Ustadz Umar Soleh rahimahullah adalah sosok yang sangat peduli dengan pendidikan anak yang islami, hal itu nampak pada antusiasmenya yang sangat besar mengikuti berbagai seminar atau pelatihan Parenting.  Tidak hanya sebagai perserta, beliau pun sering kali diminta menjadi narasumber tentang pendidikan anak di dalam dan di luar kota hingga bahkan beliau juga pernah menulis beberapa makalah tentang pendidikan anak yang sebagian diterapkan secara langsung kepada anak-anaknya.

Pendidikan Al-Qur’an adalah proritas pertama dalam pola pendidikan yang diterapkan kepada anak-anak, pembinaan al-Quran sejak dini merupakan fokus utama.  Berbagai jenis metode dilakukan untuk mendidik seluruh anak-anaknya dengan al-Qur’an, mulai dengan system belajar langsung (Talaqqi), dengan menghafalkan surah-surah di juz 30, mengikutkan anak-anak daurah khusus menghafal, sampai pada pembiasaan mereka tampil membaca hafalan di berbagai momentum acara atau seminar sebagai sebuah bentuk pembiasaan.

Saking seriusnya Ustadz Umar Soleh dalam pembinaan Al Qur’an terhadap generasi penerusnya, sistem hukuman pun diterapkan. Dalam memori kenangan anak pertama Ustadz Umar Yaitu Ustazah Karimah mengatakan: “tidak jarang juga kami dihukum berdiri berjam-jam jika hafalan kami tidak lancar”.

Diantara pembiasaan yang dirutinkan oleh Ustadz Umar terhadap anak-anaknya adalah membaca surat al-Waqi’ah sebelum tidur. Kebiasaan membuat anak-anak otomatis hafal dengan surat tersebut saking seringnya diulang-ulangi. Meski dengan terkantuk-kantuk kebiasaan itu selalu rutin dilakukan, meskipun belakangan terhenti setelah Ustadz mengetahui bahwa derajat hadis yang menyebuatkkan keuatamaan merutinkan surah al-Waqi’ah sebelum tidur adalah hadis lemah. Namun demikian satu pelajaran penting dari pembiasaan ini adalah semangat beliau untuk mengamalkan sunnah Nabi dan mematangkan hafalan al-Qur’an dengan pengulangan.

Pola pendidikikan lainnya yang diterapkan ustaz Umar kepada anak-anaknya adalah melatih konsistensi ibadah. Kebiasaan bangun salat Subuh sudah ditanamkan kepada anak-anak sejak kecil, anak laki-laki wajib salat jamaah di masjid, untuk itu berbagai metodepun ditempuh sebagai upaya untuk menanamkan nilai akan pentingnya ibadah.

Ustazah Karimah memaparkan memori masa kecilnya dalam didikan sang ayah: “Kami dilatih beribadah subuh tepat waktu, abah biasanya membuatkan perlombaan kepada kami, diantaranya perlombaan tersebut adalah bangun subuh tanpa bantuan orang tua selama 40 hari. Bagi anak yang mampu konsisten bangun tanpa bantuan orang tua akan mendapatkan “bintang penghargaan”. Penghargaan ini akan diakumulasi dalam sebulannya, yang mendapatkan bintang paling banyak akan mendaptkan hadiah apakah dalam bentuk barang ataukah ajakan rekreasi yang sangat berkesan”.

BACA JUGA: SEJARAH TOKOH-TOKOH WAHDAH ISLAMIYAH LAINNYA

Ustadz Umar sangat faham dengan tantangan pergaulan yang menjadi “mokok menakutkan” bagi setiap orang tua. Untuk mengatisipasi semua itu, pemilihan komunitas baik yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak mendapatkan perhatian yang sangat besar dalam konsep tabiyah (Pendidikan)nya.

Oleh karena itu, beliau senantiasa memilih tempat berdomisili yang dekat dengan masjid, selain tentu memudahkan dalam ibadah, ini juga adalah satu upaya mengkondisikan anak-anak mudah menjalankan ibadah rutin jamaah, sekaligus memudahkan untuk mengontrol aktivitas ibadah mereka. Selain itu, sebagai seorang dai masjid adalah tempat aktivitas sehari-hari beliau sebagai imam ataukah menjalankan agenda-agenda dakwah.

Dalam kenangan Ustazah Karimah bersama sang ayah berpindah dari satu masjid ke masjid berikutnya di kota Makassar, kurang lebih delapan tahun kami tinggal di mesjid Mardhiyah dan empat tahun di mesjid Wihdatul Ummah, di mesjid Mardhiyah selain sebagai imam, abah sangat aktif menghidupkan TKA/TPA bersama teman-teman seperjuangannya, akan tetapi karena kondisi masjid yang selalu terendam banjir kala musim hujan menyebabkan kami harus pindah ke jalan Andi Tonro menumpang di sebuah rumah yang juga difungsikan sebagai toko buku Bursa Ukhuwah dan butik Sakinah.

Tempat yang menjadi basis gerakan dakwah Yayasan Fathul Mu’in inilah abah terus menggeluti pengambangan pendidikan TK/TPA sehingga terbentuklah TKA/TPA Al Aulad 01. Karena semangat dakwah yang sangat kuat, anak-anak jalanan sekitar Jl. Andi Tonro pun menjadi objek dakwah beliau. Mereka dibina dan diajarkan membaca al Qur’an sehingga tidak sedikit dari mereka yang hari ini telah menjadi pejuang-pejuang dakwah.

Ustazah Karimah melanjutkan kenangan pola Pendidikan sang ayah: “Berbicara tentang sekolah islami tingkat dasar yang sangat jarang kala itu, bersama anak ustaz Agus Dwikarna dan ustaz Jamal, abah bersepakat memasukkan kami di SD Muhammadiyah yang terletak di jalan Tamalate. Kami diperjuangkan masuk di sekolah tersebut agar bisa tetap berbusana islami yaitu mengenakan rok panjang saat bersekolah. Alhamdulillah berkat pendekatan orang tua, akhirnya kami bisa bersekolah berbusana islami (memakai rok panjang) yang saat itu masih sangat kurang yang menggunakannya.

Beberapa hal prinsipil dalam pemahaman abah yang berbenturan dengan sistem kala itu, diperjuangkan dengan luar biasa, diantaranya foto ijazah yang tidak boleh menggunakan jilbab. Abah sangat sadar dengan pentingnya lembaga pendidikan islami bagi generasi, sehingga beliau sangat gigih memperjuangkan pendidikan guru TKA/TPA dan pendirian sekolah paud/TK Islam dan dan SD Wahdah di Jl. Abd. Dg Sirua (abdesir).

BACA JUGA: SEJARAH LENGKAP USTADZ UMAR SOLEH

Hingga kami selesai sekolah dasar pun abah tetap memperhatikan kelanjutan dari pendidikan yang beliau harapkan. Kala itu, Yayasan Wahdah Islamiyah baru memiliki satu pesantren rintisan yang bertempat di Kabupaten Sidrap, kamipun didaftarkan di pesantren tersebut sebagai santri angkatan pertama bersama beberapa anak asatidza lainnya.

Pesantren yang dikenal dengan nama Al-Iman merupakan rumah kedua bagi kami, abah sangat dekat dengan para pengajar ustad dan ustadzah sehingga kami pun juga seperti mendapatkan orang tua kandung yang menganggap kami sebagai anak sendiri. Meskipun jarak jauh dari orang tua, kami harus bertahan di pesantren sebagaimana didikan abah agar kami berjuang dan bersungguh sungguh serta bersabar dalam belajar meskipun harus berpisah jauh dengan orangtua.

Dari segi pola pendidikan yang beliau terapkan kepada kami anak anaknya sangat membekas, membuat kami mampu mengikuti jejak perjuangan beliau hingga saat ini. Ketegasan dalam mendidik kami dengan pendidikan qurani, keteguhan dalam mengajarkan arti dan makna berjuang di jalan dakwah, kesabaran dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika perjuangan organisasi dakwah, kesederhanaan yang  diajarkan menghadapi kehidupan ini semua menjadi pelajaran indah kehidupan kami.

Kami sebagai anak akan berusaha untuk menjalani dan melanjutkan perjuangan beliau sebagi bukti hasil didikan selama ini untuk tetap konsisten di jalan dakwah dan melanjutkan perjuangan beliau menyusun bata-bata generasi  qurani.

Referensi:
– Ustazah Karimah (Anak Pertama Ustaz Umar Saleh Rahimahullah)

***********

Bersambung, Insya Allah..

Makassar, 8 September 2021

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan