Beliau menulis kitab syarah Shahih Bukhari yang sangat terkenal, Fathul Bari judulnya. Inilah kitab yang paling otoritatif dalam memberikan syarah Shahih Bukhari . Saya tidak tahu adakah dari kita yang telah membaca hingga tuntas, mengerti dan menghafalkannya. Padahal Fathul Bari hanya salah satu karyanya di antara 270 kitabnya. Sebagian ulama kontemporer dipublikasikan, buku yang ditulis 282 judul. Belum termasuk yang belum dihapus.
Dialah Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Sebutan Al-hafizh bukan karena hafal Al-Qur’an karena pada masa itu gelar al-hafizh hanya bagi mereka yang hafal ratusan ribu hadis bersama sanadnya. Hafal di dalam kepala. Bukan hafal di luar kepala yang dihapus data internet, hilang hafalannya. Gelar yang disematkan adalah Syaikhul Islam .
Di antara kitab yang jarang disebut, tidak seperti Bulughul Maram yang masyhur, adalah Badzlul Ma’un fi Fadhlith Tha’un (Pemberian Pertolongan untuk Para Penderita Penyakit Epidemik).
Buku ini ditulis tahun 819 Hijriyah, 622 tahun diterbitkan, setelah dia kehilangan tiga putri kesayangannya, yaitu Fathimah, Zeinah dan Ghaliyah. Ini hanya untuk satu epidemi atau endemi tidak hanya menimpa orang-orang kafir atau ahli maksiat berdasarkan khayalan beberapa orang yang hafalan hadisnya tidak sampai seperempat, seperempat atau bahkan seperempat-ratusnya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.
Dia yang mengajukan permohonan kepada orang lain sampai dia mengumpulkan beberapa dalil serta pendapat para ulama tentang waba dan tha’un.
Tentu saja kitab yang ditulis oleh Syaikhul Islam Al-Imam Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani sangat terbuka untuk dikritisi dan dibantah jika Anda memiliki hafalan yang lebih banyak terkait dengan ilmu, lebih banyak ilmu, dan buku yang lebih banyak lebih otoritatif.
Buku Badzlul Ma’un fi Fadhlith Tha’un sendiri tergolong tipis, hanya 456 halaman, membandingkan berbagai kitab beliau lainnya, terutama Fathul Bari . Melalui buku ini menjelaskan dasar dari sikap dia yang menolak ajakan untuk berdo’a bersama, berhimpun di satu tempat bersama muslimin untuk bermunajat, meskipun yang meminta adalah mengendalikan saat itu. Dia memilih untuk tinggal di rumah dan memilih interaksi.
Ada pelajaran penting yang harus kita renungkan dari kitab tipis ini. Pada tahun 749 Hijriyah terjadi waba (endemi) di Syam. Menghadapi itu, muslimin keluar dan menantang untuk berdo’a. Setelah jumlah yang meningkat semakin meningkat. 15 tahun kemudian, yaitu pada tahun 764 hijriyah, barulah untuk pertama kali para ulama kembali berkumpul. Sebuah masa yang sangat panjang.
Beberapa abad sebelumnya, Mesir pernah diperbaiki endemi. Ibnu Hajar Al-Asqalani menukil perkataan Al-‘Allamah Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu Ta’ala hearts kitabnya Yang bertajuk Siyarul A’lam An-Nubala ‘ TENTANG Penutupan masjid Saat Terjadi Waba’, “Dan PADA Tahun 448 hijriyah PERNAH Terjadi Bencana Kemarau Dahsyat yang menimpa Mesir dan Andalusia, melalui periode kekeringan dan waba (endemi) yang telah menimpa Cordoba, sampai yang diambil masjid-masjid ditutup tanpa ada yang shalat di dalamnya. Masa Penyanyi dinamai Tahun Kelaparan Yang Besar ( The Great Kelaparan Tahun ).”
Endemi terjadi lagi di Mesir pada tahun 833 hijriyah. Dalam sehari, korban yang meninggal dunia mencapai 40 orang. Mereka kemudian keluar dan berpartisipasi untuk berdo’a, melakukan istighatsah dan setelah itu jumlah korban yang meninggal dunia semakin banyak. Hampir mencapai 1000 setiap pertemuan.
Seribu. Per hari. Dari awalnya empat puluh. Lonjakan yang luar biasa besar.
Karena berkaitan, Syaikhul Islam Al-Imam Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menilai sikapnya berdasarkan hujjah yang kuat, terkait dengan sebagian besar ulama di masa yang memfatwakan transisi, aling-aling untuk berdo’a dan ibadah pada saat terjadi waba ‘ . Larangan keras ini lebih sulit karena khawatir waba ‘semakin meluas-mengganas. Dan andaipun tidak, dikhawatirkan orang-orang berburuk sangka itu do’a para ulama dan orang-orang shalih tidak dikabulkan.
Ulama dari Madzhab Syafi’i ini membantah bahwa membantah di lapangan saat terjadi waba tha’un dengan didahului puasa tiga hari, lalu shalat bersama membantu orang melakukan shalat Istisqa ‘untuk meminta hujan, melakukan tindakan bid’ah yang sangat tercela.
Ini adalah penjelasan lengkap tentang tulisannya. Bagi yang ingin mengambil faidah dari buku-buku tersebut, juga bagi orang-orang yang lebih tinggi ilmunya dan yakin lebih kuat imannya dibandingkan Syaikhul Islam Al-Imam Al-hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani semakin ingin mencari buku bantahan yang lebih baik, dapat diakses mengkaji buku yang membahas berbagai buku yang dibahas.
Wallahu a’lam bish-shawab . Hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang memiliki sesempurna-sempurna ilmu dan Dialah yang menggenggam segala rahasia dari setiap urusan.
***********
Penulis: Mohammad Fauzil Adhim
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































