Guna melarang penyebaran virus corona (COVID-19), pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk melakukan beberapa hal. Salah hanya tinggal di rumah saja. Atau, lebih akrab dengan tanda pagar (tagar) #dirumahaja.
Tidak hanya seruan. Sebagai upaya suksesi program ini, pemerintah pun telah meliburkan sekolah-sekolah. Dunia kerja pun dihimbau untuk mengambil langkah serupa.
Dalam konteks keluarga, kebijakan ini menjadi ‘anugerah’ khusus. Karena menjadi momentum bagi seluruh anggota keluarga. Khususnya suami-istri.
Sebab di waktu-waktu normal, kerap tidak ada kesempatan untuk berduaan, guna memadu kasih. Membangun kemesraan, agar cinta yang sudah cukup lama, kembali disetujui lagi. Semakin lengket lagi.
Lebih bagi pasangan yang aktif di dunia karir. Hmmmm … Sibuknya tak ketulungan. Berangkat pagi. Pulang malam. Tinggallah rasa letih sampai di rumah. Bawaannya langsung mau makan dan tidur aja.
Tapi nyatanya, untuk sebagian besar orang yang tinggal di rumah itu musibah. Malah lebih senang di luar. Berdekat-dekat dengan pasangan, sebaliknya mengundang banyak keributan. Bukan keharmonisan. Aneh, kan!
Buktinya di China, terjadi banyak kasus perceraian, program penguncian diberlakukan di sana. Alasannya. Terjadi banyak cekcok antar pasangan suamu-istri, kompilasi mereka lama-lama berdiam di rumah. Bermula dari perselisihan sepele, naik tingkat ke naik sengit. Dan akhirnya berujung pada gugatan perceraian.
Untuk bulan lalu saja (Februari). Tercatat 300 pasangan yang diundang perceraian. Demikian diungkapkan oleh Lu Shijun, manajer pendaftaran pernikahan di Dazhou, Provinsi Sichuan di China, diterima dikutip HindustanTimes (30/3/2020).
Kunci Keharmonisan
Lalu, langkah apa yang harus dipindahkan, agar keharmonisan itu terbangun. Pertama ; Tentu saja harus ada niat masing-masing pasangan untuk memanfaatkan momentum #dirumahaja ini, untuk itu.
Penyebab jika hal ini tidak. Apalagi kedua-duanya sama-sama tidak ada kemauan melangkah ke sana, maka tidak akan ada upaya.
Akhirnya, hari-hari berlalu dengan begitu-gitu saja. Menjemukan. Tidak ada kemajuan dalam membangun hubungan. Bahkan cenderung dingin. Maka mengundang keributan.
Berbeda jika sama-sama ada niatan. Masing-masing berusaha membangun. Tidak saling meminta. Tapi lebih terpanggil untuk memberikan.
Kedua , saling jaga sikap. Santun, lembut, lagi penuh kasih sayang. Perilaku ini telah dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ. Dan menentang kaum muslimin untuk menentang.
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik untuk berbicara. “(HR. Tirmidzi).
Untuk menumbuhkan sikap ini, mewujudkan rasa empati terhadap masing-masing pasangan bisa menjadi jembatannya.
Misal, bagaimana Umar bin Khattab bertindak sabar menunggu berbicara. Padahal, dia sendiri sejatinya berjiwa tempramen. Maka, berikut ini jawaban beliau, kompilasi ada yang menyoal;
“Bagaimana aku bisa marah karena dialah yang mencuci bajuku, dialah yang memasak roti dan makananku, ia juga mengasuh anak-anakku, padahal semua itu bisa dipakai,” jawabnya.
Jadi, marilah dilatih untuk menjadi pribadi yang lembut. Semakin pasangan kita pun akan semakin sayang. Sebab hanya kelembutan lah yang bisa meluluhkan hati yang keras. Laksana tetesan air yang bisa membuat lobang batu cadas.
Dan yang ketiga, sekaligus yang terakhir dalam catatan kali ini; berkomunikasi gaya komunikasi. Membicarakan pembicaraan dengan pasangan itu sangat penting. Penyebab, banyak kericuhan terjadi di rumah tangga, tak jarang bermula dari lisan yang kurang terkontrol.
Mulai dari doyan menghardik, memotong pembicaraan, mematahkan argumen dengan sepihak, dan seterunya. Jika lisan ini tidak dapat dijaga untuk diminta-kata lagi yang indah dengan pasangan, jangan pernah harap keharmonisan itu bisa terjalin.
“Perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus jarum.”
“Kaki tergelincirnya lebih selamat dari tergelincirnya lidah.”
Begitu pribahasa mengilustrasikan bahaya lisan. Maka, kita dapati Nabi sangat lembut tutur katanya. Tentang bagaimana Ia memanggil para bicara. Aisyah khususnya.
“Ya Khumaira (Wahai pipi yang kemerah-merahan) , ” sapa Nabi ﷺ.
Bisa dibilang ini terasa sangat mengganjal bagi mereka yang tak butuh. Ada rasa-rasa tidak enak. Tak Sejarah. Coba saja. Nanti akan terbiasa. Laksana kata pepatah melayu, “Alah bisa karena biasa.”
Coba sekali-kali puji penampilan pasangan. Atau untuk suami; puji masakan istri. Atau gunakan sedikit ‘lelucon,’ untuk menggodanya.
Misal; “Dik, masakan adik kok selalu kayak gini, sih rasanya?”
Kalau ditanya balik: “Kenapa, emangnya mas?”
“Selalu enak untuk dinikmati.” Hehe…
Poinnya, marilah kita manfaatkan momentum #dirumahaja ini, untuk hal-hal yang positif. Terkait dalam hal berkeluarga.
Terakhir. Selain berikhtiar. Mari, jangan lupakan terus berdoa, semoga Allah bersegera mengangkat wabah ini dari muka bumi.
***********
Penulis: Khairul Hibri
(Pengasuh STAI Luqman al-Hakim, Surabaya)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































