“No civilization can prosper or even exist after having lost this pride and the connection with its own past.”
(Muhammad Asad/Leophold Weiss)
Dalam majalah Media Hindu (edisi Oktober 2011), dituliskan, “Namun atas dasar pendapat tersebut di atas, mustahil suatu bangsa menjadi maju apabila mayoritas rakyatnya masih menganut agama yang faktanya menggusur budaya dan nilai-nilai luhur bangsa….. Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memlihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi negara maju” (Lihat Dr. Adian Husaini, Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, 2018: 61)
Dalam sejarah Alam Melayu Nusantara atau Indonesia, nativisasi telah lama terjadi. Sejak Rafles membuka kembali puing-puing Candi Borobudur—candi yang dibangun atas jasa rakyat jelata dari perintah raja biadab demi memenuhi kepuasan kekuasaan serta persaingan kursi kerajaan—terbuka jugalah pintu nativisasi yang sangat lebar. Dengan lantangnya si komandan Inggris itu berkata bahwa “inilah peninggalan berharga negeri ini (Nusantara).” Seakan-akan perkataan itu mengindikasikan bahwa Hindu-Budha-lah agama asli rakyat Indonesia, dan seakan hendak mengatakan bahwa kedua agama itulah yang telah memberikan jasa yang sangat besar serta warna indah terhadap kepulauan Melayu Nusantara juga para penghuninya.
Hal ini terus berlanjut kepada pemahaman indah namun menyesatkan. Dimana ada sebuah pernyataan yang berkata bahwa Nusantara atau Indonesia ini disatukan di bawah kerajaan Majapahit. Distorsi kembali berlanjut dengan ucapan bahwa kedatangan Islam yang pertamakali adalah pada abad 13 oleh seorang pedagang Gujarat dari India. Namun yang lebih menyakitkan adalah tatkala penggusuran nilai-nilai Islam dimasifkan lewat pengajaran sejarah pahlawan yang lebih condong kepada tokoh-tokoh yang bisa dibilang “bukan para ulama”.
Namun manakala seorang ulama atau pejuang Islam benar-benar diungkapkan, kesalahan berikutnya adalah pengenalan yang kurang baik, bahkan masih diselipkan distorsi dari tokoh tersebut, terutama dari segi perjuangannya. Inilah fakta yang terjadi di banyak institusi pendidikan. Inilah confusion of knowledge, lewat jalur sekularisasi dan nativisasi dalam pendidikan sejarah.
Maka permasalahan ini perlu dibahas satu per-satu. Pertama, terkait kedatangan Islam pertamakali pada abad 13 oleh seorang pedagang Gujarat. Padahal Hamka telah lama berkata dalam bukunya, Dari Perbendaharaan Lama, bahwa Islam datang sejak abad ke-7 (Lihat Hamka, Dari Perbendaharaaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam Di Nusantara, 2017: 3-5).
Bahkan sejak tahun 1958 Hamka menyatakan bahwa Islam yang pertamakali datang ke Nusantara, diterima langsung dari Mekah, bukan dari Gujarat atau Malabar, sebagaimana yang dicetuskan oleh Prof. Snouck Hurgronje. Sebab, jika memakai konsep Snouck, maka akan disimpulkan bahwa Islam yang datang ke Nusantara tidak lagi asli. Padahal fakta yang sesungguhnya tidaklah demikian.
Hal ini berdasarkan bahan yang diberikan oleh catatan Tiongkok. Terkait isi catatan tersebut beliau mengatakan, “dinjatakan bahwa di “Cho’po” ada sebuah keradjaan bernama Holing. Pada tahun 574 negeri itu diperintah oleh Ratu Sima Chabar berita tentang negeri itu terdengar kepada Radja Ta-Cheh. Lalu baginda mengirim utusan ke sana. Utusan itu mentjetjerkan pundi-pundi berisi emas. Tidak ada orang yang berani mengambil. Setelah tiga tahun, lalu diambil oleh putera Radja Perempuan itu sendiri; anak radja itu disuruh baginda bunuh. Karena permohonan menteri-menteri ditukar hukuman itu, disuruh memotong kaki anak itu. Ta-Cheh adalah nama Jang diberikan Tionghoa buat Arab. Tjatatan tahun itu sesuai dengan zaman pemerintahan Mu’awijahm sahabat Nabi kita jang mendirikan Keradjaan Nabi Omajah.” Tidak berhenti sampai disitu, Hamka juga mengemukakan satu catatan bukti sejarah lagi, yakni dalam buku “Preaching of Islam” yang ditulis oleh Sir Thomas Arnold. Dengan mengutip buku itu, Hamka berkata, “di pantai Barat Pulau Sumatera telah didapati satu kelompok perkampungan orang Arab,—pada tahun 684. Tahun 684 ialah zaman pemerintahan putera Mu’awijah jang bernama Jazid Kesatu.”
Menanggapi dua sumber tersebut, Hamka berkesimpulan, “Alhasil pada tahun 674 telah berdjumpa orang Arab Islam di Djawa. Pada tahun 684 telah berdjumpa kelompoknja di pantai Barat Sumatera. Sebagai disengadja rupanja buat memutuskan hubungan bulangan tahun itu dengan Damaskus, pusat Kebudajaan dan politik Islam atau Arab pada masa itu. Dan kita sebagai peminat sedjarah Islam harus tahu bahwa kemungkinan utusan ke Djawa itu ialah “Badan Penjelidik” sebab Mu’awijah-lah Chalifah Islam jang mula-mula mendirikan armada lautan. Ahli-ahli sedjarah belanda telah menjatakan keragu-raguan tentang adanja Radja Ta-Cheh dengan arti utusan Radja Arab itu.
Padahal sudah terang bahwa Amiril Mu’minin Mu’awijah adalah Penguasa Besar Arab pada masa itu. Dan pula mereka berkata bahwa utusan itu sendirilah jang menjebut dirinja Radja. Orang tidak mau mengemukakan kenjataan adat Islam, bahwa kalau mereka musafir lebih dari dua orang, seorang hendaklah didjadikan Radja (Amir). Dan malah ada orang Arab, menurut sumber Sir Thomas Arnold, di pantai Barat Sumatera tahun 684” (Lihat buku Risalah Seminar Sedjarah MasukNja Islam ke Indonesia, 1963: 76-78. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari para peserta seminar, salah satunya Buya Hamka. Seminar ini berlangsung di Medah pada tanggal 17-20 Maret 1963).
Adapun siapa yang menyebarkan pertamakali, dijelaskan oleh al-Attas dalam bukunya, Historical Fact and Fiction. Dimana beliau berkata bahwa Islam disebarkan untuk yang pertamakalinya oleh ulama yang berdagang, bukan pedagang yang berdakwah dan itu dilakukan dengan cara yang tertata, terencana, dan konsisten. Lebih jauh beliau mengatakan, “the spread of Islam by these Arab Missionaries in the Malay world was not a haphazard matter, a disorganized sporadic affair carried on by merchants and traders and port authorities, and even by sufi orders conceived somewhat as trade guids, whose roles have been exaggerated. It was a gradual process, but it was planned and organized and executed in accordance with the timelines of the situation.” (lihat Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Historical Fact and Fiction, 2011: 32).
Kedua, mengenai pernyataan yang mengatakan bahwa Nusantara disatukan oleh Majapahit di bawah komando Gajah Mada yang ditegaskan lagi oleh Sumpah Palapa-nya. Padahal itu adalah suatu ketidakmungkinan. Sebab faktanya Gajah Mada-lah yang justru menyebabkan perpecahan di Nusantara, yakni tatkala ia memicu Purang Bubad, peperangan antara Majapahit dan Padjajaran. Inilah peperangan yang nantinya menimbulkan kebencian yang mendalam dari masyarakat Jawa (Sunda) kepada jendral Majapahit itu.
Dalam Serat Pararaton, Kidung Sunda and Kidung Sundayana, ditulis bahwa Perang Bubat dipicu olehnya, tatkala Hayam Wuruk (raja Majapahit) menginginkan persatuan dan membentuk satu aliansi bersama Padjajaran dengan rencanan yang dibuatnya. Yaitu dengan menikahkan dirinya dengan Dyah Pitaloka (Putri kerajaan Padjajaran). Padahal disisi lain, Gajah Mada menganut satu pemikiran yang berbeda, yakni pemikiran yang berkeyakinan bahwa persatuan itu hanya akan terwujudkan dengan penaklukkan.
Tatkala pasukan Padjajaran (yang hendak pergi menuju Majapahit beristirahat di Bubad, Sejak lama Gajah Mada dan pasukannya ketika itu sudah merencanakan peperangan, dan akhirnya peristiwa itupun terjadi. Saat itulah peperangan antar kerajaan besar terjadi. Gajah Mada sukses dan rencananya berjalan tanpa hambatan. Namun sejak itulah dirinya telah hilang kehormatannya di mata masyarakat Jawa. Saat itulah persatuan tidak lagi bisa dicapainya. Itulah titik akhir dari impian yang terkandung dalam Sumpah Palapa. Serta peperangan itulah titik awal dari perpecahan (Lebih jauh, lihat Enung Nurhayati Ma., Ph. D., Gajah Mada: Sistem Politik dan Kepemimpinan, 2018: 81-101).
Ketiga, terkait dengan pemahaman bahwa Islam-lah pemecah Nusansatara karena serangan Raden Patah terhadap Gajah Mada. Jadi menurut pemahaman itu, Majapahit gagal menyatukan Nusantara karena Raden Patah menyerang Gajah Mada. Pertanyaannya, apakah mereka lupa atau mungkin tidak tahu dengan fakta Perang Bubad tadi? Sudah seharusnya sejarah diluruskan bahwa Majapahit hancur karena persaingan kekuasaan dari dalam tubuh Majapahit itu sendiri. Jadi kehancuran Mapahit bukan dari luar, apalagi Islam, melainkan dari dalam dan oleh penghuni kerajaan itu sendiri.
Justru Majapahit-lah yang menyerang kerajaan-kerajaan Islam. Namun hebatnya, para ulama-ulama dari kerajaan itu segera pergi ke Majaphit yang sudah lemah, untuk kemudian melakukan islamisasi. lebih jelasnya, Hamka berkata, “Majapahit jatuh bukanlah karena sikap kekerasan dan penyerangan senjata, keruntuhan Majapahit tidak mempunyai orang besar lagi.” Dan inilah yang sejak dulu senantiasa diimpikan oleh Prof. Snouck Hourgronye. “Hilangnya penghargaan kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri, tertonjollah ke depan nama Gajah Mada. Turunlah nilai Raden Patah dan Patih Unus yang mencoba mengusir Portugis dari Malaka dan tertonjollah ke depan nama Airlangga.” (Hamka, 2017: 8-10)
Kenyataannya, justru Islam-lah yang telah menyatukan Nusantara dengan satu agama dan satu bahasa, yaiu bahasa Melayu. Bahkan itu di katakan langsung oleh al-Attas: “The spread of the new and vibrant Malay Language and literature as a vehicle of Islam and knowledge presently used by more than two hundred million people in the Malay Archipelago is one of the most important factors in the creation of nationhood, the other factor being the religion of Islam itself. It terms of historical periodization in the history of civilizations, the emergence of Islam in the Malay world has brought about great changes typifying the rise of new age in the history of the Archipelago. Historian of the Archipelago have never considered language as an important source material for the study of history. (Al-Attas, 2011: XVI)
Kedatangan Islam telah membawa satu peradaban besar ke Nusantara, yang mana peradaban itu sangat mengedepankan keilmuan dan akal. Sebab, Islam adalah agama ilmu. Islam memberikan tempat lebih kepada ilmu dan mewariskan budaya atau tradisi ilmu ke tempat yang disinggahinya dengan masing-masing institusinya. Dalam hal ini, Pesantren menjadi institusi yang sepatutnya tidak dilupakan. (Husaini, 2018: 65)
Maka adanya Pesantren, membuktikan bahwa Islam lebih mengutakan budaya ilmu ketimbang budaya batu. Dengan adanya Pesantren, Islam bisa tersebar kepada rakyat-rakyat kecil dan para kaum elit. Sebab pada dasarnya Islam menganut dua jalur dakwah: bottom up Islamization dan upper dawn Islamization. Islam tidak seperti Budha dan Hindu, yang dengan sistem kasta-nya, membatasi orang-orang yang berkasta rendah untuk mendengar “dakwah-dakwah” agama mereka yang berkasta tinggi, sehingga kemudian tembok kerajaan menjadi pembatas dalam mewujudkan sistem kasta tersebut. Maka dari itu al-Attas sampai harus berkata, “The coming of Islam was the most momentous event in the history of the archipelago.” (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism, 1993: 169).
Keempat, adalah penyataan yang menganggap bahwa semua elemen dalam Islam sama sekali tidak meresap serta tidak membentuk identitas masyarakat Nusantara. Tapi justru yang telah melakukan itu semua adalah Hindu dan Budha. Maka kemudian al-Attas membantah statement yang sama sekali tidak punya dasar ini. beliau menuliskan, “Banyak sarjana yang telah memperkatakan bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia, hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu, laksana pelitur di atas kayu, yang andaikan dikorek sedikit akan terkupas menonjolkan keHinduannya, keBudhaannya, dan animismenya. Namun menurut saya, faham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam lagi hanya merupakan angan-angan belaka” (Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, 1990: 41).
Maka dalam buku tersebut, al-Attas menekankan bahwa kedatangan Hindu dan Budha ke Nusantara tidaklah membawa pengaruh bahkan suatu efek yang besar terhadap masyarakat. Pertama, pada dasarnya agama mereka bukanlah agama misi atau dakwah. Kedua, agama mereka hanya untuk kalangan kasta-kasta elite. Ketiga, agama mereka lebih mementingkan seni atau kebudayaan arsitektural ketimbang filsafat yang bertumpu pada rasionalisme atau budaya ilmu. Lebih jauh, Al Attas mengatakan,
“masyarakat Melayu-Indonesia itu sebenarnya secara keseluruhan bukanlah masyarakat Hindu, tetapi pada hakikatnya hanya golonagn bangsawan sajalah yang menganut agama itu dengan sungguh-sungguh ……. Kita harus tahu bahwa kedatangan agama Hindu itu tidak mengubah pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia yang telah memiliki suatu weltanschauung atau pandangan hidup yang berdasarkan seni dan hukan filsafat ……. dari abad keenam hinhha abad kesebelas Masehi, negeri Sumatera merupakan pusat agung agama itu (Budha) serta pemikiran filsafatnya. Namun begitu, pengaruh pendita-pendita agama di Sumatera tampaknya tidak meninggalkan kesan apa-apa dalam bidang filsafat. Jejak yang terdapat sebagai peninggalannya, seperti jejak agama Hindu di pulau Jawa, juga nyata dalam kesenian, dan merupakan suatu kenyataan yang mengandung arti bahwa jejak kesenian agama Budha itu timbul di pulau Jawa, lalu menjelmakan diri sebagai Candi Borobudur yang termasyhur itu.” (Ibid, Hal. 30-33)
Kemudian beliau juga mencoba menyajikan sejarah Islam di Nusantara dengan di Eropa, dari mulai waktu kedatangannya sampai pengaruhnya. Beliau mencoba meluruskan persepsi kebanyakan orang bahwa yang memajukan Nusantara itu adalah Hindu-Budha dengan kebudayaan arsitektural. Padahal, sebagaimana yang terjadi di Eropa sebelum kedatangan Islam, masyarakat ketika itu merupakan masyarakat yang tidak berbudaya, runtuh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanannya, bangga dengan kebiadabannya, dan yang terpenting, mereka lebih mementingkan kebudayaan patung ketimbang budaya ilmu. Inilah yang kemudian membuat peradaban mereka, baik di Nusantara maupun Eropa, terpaksa mengekor kepada peradaban Islam yang semarak dengan nilai-nilai, adab, dan budaya ilmu, sekalipun yang diserang adalah peradaban Islam itu sendiri.
Maka kata Al-Attas, “Kedatangan Islam telah dianggap sebagai pembimbing ke arah suatu zaman baru, membawa permulaan suatu zaman yang disebut zaman modern, bukan saja dalam sejarah Eropa tapi juga dalam sebagian besar sejarah dunia yang terpengaruh oleh kedatangan Islam. Zaman modern ini disebut “modern” sebab ilmu pengetahuannya berdasarkan rasionalisme atau pengetahuan aqliah, dan sistem masyarakatnya mementingkan kebebasan individu atau kepribadian manusia dari genggaman kepercayaan yang tidak rasional; sedangkan zaman yang bukan modern itu berdasarkan seni yang membantu dalam membelenggu masyarakat dengan kepercayaan takhayul.”
Kemudian Al-Attas kembali membuat kesimpulan, “Tidaklah berlebihan jika kita bandingkan pengaruh kedatangan Islam di Kepulauan Melayu-Indonesia dengan pengaruh kedatangan Islam di Eropa pada abad keenam dan abad ketujuh Masehi. Sebagaimana di Eropa, seni mengambil peranan utama sebelum dipengaruhi oleh Islam, maka di daerah Kepulauan Melayu-Indonesia pun seni menjadi dasar hidup di zaman Hindu-Buddha. Sebagaimana zaman modern mendapat pengaruh Islam dan mewujudkan suasana baru di Eropa, demikian jugalah kedatangan Islam ke daerah Kepulauan Melayu-Indonesia menandakan kedatangan zaman baru dan permulaan zaman modern.” (Ibid, hlm. 18-19)
Kelima, mengenai kegelapan sejarah terhadap beberapa ulama dan pahlawan Islam. Sebab, ini merupakan ketidakadilan. Seakan-akan mereka dianggap tidak berjasa atau kurang jasanya dibandingkan dengan yang lainnya. Hampir banyak murid yang lebih tahu bahkan lebih mengagungkan Gajah Mada ketimbang Raden Patah, Ki Hajar Dewantara ketimbang Imam Zarkasyi atau Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari, dan R. A. Kartini ketimbang Malahayati.
Inilah pentingnya adab, yaitu bagaimana seorang Muslim mesti lebih tahu siapa yang semestinya ia kenal dan muliakan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Qur’an Allah berfirman “inna akramakum ‘inda Allah atqakum.” Maka sebagai seorang Muslim, sudah selayaknya ia tahu siapa yang lebih mulia, Gajah Mada atau Raden Patah, Ki Hajar atau Imam Zarkaysi, Kartini atau Malahayati. Lebih-lebih, kehebatan seorang pahlawan dalam Islam ditentukan dalam prespektif Qur’an, sebagaimana usaha perlawanan Nabi dalam menegakkan kalimat tauhid (QS. 16: 36). “Bukan pemegang kekuasaan yang terpenting, tetapi pembela kebenaran Ilahi yang harus dikenang” (Dr. Adian Husaini, 50 Tahun Meraih Ilmu dan Bahagia, 2015: 8).
Inilah distorsi atau penggelapan sejarah. Hal ini bukan baru muncul sekarang, namun sejak dulu, bahkan Hamka sendiri sudah mengingatkan sejak lama dalam kitab tafsirnya. Tatkala Hamka menafsirkan surat al-Maidah ayat 57-63, ia berkata bahwa Zending dan orientalist telah lama menggunakan 12 cara untuk menghadapi Islam, salah satunya adalah dengan “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme. Dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada mencintai Raden Patah. (Lihat Hamka, Tafsir Al-Azhar—Juzu’VI), 1984: 300).
Kenalkah murid-murid dengan Adipati Yunus, seorang raja Demak yang memimpin ekspedisi jihad dengan 375 kapal perang dari Demak ke Malaka? Begitupula dengan Syaikh Yusuf al-Maqassari, Seorang mufti dan penasihat dari kerajaan Banten yang memimpin ekspedisi perang menghadapi kaum kolonial Belanda tatkala raja Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) telah kalah dan ditahan. Selama sang raja ditahan, Syaikh Yusuf mencoba membuat rakyat banten menyadari bahwa penjajahan sedang terjadi, apalagi anak sang raja sendiri sedang rela menjadi raja boneka yang dikendalikan oleh Belanda. Dan akhirnya Syaikh Yusuf-pun berhasil dan orasinya untuk berperang didengar, walaupaun kisahnya tidak berakhir manis. Karena perjuangannya itulah kemudian ia ditangkap dan diasingkan ke Ceylon kemudian Tanjung Harapan, dengan alasan agar “doktrinnya” yang merugikan Belanda tidak terdengar lagi (meskipun pada akhirnya tetap saja pengaruhnya terus beredar luas sebab lisan dan kitab-kitab yang dikarangnya diajarkan kepada orang-orang disana dan orang-orang yang selesai berhaji dan bersinggah sementara disana. Bahkan beberapa karyanya dibawa ke Nusantara untuk diajarkan kepada masyarakat dan lagi-lagi bisa mempengaruhi masyarakat disana).
Terkait hal ini Hamka mengatakan berkata bahwa, rupanya Belanda sadar bahwa, akar dari perlawana Banten terhadap Sultan Haji dan Belanda adalah Syaikh Yusuf. Dia yang menyadarkan masyarakat Banten, agar sebagai muslim harus benci dengan orang kafir (Belanda) dan berjihad terhadap mereka. Sehingga Belanda menetapkan beliau sebagai seorang penghasut atau provokator. Dan karena hal itu Belanda tidak memenjarakan Syaikh Yusuf, tapi mnegasingkannya ke Ceylon, Sri Lanka.” Hamka juga mengatakan, “Adigun Sikh Yusuf, setelah ditangkap bersama Sultan yang dicintainya itu, tidaklah lama ditahan, lalu dibuang pada tahun itu juga ke negeri Ceylon. Karena Belanda sadar benar bahwa inilah biang keladi sebenarnya dari perlawanan Banten.” (Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, 2017: 39)
Kenalkah siswi-siswi dengan Cut Nyak Dien dan Keumalahayati (yang merupakan seorang jendral perang di Aceh) yang mempunyai semangat melawan penjajahan? Dalam pandangan Islam tentu mereka lebih baik dari Kartini. Sebab aksi mereka sudah terbukti dan terealisasikan, sementara Kartini baru dalam bentuk tulisan dan cita-cita. Jadi apakah pantas meletakkan mereka di bawah Kartini? Namun perlu diingat, bahwa “bukan berarti menyatakan, bahwa RA Kartini itu jelek, tidak punya jasa untuk negara! Bukan begitu! Tapi, ada wanita-wanita lain yang lebih patut dijadikan sebagai “Ibu Kita.” (Adin Husaini, 50 Tahun Perjalanan Meraih Ilmu dan Bahagia, 2015: 17).
Tidakkah kita lupa akan Imam Zarkasyi dengan Pesantren Gontor-nya, M. Natsir dengan Mosi Integralnya, KH. Hasyim Asy’ari dengan pesantren Tebu Ireng-nya dan fatwa Jihadnya dalam membangkitkan semangat perjuangan melawan tentara sukutu (Belanda dan Inggris), A. Hassan dengan kepiawaiannya dalam berdebat dengan musuh-musuh Islam, Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya (baik sebagai ormas ataupun institusi pendidikan), Keumalahayati, Nyai Ahmad Dahlan, Rohana Kudus, dan Rahma Elyunusiah? Kenalkah para siswa dengan sosok KH. Agus Salim yang merupakan diplomat handal dengan belasan bahasanya serta kepiawaiannya dalam menyusun Pembukaan UUD 45? Para siswa pasti lupa siapa itu Hamka, Prof. HM. Rasjidi, KH. Shaleh Darat, dan lain sebagainya. Kalaupun mereka tahu, mungkin mereka akan berfikir dan setuju bahwa ketiga orang itu tidak lebih baik dari Ki Hajar Dewantara dan Kartini, dan pahlawan lainnya.
Dampak negatif dari distorsi sejarah, adalah sebagaimana yang dikatakan Husaini: “Sejarah itu ibarat “kaca spion” di mobil. Kalau kita melihat ke depan, pada saat yang sama kita juga melihat kebelakang melalui kaca spion …. Jadi, kalau kebesaran kerajaan Majapahit yang Hindu dijadikan acuan sebagai puncak peradaban Indonesia yang harus diagungkan, maka tradisi Majapahit dijadikan sebagai acuan dalam pembentukan budaya bangsa – seperti tradisi patung dan simbolisasi candi sebagai simbol nasional Indonesia.” (Husaini, 2015: 6-7). Kebudayaan arsitektural inilah yang nantinya akan membentuk satu pandangan materialisme.
“Padahal, dalam prespektif Islam, yang dimaksud dengan peradaban tinggi adalah peradaban tauhid berbasis ilmu.” (Lihat Adian Husaini, 10 Kuliah Agama Islam, 2016: 221-222). “Memang, peradaban Islam peradaban ilmu, sehingga ulama-ulama Islam lebih mementingkan budaya ilmu ketimbang budaya batu. Tetapi, seni arsitektur Islam juga dikenal sangat tinggi dan mengilhami beberapa arsitektur modern di Barat. Salah satu warisan peradaban Islam yang penting adalah institusi-institusi pendidikan Islam yang khas Indonesia, seperti pondok pesantren.” (Husaini, Pendidikan Islam, 2018: 65)
Tatkala seorang Muslim tidak tahu siapa pahlawan mereka, ulama mereka, yakinlah bahwa mereka tidak akan tahu untuk apa mereka hidup (tujuan hidupnya). Mereka tidak punya atau mungkin lupa dengan konsep ibadah dalam hidup mereka, karena telah hilang peran Islam dalam sejarah Nusantara dalam pikiran mereka. Lebih-lebih, distorsi sejarah akan menghapus misi penting seorang Nabi untuk menegakkan kalimat tauhid (QS. 16: 36). Karena rantai kenabian telah dihancurkan ketika konsep Darwin dikenalkan dan sebab ketidaktahuan mereka akan ulama dan pahlawan mereka, yang mana ulama dan pahlawan mereka itulah yang juga telah mewariskan tugas penting Nabi tadi. Para siswa tidak akan pernah melanjutkan perjuangan M. Natsir dan kawan-kawannya terhadap negara dan agama Islam.
Disamping itu, dampak negatif lainnya adalah kemungkinan besar mereka bisa menjadi orang-orang yang gila dunia (dalam tujuan hidup dari aktivitas mereka) dan akan hilang rasa bangga dalam diri mereka terhadap Islam, namun justru rasa itu timbul terhadap agama atau sesuatu yang seharusnya tidak dibanggakan. Bagaimana mungkin mereka akan bangga, manakala mereka tidak mengenal apalagi mengambil ibrah dan hikmah dari kisah ulama dan pahlawan mereka sendiri?
Inilah yang sejak lama digaungkan oleh Muhammad Asad: “No civilization can prosper or even exist after having lost this pride and the connection with its own past.” (Muhammad Asad, Islam At The Crossroad, 1934: 78). Perkataan ini seakan-akan mengindikasikan bahwa kunci kebangkitan umat Islam yang masih relevan hingga saat ini adalah dengan menimbulkan rasa bangga terhadap agamanya sendiri serta mengenal ulama dan pahlawan mereka. Sebab, pada hakikatnya, pola sejarah akan kembali terulang. Maka menjadi suatu kewajiban bagi generasi selanjutnya mengenal, meneladani, mengkaji, lalu mengaplikasikan serta menyesuaikan dengan kondisi sekarang ini.
Maka, sudah sepatutnya masyarakat Islam, khususnya para pemudanya, mengenal kembali peran Islam serta para pahlawan dan ulama mereka. Melihat kondisi seperti ini, Dr. Suidat, menulis satu buku sejarah berjudul “Sejarah Nasional Indonesia: Untuk Pelajar” . Buku ini khusus untuk para pelajar, dari mulai murid murid SD bahkan mahasiswa. Sebab, ditulis dengan kalimat yang bernas serta bahasa yang ringan dan dengan bab-bab yang tersusun rapi juga tidak panjang. Buku ini mencoba memberikan satu solusi dan fakta-fakta yang sebenarnya, khususnya peran Islam serta para ulama dan pahlawannya. Dimulai dari sejarah kedatangan Islam, konfrontasinya dengan Portugis dan Belanda, sampai peran para pahlawan-pahlawan Islam bagi Nusantara. Bahkan ada sekitar 20 pahlawan Muslim dan Muslimah yang beliau tulis. Inilah terobosan baru dalam kajian Sejarah. Inilah salah satu usaha besar dalam melakukan Islamisasi pengajaran sejarah.
Insyaallah, buku ini akan menjawab 5 permasalahan yang saya sampaikan tadi. Saya yakin, manakala buku ini dibaca dan diajarkan dengan betul-betul, maka para murid akan kembali bangga dengan agamanya sendiri. Sebab, mereka akan tahu bahwa kedatangan Islam dan hasil keringat para pahlawan Islam, membawa perubahan yang sangat baik bagi Nusantara. Dan insyaallah, buku ini akan membuat para murid mengidolakan sosok-sosok seperti Sultan Ageng Tirtayasa, KH. Agus Salim, M. Natsir, dll. Jika sudah diidolakan, perjuangan mereka akan dilanjutkan.
“Pelajaran Sejarah merupakan salah satu kurikulum penting dalam pendidikan. Dengan mempelajarinya diharapkan akan memperoleh hikmah dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau. Menjadi dasar dan bekal untuk melangkah pada kehidupan sekarang dan yang akan datang.” (Dr. Suidat, Sejarah Nasional Indonesia, 2019: V).
************
Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































