Dikutip dari dalamislam.com, dunia menurut Islam hakikatnya hanyalah permainan dan sifatnya fana atau tidak abadi. Dunia adalah tempat di mana manusia hidup dan beraktifitas serta menjalankan segala urusannya terutama untuk beribadah kepada Allah Subhawahu Wa Ta’ala. Dunia diciptakan oleh Allah beserta isinya untuk mendukung kehidupan manusia dan memenuhi segala kebutuhannya.
Dalam Al-Qur’an Allah juga banyak menyebutkan tentang hakikat dunia yang sebenarnya, seperti pada surat Al-Hadid ayat 20 Allah berfirman yang artinya:
Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.
Juga pada surat Al-Ankabut ayat 64 yang artinya:
Artinya: “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”.
Juga dalam suatu hadist riwayat muslim, Rasulullah pernah bersabda bahwa dunia ini lebih hina dari bangkai anak kambing. Ini jelas menunjukkan bagaimana sebenarnya dan seharusnya dunia bagi seorang muslim.
Maka hendaknya manusia khususnya seorang muslim menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat tinggal yang abadi, satu persatu dari kita akan meninggalkannya dan ada pertanggungjawaban yang menunggu di akhirat kelak. Allah tidak menciptakan sesuatu hal melainkan memiliki tujuan, semua pasti ada tujuannya, begitu pula dengan manusia. Maka dari itu manusia hendaklah memahami tujuan dari penciptaannya.
Dalam surat Adz-Dzariat ayat 56 Allah berfirman yang artinya:
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Telah diajarkan juga oleh Rasulullah melalui sabdanya,
Artinya: ”Aku tidak memiliki kecenderungan (kecintaan) terhadap dunia. Keberadaanku di dalam dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut.” (HR. Tirmidzi).
Karena tidak ada yang abadi maka begitupun manusia. Kita diciptakan bukan hanya sekedar hidup, sekolah, bekerja, menikah lalu mati, tapi ada yang lebih dari pada itu yaitu beramal. Amal yang akan menjadi bekal kita kelak menuju akhirat, bukan harta benda dan jabatan yang kita usahakan selama hidup di dunia betapa pun kita mencintainya. Justru bisa saja melalui perkara dunia itulah kita bisa mendapatkan pahala dan keberkahan darinya karena kita meniatkannya karena Allah. Lagi-lagi semua tergantung kita dengan Allah.
Pentingnya menyadari tujuan kita diciptakan, supaya kita tidak terjerumus pada kehidupan yang sia-sia dan tidak ada amal yang bisa kita bawa untuk pulang ke akhirat kelak. Jika hubungan seseorang dengan Allah begitu lemah, maka mudah pula dunia memperdayakan manusia.
Kembali pada ayat sebelumnya bahwa dunia ini adalah tipu daya yang menyesatkan, maka siapa yang lengah pasti akan tertipu dengan fitnah dari dunia. Apa lagi semakin mendekati akhir zaman fitnah dunia itu semakin merajalela hingga manusia terkadang akan sulit membedakan dan memudahkannya tanpa melihat baik dan buruknya.
Dari Zain bin Tsabit, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Artinya: “Siapa yang dunia menjadi keinginan terbesar dihatinya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya. Dan Allah jadikan kefakiran diantara kedua matanya. Dan dunia tidak mendatanginya kecuali yang dituliskan saja untuknya. Dan siapa yang akhirat itu menjadi niat utamanya (keinginan terbesar di hatinya akhirat), Allah akan kumpulkan urusannya untuknya, dan Allah akan jadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan dunia itu hina di matanya.” (HR. Ibnu Majah)
Tentu kita tidak ingin penyesalan itu datang di saat tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya. Sebab di akhirat tidak ada akan ada lagi yang namanya kesempatan untuk beramal, semua akan dihitung bagaimana kita di dunia dahulu.
Kita pasti selalu mendapati orang-orang yang selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Padahal dia sudah memiliki semuanya, hidupnya kelihatan serba mewah dan apa yang diinginkannya pasti terpenuhi. Tapi ternyata jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia merasa hampa akan semua yang sudah dimilikinya, walaupun dia memiliki semua harta benda dunia tapi ternyata ketenangan itu tidak berhasil didapatkan karena tujuannya bukan kepada Allah.
Artinya: “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud:16)
Lagi-lagi ketenangan itu tidak bisa dibeli dengan dunia, ketenangan itu datang dari hati dan hanya bisa didapatkan jika hati itu terpaut kepada Allah. Banyak orang kaya di dunia ini namun hubungannya dengan Allah tetap terjaga, pekerjaan tidak membuatnya lalai pada kewajibannya, dia masih ingat untuk bersedekah, dia paham bahwa semua yang dia miliki adalah titipan yang kelak akan dipertanggungjawabkannya.
Lagi-lagi semua kembali pada satu titik, ada mungkin kekayaannya sama, jabatannya sama, namun yang membedakan bagaimana niat dan tujuannya yang berbeda. Inilah yang disebut, jika mengejar akhirat maka dunia juga akan mengikuti.
Kembali kepada Allah, itu point terpenting. Allah memang menciptakan kita hidup di dunia tapi bukan untuk menjadikannya sebagai tujuan. Kita hanya singah, ini semua hanya sementara. Kelak, akan ada hari di mana kita tidak akan bisa berkutik. Umur yang telah Allah berikan akan ditanya, kemana kita habiskan dan untuk apa. Tidak ada yang akan terluput dari perhitungan Allah.
Orang yang menaruh akhirat di hatinya, akan selalu merasa cukup, karena dunia bukan apa-apa baginya, sebab ia paham Allah telah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih indah kehidupannya dibanding dunia bagi siapa hamba-Nya yang bertaqwa. Dia menjaga hubungan bukan hanya dengan Allah tapi juga dengan manusia, dikelilingi dengan orang-orang baik dan memanfaatkan kesempat untuk beramal.
Allah berfirman dalam surat Fatir ayat 5 yang artinya:
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”
***********
Penulis: Nurannisa Azzahra
(Pengurus FMDKI, TIM FMDKI News dan Alumni Kelas Jurnalistik dan Media Daar Al-Qalam)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































