Santri adalah seseorang yang belajar ilmu agama. Lebih dekat kepada tuhannya. Berpegang teguh pada agamanya serta beramal atau mengaplikasikan ajaran agamanya ataupun budaya yang telah teridentikkan dengan agamanya ke dalam komunitas masyarakat. Mungkin itulah yang bisa menggambarkan seorang santri.
Yang pada intinya para santri menurut presepsi banyak orang, ialah seseorang yang lebih dekat kepada agama. Baik dalam aspek keilmuannya, aplikasinya (secara horizontal maupun vertikal), juga kebudayaannya. Dan tentu agama yang dimaksud bukanlah Kristen, Yahudi, Hindu, ataupun Budha. Melainkan agama yang dibawa oleh seorang yang bernama Muhammad bin Abdullah, yakni Islam.
Namun, keidentikkan santri dengan Islam itu merupakan satu hal yang sudah dikenal atau dima’lum oleh khalayak ramai. Mungkin sampai sekarang belum ada definisi yang lebih rinci dari yang sebelumnya sudah dijelaskan di atas. Oleh karenanya, seorang Doktor lulusan UIKA (Universitas Ibnu Khaldun, Bogor), yang fokus ke dalam pendidikan, yang berhasil lulus dengan predikat cum claude ketika itu berkat disertasinya yang berjudul Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas Dan Aplikasinya Di Perguruan Tinggi, berhasil merumuskan satu definisi baru tentang santri. Dan definisi ini baru dan belum pernah terfikirkan sebelumnya.
Tidak hanya seorang doktor, ia juga seorang mudir dan kyai dari pondok pesantren saya, At-Taqwa yang berada di Depok, tepatnya Cilodong. Muhammad Ardiansyah Ian Kusnadi, itulah namanya.
Definisi yang dibangunnya, bukan melalui ejaan huruf Latin, melainkan dalam khazanah Arab, atau yang dikenal dengan huruf hijaiyah. Melalui huruf-huruf Arab yang bersatu membentuk kata santri, yakni sin (س), nun (ن), ta’ (ت), ra’ (ر), ya’ (ي). Dengan pemikirannya yang cemerlang, beliau mampu membuat satu formulasi baru dalam menciptakan satu filosofi baru dari kata “santri.”
Pertama, huruf sin (س). Yaitu salikun ila tharaqi al-haq (berjalan di jalan yang benar). Yang dimaksud adalah santri harus berada atau berjalan di jalan yang benar, bukan yaang salah (bathil). Karena itu ia harus tahu mana yang benar dan mana yang salah, itulah ilmu. Saat ilmunya sudah benar, maka pasti ia akan meyakininya dan berjalan sesuai dengan apa yang diyakininya itu. dengan begitu ketiga aspek yang ditempuhnya itu telah mampu memposisikannya untuk berada atau bahkan istiqomah di jalan kebenaran.
Maka hal yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah masalah keilmuannya. Jangan sampai rusaknya ilmu pengetahuan (atau dalam bahasa Al-Attas, confusion of knowledge) menjadikannya salah berkeyakinan dan berjalan. Lalu menjadikannya menciptakan satu kondisi yang Al-Attas katakan sebagai loss of adab. Penempatan dirinya pada jalan yang tidak semestinya, jalan yang bukan ketentuan dari sang pencipta. Itulah titik kebiadabannya.
Atau kebiadabannya nampak tatkala ilmu tersebut sudah benar namun tidak ada pengamalannya. Sebab kata al-Attas dalam Risalah Untuk Kaum Muslimin, adab adalah pengenalan (ilmu) dan pengakuan (amal). Hilang salah satu bahkan keduanya, tidak mememenuhi syarat menjadi orang yang beradab. Ingatlah ketika Imam Ghazali berkata, “Al-‘ilmu bilaa ‘amalin junuun, wa al-‘amal bighayri ‘ilmin lam yakun.” Begitu juga Ibn Zubad dalam Matan Zubadnya, beliau mengatakan, “Fa ‘aalimun bi ‘ilmihi lam ya’malan, mu’adzdzabun min qabli ‘ubbdil watsan. Wa kullu man bighayri ‘ilmin ya’malu, a’maluhu mardudatun la tuqbalu.”
Kedua, huruf nun (ن), atau nafi’un li an-nas (bermanfaat untuk manusia). Sebagaimana yang Rasul sabdakan, “khairu an-nas anfa’uhum li an-nas,” bahwa sebaik-baik manusia itu ialah yang bisa memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Maka dalam Islam, kriteria baik itu ditentukan dari manfaat yang diberikan, dan tingkatan baiknya, diukur dari seberapa besar seseorang itu mampu memberikan satu hal yang bermanfaat kepada orang lain.
Santri identik dengan keilmuannya, terutama ilmu agamanya. Karena istilah santri bukan tidak mungkin, memilki relasi kepada satu institusi pendidikan yang bernama pesantren. Maka sudah sepatutnya dengan keilmuan yang dimiliknya, ia harus menebarkan manfaat. Salah satunya dengan mengajarkannya. Jangan sempit mengartikan kata mengajar dengan gambaran seorang guru yang berbicara di kelas. Mengajar bisa dengan menulis, memberi nasihat dimana saja, juga menunjukkan akhlaq yang baik. Dengan begitu manfaat akan tersebar luas.
Ingatlah ketika Imam Zarkasyi pernah mengatakan, “Sampai kapanpun saya akan tetap mengajar. Seandainya sudah tidak ada lagi santri yang hendak belajar, maka saya akan mengajar dunia dengan pena.” Dan ketika beberapa alumni pesantrennya, Gontor, mendatanginya untuk silaturahim. Dan ketika itu salah satu dari trimurti itu bertanya kepada salah seorang dari mereka, “apakah kamu sudah mengajar?” Secara malu dia menjawab, “belum.” Dengan nada yang tinggi langsung saja sang Imam berkata, “MATI KAMU!”
Ketiga, huruf ta’ (ت). Yaitu tazkiyatun nafs wal badan (mensucikan hati dan badan). Jadi jangan sampai seorang santri itu mempunyai penyakit dalam hatinya. Jangan sampai apa yang dipelajarinya membuatnya berkeinginan untuk bersifat ujub, riya, hingga akhirnya hasad, dimana ia tidak mau ada seorangpun yang mengunggulinya. Karena keselamatan fisik itu tergantung pada hatinya. Allah juga sudah berfirman, “Qad aflaha man zakkaha, wa qad khaba man dassaha.” Dan inilah yang menjadi indikator dari ketaqwaan. Dimana ketaqwaan tidak akan mampu diraih selama masih ada penyakit-penyakit seperti tadi.
Oleh sebab itu seharusnya para psikologi juga menganggap bahwa yang dikatakan penyakit jiwa itu bukan sebatas cleptomania dan sebagainya, melainkan juga diikutsertakan penyakit-penyakit seperti riya’, ujub, juga hasad. Karena sepanjang sejarah, umat muslim bukan kalah karena penyakit jiwa yang kebanyakan para psikologi fahami. Untuk itulah perlu yang namanya mujahadah ‘alan nafs atau tazkiyatun nafs.
Ingatlah tatkala Imam Ghazali mengingatkan kita dalam Bidayatul Hidayah, “In kunta taqshidu bi thalabi al-‘ilmi al-munafasata wa al-mubahata wa at-taqadduma ‘ala al-aqrani wa istimalata wujuhi an-nas ilaika wa jam’a huthami ad-dunya, fa anta sa’in fi hadmi diinika wa ihlaki nafsika wa bay’i akhiratika bi dunyaka.”
Begitu juga dengan badan. Jangan sampai image umat ini terus terhinakan dihadapan mereka, peradaban materialis. Jangan sampai masalah yang “sepele” soal kebersihan harus terus-menerus diingatkan. Kalau begitu terus, dimana kesadarannya? Jangan sampai ada lagi kalimat, “Di Barat saya menemukan Islam, tapi tidak dengan disini (negara muslim).” Kita punya suri tauladan yang telah lama menekankan masalah ini, tapi kenapa masih saja kalah dengan mereka yang sama sekali tidak memilikinya?
Jawabannya ialah karena itulah fitrah manusia, senang dengan kebersihan. Permasalahannya ialah mereka mau, rajin, dan tidak malas untuk berbuat, sehingga membentuk satu kesadaran baru. Sementara masih banyak dari kita yang berbuat sebaliknya dari apa yang telah lama mereka perbuat. Ingatlah Muhammad Abduh pernah berkata, “Al-Islaam mahjuubun bil Muslimin.”
Maka benarlah yang dikatakan dalam lagu Indonesia Raya, “Bangunla Jiwanya, Bagunlah Badannya.”
Keempat, huruf ra’ (ر), yakni rahmatan lil ‘alamin (rahmat untuk alam semesta). Ini adalah soal keteladanan. Bagaimana seorang santri mampu memberi contoh yang baik kepada yang lainnya. Sebagai santri, sudah sepatutnya ia bisa menempatkan dirinya pada posisi yang benar juga tepat. Dengan begitu mampu membuat manusia lainnya tersadarkan serta berubah menjadi lebih baik.
Sebagian besar keberhasilan pendidikan Rasul bukan karena ucapan-ucapannya, melainkan karena perbuatan yang berhasil ia kemas menjadi satu keteladanan. Ia baik dalam segala hal, dari aspek duniawinya, sampai ukhrawinya. Semua hal darinya, dapat dicontoh. Ia adalah figur terbaik dalam berhubungan dengan sesama manusia juga penciptanya. Semua ucapan, perbuatan, bahkan diamnya mampu menjadi inspirasi bagi umatnya. Dia baik, bahkan paling baik dalam semua hal. Dari mulai makan, mandi, berkeluarga, berdagang, sampai menjadi kepada negara. Maka dari itu dalam Qur’an Allah tidak memuji keilmuan Nabi, bukan karena nabi tidak berilmu, tapi karena ada satu aspek yang lebih urgen untuk mendapatkan pujianNya, yakni akhlaqnya. “Wa innaka la ‘ala khuluqin adzim.”
Sebagai umatnya tidak mungkin untuk menjadi seperti beliau yang perfect dalam seluruh aspek. Tapi setidaknya, ketika kita sudah baik dalam satu aspek saja, itu lebih baik daripada kita hafal beribu-ribu ayat maupun hadits. Dan itulah yang Al-Attas inginkan, dimana satu institusi pendidikan harus melahirkan yang namanya Good Man, bukan sekedar orang yang pintar, namun juga beradab.
Adab bukan orang yang sering memberi makan tetangganya namun tidak pernah shalat. Dan Adab juga bukan yang mengatakan bahwa perbuatan Nabi Ibrahim saat menasihati ayahnya adalah perilaku tidak sopan. Tapi adab adalah ketika ada orang yang mampu menempatkan tradisi keilmuan sampai para ulama dan orang orang shaleh di tempat yang mulia. Maka saat itulah lahir satu kondisi keadilan. Kondisi dimana segala sesuatu telah selesai ditempatkan pada tempatnya sesuai kehendak Allah SWT.
Maka dalam pandangan kami sebagai seorang muslim, peradaban yang maju adalah yang semakin maju kepada Tuhannya. Dengan adab, akan tercipta keadilan. keadilan akan mendekatkan kepada ketaqwaan. Maka ketaqwaan itulah indikator dari maju atau tidaknya satu peradaban.
Ketika sudah menjadi good man, maka dia bisa menjadi teladan bagi yang lain. Dan ketika itulah ia mampu menjadi rahmat bagi alam ini, meskipun tidak seperti yang nabi Muhammad perbuat.
Kelima, huruf ya’ (ي), atau yazdaad ‘ilman wa hudan kulla yaum (bertambah ilmu dan hidayah setiap harinya). Jangan sampai santri menjadi orang yang malas. Malas atau malu bertanya, mengambil manfaat, belajar, dan sebagainya. Ketika hari bertambah, seharusnya ada ilmu yang setidaknya menjadi tambahan baginya. Karena ketika dia melewatkan satu hari saja tanpa ada sedikitpun ilmu yang didapat, pastilah pada akhirnya ia akan menyesal. Maka sebagai santri sudah semestinya tradisi ilmu dihidupkan secara giat. Dari mulai belajar, berdiskusi, bertukar argumentasi, berdebat, berfikir kritis, sampai selalu bertanya.
Dr. Adian Husaini, dalam bukunya, 10 Kuliah Agama Islam, megidentikkan aktivitas keilmuan dengan manusia yang beradab. Beliau mengatakan, Maka seharusnya, sebagai Muslim kita mesti meletakkan aktivitas keilmuan sebagai satu hal yang tinggi dan mulia. Kalau ilmu dan ahlinya ditinggikan, begitupula dengan aktivitasnya. “Masyarakat yang beradab juga masyarakat yang menghargai aktivitas keilmuan. Tentu menjadi tidak beradab, jika aktivitas keilmuan dikecilkan, sementara aktivitas hiburan terlalu diagung-agungkan. Tidak mungkin suatu bangsa akan maju jika tidak menjadikan tradisi ilmu sebagai bagian dari tradisinya”
Dr. Hamid dalam bukunya, Worldview Islam Asas Peradaban, juga berkata, “Apa yang tersirat dari kegemilangan kekuasaan dan politik Islam sejak masa Khulafa al-Rasyidun abad ke 7 M hingga kehalifahan Turki Usmani abad 19, adalah kegemilangan ilmu pengetahuan”
Namun Ilmu saja tidak cukup. Harus diiringi dengan hidayah. Sebagaimana yang nabi sabdakan, “Maniz dada ilman walam yazdad hudan am yazdad mina Allah illa bu’dan.” Terkait hal ini, Ustadz Ardi mengatakan bahwa jikalau dibuat grafik, seharusnya semakin banyak ilmu yang didapat semakin dekat dia dengan Allah, bukannya semakin jauh, dalam arti dia semakin jahat. Dan seandainya seorang yang berilmu dan terus menambah ilmunya itu tidak bertambah baik (atau dalam bahasa Al-Attas, tidak atau kurang tertanam adab), maka pastilah ia akan menjadi penjahat yang berilmu. Perlu diingat bahwa penjahat yang berilmu tidak mencuri sendal melainkan uang rakyat.
Ingatlah ketika nabi pernah bersabda, “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”
Maka sebagai santri, seharusnya semakin hari ia mesti menjadi orang yang bertambah kebaikannya, melalui aspek keilmuannya juga akhlaq dan adabnya.
*************
Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































