Sejak awal munculnya dakwah islam yang diusung oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Mekah, Islamofobia lahir sebagai rival yang cukup berat bagi Rasulullah dan para sahabatnya.
Islamofobia kala itu pertama kali dipelopori oleh pemuka-pemuka Quraisy dari kalangan bangsawan di bawah komando Abu Jahal. Berbagai upaya mereka lakukan demi menghalangi berkembangnya dakwah yang diusung oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Mulai dari embargo ekonomi, penyiksaan fisik, sampai kepada upaya pembunuhan terhadap rasulullah dan para pengikutnya.
Semakin hari tindakan mereka semakin ‘barbar’ dan beringas dalam membendung laju dakwah islam yang semakin pesat. Hingga menimbulkan korban jiwa dari kubu pengikut rasulullah.
Karena tekanan yang begitu dahsyat akhirnya Rasulullah pun diperintah untuk hijrah meninggalkan kota Mekah. Agar kaum muslimin bisa lega menghirup udara kebebasan dalam menjalankan keyakinannya sebagai orang beriman. Beliaupun bersama kaum muslimin akhirnya angkat kaki dari kota Mekah menuju kota Madinah.
Hengkangnya kaum muslimin dari Mekah tidak berarti kemenangan bagi kaum islamofobia, justru hal itu menjadi awal dari kekalahan telak mereka. Terbukti setelah 8 tahun kemudian rasulullah kembali bersama kaum muslimin dan berhasil menaklukkan kota Mekah dalam peristiwa Fathu Makkah serta meruntuhkan seluruh keangkuhan kaum Islamofobia.
Islamofobia Spesies baru
Kemenangan Kaum Muslimin di Fathu Makkah bukan berarti telah berhasil mematikan benih-benih islamofobia. Di zaman Khalifah Abu Bakar tak lama setelah meninggalnya Rasulullah muncul Islamofobia ‘spesies baru’, mungkin tidak salah kalau digelari ‘Islamfobhia parsial’, yang berarti fobia terhadap sebagian ajaran islam.
Yaitu golongan yang tetap mengaku Muslim namun menolak untuk membayar zakat, mirip dengan spesies islamofobia yang ada di zaman kita sekarang, mengaku muslim tapi anti syariat islam. KTP Islam tapi anti cadar, anti cingkrang, anti jenggot, anti hafidz qur’an dll.
Melihat gerakan pembangkangan seperti ini, tanpa ragu-ragu dan tanpa berpikir panjang Khalifah Abu Bakar bertindak cepat dan menyerukan jihad bagi mereka yang menolak untuk membayar zakat. Alhasil, beliau sukses meredam gerakan pembangkangan tersebut dan berhasil memadamkan api fitnah yang hampir mengacaukan barisan kaum muslimin.
Islamofobia Kaum Yahudi
Masih tentang Islamofobia akan tetapi kali ini aktornya dari kalangan Kaum Yahudi. Singkat cerita, suatu hari di pertengahan tahun kedua Hijriyah di salah satu sudut kota Madinah. Seorang wanita muslimah bercadar sedang berjalan menuju pasar Bani Qainuqa’ dengan membawa barang dagangan untuk dijual disana. Ketika telah sampai di pasar ditengah lalu-lalang pengunjung pasar ia duduk berhadapan dengan seorang pandai emas Yahudi.
Teman-teman Si Yahudi ini-mungkin karena penasaran- meminta wanita muslimah tersebut agar membuka cadarnya. Akan tetapi ia menolak.
Karena wanita ini menolak, maka Si Yahudi tadi secara diam-diam ‘iseng’ mengikat ujung gamis wanita tersebut dengan kain di punggungnya.
Otomatis, tatkala ia berdiri auratnya langsung tersingkap dan mirisnya, tidakan konyol dan memalukan ini malah mengundang gelak tawa orang Yahudi disekitarnya.
Karena tidak terima dilecehkan, spontan wanita muslimah tersebut berteriak histeris. Mendengar teriakan keras itu seorang laki-laki muslim tiba-tiba meloncati si pandai emas Yahudi dan langsung membunuhnya.
Teman-teman si pandai emas Yahudi tatkala melihat temannya terbunuh mereka tidak tinggal diam mereka juga langsung mengeroyok laki-laki muslim itu dan membunuhnya.
Tragedi berdarah tersebut akhirnya berbuntut panjang karena kabarnya telah menyebar kepada kaum muslimin dan pada akhirnya terdengar oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Wajah mulia beliau memerah mendengarkan kabar tersebut karena juga secara otomatis Yahudi Bani Qainuqa’ telah melanggar perjanjian damai mereka dengan Rasulullah.
Dan beliau pun langsung menyerukan jihad kepada pasukan kaum muslimin dan segera mengepung benteng Yahudi Bani Qainuqa’.
Peperangan ini tidak menyebabkan pertumpahan darah namun berakhir dengan diusirnya kaum Yahudi Bani Qainuqa’ dari kota Madinah.(lihat ; Arrahiqul Makhtum, hal, 328, cet.I, Darul Kitab wassunnah, tahun1996)
Islamofobia Kaum Pemuja Akal
Sekarang mari kita bergeser melirik ke tahun 218 H tepatnya di Kota Baghdad disana kita akan menjumpai seorang pria paru baya yang mendekam di sebuah sel tawanan Rezim Al Muktashim dengan kedua tangan dan kakinya terbelenggu. Keringat bercampur darah mengalir di sekujur tubuhya akibat luka-luka bekas cambuk algojo rezim dzholim Al Muktashim.
Pria itu tak lain adalah Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Besar Ulama ahlussunnah waljamaah. Ia terpaksa dijebloskan ke dalam sel tawanan karena menolak mengatakan Al Qur’an adalah Makhluk. Lagi-lagi karena provokasi kelompok ‘Islamofobia” yang tergolong berspesies parsial. Yaitu kelompok Muktazilah kaum pemuja akal. Sebuah kelompok sempalan yang mengaku Muslim namun mengklaim bahwa Al Qur’an adalah Makhluk dan memaksakan seluruh kaum muslimin untuk menganut keyakinan yang sama.
Karena rezim saat itu pro terhadap kelompok sesat ini maka posisi mereka berada di atas angin.Tak segan-segan mereka memanfaatkan otoritas kekuasaan untuk melakukan persekusi terhadap rival-rival keyakinan mereka. Tak terkecuali Imam Ahmad bin Hanbal.
Fitnah yang menimpa Imam Ahmad ini terbilang cukup berat karena beliau harus mendekam dalam penjara dan menahan berbagai siksaan selama kurang lebih 15 tahun melintasi 3 periode rezim dzolim ; Al Makmun, Almuktashim, dan Al Watsiq.
Namun, kesabaran selalu berbuah manis. Pada akhirnya tiga rezim pengayom ‘Islamofobia parsial’ itu pun tumbang dan berakhir telak dan Imam Ahmad akhirnya dibebaskan. Lalu beliau setelah peristiwa itu semakin dimuliakan oleh ummat islam bahkan oleh Kholifah Dinasti Abbasiyah yang menjabat saat itu. Dan beliau pun akhirnya digelari Imam Ahlussunnah waljamaah karena kesabaran beliau mempertahankan Aqidah Ahlussunnah waljamaah yang benar.(Lihat ;Al Bidayah Wannihayah, vol.14, hal.207,Cet.I, Daru Hajr, Mesir, Tahun 1998)
Kisah tindak-tanduk kaum Islamofobia diatas hanyalah segelintir dari sekian banyak kisah kelam mereka yang telah menodai sejarah islam.
Dan kejadian-kejadian serupa yang dipertontonkan secara luas dan bebas di zaman milenial hari ini di media-media pemberitaan baik berupa pelecehan Al Qur’an, penghinaan terhadap Allah dan rasul-Nya, dan penindasan terhadap kaum muslimin serta pelecehan terhadap wanita wanita muslimah di beberapa belahan dunia, sejatinya tak lain adalah sejarah yang terulang.
Hal ini, mengingatkan kita kepada firman Allah subhanahu wata’ala :
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”(QS.Al Baqarah 120)
Makanya,tak heran ketika Allah mewanti-wanti kaum muslimin agar tidak menaruh kepercayaan kepada mereka dan siapapun yang berkoalisi dengan mereka.
Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”(QS Ali Imran 118)
Akan tetapi, bagaimanapun mereka membuat konspirasi dan sebesar apapun makar mereka, mereka tidak akan mampu memadamkan cahaya islam.
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.”(QS At Taubah 32)
Ya, Faktanya islam adalah ‘The Big Power’ yang tak terkalahkan dan tak mungkin terkalahkan oleh siapapun dan dengan apapun.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.”(QS An Anfal:36)
Kekhalifahan islam dimasa silam memang telah runtuh. Namun, keruntuhan itu tak lain hanyalah keruntuhan fisik dan bangunan semata, karena islam itu sendiri terus berdiri kokoh tak tergoyahkan hingga saat ini.
Sekali lagi sejarah akan terulang. Hari ini, Penistaan dan penindasan Kaum Islamofobia terhadap kaum muslimin telah kita saksikan, tinggal menunggu kekalahan telak mereka.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.”(QS. Annur :55)
Kapankan itu? Entahlah…!
Hanya Allah yang tau.
Yang terpenting saat ini adalah apa peran anda dan saya dalam membela dan memperjuangkan islam?
Dan yang tak kalah pentingnya adalah ketika islam dilecehkan dan ditindas di barisan mana anda dan saya berada ?!.
*************
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Rustang Arizal
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































