Orang-orang yang beramal shalih untuknya setelah dia meninggal dunia
Seseorang yang jika telah meninggal dunia, dia bisa mengambil manfaat dari beberapa sisi. Oleh karenanya Imam Syafi’i berkata,
“Ada tiga perkara yang seorang mayyit diikutkan pahalanya dari perbuatan orang lain; haji yang ditunaikan untuk mayit (badal haji), harta yang disedekahkan atas namanya atau yang dibayarkan dan doa.” (Al-Umm 4/120)
Ijma’ ulama mengatakan bahwa ketiga hal tersebut pahalanya akan sampai. Adapun jika amalan itu dikerjakan sendiri maka tidak ada khilaf akan hal itu. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila salah seorang manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak salih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim 3/1255 no. 1631)
Maka dari itu seseorang tidak akan bisa mendapatkan hasil melainkan dari usahanya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm : 39)
Akan tetapi ada amalan orang lain yang bermanfaat bagi dirinya meskipun telah meninggal dunia sebagaimana perkataan Imam Syafi’i yaitu haji dan umrah yang diniatkan untuknya, sedekah atas namanya dan doa orang lain terhadapanya.
Maka ketika ada orang tua yang memiliki anak yang salih, kemudian anak-anak tersebut berhaji dengan niat pahala untuk kedua orang tuanya, maka meskipun orang tuanya telah meninggal dunia dan tidak memiliki pahala haji, tetap dia akan mendapatkan pahala haji. Atau seorang anak membangun masjid dan diniatkan pahalanya untuk orang tunya, maka pahalanya akan mengalir kepada orang tuanya. Begitupula dengan sedekah-sedekah orang lain yang diniatkan untuknya. Dan pahalapahala tersebut mampu menggugurkan dosa-dosa seseorang yang telah meninggal dunia. Inilah juga pentingnya seseorang memiliki anak-anak yang salih dan salihah, agar kelak mereka masih mengingat orang tuanya meskipun jika telah meninggal dunia.
Syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Terlalu banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi syafa’at kepada umatnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Syafa’atku untuk ummatku yang berbuat dosa dosa besar.” (HR. Tirmidzi 4/625 no. 2436)
Akan tetapi perlu diketahui bahwa ada syarat seseorang untuk bisa mendapatkan syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu tidak boleh berbuat syirik. Oleh karenanya tatkala Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ,Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling beruntung dengan syafaatmu padahari kiamat?” Nabi menjawab: “Hai Abu Hurairah, saya sudah beranggapan bahwa tak seorangpun lebih dahulu menanyakan masalah ini kepadaku daripada dirimu, dikarenakan kulihat semangatmu mencari hadits, Manusia yang paling beruntung dengan syafaatku pada hari kiamat adalah yang mengucapkan laa-ilaaha-illallaah, dengan tulus dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari 8/117 no. 6570)
Oleh karenanya orang yang ikhlas karena Allah, tidak mengharapkan pujian dan pengakuan orang lain terhadap amalannya, atau senantiasa menyembunyikan amalannya, maka pasti dia adalah orang yang paling bahagia untuk mendapatkan syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak. Akan tetapi jika ternyata dia melakukan kesyirikan, dia ujub, riya’ dan memamerkan amal salihnya, maka kecil kemungkinan dia akan mendapatkan syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi menyegerakan doanya, dan sesungguhnya aku menyembunyikan doaku sebagai syafa’at bagi umatku pada hari kiamat. Dan insya Allah syafa’atku akan mencakup orang yang mati dari kalangan umatku yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun.” (HR. Muslim no. 199)
Oleh karenanya jika seseorang ingin mendapatkan syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka jangan melakukan kesyirikan. Karena ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan syafa’at, maka dosa-dosapun berguguran. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan,
“Syafa’atku untuk ummatku yang berbuat dosa dosa besar.” (HR. Tirmidzi 4/625 no. 2436)
Jadi dosa-dosa seseorang bisa berguguran karena syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah menganugerahkan kita semua syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah













































































