Salah satu generasi emas tokoh-tokoh Islam adalah generasi para tokoh-tokoh Masyumi. Mereka adalah tokoh dengan kecerdasan memukau, kesalehan yang menghujam ke sanubari, serta kesederhanaan yang kaya akan teladan. Buya Hamka, aktifkan generasi ini yang mampu menggerakkan jutaan umat Islam. Mereka adalah tokoh yang ikut terjun ke gelanggan republik ini, tak hanya menjadi bagian dari pusaran republik, namun mampu mendorong pusaran demi mencapai dengan cita-cita mereka. Salah satu yng menarik untuk dikaji adalah bagaimana pandangan hidup mereka? Karena pandangan hidup menjadi motor bagi perubahan sosial dan moral. Salah satu tokoh yang menarik untuk dikaji pandang menarik adalah Mohammad Natsir.
M. Natsir adalah salah satu tokoh Islam yang produktif dalam menulis. Tulisan beliau menghiasi berbagai media Islam seperti Pembela Islam, Pedoman Masyarakat , dan lain-lain. Merentang mulai dari akidah, Politik, budaya hingga sejarah. Oleh karena itu penulis mencoba menyingkap bagaimana pandangan hidup M. Natsir dan aspek-aspek yang diwarnai oleh pandangan itu. Tulisan ini akan membahas hanya pada konsep-konsep aspek ini saja. Beberapa aspek yang akan di jabarkan adalah manusia, pengetahuan, politik dan pendidikan menurut M. Natsir.
Penulis mengkaji pandangan hidup M. Natsir dari beberapa tulisannya yang bertalian dengan pembahasan ini. Namun, memang tidak mudah untuk mengumpulkan tulisan beliau yang telah dipublikasikan dan dianalisis tentang temuan lolos. Berharap dia menghargai akademisi atau filosof yang memang sengaja menjabarkan tulisan tentang hal ini. Tulisan beliau lebih dari sekadar bentuk reaksi atau penjabaran atas fenomena yang terjadi pada umat Islam saat itu. Tulisan beliau lebih juga lebih dekat dengan bahasa sederhana (namun menggugah rasa), karena memang diperuntukkan bagi umat Islam secara luas. Sementara membahas filsafat Islam, Namun demikian, berbeda pendapat, misalnya, dengan sahabat saat tokoh Islam seangkatannya, Buya Hamka, yang beberapa kali mengupas filsafat khusus untuk bentuk buku, semacamFilsafat ketuhanan atau Falsafah Hidup . Namun bukan berarti hal ini tidak dapat digali dari karya-karya M. Natsir. Pengarang mengumpulkan beberapa karya beliau yang dapat dikaji dari sumber yang terpisah-pisah, serta berikhtiar untuk menganyamnya menjadi pengkajian sistematis.
Pemandangan Hidup M. Natsir
Pemandangan hidup M. Natsir tidak dapat dilepaskan dari Islam. Menurut M. Natsir,
“Islam adalah satu falsafah hidup, satu levenfilosofie, satu ideologi, satu sistem perikehidupan, untuk kemenangan manusia sekarang dan diakhirat nanti.” [1]
Pendapat M. Natsir menggunakan istilah empati yang menjadi intinya. Pertama, falsafah hidup. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) falsafah berarti, anggapan, memahami, dan sikap batin yang paling dasar yang dimiliki oleh orang atau masyarakat; pandangan hidup. Kedua, levenfilosofie, kata Belanda, memiliki arti yang sama dengan falsafah hidup. Penggunaan kata ini hanya dapat dikembalikan dalam bahasa yang berbeda. Adalah hal yang lazim untuk menggunakan istilah Belanda pada saat tulisan ini dibuat. Ketiga, Ideologi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ideologi, memiliki beberapa arti, salah satunya adalah;
“Himpunan nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan yang diperlukan seseorang atau kelompok orang yang menjadi dasar dalam penentuan sikap terhadap peristiwa dan masalah politik yang dihadapinya dan yang menentukan tingkah laku politik.” [2]
Kata ideologi, jika ditilik maknanya dalam KBBI, memang lebih condong pada politik. Kata ini digunakan sengaja digunakan, untuk merekatkan, Islam dan politik. Bagi Natsir, kompilasi Islam dibuat sebagai pandangan hidup, Islam tidak dapat diceraikan dari politik. Pandangan hidup M. Natsir ini pun dikupas dari tulisan beilau yang berjudul ‘Agama dan Politik’. Ia dengan tegas menolak menyetujui agama dari politik. Dia memang dikenal sebagai penentang sengit sekularisme.
Keempat, sistem perikehidupan. M. Natsir memakai istilah ini untuk menegaskan Islam sebagai sistem yang ditentukan kehidupan manusia. Tidak hanya aspek spiritual saja. Menurutnya, “ … menegakkan Islam itu bisa dilepasklan dari menegakkan masyarakat, menegakkan negara, menegakkan kemerdekaan.” [3]
Dapat diberikan pandangan hidup M. Natsir merupakan pandangan hidup yang disetujui dunia dan akhirat. Para ulama dan tokoh Islam memiliki resolusi yang berbeda beda tentang pandangan hidup Islam. Seperti Al Maududi yang menggunakan istilah Islami Nazariyat , yaitu, pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesan Tuhan ( shahadah ) yang berimplikasi pada seluruh kegiatan kehidupan manusia di dunia. [4] Sebuah shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya, dalam kehidupan yang disediakan. Dalam hal konsepsi hidup menurut Al Maududi dan M. Natsir memiliki persetujuan, yaitu kecondongannya pada politik.
Konsep pandangan hidup M. Natsir juga memiliki persetujuan, dengan Al Attas yang menjelaskan aspek dunia dalam pandangan hidup harus terkait dengan akhirat dan aspek akhirat harus ditempatkan sebagai aspek akhir. Hal ini menjawab dengan M. Natsir yang mengatakan, “… .untuk kemenangan manusia sekarang dan diakhirat nanti.” M. Natsir juga menekankan bahwa, ” Aku deologi Penyanyi Menjadi Pedoman kitd sebagai muslim, Dan buat ITU kitd Hidup Dan buat ITU kitd mati. ” Betapapun berbeda-beda, resolusi para pemimpin Islam yang terkait, sumbernya (wahyu dan aqidah) ), serta sudut pandangnya yang menjadikannya lebih rumit.] 5] M. Natsir menggunakan Islam sebagai perspektif yang mendukung, memaknai berbagai hal seperti manusia, pengetahuan, dan politik.
Manusia Menurut M. Natsir
Manusia dalam pandangan M. Natsir adalah mahluk yang paling sempurna jasmaninya dibandingkan mahluk hidup lain. Dan paling sempurna ruhaniyahnya. Jelasnya,
“Dia memiliki jasad dan ruh, memiliki panca-indra yang ajaib untuk menghubungkannya dengan alam luarnya, memiliki nafsu sebagai pendorong untuk memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan jenisnya; memiliki fikir dan rasa yang bisa dipahami dan dialami mana yang buruk mana yang baik; memiliki dlamir; hati nurani yang bisa mendorong untuk menjauh yang ‘buruk’ dan menuju yang ‘baik’. ” (6: FD)
Manusia menurut M. Natsir memiliki potensi untuk meningkatkan derajatnya, atau pun menurunkan derajat ke yang lebih rendah, bahkan lebih rendah dari hewan. Semua ini tergantung pada kemampuannya untuk memanfaatkan potensi jasmani dan ruhaninya. Dalam pandangan Natsir, potensi manusia ini sungguh membutuhkan tuntunan, ‘menghajatkan tuntunan’, begitu istilah beliau. Tuntunan yang sesuai dengan fitrah manusia, baik ruhani maupun jasmaninya. Ia memutuskan, Islam-lah yang tuntunan dan dikembalikan demikian. Menurutnya Islam adalah, “Agama yang diberikan Khaliq, cocok, muthabiq, sesuai dengan fithrah, peristiwa manusia dan dengan undang-undang Ilahy yang berlaku sesuai dengan keinginan.” [7] Tuntunan bagi manusia menurut Natsir sesuai wahyu (Al Quran). Dengan wahyu manusia yang mendapatkan petunjuk akan (pengetahuan) yang benar.
Pengetahuan dalam Pandangan Natsir
Manusia demi meningkatkan derajatnya, perlu mendayagunakan potensinya. Namun potensi itu akan terpakai dengan baik, meyakinkan dibimbing oleh pancaran wahyu, sebagai penentu kebenaran. Pengetahuan akan dapat berhasil dengan jalinan ketat wahyu, akal dan pancaindra. Menurut Natsir,
“Wahyu tidak memusuhi pancaindra dan aqal. Pancaindra, aqal dan wahyu berasal dari Khaliq yang satu, Tak ada pertentangan antara penyedia-pemberian Khaliq itu. Mana yang diambil oleh pancaindra dijemput oleh aqal. Mana yang tidak ada atau belum disetujui oleh aqal dijangkaukan oleh wahyu. Wahyu dari ‘Alimil Gahibi wasyahadah. Yang Maha Tahu segala sesuatu, baik yang nyata apa pun yang tidak. “ [8]
Panca indera untuk Natsir adalah alat untuk mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah ( Ayatullah ) di alam ini. Panca indera memberi makan untuk aqal agar berpikir tentang kekuasaan Allah. Natsir memang sangat menekankan agar manusia mempergunakan akalnya. Banyak karangan beliau yang membahas tentang akal. Seperti contohnya, Islam Memimpin Akal Merdeka, Kemerdekaan Berfikir: Tradisi dan Disiplin, Quo Vadis Akal Merdeka? Dan lainnya. Bagi Natsir, Islam bukan sebagai penindas akal. Justru Islam memberikan suplemen bagi akal. Dalam beberapa hal Islam menyambung kekuatan akal, di mana akal tidak dapat bekerja lagi. Dan Akal tetap harus dibimbing oleh wahyu. Natsir memaparkan,
”Mari kita lanjutkan bertanya bagaimana merdeka itu tetap menjadi lampu yang disetujui penunjuk jalan, jangan sampai berkobar, menyiarakan semua yang ada, jika ia tidak ditundukkan ke garisan-garisan yang telah diberikan oleh Allah SWT; tidak kita ajar ia menyetujui dan menghormati garis-garis wahyu diwaktu ia harus mengizinkan kepada wahyu dan ajaran agama, yang tidak bisa ia atur dan tak boleh ia memiliki haknya! ” [9]
Mohammad Natsir menyetujui, lapangan akal merdeka tentang hal-hal yang tidak diatur dan tidak dilarang oleh agama, seperti ibadah, qada dan qadar. “Yang terlarang itu sangat sedikit, jika dibandingkan dengan yang bisa. Dengan demikian akal memiliki ruang gerak yang sangat luas. Bukan saja ia boleh, malah disuruh, didukung oleh agama yang bekerja di tempat ini. ” [10] Orang yang mendewakan akal dalam pandangan Natsir, sebaliknya bukan orang yang sebenar-benarnya mempergunakan akal. Bukanlah ia seseorang yang akalnya merdeka dari hawa nafsu, dari ketakaburan yang cetek. Jalinan cahaya wahyu, ketajaman akal serta kecermatan pancaindera, bagi Natsir, akan membuat manusia memperoleh pengetahuan, untuk meningkatkan potensi pribadinya.
Politik dalam Pandangan Hidup Natsir.
Bagi Natsir, manusia tak terbatas mahluk pribadi. Ia juga mahluk yang terkait dengan mahluk lainnya. Mahluk sosial -atau meminjam istilah Natsir- Makhluk Sosial. Agama telah menjadi tuntas hidup yang dimulai oleh umat manusia sebagai mahluk ijtimaie . [11] Ketika menjelaskan mahluk ijtimaie ini, Natsir memaparkan itu, manusia sebagai mahluk sosial, hanya hidup dan berkembang maju dalam ikatan kemasyarakatan. “Maka syarat utama untuk kemaslahatan dan keberhasilan itu: berpegang pada dasar: hidup dan memberi hidup, bukan untuk nafsu berebut hidup.”[12] Disinilah peran wahyu sebagai peletak dasar bagi individu untuk bertanggung jawab kepada masyarakatnya, dan masyarakat bertanggung jawab untuk kemaslahatan anggota-anggotanya. Kaitan manusia (muslim) dengan masyarakatnya termasuk juga dalam hal politik. Bagi Natsir, mungkin politik yang diceraikan dari agama. Dan kompilasi berpolitik, maka Islam sebagai pandangan hidup, tidak dapat ditanggalkan.
Natsir menjelaskan, “Oleh karena itu bagi kita sebagai muslim, kita tidak bisa melepaskan diri dari politik. Dan sebagai orang berpolitik, kita tak bisa melepaskan diri dari ideologi kita, yaitu ideologi Islam. Bagi kita, menegakkan Islam itu bisa dilepaskan dari menegakkan masyarakat, menegakkan Negara, menegakkan kemerdekaan. ” [13]
Pendidikan dalam Pandangan M. Natsir
Selain bersoal pada politik, tanggung jawab masyarakat menurut Natsir adalah dalam bidang pendidikan. Pendidikan menjadi fardu kifayah.[14] M. Natsir menekankan 2 perkara yang patut diketahui mengenai pendidikan. Pertama, apa tujuan dari pendidikan? Kedua, apa dasar dari pendidikan itu?
Tujuan pendidikan menurut Natsir haruslah ditarik jauh hingga pertanyaan apakah tujuan hidup itu? Tujuan pendidikan dan tujuan hidup, baginya tak dapat dipisahkan. Tujuan hidup adalah memperhambakan diri kepada Allah. Dasar dari tujuan ini adalah surah Adz Dzariyat ayat 56. Natsir menjelaskan bahwa, “Perhambaan kepada Allah yang jadi tujuan hidup dan jadi tujuan didikan kita, bukanlah suatu perhambaan yang memberi keuntungan kepada yang disembah, tetapi perhambaan yang memberi keuntungan pada yang menyembah; perhambaan yang mendatangkan kebahagiaan kepada yang menyembah; perhambaan yang memberi kekuatan kepada yang memperhambakan dirinya itu.” [15]
Memperhambakan diri kepada Allah, memiliki arti luas, meliputi ketakwaan dan ketundukan pada ilahi, yang membawa kebesaran dunia, serta menjauhi larangan-larangan. Dan untuk mencapainya diperlukan ilmu. Yang dapat dilakukan melalui jalinan wahyu, pancaindra dan akal.
Setelah mengetahui tujuan pendidikan, maka mulailah mempelajari dasar-dasar pendidikan. “Mengenal Tuhan, men-tauhidkan Tuhan, mempercayai dan menyerahkan diri kepada Tuhan, tidak dapat tidak, harus menjadi dasar bagi setiap-pendidikan yang diperlukan diberikan kepada generasi yang kita latih …” [16]
Dampak pendidikan mendasar tauhid ini memancarkan makna yang mendalam bagi pribadi dan lingkungan.
“Ia berjuang hidup ditengah-tengah dunia, yang kata orang penuh dengan tipu daya dan kecewa, tetapi ia pun berjuang mati untuk memberikan darma baktinya untuk kehakiman ilahi di yaumilmahsyar.” (17: CS1)
Kesimpulan
Islam untuk Mohammad Natsir adalah hanya sebagai agama saja dalam arti ritual atau ibadah, tetapi Islam sebagai pandangan hidup. Tampilan hidup ini membahas aspek fisik dan metafisik. Menjadikan wahyu dan aqidah sebagai sumbernya. Menjangkau dunia dan akhirat, serta menjadikan akhirat sebagai tujuan terakhirnya. Implikasi dari Islam sebagai pandangan hidup Natsir adalah, segala aspek kehidupan dilihat dari kacamata Islam. Wahyu, pancaindra dan akal sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yang benar.
Catatan Kaki
- Natsir, Mohammad. Capita Selecta 2 . PT Abadi. 2008. Jakarta.
- Ibid
- Ibid
- Zarkasyi, Hamid Fahmy. Islam sebagai Pandangan Hidup dalam Tantangan sekularisasi dan Liberalisasi di Dunia Islam. Khairul Bayan. 2004. Jakarta.
- Ibid
- Natsir, Mohammad. Fiqhud Da’wah. Media Da’wah. 2006. Jakarta.
- Ibid
- Ibid
- Natsir, M. Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah. Girimukti Pasaka. 1988. Jakarta.
- Ibid
- Natsir, Mohammad. Fiqhud Da’wah. Media Da’wah. 2006. Jakarta.
- Ibid
- Natsir, Mohammad. Capita Selecta 2. PT Abadi. 2008. Jakarta.
- Natsir, M. Capita Selecta. Van Hoeve. 1954. Bandung.
- Ibid
- Ibid
- Ibid
***********
Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB))
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)
_______________________________
@Yuk Dukung MUJAHID DAKWAH dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
- REKENING DONASI : BNI SYARIAH (0719501842) An. Akbar
- KONFIRMASI DONASI hubungi : 0852-9852-7223
DONASI MUJAHID DAKWAH MEDIA
Baca Selengkapnya : https://mujahiddakwah.com/2018/09/donasi-mujahid-dakwah-media






































































