Tidak Segan untuk Menyebarkan Kebaikan kepada Tetangga
Wanita Muslimah yang benar-benar bertakwa tidak hanya cukup untuk tidak menyakiti tetangganya, tetapi dia juga selalu memberikan dan menyebarkan kebaikan kepada mereka, di mana dia membukakan pintu kebaikan dan kemuliaan bagi mereka, dan tidak mengurangi sedikit pun dari hak-hak mereka setiap kali diserukan kepadanya untuk menjaga, menghormati dan memperlakukan mereka secara baik, karena takut pernyataan Rasulullah mengenai tetangga yang tidak mau memberikan kebaikan itu akan terbukti pada dirinya,
“Berapa banyak tetangga yang bergantung kepada tetangga yang lain pada hari Kiamat seraya berkata, “Ya Rabbku, tetanggaku ini menutup pintu bagi diriku, dan menolak memberikan kebaikan kepadaku’.”(HR. Bukhari)
Betapa menyeramkannya akibat dari perbuatan jahat kepada tetangga itu. Dan, betapa ruginya orang yang pelit tidak mau memberikan kebaikan kepada tetangganya. Orang seperti ini benar-benar gagal dan rugi pada hari Kiamat kelak, hari dimana manusia berdiri menghadap kepada Rabb-nya.
Dalam pandangan Islam, orang-orang Islam baik laki-laki maupun wanita merupakan bangunan yang tinggi yang tertata rapi dan kokoh. Setiap batu-batunya harus benar-benar kuat dan kokoh serta saling memperkuat satu dengan yang lainnya, sehingga bangunan ini dapat berdiri tegak, kuat dan kokoh, jika tidak, maka akan mengalami keretakan dan kehancuran. Bertolak dari hal di atas, lslam senantiasa mengikat batu-batu tersebut dengan tali yang kuat yang terbuat dari bekal rohani yang akan menjaga dan mempertahankan keteguhan dan kekokohan bangunan itu, supaya bangunan kaum Muslimin tersebut tetap tegak berdiri, tidak digoncang oleh berbagai macam peristiwa serta tidak dapat digoyahkan oleh hembusan angin.
Mengenai keeratan, kerukunan dan kekohohan kaum Muslimin dan Muslimat itu telah dilukiskan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui sabdanya,
“Orang Mukmin dengan Mukmin yang lainnya laksana bangunan yang tersusun rapi, yang antara satu dengan yang lainnya saling memperkuat.”(HR. Bukhari)
Perumpamaan orang Mukmin dalam cinta mencintai, kasih mengasihi, dan sayang menyayangi adalah laksana satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan sakit demam.”(HR. Bukhari)
Agama yang benar-benar memelihara keeratan individu-individu umat ini sudah tentu mempererat hubungan antartetangga dan mendasarinya dengan fondasi permanen yang terdiri dari rasa cinta, kebaikan, kepedulian, dan mu’amalah yang baik.
Sabar terhadap Perlakuan Jahat Tetangga
Tidak diragukan lagi bahwa wanita Muslimah yang berada di bawah bimbingan dan petunjuk agamanya akan senantiasa bersabar atas perlakuan tetangganya yang menyakitkan, tidak membalas kejahatan yang dilakukan tetangganya, tidak marah jika diperlakukan kurang baik olehnya, tidak menghitung kekeliruan, kekurangan, dan kesalahannya, tetapi sebaliknya dia senantiasa memaafkan dan berlapang dada dengan keyakinan bahwa semua itu akan mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu wata’ala, bahkan dia akan mendapatkan cinta dan ridha-Nya. Hal itu telah dipertegas Rasulullah melalui hadits yang diriwayatkan Abu Dzar ketika bertemu dengan Mutharif melalui hadits yang diriwayatkan Abu Dzar ketika bertemu dengan Mutharrif bin Abdillah, yang berkata kepadanya, “Wahai Abu Dzar, telah sampai kepadaku haditsmu, dan aku sangat berharap bisa menemuimu.”
Maka Abu Dzar berkata, “Demi Allah, sekarang engkau telah bertemu denganku.”
Aku (Mutharif) berkata, “Baru-baru ini telah sampai kepadaku berita bahwa Rasulullah telah menyampaikan kepadamu sebuah hadits.
Abu Dzar bertutur, “Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai tiga orang dan membenci tiga orang.
Selanjutnya Abu Dzar berkata, “Apa yang disampaikan kepadaku tidak akan aku dustakan.”
Kemudian aku bertanya, “Siapakah tiga orang yang dicintai Allah itu?
Abu Dzar menjawab, “Orang laki-laki yang berperang di jalan Allah dengan penuh kesabaran dan mencari keridhaan-Nya, lalu dia terbunuh. Dan, kalian semua telah menemukan hal ini di dalam Kitabullah , kemudian dia membacakan ayat: ‘Sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Aku pun bertanya, “Lalu siapa lagi?”
Abu Dzar menjawab, “Orang yang mempunyai tetangga jahat yang suka menyakitinya, lalu dia tetap bersabar atas perlakuan tetanggannya itu sehingga Allah mencukupkan baginya kehidupan atau kematian…”(HR. Ahmad)
Di antara sifat wanita Muslimah yang telah dibentuk Islam dan dilembutkan perasaannya adalah sabar atas perlakuan menyakitkan dan tetangganya, dan menghadapi perlakuan itu dengan cara yang baik. Dengan kesabaran dan tingkah lakunya yang baik dia menjadi teladan yang baik baai tetangganya yang lain, dia lepaskan dan jiwa mereka sifat-sifat buruk dan kedengkian. Semuanya itu dia lakukan sebagai pengejawantahan petunjuk Rasulullah yang bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari)
Ketahuilah wahai para tetangga yang kehilangan kesadaran dan mengedepankan emosinya pada saat salah satu dan putranya bertengkar dengan putra tetangganya, mereka tidak acuh lagi kepada tetangganya dan menuduhnya dengan kata-kata yang tidak enak didengar, memberikan dinding pemisah dengannya, memutuskan ikatan kecintaan dan kedekatan pada saat marah, bahwa semua itu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan petunjuk Islam dalam hidup bertetangga.
Saudariku, semoga Allah senantiasa menjadikan diri kita senagai tetangga yang baik dan diridhai Allah, yang penuh sopan, sabar, penyantun, kasih, dan berlaku baik yang tidak membalas perlakuan buruk tetangganya dengan perlakuan semisalnya.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h.241-244)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































