Jejak Syi’ah di Nusantara?
Sebuah contoh yang dapat kita telaah adalah kecerobohan dalam membicarakan perbedaan Syi’ah pada tradisi yang dilakukan oleh muslim nusantara. Padahal Tradisi nusantara muslim, seperti maulid , pembacaan Barzanji , diba’an , justru Banyak memberikan puji-Pujian Kepada sahabat Rasulullah. Dalam tradisi-tradisi tersebut tidak ditemukan ajaran Syi’ah. Justru sebaliknya, tradisi ini sebaliknya membentengi Ahlusunnah dari ajaran Syi’ah, dibahas melalui lafal pujian terhadap para sahabat Rasululllah. [1]
Tradisi muslim nusantara nampaknya mendapat banyak pengaruh dari Golongan Bani Alawi (yang merupakan keturunan Ahmad bin Isa al-Muhajir yang juga berhasil mengalahkan Ali bin Abi Thalib Ra.) Yang menetap di Hadramaut (Yaman) dan dikenal sebagai penyebar Islam di Nusantara. Gelombang besar Bani Alawi ini hadir pada abad ke 18-19, meskipun sudah hadir di Nusantara sejak abad-abad sebelumnya (lebih dari abad ke 10). [2] Mereka sebagai Ahlul Bayt yang membantah sebagai pembawa ajaran Syi’ah. [3] Generalisasi semacam ini menggunakan keliru. Karena Muslim di Hadramaut, termasuk Bani Alawi dikenal sebagai pemegang mahzab Syafi’i . [4]Lagipula, Sebagai Ali Bin Abi Thalib, sangat wajar jika mereka memiliki kecintaan kepada Ahlul Bayt dan mendukung Ali Bin Abi Thalib Ra. Memang tak bisa dipungkiri, kumpulan dari penganut agama Syi’ah di Nusantara (kemudian Indonesia) adalah dari Bani Alawi. Namun hal itu tidak berarti Bani Alawi adalah penyebar Syi’ah di Nusantara. Malah menentang terhadap Syi’ah di Nusantara (Indonesia) juga dipelopori kemenangan Bani Alawi, seperti yang akan dibahas selanjutnya.
Berbagai contoh di Nusantara yang didukung dengan Syi’ah. Islam di Jawa, misalnya, diterbitkan oleh Syi’ah. Tak hanya dalam hal tradisi, tetapi juga dalam hal memahami sejarah Walisongo, sebagai penyebar Islam di tanah Jawa yang sangat dipahami. Salah satu yang melibatkan tradisi yang terkait dengan Syi’ah oleh sebagian pihak adalah Sunan Ampel dan Sunan Gresik. Argumen ini dilandaskan pada mula datangnya Sunan Ampel dan Sunan Gresik yang berasal dari Champa. Champa disebut sebagai daerah yang beraliran Syiah Utama Zaidiyah. Muslim di Champa dengan Muslim di nusantara. Diantara tradisi tersebut adalah tradisi memperingati kematian seseorang di hari ke-3, ke-7, ke 40, ke-100, dan ke-1000. Misalnya tradisi,Maulid Nabi. [5]
Hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut. Sebab Muslim Champa terdiri dari 2 kelompok, yaitu Bani Islam (Champa Annam ) dan Muslim Sunni. Etnis Cham yang di kelompokkan sebagai Muslim Sunni lebih banyak daripada orang-orang melayu. Mereka dikenal sebagai penganut mahzab Syafi’i . Di pihak lain, Islam yang dianut oleh Bani Islam lebih tepat disebut sebagai Islam yang sangat disukai oleh Brahmanisme dan agama primitif lokal. [6] Dalam banyak hal, pemahaman dan pengamalan di Bani Islam terlihat jauh berbeda dari Islam pada umumnya. Seperti misalnya, tidak semua rukun yang dianggap wajib bagi muslim Bani Islam. Sebagian besar didelegasikan kepada para pemimpin mereka yang disebut ‘Acar.’ Begitu pula pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini, masyarakat Bani Islam tidak berpuasa. Kewajiban berpuasa hanya dilakukan oleh pemimpin mereka. [7] Beberapa peneliti seperti Durand dan Cabaton menyebut Bani Islam terkait dengan Syi’ah. [8] Namun, jika dilihat lebih lanjut, praktik yang dilakukan Bani Cham pun tak Terkait dengan Syi’ah. Kewajiban berpuasa, dan sholat yang dilakukan Syi’ah, tak diwajibkan oleh Bani Islam. [9]
Bani Islam bagian Syi’ah selain Bukan , banyak peneliti percaya orang-orang pribumi Cham memeluk Islam baru marak setelah tahun 1471. [10] Hal ini menarik untuk membandingkan tahun 1406 atau 1479 [11] , Sunan Ampel memiliki Nusantara. [12] Melihat jeda waktu antara Islamisasi di Cham dengan tahun wafatnya Sunan Ampel ini, sulit untuk mengikuti tradisi-tradisi di nusantara yang mirip dengan Bani Islam di Cham, dibawa oleh mereka. Lebih dari kita menilik lebih dalam pemahaman dan pengamalan Islam dari Bani Islam di Cham. Pemahaman dan pengamalan muslim di Jawa sangat berbeda dengan Bani Islam. Muslim di nusantara diwajibkan untuk berpuasa, sholat lima waktu dan lainnya.
Rukun Islam diterapkan secara keseluruhan oleh muslim di Jawa. Hanya ada beberapa yang menentang tradisi Muslim di Jawa dengan Bani Islam, seperti Maulid, memperingati kematian, Haul , Talqin , dan sebagainya. [13] Seperti Misalnya Haul . Tradisi ini tak bisa dianggap merta sebagai tradisi Syi’ah. Tradisi Haul di nusantara (Indonesia) lebih condong diambil oleh para Sayid dari Hadramaut dan memiliki konsep khusus. [14] Lagipula, Bani Islam tidak dikenal sebagai muslim yang hijrah ke Melayu, tetapi sebaliknya muslim Cham Sunni-lah yang dikenal sebagai perantau ke kepulauan Melayu. Senang melawan Muslim Sunni dari Cham ini demi memenangkan perang Demak melawan Portugis di Jawa. [15]
Kesamaan tradisi atau penempatan Ahlul Bayt pada posisi yang dominan juga membuat pasangan menentukan sebagai Syi’ah. Seperti yang disebut pada Muslim di Cikoang, Sulawesi Selatan. Tak bisa dipungkiri, memang ada kumpulan Syi’ah di sana. Apakah ada yang terkait dengan ulama asal Aceh penyebar Islam di Cikoang, yaitu Sayid Jalaluddin Al Aidid? Atau mereka hadir jauh setelah beliau?
Sayid Jalaluddin Al Aidid diterima di awal abad ke 17. Kehadiran dia sangat dihargai di Cikoang. Beberapa tradisi yang dilestarikan hingga ke masyarakat Cikoang, dianggap sebagai membahas ajaran Syi; ah. Namun penelaahan lebih lanjut menjelaskan ajaran Sayid Jalaluddin Al Aidid lebih tepat disebut tasawuf, yaitu tarekat Bahar Al Nur , dibahas Syi’ah. [16] Dan menarik untuk menggantikan nama dari Sayid Jalaluddin Al Aidid, yaitu putra disetujui bernama Umar. [17] Sulit diterima bagi seorang Syi’ah untuk memberi nama putranya Umar, seorang sahabat Nabi Muhammad yang sangat dibenci oleh kaum Syi’ah.
Penulisan sejarah Islam di nusantara yang membahas dengan Syi’ah pun tidak hanya bersandar pada kesimpulan yang gegabah soal tradisi, namun juga sesuai dengan sumber tulisan yang rapuh. Hal ini dapat kita temui seperti pada buku Tuanku Rao karya Mangaradja Onggang Parlindungan. Buku Tuanku Rao Artikel lengkap tentang sejarah Syia’h di Indonesia. Seperti contohnya, menurut Parlindungan Syi’ah Qaramithah (Parlindungan yang melarang Karamtiyah ) tidak pernah berdiri tegak di Minangkabau selama 300 tahun. Dianut masyarakat, hingga kerajaan Pagaruyung. Sebelum akhirnya ditumpas oleh gerakan Paderi. Tuduhan ini ditimpakan oleh Parlindungan kepada Syekh Burhanuddin Ulakan. [18]
Pendapat Parlindungan dari bukunya Tuanku Rao sebenarnya sudah selesai, karena Parlindungan tidak bisa menyediakan sumber yang jelas. Semua sumber tulisan, disetujui Parlindungan, telah dibakar oleh disetujui. Bahkan sumber ‘Naskah Poortman’ dari seorang pejabat kolonial, – yang disebut Parlindungan diterima dari Residen Poortman- pun tidak ada, baik di Ruang Arsip Istana Merdeka Jakarta, Museum Granada di Spanyol, atau Den Haag. [19]
Tuanku Rao pernah menjadi topik hangat dan akhirnya dibahas secara ilmiah di Seminar “Sejarah Masuknya Islam ke Minangkabau ,” bulan Juli 1969. Kala itu, Parlindungan tidak mampu mendukung pembahasannya setelah dikritik secara mendukung oleh Buya Hamka. Tak ada bantahan oleh Parlindungan saat itu. Kritik Buya Hamka terhadap buku Tuanku Rao kemudian hadir dalam sebuah buku berjudul “Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.” Buya Hamka kemudian memulai, “Setelah aku membaca buku itu, berbulan-bulan dengan seksama, maka aku simpulkan: +/- 80% dari Isi buku itu tidak benar, dan agak kasar bisa disebut dusta. ” [20]
Selain tak jelasnya sumber, Parlindungan juga mendasarkan pendapatnya yang lemah pada perayaan Tabut di pariaman, Sumatera Barat. Perayaan tabut dimulai di Bengkulu, dan di Pariaman sebenarnya berasal dari tentara Sepoy (India) yang berdiam di sana sejak zaman penjajahan Inggris. Tentara Sepoy pengi Syi’ah itu diadakan perayaan setiap 10 Muharram. [21] Menurut Buya Hamka, Tentara Sepoy mulai membujuk orang kampung sekitar yang awam untuk membantu mereka mengumpulkan perayaan. Dibangkitkan oleh para Sepoy ini perasaan tentang tragedi Karbala. Lalu seorang penyair, Bagindo Malin kemudian menyusun Syair Hasan-Husindan dinyanyikan. Namun perayaan Tabut tidak pernah membuat masyarakat Pariaman menjadi pengikut Syi’ah. [22] Masyarakat yang awam, menganggap Tabut hanya bagian dari keramaian masyarakat, bukan perdebatan agama.
Perayaan Tabut pun meningkat. Tidak selamanya berjalan meriah. Semasa gencarnya dakwah Muhammadiyah dan Permi di tahun 1930-an perayaan Tabut di Pariaman dapat dihilangkan. Namun setelah Indonesia merdeka, perayaan tersebut marak dikembalikan, karena menurut Buya Hamka adalah faktor lemahnya agama, dan yang menjadi pertimbangan Tabut sebagai sektor pariwisata. [23] Maka tidak mengherankan, perayaan yang diadakan oleh pemerintah khusus oleh pemerintah Orde Baru sesuai dengan kebutuhan pariwisata. [24]
Berdiri di atas kepingan fakta-fakta di atas, kita bisa membalikkan fakta itu ‘Syiah di Nusantara pada masa lalu sejauh ini masih disandarkan pada (1) fakta yang meragukan dan tidak kokoh, (2) misinterpretasi atau kekurangtelitian dalam men atau (3) pada jejak-jejak tradisi lahiriah, yang menggambarkan budaya Syiah dari luar, tetapi tanpa diikuti dengan keyakinan keagamaan (Syiah). Secara umum, kalaupun ada jejak-jejak masuknya Syiah di Nusantara pada masa lalu, maka pertimbangannya menjadi signifikan.
Jejak-jejak Syi’ah di Nusantara tidak tergambar jelas, kecuali dalam beberapa hal yang mungkin melebur dalam tradisi masyarakat di nusantara, sebagai buah dari interaksi masyarakat di nusantara dengan segelintir pemeluk Syi’ah. Itu hanya bahasa keramaian rakyat atau tradisi belaka, bukan penerimaan keagamaan. Bukannya pengaruh-pengaruh di atas yang dianggap ‘menantang Syi’ah’ di Nusantara adalah pengaruh dari Syi’ah Zaidiyah . Namun, perlu penelitian lagi. Kita harus hati-hati dengan tidak mudah menganggapnya sebagai Zaidiyah , mengingat Zaidiyah memiliki perbedaan tegas dengan Muslim Sunni di nusantara, seperti dalam hal imamah dan kedudukan Abu Bakar dan Umar Ra sebagai khalifah, Pandangan ditunjukan kepada para sahabat [25] Serta kecondongan Zaidiyah tidak ditunjukan kepada Mu’tazilah . [26] Sementara dalam dakwah Islam di Indonesia, jelaskan Islam di Nusantara adalah Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah , khususnya mahzab Syafi’i.
Syi’ah Rafidhi di Nusantara tidak bisa disangkal . Mengingat Nusantara adalah negeri-negeri yang terbuka, dan saling berinteraksi dengan banyak pihak. Namun, kalaupun pernah hadir penyebar ajaran Syi’ah di nusantara, nampaknya ajaran Syi’ah tak mendapat sambutan yang hangat. Pengaruh Persia di Nusantara, ditambahkan sebelum berdirinya Dinasti Safawi, tak bisa serta merta disebut sebagai pengaruh Syi’ah.
Kehadiran Dinasti Safawi dalam peta politik di dunia, tak terkendali di Nusantara, karena kokohnya keyakinan Ahlussunnah Wal Jamaah . Sementara ke beberapa wilayah, seperti Thailand, Dinasti Safawi menjalin hubungan resmi dengan mengirim delegasi, namun di Nusantara, sejauh ini kami dapat menemukan kami menemukan upaya tersebut. [27] Selain faktor kokohnya kepercayaan Sunni di nusantara, sangat mungkin bagi kita saat ini untuk meneropong dari peta politik dunia Islam saat itu.
Posisi Dinasti Safawi yang berseteru dengan Kekhalifahan Usmaniyah, membuat mereka sulit untuk melebarkan intensitas (Syi’ah) -nya di nusantara. Kerajaan Aceh yang mendeklarasikan diri di bawah kekhalifahan Usmaniyah, mengurangi peluang tersebut. [28] Apalagi Dinasti Safawi pernah pula bergandeng tangan dengan penjajah Portugis, turut membantu Kekhalifahan Usmaniyah. [29] Maka jejak Syi’ah di Nusantara hanya terlihat samar-samar, tanpa perbedaan yang membekas dalam dada umat Islam di Nusantara.
Hingga berusia 20 tahun, Syi’ah di Nusantara, yang kemudian menjadi Indonesia, tak tampak menampakkan dirinya. [30] Segelintir keturunan Bani Alawi yang menentang Syi’ah, mendapat tentangan keras, termasuk sebaliknya dari kalangan Bani Alawi itu sendiri. Penolakan terhadap Syair Syah’ah dari Bani Alawi membahas tentang oleh, Sayid Utsman bin Abdullah bin Aqil Bin Yahya (1911) dan Hasan bin Alwi bin Sahab (1908). [31]
Menyanggah Syi’ah dalam lembaran Sejarah
Dari kenyataan yang terjadi, kita dapat bercermin, meskipun Syi’ah tak berpengaruh signifikan di Nusantara, namun ulama-ulama Nusantara sejak lampau telah memastikan penyimpangan Syi’ah. Sejak jaman Hamzah Fansuri yang mengingatkan melalui syairnya yang telah disinggung di atas, kemudian Nurrudin Ar Raniry pun turut membantam perbuat Syi’ah yang melaknat para sahabat. Pada tahun 1832 Syekh Daud, seorang ulama dari Pariaman yang menetap di Mekah melukiskan penyimpangan ajaran Syi’ah melalui syairnya, yaitu Syair Mekkah dan Madinah . [32]
Pada awal abad ke 20 pun Sayid Usman dari Batavia menolak paham Syiah. Penolakan atas Syi’ah kembali dapat kita temui, salah satunya dari Pendiri Nadhlatul Ulama, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Dalam kitabnya, Risalah Al Bid’ah wa Al Sunnah, beliau menjelaskan,
“Sebagian dari golongan ini adalah Rafidhiyyun, yaitu golongan yang mencaci maki sahabat Abu Bakar ra dan Umar ibn Khattab ra, mereka jugam membenci teman-teman lain, mereka juga sangat tergantung pada Sayyidina ‘Ali ra dan pertimbangan. Menurut Sayyid Muhammad dalam Syarh al-Qomus mengatakan sebagian dari kelompok ini termasuk kategori kafir dan zindiq. ” [33]
Satu hal yang menarik, dari Hamzah Fansuri hingga KH Hasyim Asy’ari di abad ke 20, dalam menjelaskan Syi’ah, mereka menggunakan istilah ‘Rafidhah. ‘istilah Rafidhah ini digunakan akibat dari penggantian kaum Syiah terhadap kedudukan para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar Ra. Istilah ini memiliki makna terkait dengan menyebut Rafidhah , para ulama menggolongkan Syi’ah sebagai kaum yang menyimpang dari akidah, bukan dalam konflik politik antara Ali Ra. dengan Muawiyah.
Penting untuk dicatat, dikembalikan para ulama terhadap paham Syi’ah mengembalikan sumber konfilk. Konfilk Sunni-Syiah tak merebak dalam sejarah Nusantara, meski para ulama telah menjelaskan penyimpangan kaum Syi’ah sejak beratus tahun lalu. Konflik ANTARA Sunni DENGAN Syi’ah justru Mulai merebak Ke permukaan tatkala Iran DENGAN ideologi Syi’ah-nya, mengekspor revolusi (Dan PAHAM) Syi’ah Ke different Wilayah termasuk ke Indonesia pasca Tahun 1979. [34]
Upaya mempengaruhi akidah Ahlussunnah Wal Jamaa ‘ah mendapat reaksi tentangan dari umat Islam di Indonesia. [35] Kedamaian muslim, Ahlus Sunnah Wal JamaahYang menyambut lebih dari seribu tahun sejak datangnya Islam ke Nusantara terkoyak, menentang upaya-upaya yang berhasil meruntuhkan kokohnya Akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah .
Catatan Kaki:
[1] Hasib, Kholili. 2015. Tradisi Muslim Nusantara Menyanggah Syi’ah . http://jejakislam.net/?p=641 . Diunduh pada 4 April 2015.
[2] Jacobsen, Frode F. 2009. Hadrami Arab di Indonesia Saat Ini, sebuah kelompok yang berorientasi Indonesia dengan Tanda Tangan Arab. New York. Rangkaian Seri Kontemporer Asia Tenggara.
[3] Alatas, Syed Farid. Tariqat Al Alawiyyah dan Munculnya Sekolah Syiah di Indonesia dan Malaysia . Oriente Moderno, Nuova Serie Anno 18 (79).
[4] Jacobsen, Frode F. 2009
[5] Sunyoto, Agus. 2012. Atlas Walisongo . Depok: Pustaka IIMan.
[6] Durand, RP 1903. Le Champs Bani . Buletin Francaises d’Extreme-Orient, Tome 3. Penerjemah: Indri Novianti (kontributor JIB)
[7] Phu, Ba Trung. 2008. Bani Islam Cham di Vietnam dalam Islam di The Margins: The Muslim of Indocina . Makalah Diskusi CIAS No. 3, Pusat Studi Area Terpadu, Universitas Kyoto.
[8] Durand, RP 1903.
[9] Phu, Ba Trung. 2008
[10] Nakamura, Rie. 2000. Kedatangan Islam ke Champa. Jurnal Cabang Malaysia The Royal Asiatic Society Vol. 73 No. 1.
[11] Meskipun angka ini tidak dapat diselesaikan, maka kita bisa mendapatkan rentang waktu yang diharapkan. Lihat Agus Sunyoto (2012).
[12] Sunyoto, Agus. 2012
[13] Ibid.
[14] Alatas, Ismail F. 2007. Bangkitnya Memori Dalam Kasus Haul: Masalah Historiografi Islam di Indonesia . Jurnal Islam Indonesia Vol. 1 No. 02, Desember 2007.
[15] Nakamura, Rie. 2000
[16] Adlin Sila, Muhammad. 2001. Perayaan Maulid Nabi di Cikoang, Sulawesi Selatan: Antara Mengenang dan Membesar-besarkan Roh Nabi . Studia Islamika Vol. 8 No. 3
[17] Hisyam, Muhammad. 2014. Sayyid: Raja Asing, Agama dan Tradisi, Kasus Cikoang . Warisan Nusantara Vol. 3 No. 2
[18] Hamka. 2008
[19] Hasyim, Umar. 1983. Sunan Muria. Antara Fakta dan Legenda . Kudus: Penerbit Menara Kudus.
[20] Hamka. 2008
[21] Feener, R. Michael. 1999. Tabut: Peringatan Muharram dalam Sejarah Bengkulu. Studia Islamika Vol. VI No. 2. Dan Buya Hamka, 2008.
[22] Hamka.2008.
[23] Ibid.
[24] Feener, R. Michael. 1999.
[25] Kohlberg, Etan. 1976. Beberapa Pandangan Zaydi tentang Sahabat Nabi . Buletin Sekolah Studi Oriental dan Afrika Vol. 39 No. 1.
[26] Thiele, Januari 2010. Menyebarkan Mu’tazilisim pada Abad VI / XII Zaydiyya: Peran Hasan al-Rasas. Arabica No. 57. Lihat pula Etan Kohlberg (1976).
[27] Marcinkowski, Ismail M. 2002. Thailand – Hubungan Iran. Encyclopaedia Iranica. http://www.iranicaonline.org/articles/thailand-iran-relations diunduh pada 5 April 2015.
[28] Goksoy, Ismail Hakki. 2011. Hubungan Turki Usmani-Aceh yang Terekam dalam Sumber-Sumber Turki dalam Memetakan Masa lalu Aceh. Bali & Jakarta: Pustaka Larasan & KITLV Jakarta.
[29] Mathee, Rudi. 2011. Sekutu Jauh: Kontak Diplomatik Antara Portugal dan Iran di The Reign of Shah Tahmasb, 1524-1576 hearts Portugal, Teluk Persia dan The Safawi Persia . Yayasan Warisan Iran, Peeters.
[30] Zulkifli. 2013. Perjuangan Syiah Di Indonesia . Canberra: ANU E Press.
[31] Ibid.
[32] Suryadi. 2013. Syair Mekah dan Madinah dalam Naik Haji di Masa Silam, Tahun 1482 – 1890 Jilid I. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
[33] Asy’ari, KH. Hasyim. 2008. Risalah Al Bid’ah wa Al Sunnah (Risalah Bid’ah dan Sunnah). Bekasi: Subulus Salam Indonesia.
[34] Ramazani, RK 1990. Ekspor Iran atas Revolusi, Politik, Berakhir dan Berarti dalam Revolusi Iran: Ini Dampak Global . (ed: John L. Esposito). Miami: Florida International University Press.
[35] Zulkifli. 2013
***********
Penulis: Beggy Rizkiansyah
(Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































