Selepas salat Jumat di Masjid Ummul Quraa Depok (20/3/26) saya mengajak berbincang seorang trainer yang juga dai, Ust. Asep Supriatna. Momen itu terasa seperti ruang refleksi setelah melalui Ramadhan. Kepada pria murah senyum itu saya tanyakan, apa tiga hal yang diperoleh selama Ramadhan. Jawabannya ringan, saatnya kita hidup jadi enak, mudah dan menyenangkan.
Kita harus mulai memasukkan data (bisa berupa informasi, pengetahuan, motivasi bahkan keyakinan) yang membentuk pemahaman. Kemudian bisa membuat kita merasa enak dalam kebaikan. Misalnya dalam hal mendirikan salat dan ibadah lainnya.
“Kalau orang berpikir bahwa ibadah sulit baginya, hidupnya akan sulit menjadi enak. Karena yang sebenarnya enak saja dia sudah sikapi dengan data yang tidak tepat. Taat itu enak, maksiat itu malah sangat tidak enak. Bagaimana taat tidak enak, di dunia tenang di akhirat dapat surga,” katanya.
Ungkapan itu ringan tapi dalam. Pernyataan itu membuat saya teringat akan ungkapan Gus Baha, bahwa hidup itu akan nikmat kalau kita bisa nyaman dengan taat kepada Allah SWT. Kalau orang sudah nyaman, enak, dalam taat, maka dia tidak merasa perlu untuk mencari kesenangan melalui maksiat. Jika itu telah kita capai, maka kehidupan secara umum akan kita rasakan mudah dan menyenangkan.
Bangunan Persepsi
Diskusi masih berlanjut. Kata Ust. Asep, kita jangan keliru memahami apa yang kita lihat, tonton, maupun bicarakan dengan orang lain. Semua itu membentuk satu bangunan persepsi yang akan kuat dalam kesadaran seseorang.
“Misalnya ini, saya duduk sama antum Mas Imam, bersama empat orang lainnya lagi, yang sama-sama produktif menulis. Maka tidak lama saya juga akan bisa menulis,” ucapnya.
“Begitu pun kalau saya bergaul dengan orang kaya, ada lima orang kaya yang setiap hari diskusi dengan saya, maka saya pun bisa menjadi orang kaya,” imbuhnya.
Itulah buah persepsi dalam diri seseorang. Prinsip ini juga tercermin ke dalam kisah Nabi Yusuf as. yang Allah sendiri menyebutnya sebagai sebaik-baik kisah. Kalau kita menerima, menyetujui, mengaminkan, kemudian menjalani hidup dengan mindset Nabi Yusuf, insya Allah mimpi besar kita juga akan Allah mudahkan untuk terwujud.
Hukum Keyakinan
Diskusi kami berdua juga mengingatkan saya pada buku Brian Tracy “The Laws of Luck”. Tracy menjelaskan bahwa ada yang namanya hukum keyakinan (The Law of Belief). Hukum ini menjelaskan bahwa apa pun yang seseorang yakini dengan perasaan, itulah yang akan menjadi kenyataan dalam hidupnya
Hal ini karena setiap orang akan bertindak sesuai dengan apa yang orang itu percayai, entah itu positif maupun negatif.
Dalam temuan sebuah jurnal ilmiah yang saya baca juga menegaskan hal itu. Bahwa siswa yang memiliki kesadaran dan motivasi berprestasi kemudian juga punya persepsi tentang cara guru mengajar, bisa memberi pengaruh signifikan terhadap hasil belajar matematika siswa.
Dalam kata lain, meski Ramadhan baru saja berlalu, kita perlu berupaya mempertahankan kenikmatannya.
Pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya, mari menjadi pribadi yang mampu merasa enak dalam taat kepada Allah.
***********
Penulis: Ustadz Imam Nawawi, M.Pd.I
(Kepala Humas BMH Pusat, Eks Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh masimamnawawi.com)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































