap Pluralisme Agama

    Melanjutkan Tongkat Estafet Perjuangan M. Natsir Membendung Arus Deras Sekularisme Dalam Pendidikan

    Pandangan Protestan Terhadap Pluralisme Agama

    Pandangan Katolik Terhadap Pluralisme Agama

    Upaya Meliberalkan Guru Agama

    Kebebasan Konsep Penting Worldview Sekular

    Promosi Lesbi, Hina Nabi dan Lecehkan Al-Quran

No Result
View All Result
Mujahid Dakwah
No Result
View All Result
in Kolom, TSAQOFAH

Urgensi Islamisasi Pengajaran Sejarah

Muh Akbarby Muh Akbar
Reading Time: 14 mins read
Juni 16, 2026
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on WhatsApp

“No civilization can prosper or even exist after having lost this pride and the connection with its own past.”
(Muhammad Asad/Leophold Weiss)

Dalam majalah Media Hindu (edisi Oktober 2011), dituliskan, “Namun atas dasar pendapat tersebut di atas, mustahil suatu bangsa menjadi maju apabila mayoritas rakyatnya masih menganut agama yang faktanya menggusur budaya dan nilai-nilai luhur bangsa….. Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memlihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju” (Lihat Dr. Adian Husaini, Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, 2018: 61)

Dalam sejarah Alam Melayu Nusantara atau Indonesia, nativisasi telah lama terjadi. Sejak Rafles membuka kembali puing-puing Candi Borobudur—candi yang dibangun atas jasa rakyat jelata dari perintah raja biadab demi memenuhi kepuasan kekuasaan serta persaingan kursi kerajaan—terbuka jugalah pintu nativisasi yang sangat lebar. Dengan lantangnya si komandan Inggris itu berkata bahwa “inilah peninggalan berharga negeri ini (Nusantara).” Seakan-akan perkataan itu mengindikasikan bahwa Hindu-Budha-lah agama asli rakyat Indonesia, dan seakan hendak mengatakan bahwa kedua agama itulah yang telah memberikan jasa yang sangat besar serta warna indah terhadap kepulauan Melayu Nusantara juga para penghuninya.

You might also like

Ketua Umum LIDMI Ajak Mahasiswa STIBA Makassar Berkontribusi dalam Politik di Indonesia

Hikmah Maulid dari Aspek Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Keteladanan Pemimpin

Agustus 26, 2026
Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

Agustus 26, 2026
Rasisme: Dosa Asal Amerika

Rasisme: Dosa Asal Amerika

Juni 28, 2026
Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

Allah Terus Menjamin Kemenangan Al-Haqq- Bagian 2

Juni 25, 2026

Hal ini terus berlanjut kepada pemahaman indah namun menyesatkan. Dimana ada sebuah pernyataan yang berkata bahwa Nusantara atau Indonesia ini disatukan di bawah kerajaan Majapahit. Distorsi kembali berlanjut dengan ucapan bahwa kedatangan Islam yang pertamakali adalah pada abad 13 oleh seorang pedagang Gujarat dari India. Namun yang lebih menyakitkan adalah tatkala penggusuran nilai-nilai Islam dimasifkan lewat pengajaran sejarah pahlawan yang lebih condong kepada tokoh-tokoh yang bisa dibilang “bukan para ulama”.

Namun manakala seorang ulama atau pejuang Islam benar-benar diungkapkan, kesalahan berikutnya adalah pengenalan yang kurang baik, bahkan masih diselipkan distorsi dari tokoh tersebut, terutama dari segi perjuangannya. Inilah fakta yang terjadi di banyak institusi pendidikan. Inilah confusion of knowledge, lewat jalur sekularisasi dan nativisasi dalam pendidikan sejarah.

Maka permasalahan ini perlu dibahas satu per-satu. Pertama, terkait kedatangan Islam pertamakali pada abad 13 oleh seorang pedagang Gujarat. Padahal Hamka telah lama berkata dalam bukunya, Dari Perbendaharaan Lama, bahwa Islam datang sejak abad ke-7 (Lihat Hamka, Dari Perbendaharaaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam Di Nusantara, 2017: 3-5).

Bahkan sejak tahun 1958 Hamka menyatakan bahwa Islam yang pertamakali datang ke Nusantara, diterima langsung dari Mekah, bukan dari Gujarat atau Malabar, sebagaimana yang dicetuskan oleh Prof. Snouck Hurgronje. Sebab, jika memakai konsep Snouck, maka akan disimpulkan bahwa Islam yang datang ke Nusantara tidak lagi asli. Padahal fakta yang sesungguhnya tidaklah demikian.

Hal ini berdasarkan bahan yang diberikan oleh catatan Tiongkok. Terkait isi catatan tersebut beliau mengatakan, “dinjatakan bahwa di “Cho’po” ada sebuah keradjaan bernama Holing. Pada tahun 574 negeri itu diperintah oleh Ratu Sima Chabar berita tentang negeri itu terdengar kepada Radja Ta-Cheh. Lalu baginda mengirim utusan ke sana. Utusan itu mentjetjerkan pundi-pundi berisi emas. Tidak ada orang yang berani mengambil. Setelah tiga tahun, lalu diambil oleh putera Radja Perempuan itu sendiri; anak radja itu disuruh baginda bunuh. Karena permohonan menteri-menteri ditukar hukuman itu, disuruh memotong kaki anak itu. Ta-Cheh adalah nama Jang diberikan Tionghoa buat Arab. Tjatatan tahun itu sesuai dengan zaman pemerintahan Mu’awijahm sahabat Nabi kita jang mendirikan Keradjaan Nabi Omajah.” Tidak berhenti sampai disitu, Hamka juga mengemukakan satu catatan bukti sejarah lagi, yakni dalam buku “Preaching of Islam” yang ditulis oleh Sir Thomas Arnold. Dengan mengutip buku itu, Hamka berkata, “di pantai Barat Pulau Sumatera telah didapati satu kelompok perkampungan orang Arab,—pada tahun 684. Tahun 684 ialah zaman pemerintahan putera Mu’awijah jang bernama Jazid Kesatu.”

Menanggapi dua sumber tersebut, Hamka berkesimpulan, “Alhasil pada tahun 674 telah berdjumpa orang Arab Islam di Djawa. Pada tahun 684 telah berdjumpa kelompoknja di pantai Barat Sumatera. Sebagai disengadja rupanja buat memutuskan hubungan bulangan tahun itu dengan Damaskus, pusat Kebudajaan dan politik Islam atau Arab pada masa itu. Dan kita sebagai peminat sedjarah Islam harus tahu bahwa kemungkinan utusan ke Djawa itu ialah “Badan Penjelidik” sebab Mu’awijah-lah Chalifah Islam jang mula-mula mendirikan armada lautan. Ahli-ahli sedjarah belanda telah menjatakan keragu-raguan tentang adanja Radja Ta-Cheh dengan arti utusan Radja Arab itu.

Padahal sudah terang bahwa Amiril Mu’minin Mu’awijah adalah Penguasa Besar Arab pada masa itu. Dan pula mereka berkata bahwa utusan itu sendirilah jang menjebut dirinja Radja. Orang tidak mau mengemukakan kenjataan adat Islam, bahwa kalau mereka musafir lebih dari dua orang, seorang hendaklah didjadikan Radja (Amir). Dan malah ada orang Arab, menurut sumber Sir Thomas Arnold, di pantai Barat Sumatera tahun 684” (Lihat buku Risalah Seminar Sedjarah MasukNja Islam ke Indonesia, 1963: 76-78. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari para peserta seminar, salah satunya Buya Hamka. Seminar ini berlangsung di Medah pada tanggal 17-20 Maret 1963).

Adapun siapa yang menyebarkan pertamakali, dijelaskan oleh al-Attas dalam bukunya, Historical Fact and Fiction. Dimana beliau berkata bahwa Islam disebarkan untuk yang pertamakalinya oleh ulama yang berdagang, bukan pedagang yang berdakwah dan itu dilakukan dengan cara yang tertata, terencana, dan konsisten. Lebih jauh beliau mengatakan, “the spread of Islam by these Arab Missionaries in the Malay world was not a haphazard matter, a disorganized sporadic affair carried on by merchants and traders and port authorities, and even by sufi orders conceived somewhat as trade guids, whose roles have been exaggerated. It was a gradual process, but it was planned and organized and executed in accordance with the timelines of the situation.” (lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011: 32).

Kedua, mengenai pernyataan yang mengatakan bahwa Nusantara disatukan oleh Majapahit di bawah komando Gajah Mada yang ditegaskan lagi oleh Sumpah Palapa-nya. Padahal itu adalah suatu ketidakmungkinan. Sebab faktanya Gajah Mada-lah yang justru menyebabkan perpecahan di Nusantara, yakni tatkala ia memicu Purang Bubad, peperangan antara Majapahit dan Padjajaran. Inilah peperangan yang nantinya menimbulkan kebencian yang mendalam dari masyarakat Jawa (Sunda) kepada jendral Majapahit itu.

Dalam Serat Pararaton, Kidung Sunda and Kidung Sundayana, ditulis bahwa Perang Bubat dipicu olehnya, tatkala Hayam Wuruk (raja Majapahit) menginginkan persatuan dan membentuk satu aliansi bersama Padjajaran dengan rencanan yang dibuatnya. Yaitu dengan menikahkan dirinya dengan Dyah Pitaloka (Putri kerajaan Padjajaran). Padahal disisi lain, Gajah Mada menganut satu pemikiran yang berbeda, yakni pemikiran yang berkeyakinan bahwa persatuan itu hanya akan terwujudkan dengan penaklukkan.

Tatkala pasukan Padjajaran (yang hendak pergi menuju Majapahit beristirahat di Bubad, Sejak lama Gajah Mada dan pasukannya ketika itu sudah merencanakan peperangan, dan akhirnya peristiwa itupun terjadi. Saat itulah peperangan antar kerajaan besar terjadi. Gajah Mada sukses dan rencananya berjalan tanpa hambatan. Namun sejak itulah dirinya telah hilang kehormatannya di mata masyarakat Jawa. Saat itulah persatuan tidak lagi bisa dicapainya. Itulah titik akhir dari impian yang terkandung dalam Sumpah Palapa. Serta peperangan itulah titik awal dari perpecahan (Lebih jauh, lihat Enung Nurhayati Ma., Ph. D., Gajah Mada: Sistem Politik dan Kepemimpinan, 2018: 81-101).

Ketiga, terkait dengan pemahaman bahwa Islam-lah pemecah Nusansatara karena serangan Raden Patah terhadap Gajah Mada. Jadi menurut pemahaman itu, Majapahit gagal menyatukan Nusantara karena Raden Patah menyerang Gajah Mada. Pertanyaannya, apakah mereka lupa atau mungkin tidak tahu dengan fakta Perang Bubad tadi? Sudah seharusnya sejarah diluruskan bahwa Majapahit hancur karena persaingan kekuasaan dari dalam tubuh Majapahit itu sendiri. Jadi kehancuran Mapahit bukan dari luar, apalagi Islam, melainkan dari dalam dan oleh penghuni kerajaan itu sendiri.

Justru Majapahit-lah yang menyerang kerajaan-kerajaan Islam. Namun hebatnya, para ulama-ulama dari kerajaan itu segera pergi ke Majaphit yang sudah lemah, untuk kemudian melakukan islamisasi. lebih jelasnya, Hamka berkata, “Majapahit jatuh bukanlah karena sikap kekerasan dan penyerangan senjata, keruntuhan Majapahit tidak mempunyai orang besar lagi.” Dan inilah yang sejak dulu senantiasa diimpikan oleh Prof. Snouck Hourgronye. “Hilangnya penghargaan kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri, tertonjollah ke depan nama Gajah Mada. Turunlah nilai Raden Patah dan Patih Unus yang mencoba mengusir Portugis dari Malaka dan tertonjollah ke depan nama Airlangga.” (Hamka, 2017: 8-10)

Kenyataannya, justru Islam-lah yang telah menyatukan Nusantara dengan satu agama dan satu bahasa, yaiu bahasa Melayu. Bahkan itu di katakan langsung oleh al-Attas: “The spread of the new and vibrant Malay Language and literature as a vehicle of Islam and knowledge presently used by more than two hundred million people in the Malay Archipelago is one of the most important factors in the creation of nationhood, the other factor being the religion of Islam itself. It terms of historical periodization in the history of civilizations, the emergence of Islam in the Malay world has brought about great changes typifying the rise of new age in the history of the Archipelago. Historian of the Archipelago have never considered language as an important source material for the study of history. (Al-Attas, 2011: XVI)

Kedatangan Islam telah membawa satu peradaban besar ke Nusantara, yang mana peradaban itu sangat mengedepankan keilmuan dan akal. Sebab, Islam adalah agama ilmu. Islam memberikan tempat lebih kepada ilmu dan mewariskan budaya atau tradisi ilmu ke tempat yang disinggahinya dengan masing-masing institusinya. Dalam hal ini, Pesantren menjadi institusi yang sepatutnya tidak dilupakan. (Husaini, 2018: 65)

Maka adanya Pesantren, membuktikan bahwa Islam lebih mengutakan budaya ilmu ketimbang budaya batu. Dengan adanya Pesantren, Islam bisa tersebar kepada rakyat-rakyat kecil dan para kaum elit. Sebab pada dasarnya Islam menganut dua jalur dakwah: bottom up Islamization dan upper dawn Islamization. Islam tidak seperti Budha dan Hindu, yang dengan sistem kasta-nya, membatasi orang-orang yang berkasta rendah untuk mendengar “dakwah-dakwah” agama mereka yang berkasta tinggi, sehingga kemudian tembok kerajaan menjadi pembatas dalam mewujudkan sistem kasta tersebut. Maka dari itu al-Attas sampai harus berkata, “The coming of Islam was the most momentous event in the history of the archipelago.” (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism, 1993: 169).

Keempat, adalah penyataan yang menganggap bahwa semua elemen dalam Islam sama sekali tidak meresap serta tidak membentuk identitas masyarakat Nusantara. Tapi justru yang telah melakukan itu semua adalah Hindu dan Budha. Maka kemudian al-Attas membantah statement yang sama sekali tidak punya dasar ini. beliau menuliskan, “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia, hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan keHinduannya, keBudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, faham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka” (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1990: 41).

Maka dalam buku tersebut, al-Attas menekankan bahwa kedatangan Hindu dan Budha ke Nusantara tidaklah membawa pengaruh bahkan suatu efek yang besar terhadap masyarakat. Pertama, pada dasarnya agama mereka bukanlah agama misi atau dakwah. Kedua, agama mereka hanya untuk kalangan kasta-kasta elite. Ketiga, agama mereka lebih mementingkan seni atau kebudayaan arsitektural ketimbang filsafat yang bertumpu pada rasionalisme atau budaya ilmu. Lebih jauh, Al Attas mengatakan,

“masyarakat Melayu-Indonesia itu sebenarnya secara keseluruhan bukanlah masyarakat Hindu, tetapi pada hakikatnya hanya golonagn bangsawan sajalah yang menganut agama itu dengan sungguh-sungguh ……. Kita harus tahu bahwa kedatangan agama Hindu itu tidak mengubah pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia yang telah memiliki suatu weltanschauung atau pandangan hidup yang berdasarkan seni dan hukan filsafat ……. dari abad keenam hinhha abad kesebelas Masehi, negeri Sumatera merupakan pusat agung agama itu (Budha) serta pemikiran filsafatnya. Namun begitu, pengaruh pendita-pendita agama di Sumatera tampaknya tidak meninggalkan kesan apa-apa dalam bidang filsafat. Jejak yang terdapat sebagai peninggalannya, seperti jejak agama Hindu di pulau Jawa, juga nyata dalam kesenian, dan merupakan suatu kenyataan yang mengandung arti bahwa jejak kesenian agama Budha itu timbul di pulau Jawa, lalu menjelmakan diri sebagai Candi Borobudur yang termasyhur itu.” (Ibid, Hal. 30-33)

Kemudian beliau juga mencoba menyajikan sejarah Islam di Nusantara dengan di Eropa, dari mulai waktu kedatangannya sampai pengaruhnya. Beliau mencoba meluruskan persepsi kebanyakan orang bahwa yang memajukan Nusantara itu adalah Hindu-Budha dengan kebudayaan arsitektural. Padahal, sebagaimana yang terjadi di Eropa sebelum kedatangan Islam, masyarakat ketika itu merupakan masyarakat yang tidak berbudaya, runtuh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanannya, bangga dengan kebiadabannya, dan yang terpenting, mereka lebih mementingkan kebudayaan patung ketimbang budaya ilmu. Inilah yang kemudian membuat peradaban mereka, baik di Nusantara maupun Eropa, terpaksa mengekor kepada peradaban Islam yang semarak dengan nilai-nilai, adab, dan budaya ilmu, sekalipun yang diserang adalah peradaban Islam itu sendiri.

Maka kata Al-Attas, “Kedatangan Islam telah dianggap sebagai pembimbing ke arah suatu zaman baru, membawa permulaan suatu zaman yang disebut zaman modern, bukan saja dalam sejarah Eropa tapi juga dalam sebagian besar sejarah dunia yang terpengaruh oleh kedatangan Islam. Zaman modern ini disebut “modern” sebab ilmu pengetahuannya berdasarkan rasionalisme atau pengetahuan aqliah, dan sistem masyarakatnya mementingkan kebebasan individu atau kepribadian manusia dari genggaman kepercayaan yang tidak rasional; sedangkan zaman yang bukan modern itu berdasarkan seni yang membantu dalam membelenggu masyarakat dengan kepercayaan takhayul.”

Kemudian Al-Attas kembali membuat kesimpulan, “Tidaklah berlebihan jika kita bandingkan pengaruh kedatangan Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia dengan pengaruh kedatangan Islam di Eropa pada abad keenam dan abad ketujuh Masehi. Sebagaimana di Eropa, seni mengambil peranan utama sebelum dipengaruhi oleh Islam, maka di daerah Kepulauan Melayu-Indonesia pun seni menjadi dasar hidup di zaman Hindu-Buddha. Sebagaimana zaman modern mendapat pengaruh Islam dan mewujudkan suasana baru di Eropa, demikian jugalah kedatangan Islam ke daerah Kepulauan Melayu-Indonesia menandakan kedatangan zaman baru dan permulaan zaman modern.” (Ibid, hlm. 18-19)

Kelima, mengenai kegelapan sejarah terhadap beberapa ulama dan pahlawan Islam. Sebab, ini merupakan ketidakadilan. Seakan-akan mereka dianggap tidak berjasa atau kurang jasanya dibandingkan dengan yang lainnya. Hampir banyak murid yang lebih tahu bahkan lebih mengagungkan Gajah Mada ketimbang Raden Patah, Ki Hajar Dewantara ketimbang Imam Zarkasyi atau Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, dan R. A. Kartini ketimbang Malahayati.

Inilah pentingnya adab, yaitu bagaimana seorang Muslim mesti lebih tahu siapa yang semestinya ia kenal dan muliakan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Qur’an Allah berfirman “inna akramakum ‘inda Allah atqakum.” Maka sebagai seorang Muslim, sudah selayaknya ia tahu siapa yang lebih mulia, Gajah Mada atau Raden Patah, Ki Hajar atau Imam Zarkaysi, Kartini atau Malahayati. Lebih-lebih, kehebatan seorang pahlawan dalam Islam ditentukan dalam prespektif Qur’an, sebagaimana usaha perlawanan Nabi dalam menegakkan kalimat tauhid (QS. 16: 36). “Bukan pemegang kekuasaan yang terpenting, tetapi pembela kebenaran Ilahi yang harus dikenang” (Dr. Adian Husaini, 50 Tahun Meraih Ilmu dan Bahagia, 2015: 8).

Inilah distorsi atau penggelapan sejarah. Hal ini bukan baru muncul sekarang, namun sejak dulu, bahkan Hamka sendiri sudah mengingatkan sejak lama dalam kitab tafsirnya. Tatkala Hamka menafsirkan surat al-Maidah ayat 57-63, ia berkata bahwa Zending dan orientalist telah lama menggunakan 12 cara untuk menghadapi Islam, salah satunya adalah dengan “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme. Dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada mencintai Raden Patah. (Lihat Hamka, Tafsir Al-Azhar—Juzu’VI), 1984: 300).

Kenalkah murid-murid dengan Adipati Yunus, seorang raja Demak yang memimpin ekspedisi jihad dengan 375 kapal perang dari Demak ke Malaka? Begitupula dengan Syaikh Yusuf al-Maqassari, Seorang mufti dan penasihat dari kerajaan Banten yang memimpin ekspedisi perang menghadapi kaum kolonial Belanda tatkala raja Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) telah kalah dan ditahan. Selama sang raja ditahan, Syaikh Yusuf mencoba membuat rakyat banten menyadari bahwa penjajahan sedang terjadi, apalagi anak sang raja sendiri sedang rela menjadi raja boneka yang dikendalikan oleh Belanda. Dan akhirnya Syaikh Yusuf-pun berhasil dan orasinya untuk berperang didengar, walaupaun kisahnya tidak berakhir manis. Karena perjuangannya itulah kemudian ia ditangkap dan diasingkan ke Ceylon kemudian Tanjung Harapan, dengan alasan agar “doktrinnya” yang merugikan Belanda tidak terdengar lagi (meskipun pada akhirnya tetap saja pengaruhnya terus beredar luas sebab lisan dan kitab-kitab yang dikarangnya diajarkan kepada orang-orang disana dan orang-orang yang selesai berhaji dan bersinggah sementara disana. Bahkan beberapa karyanya dibawa ke Nusantara untuk diajarkan kepada masyarakat dan lagi-lagi bisa mempengaruhi masyarakat disana).

Terkait hal ini Hamka mengatakan berkata bahwa, rupanya Belanda sadar bahwa, akar dari perlawana Banten terhadap Sultan Haji dan Belanda adalah Syaikh Yusuf. Dia yang menyadarkan masyarakat Banten, agar sebagai muslim harus benci dengan orang kafir (Belanda) dan berjihad terhadap mereka. Sehingga Belanda menetapkan beliau sebagai seorang penghasut atau provokator. Dan karena hal itu Belanda tidak memenjarakan Syaikh Yusuf, tapi mnegasingkannya ke Ceylon, Sri Lanka.” Hamka juga mengatakan, “Adigun Sikh Yusuf, setelah ditangkap bersama Sultan yang dicintainya itu, tidaklah lama ditahan, lalu dibuang pada tahun itu juga ke negeri Ceylon. Karena Belanda sadar benar bahwa inilah biang keladi sebenarnya dari perlawanan Banten.” (Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, 2017: 39)

Kenalkah siswi-siswi dengan Cut Nyak Dien dan Keumalahayati (yang merupakan seorang jendral perang di Aceh) yang mempunyai semangat melawan penjajahan? Dalam pandangan Islam tentu mereka lebih baik dari Kartini. Sebab aksi mereka sudah terbukti dan terealisasikan, sementara Kartini baru dalam bentuk tulisan dan cita-cita. Jadi apakah pantas meletakkan mereka di bawah Kartini? Namun perlu diingat, bahwa “bukan berarti menyatakan, bahwa RA Kartini itu jelek, tidak punya jasa untuk negara! Bukan begitu! Tapi, ada wanita-wanita lain yang lebih patut dijadikan sebagai “Ibu Kita.” (Adin Husaini, 50 Tahun Perjalanan Meraih Ilmu dan Bahagia, 2015: 17).

Tidakkah kita lupa akan Imam Zarkasyi dengan Pesantren Gontor-nya, M. Natsir dengan Mosi Integralnya, KH. Hasyim Asy’ari dengan pesantren Tebu Ireng-nya dan fatwa Jihadnya dalam membangkitkan semangat perjuangan melawan tentara sukutu (Belanda dan Inggris), A. Hassan dengan kepiawaiannya dalam berdebat dengan musuh-musuh Islam, Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya (baik sebagai ormas ataupun institusi pendidikan), Keumalahayati, Nyai Ahmad Dahlan, Rohana Kudus, dan Rahma Elyunusiah? Kenalkah para siswa dengan sosok KH. Agus Salim yang merupakan diplomat handal dengan belasan bahasanya serta kepiawaiannya dalam menyusun Pembukaan UUD 45? Para siswa pasti lupa siapa itu Hamka, Prof. HM. Rasjidi, KH. Shaleh Darat, dan lain sebagainya. Kalaupun mereka tahu, mungkin mereka akan berfikir dan setuju bahwa ketiga orang itu tidak lebih baik dari Ki Hajar Dewantara dan Kartini, dan pahlawan lainnya.

Dampak negatif dari distorsi sejarah, adalah sebagaimana yang dikatakan Husaini: “Sejarah itu ibarat “kaca spion” di mobil. Kalau kita melihat ke depan, pada saat yang sama kita juga melihat kebelakang melalui kaca spion …. Jadi, kalau kebesaran kerajaan Majapahit yang Hindu dijadikan acuan sebagai puncak peradaban Indonesia yang harus diagungkan, maka tradisi Majapahit dijadikan sebagai acuan dalam pembentukan budaya bangsa – seperti tradisi patung dan simbolisasi candi sebagai simbol nasional Indonesia.” (Husaini, 2015: 6-7). Kebudayaan arsitektural inilah yang nantinya akan membentuk satu pandangan materialisme.

“Padahal, dalam prespektif Islam, yang dimaksud dengan peradaban tinggi adalah peradaban tauhid berbasis ilmu.” (Lihat Adian Husaini, 10 Kuliah Agama Islam, 2016: 221-222). “Memang, peradaban Islam peradaban ilmu, sehingga ulama-ulama Islam lebih mementingkan budaya ilmu ketimbang budaya batu. Tetapi, seni arsitektur Islam juga dikenal sangat tinggi dan mengilhami beberapa arsitektur modern di Barat. Salah satu warisan peradaban Islam yang penting adalah institusi-institusi pendidikan Islam yang khas Indonesia, seperti pondok pesantren.” (Husaini, Pendidikan Islam, 2018: 65)

Tatkala seorang Muslim tidak tahu siapa pahlawan mereka, ulama mereka, yakinlah bahwa mereka tidak akan tahu untuk apa mereka hidup (tujuan hidupnya). Mereka tidak punya atau mungkin lupa dengan konsep ibadah dalam hidup mereka, karena telah hilang peran Islam dalam sejarah Nusantara dalam pikiran mereka. Lebih-lebih, distorsi sejarah akan menghapus misi penting seorang Nabi untuk menegakkan kalimat tauhid (QS. 16: 36). Karena rantai kenabian telah dihancurkan ketika konsep Darwin dikenalkan dan sebab ketidaktahuan mereka akan ulama dan pahlawan mereka, yang mana ulama dan pahlawan mereka itulah yang juga telah mewariskan tugas penting Nabi tadi. Para siswa tidak akan pernah melanjutkan perjuangan M. Natsir dan kawan-kawannya terhadap negara dan agama Islam.

Disamping itu, dampak negatif lainnya adalah kemungkinan besar mereka bisa menjadi orang-orang yang gila dunia (dalam tujuan hidup dari aktivitas mereka) dan akan hilang rasa bangga dalam diri mereka terhadap Islam, namun justru rasa itu timbul terhadap agama atau sesuatu yang seharusnya tidak dibanggakan. Bagaimana mungkin mereka akan bangga, manakala mereka tidak mengenal apalagi mengambil ibrah dan hikmah dari kisah ulama dan pahlawan mereka sendiri?

Inilah yang sejak lama digaungkan oleh Muhammad Asad: “No civilization can prosper or even exist after having lost this pride and the connection with its own past.” (Muhammad Asad, Islam At The Crossroad, 1934: 78). Perkataan ini seakan-akan mengindikasikan bahwa kunci kebangkitan umat Islam yang masih relevan hingga saat ini adalah dengan menimbulkan rasa bangga terhadap agamanya sendiri serta mengenal ulama dan pahlawan mereka. Sebab, pada hakikatnya, pola sejarah akan kembali terulang. Maka menjadi suatu kewajiban bagi generasi selanjutnya mengenal, meneladani, mengkaji, lalu mengaplikasikan serta menyesuaikan dengan kondisi sekarang ini.

Maka, sudah sepatutnya masyarakat Islam, khususnya para pemudanya, mengenal kembali peran Islam serta para pahlawan dan ulama mereka. Melihat kondisi seperti ini, Dr. Suidat, menulis satu buku sejarah berjudul “Sejarah Nasional Indonesia: Untuk Pelajar” . Buku ini khusus untuk para pelajar, dari mulai murid murid SD bahkan mahasiswa. Sebab, ditulis dengan kalimat yang bernas serta bahasa yang ringan dan dengan bab-bab yang tersusun rapi juga tidak panjang. Buku ini mencoba memberikan satu solusi dan fakta-fakta yang sebenarnya, khususnya peran Islam serta para ulama dan pahlawannya. Dimulai dari sejarah kedatangan Islam, konfrontasinya dengan Portugis dan Belanda, sampai peran para pahlawan-pahlawan Islam bagi Nusantara. Bahkan ada sekitar 20 pahlawan Muslim dan Muslimah yang beliau tulis. Inilah terobosan baru dalam kajian Sejarah. Inilah salah satu usaha besar dalam melakukan Islamisasi pengajaran sejarah.

Insyaallah, buku ini akan menjawab 5 permasalahan yang saya sampaikan tadi. Saya yakin, manakala buku ini dibaca dan diajarkan dengan betul-betul, maka para murid akan kembali bangga dengan agamanya sendiri. Sebab, mereka akan tahu bahwa kedatangan Islam dan hasil keringat para pahlawan Islam, membawa perubahan yang sangat baik bagi Nusantara. Dan insyaallah, buku ini akan membuat para murid mengidolakan sosok-sosok seperti Sultan Ageng Tirtayasa, KH. Agus Salim, M. Natsir, dll. Jika sudah diidolakan, perjuangan mereka akan dilanjutkan.

“Pelajaran Sejarah merupakan salah satu kurikulum penting dalam pendidikan. Dengan mempelajarinya diharapkan akan memperoleh hikmah dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau. Menjadi dasar dan bekal untuk melangkah pada kehidupan sekarang dan yang akan datang.” (Dr. Suidat, Sejarah Nasional Indonesia, 2019: V).

************

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tags: IslamisasiKontributor Mujahid Dakwah.ComUstadz Fatih Madini
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Share on WhatsApp
Previous Post

Salurkan Amanah Zakat, Tim Global Zakat – ACT Beri Biaya Hidup Untuk Guru Honorer di Sidrap

Next Post

Sejarah Tokoh Wahdah Islamiyah (Bag 8): Kenangan Halaqah Musa Bersama Ustadz Usman Laba

Muh Akbar

Muh Akbar

Muhammad Akbar adalah Jurnalis Mujahid Dakwah, Founder Daar Al-Qalam, Member of Ummah International & Khadim Saladin Community, Pengurus Komite Solidaritas Palestina, dan Anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI).

    LIBERATION OF AL AQSA

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa
    BAITUL MAQDIS

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    September 15, 2026
    Maqdisi Al-Isra Night (2), Prof Abd al-Fattah el-Awaisi: Karakter Pembebas Baitul Maqdis, Mentauhidkan Allah dan Berbakti kepada Orang Tua
    Al-Maqdisi Studies

    Maqdisi Al-Isra Night (2), Prof Abd al-Fattah el-Awaisi: Karakter Pembebas Baitul Maqdis, Mentauhidkan Allah dan Berbakti kepada Orang Tua

    Agustus 19, 2026
    Maqdisi Al-Isra Night (1) Tekankan Ilmu dan Amal sebagai Bekal Pembebasan Baitul Maqdis
    Al-Maqdisi Studies

    Maqdisi Al-Isra Night (1) Tekankan Ilmu dan Amal sebagai Bekal Pembebasan Baitul Maqdis

    Agustus 19, 2026
    Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi: Al-‘Uhdah Al-‘Umariyyah adalah Warisan Peradaban Dunia
    Al-Maqdisi Studies

    Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi: Al-‘Uhdah Al-‘Umariyyah adalah Warisan Peradaban Dunia

    Agustus 5, 2026

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    PILIHAN EDITOR

    Ketua Umum LIDMI Ajak Mahasiswa STIBA Makassar Berkontribusi dalam Politik di Indonesia
    Kolom

    Hikmah Maulid dari Aspek Sosial Kemasyarakatan, Politik dan Keteladanan Pemimpin

    by Asrullah
    Agustus 26, 2026
    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?
    Adab & Ibadah

    Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

    by Wahyuni
    Agustus 18, 2026
    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945
    Kolom

    Refleksi Kemerdekaan RI ke 81: Revitalisasi Negara Pada Jalur Konstitusi UUD NRI 1945

    by Asrullah
    Agustus 26, 2026
    Perkuat Keamanan Kolektif: Turki, Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Tengah Ketegangan Timteng
    KABAR DUNIA

    Perkuat Keamanan Kolektif: Turki, Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Tengah Ketegangan Timteng

    by Muh Akbar
    Agustus 8, 2026
    Imam Shamsi Ali: Kemenangan Abdul El-Sayed Menandai Transformasi Politik Amerika Serikat
    PILIHAN EDITOR

    Imam Shamsi Ali: Kemenangan Abdul El-Sayed Menandai Transformasi Politik Amerika Serikat

    by Imam Shamsi Ali
    Agustus 7, 2026
    Argentina vs Mesir: POV Supporter Palestina dan Standar Ganda FIFA
    KABAR DUNIA

    Argentina vs Mesir: POV Supporter Palestina dan Standar Ganda FIFA

    by Muh Akbar
    Juli 9, 2026

    MATERI KHUTBAH JUMAT

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Penutupan Masjid Al-Aqsa, Masjid Suci Tanpa Ibadah

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Refleksi Kemerdekaan Indonesia untuk Palestina

    Juni 16, 2026
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Rasa Kenyang Kita dan Jeritan Kelaparan Anak-Anak Gaza

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat: Menyambut Kemenangan Al-Aqsha dengan Semua Pengorbanan

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib
    KALAM

    Materi Khutbah Jumat: Generasi Shalahuddin Pembebas Al-Aqsa dari Penjajahan Tentara Salib

    Juni 16, 2026
    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita
    Khutbah Jum'at

    Materi Khutbah Jumat Palestina: Gaza Kelaparan, Tanggung Jawab Kita

    Juni 16, 2026
    Load More
    ADVERTISEMENT


    POPULAR POST

    • Biografi Sejarawan Islam Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi

      Biografi Sejarawan Islam Prof. Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi

      1645 shares
      Share 658 Tweet 411
    • Waspada! Gerakan LGBT di Lingkup Kampus Berkedok Jumat Berbagi di Makassar

      1075 shares
      Share 430 Tweet 269
    • Perbedaan Antara Al-Quran, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi

      905 shares
      Share 362 Tweet 226
    • Innalillah, Pemimpin Hamas Ismail Haniyah Syahid Akibat Serangan Teroris Israel di Teheran

      871 shares
      Share 348 Tweet 218
    • Santri Asal Bantaeng Jadi Wisudawan Terbaik di Madrasah Tahfidz Qur’an Markaz Imam Malik Angkatan ke V

      812 shares
      Share 325 Tweet 203

    UPDATE DUNIA ISLAM

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    Rencana Tersembunyi di Bab Al-Rahma, Ekstremis Yahudi Berusaha Mengubah Wajah Al-Aqsa

    September 15, 2026
    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    Serangan ke-19 Ben Gvir ke Masjidil Aqsa: Apakah Israel Mulai Meletakkan Landasan Simbolis untuk Kuil yang Diklaim?

    September 9, 2026
    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    Pemakaman Massal Digelar di Gaza untuk 100 Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

    September 7, 2026
    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    Semakin Biadab! Ribuan Warga Zionis Israel Serbu Kompleks Masjidil Aqsa

    September 4, 2026
    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    Hidayat Nur Wahid Dorong Penguatan Koalisi Masyarakat Sipil dan Gerakan Boikot Produk Israel

    September 2, 2026
    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    Anis Matta Desak OKI Ambil Langkah Nyata Bebaskan Al-Aqsa dari Tirani Zionis Israel

    September 1, 2026
    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI

    Agustus 27, 2026
    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    260 Jurnalis di Gaza Gugur Sejak Genosida yang Dilakukan Zionis Israel

    Agustus 11, 2026
    Genosida Terus Berlanjut, Jenazah 19 Warga Gaza Ditemukan dari Reruntuhan Bangunan

    Genosida Terus Berlanjut, Jenazah 19 Warga Gaza Ditemukan dari Reruntuhan Bangunan

    Agustus 10, 2026
    Perkuat Keamanan Kolektif: Turki, Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Tengah Ketegangan Timteng

    Perkuat Keamanan Kolektif: Turki, Saudi dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan di Tengah Ketegangan Timteng

    Agustus 8, 2026

    Follow Instagram Mujahid Dakwah

    • Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal berbicara dengan lugas dan tegas saat Peringatan 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Sabtu (19/9) di hadapan Presiden Prabowo Subianto. "Bapak Presiden, saya ngomong agak tak enak ya, Pak. Sorry ye," ujar Hasan Abdullah Sahal. Menurut Kiai Hasan, Gontor tetap memilih pendidikan sebagai jalan utama dalam membangun generasi. la juga mengajak untuk tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi menjadikannya pijakan untuk menciptakan perubahan dan membangun peradaban. "Dulu Bapak Presiden Soekarno, (bilang) Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya membaca buku, bergurulah pada sejarah Gontor. Cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah," kata Kiai Hasan. #gontor #prabowo #nasional #indonesia
    • Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang digelar di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), Pondok Modern Darussalam Gontor Putra Kampus Pusat, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu, 19 September 2026.  Peringatan satu abad tersebut menjadi momentum kesyukuran atas perjalanan panjang Gontor dalam bidang pendidikan sekaligus refleksi memasuki abad kedua pengabdiannya.  Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal menyampaikan perjalanan dan makna satu abad pengabdian PMDG bagi masyarakat, bangsa, dan dunia. Menurutnya, para pendiri Gontor telah ikhlas mewakafkan ide, nilai, sistem, lembaga, dan cinta kepada bangsa Indonesia  “Sehingga mudah-mudahan Bapak Presiden dan bangsa Indonesia termasuk yang menerima wakaf cinta pondok ini. Dan semuanya mencintai kita semua,” ujar K.H. Hasan Abdullah Sahal.  Usai menyampaikan sambutan, K.H. Hasan Abdullah Sahal menyerahkan buku Gontor untuk Indonesia dan Mushaf Gontor kepada Presiden Prabowo. Mushaf Gontor menjadi salah satu legasi peringatan satu abad PMDG yang proses penulisannya telah dimulai sejak 2023 dan dikerjakan oleh lingkungan santri serta guru Gontor.  Presiden Prabowo menyampaikan rasa syukur dapat hadir bersama keluarga besar Gontor pada momentum bersejarah satu abad perjalanan pondok tersebut.  “Kita bersyukur atas kesehatan dan nafas yang masih diberikan kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini, dalam acara yang sangat istimewa ini, yaitu resepsi kesyukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur,” ujar Presiden.  Presiden RI, Prabowo Subianto, menyoroti kondisi masyarakat Palestina yang terus menjadi korban serangan Israel. Prabowo mengatakan, Indonesia seolah masih kurang berdaya dalam membantu masyarakat Palestina yang terus dibantai dan dibom.  "Tadi saya ingat saudara-saudara kita di Palestina. Mereka dibantai, mereka dibom, mereka diserang terus-menerus, dan kita seolah-olah kurang berdaya untuk membantu mereka," kata Prabowo.  Baca Selengkapnya di: www.mujahiddakwah.com  #gontor #prabowo #nasional #indonesia
    • 𝗦𝗔𝗧𝗨 𝗦𝗨𝗝𝗨𝗗, 𝗦𝗘𝗥𝗔𝗧𝗨𝗦 𝗧𝗔𝗛𝗨𝗡 𝗣𝗘𝗥𝗝𝗨𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 ✨ Di tengah perjalanan satu abad Gontor, ribuan santri, pimpinan, dan alumni dari berbagai kampus bersimpuh dalam satu sujud syukur. Sebuah momen khidmat yang menyatukan hati, mengenang panjangnya perjuangan, serta memanjatkan doa atas segala nikmat yang mengiringi perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor. Sebab hakikat pesantren tidak hanya terletak pada bangunan yang berdiri, tetapi pada santri dan alumni yang membawa nilai-nilainya ke tengah kehidupan. Dari satu sujud, semoga lahir kembali kekuatan untuk melanjutkan perjuangan. 💚 Semoga nilai, perjuangan, dan keikhlasan yang diwariskan para Trimurti terus hidup dari generasi ke generasi. Selamat Milad 100 Tahun Gontor. Terus mengabdi, terus memberi arti, menuju abad kedua. ✨ #gontor #100tahungontor #darusalamgontor #nasional #ponpes
    • Perjalanan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) mencatatkan jejak sejarah tersendiri dalam jalinan hubungan kebangsaan.  Sejak era kemerdekaan hingga era modern, PMDG terus menjadi simpul silaturahmi yang merekatkan pimpinan pesantren dengan para Kepala Negara Republik Indonesia dari masa ke masa.  ​Tradisi kehadiran Presiden RI di PMDG bermula pada 1946. Kala itu, Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, menyambangi Gontor di tengah situasi perang kemerdekaan.  Meski saat itu jumlah santri masih terbilang sedikit, kehadiran Sang Proklamator menjadi legitimasi kebangsaan bagi pesantren yang terletak di bumi Reog ini.  ​Jejak tersebut berlanjut pada 1978 ketika Presiden kedua RI, Soeharto, menghadiri peringatan Setengah Abad Gontor. Dalam kunjungan silaturahmi bersama Pendiri PMDG KH Imam Zarkasyi tersebut, Pak Harto meresmikan Masjid Jamik PMDG yang hingga kini berdiri megah sebagai pusat peribadatan santri.  ​Pada era reformasi, hubungan erat ini tak surut. Presiden ketiga RI, B.J. Habibie, hadir pada 1999 untuk meresmikan sejumlah fasilitas pendidikan sekaligus memperkuat ikatan kekeluargaan. Demikian berlanjut pada Presiden-Presiden berikutnya.  ​Puncak perayaan Kesyukuran 100 Tahun PMDG pada 19 September 2026 mendatang dipastikan kembali mengukir sejarah. Presiden kedelapan RI, Prabowo Subianto, dijadwalkan hadir langsung di Kampus Pusat PMDG.  ​Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal, menyambut hangat rencana kehadiran Kepala Negara tersebut. Beliau menegaskan bahwa Gontor senantiasa terbuka dan menjadi rumah perekat persatuan bagi seluruh elemen bangsa.  ​"Gontor ini milik umat dan bangsa. Kehadiran para pimpinan negara dari masa ke masa, termasuk Bapak Presiden Prabowo Subianto pada Peringatan 100 Tahun ini, merupakan wujud nyata ikatan silaturahmi yang tidak pernah terputus antara ulama, santri, dan umara untuk mengawal Indonesia," tuturnya, Senin (14/9/2026).  Baca Selengkapnya di: www.mujahiddakwah.com
    • Satu abad lalu, di sebuah desa terpencil di Kabupaten Ponorogo, tiga bersaudara KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi mengikrarkan sebuah niat tulus.  Dikenal sebagai Trimurti, mereka tidak hanya mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada tahun 1926, tetapi juga meletakkan batu pertama sebuah bangunan peradaban.  Kini, seratus tahun berlalu, nama-nama pejuang telah berganti dan tantangan zaman kian kompleks, namun fondasi itu tetap berdiri kokoh.  ​Perjalanan Gontor bukanlah narasi statis, melainkan sebuah kisah estafet yang hidup. Setiap generasi kepemimpinan hadir menjawab tantangan zamannya, tanpa pernah mengikis ruh dan nilai dasar yang diwariskan para pendiri.  ​Seperti yang pernah dikatakan Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal, bahwa kekuatan utama pondok terletak pada konsistensi memegang teguh amanah kepengasuhan dan nilai-nilai kelembagaan.  ​”Gontor itu berdiri di atas nilai, ruh, dan sistem. Tokoh boleh berpulang, zaman boleh berubah, tetapi ruh dan cita-cita pendiri tidak boleh bergeser sedikit pun. Estafet ini adalah tentang menjaga amanah agar kilau keikhlasan itu tetap memancar bagi ummat,” tegasnya.  Prinsip ‘berdiri di atas dan untuk semua golongan’ menjadikan lembaga ini terus relevan melintasi berbagai dinamika era, dari zaman pergerakan nasional hingga era digital hari ini.  Menyongsong pilar sejarah satu abad Gontor, momentum ini dimaknai bukan sekadar sebagai perayaan pencapaian, melainkan refleksi mendalam atas perjalanan panjang yang telah ditempuh.  ​Satu abad telah berlalu sejak benih itu ditanam di tanah Gontor. Estafet panjang ini akan terus berlanjut, membawa amanah luhur melintasi zaman, melahirkan generasi penerus yang siap merawat ruh Islam dan membangun peradaban dunia.  Baca Selengkapnya di: www.mujahiddakwah.com  #gontor #duniaislam #indonesia #unida #ponpes
    Next Post

    Kajian Kitab Talbis Iblis (Bag 10): Waktu-Waktu Berlindung Kepada Allah Dari Gangguan Jin

    Mujahid Dakwah adalah Portal Media Islam Indonesia (8 Tahun menyuarakan kebenaran, menghadirkan inspirasi dan menggerakkan kebaikan). Memuat artikel Islam, opini, sejarah, lifestyle muslimah, berita dunia Islam, news Indonesian, dan menjadi pusat literasi dan persiapan keilmuan dalam pembebasan Masjidil Aqsa & Baitul Maqdis

    © 2018–2026 / All Rights Reserved / Web Design by Mubarak Group Indonesia

    • Tentang Kami
    • Kontak Kami
    • Disclaimer
    • Pedoman Media Siber
    • Kirim Tulisan

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In

    Add New Playlist

    No Result
    View All Result
    • ARTIKEL
    • BAITUL MAQDIS
    • INDONESIA
    • KABAR DUNIA
    • KALAM
    • KHAZANAH
    • MUSLIMAH
    • PILIHAN EDITOR
    • UMMAH INTERNASIONAL

    © Copyright 2026 - Mujahid Dakwah Media