MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menggelar kegiatan Kelas Mikir Indonesia Level 2 pertemuan keempat dengan materi Feminis, Sejarah Ideologi, Makna dan Ideologi disampaikan oleh Ustadz Dr. Henri Shalahuddin yang dilaksanakan pada Selasa Malam 7 September 2021 melalui Zoom Meeting.
Dalam paparannya, Dr. Henri Shalahuddin menjelaskan prinsip keserasian gender dalam Islam. Bahwa perbedaan peran gender dalam Islam tidak menentukan derajat ketinggian surga.
“Kedudukan manusia di dalam Islam tidak ditentukan berdasarkan pada jenis kelaminnya, tetapi tergantung taqwanya. Islam tidak menjadikan jenis kelamin sebagai basis ajarannya. Manusia dihisab berdasarkan amalannya, bukan jenis kelaminnya,” ujar Dr. Henri Shalahuddin dalam paparan materinya.
Peneliti INSISTS tersebut menjelaskan bahwa Feminisme adalah tindakan pribadi seseorang bukan teori yang bertujuan untuk mengidentifikasi kembali tentang dirinya.
“Feminisme berawal dari pernyataan perempuan tentang kekuatannya. Di mana awalnya ia bukanlah teori tapi tindak personal itu sendiri dengan tujuan untuk mendefinisikan kembali identitasnya sendiri dan mendesak masyarakat untuk menghormatinya serta membuat keputusan terhadap tubuhnya sendiri,” tambahnya.
Dalam Islam tentang konsep kesetaraan antara laki-laki dan perempuan telah sempurna dijelaskan, dan ditempatkan sesuai pada proporsional nya masing-masing. Setidaknya ada beberapa konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam.
“Sama-sama bisa bersitiqomah atau menyimpang dan sesat, setara dalam taklif dan independen dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya, sama-sama berhak mendapatkan pendidikan, setara dalam kewajiban menuntut ilmu baik yang berupa ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah, sama-sama diwajibkan terlibat aktif dalam dakwah,” tegasnya.
Reporter: Muh Akbar
Editor: Admin MDcom













































































