MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA – Workshop Perkaderan Nasional Hidayatullah yang didukung oleh Laznas BMH pada Selasa (28/4/2026) menghadirkan perspektif baru dalam dunia literasi dakwah. Menghadirkan penulis kawakan Maman Suherman, atau yang akrab disapa Kang Maman, kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari Pengurus Dewan Murobbi dan Kepala Departemen Perkaderan Hidayatullah dari seluruh penjuru Indonesia.
Dalam pemaparannya, Kang Maman menekankan bahwa storytelling bukan sekadar teknik bercerita, melainkan instrumen dakwah untuk menggerakkan perubahan cara berpikir. Ia menyoroti fenomena dai yang lebih sering mengutip tokoh Barat dibandingkan ilmuwan Muslim.
“Seolah-olah Islam tidak punya pakar sosiologi, padahal kita punya Ibnu Khaldun yang menjadi fondasi penting ilmu sosial. Jika kita tidak mengangkatnya, khazanah keilmuan Islam akan terus tersembunyi,” ujar Kang Maman.
Ia pun mengingatkan agar para kader memahami konteks secara mendalam sebelum mengutip sebuah pernyataan, agar pesan yang disampaikan tidak menyimpang dari makna aslinya.
Bergerak ke aspek teknis, Kang Maman menegaskan bahwa tulisan dakwah tidak boleh berhenti pada rumus standar 5W+1H. Sebuah cerita harus mampu menjawab pertanyaan “So what?” dan “What next?” agar memberikan dampak nyata bagi pembaca.
Ia mencontohkan kisah Rasulullah saat memaafkan pembunuh Hamzah bin Abdul Muttalib, yaitu Wahsyi, sebagai narasi yang sangat manusiawi dan relevan hingga kini.
“Rasulullah memaafkan, namun tetap menjaga jarak. Ini adalah pelajaran tentang batasan dan ketulusan,” jelasnya.

Menyambung materi tersebut, Iwan Abdullah selaku panitia penyelenggara menegaskan bahwa metode ini sejatinya telah dicontohkan dalam Al-Qur’an.
“Sepertiga isi Al-Qur’an adalah kisah. Harapannya, peserta mampu menuliskan pengalaman dakwah mereka secara jujur. Sebab, inti dari storytelling adalah keberanian mengungkapkan kenyataan,” ungkapnya.
Antusiasme pun tampak dari para peserta, salah satunya Imam Muslih, dai asal Papua.
Ia mengaku mendapatkan pencerahan untuk mulai mengemas dakwah di daerah pelosok ke dalam bentuk tulisan yang menyentuh.
“Selama ini kami hanya terbiasa ceramah lisan. Materi ini membuka wawasan kami untuk mulai menuliskan perjuangan dakwah di Papua agar lebih bermakna,” tuturnya.
Sesi workshop ditutup dengan ajakan reflektif dari Kang Maman agar para dai berani membangun narasi yang jujur dan berdampak.
“Kita tidak kekurangan cerita, kita hanya kekurangan keberanian untuk menyampaikan maknanya,” pungkasnya.
Menutup kegiatan tersebut, Public Relations BMH Pusat, Imam Nawawi, berharap workshop ini mampu melahirkan kader dai yang tidak hanya komunikatif secara lisan, tetapi juga piawai menuliskan gagasan yang kontekstual bagi masyarakat modern.
Laporan: Humas BMH











































































