MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Menyiapkan generasi yang mencintai Masjid Al-Aqsa harus dimulai dari pendidikan yang kokoh di rumah dan sekolah. Sebagaimana yang menjadi topik pembahasan utama dalam Seminar Baitul Maqdis bertajuk “Menyiapkan Generasi Pembebas Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis dari Rumah dan Sekolah” yang digelar di Pusat Dakwah Muslimah, Sabtu, (11/7/26).
Pada kesempatan tersebut, M. Agung Bramantya, Ph.D., dosen Universitas Gadjah Mada sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Wahdah Islamiyah, menyampaikan materi bertajuk “Pentalogi Edukasi Baitul Maqdis”.
Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kebangkitan sebuah peradaban selalu diawali dengan pendidikan. Sebagai ilustrasi, Ustaz Agung mengangkat kisah pasca tragedi pemboman di Jepang. Menurutnya, langkah pertama yang dilakukan untuk membangun kembali bangsa adalah menghimpun para guru sebagai motor kebangkitan melalui pendidikan.
“Peradaban dibangun melalui ilmu. Karena itu, ketika ingin membangun masa depan, yang pertama kali diperkuat adalah pendidikan,” jelasnya.
Ia tak lupa mengajak peserta seminar untuk kembali membuka semangat mengenal Baitul Maqdis. Menurutnya, kecintaan terhadap Al-Aqsa lahir dari proses mengenal meskipun saat ini berbagai arus informasi berusaha membentuk generasi agar tidak peduli, tidak mencintai, bahkan tidak mengenal Palestina.
Ustaz Agung menjelaskan bahwa ilmu menjadi fondasi utama peradaban Islam. Ia mengingatkan bahwa wahyu yang diterima para nabi tetap terjaga hingga hari ini karena diwariskan melalui tradisi mendengar, menghafal, menulis, dan membukukannya.
“Ilmu adalah jalan menuju peradaban. Ayat pertama yang diturunkan pun menjadi isyarat agar ilmu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan perjalanan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sahlan yang menjalani masa persiapan selama 40 tahun sebelum diangkat menjadi nabi, kemudian berdakwah selama 23 tahun. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa perjuangan besar memerlukan proses panjang serta kesiapan generasi yang matang.
Dalam membentuk generasi tersebut, Agung menekankan bahwa rumah merupakan lingkungan pendidikan pertama. Menurutnya, karakter anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh keluarga. Karena itu, orang tua perlu hadir pada tiga momen penting kehidupan anak, yakni ketika anak sedang bersedih, saat merasakan kebahagiaan, dan ketika membutuhkan pertolongan.
Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran strategis dalam mencetak generasi pejuang. Ia menilai lembaga pendidikan saat ini menjadi pilihan utama masyarakat karena diharapkan mampu membimbing peserta didik tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan kepedulian terhadap umat.
Sebagai kerangka pendidikan, Agung memperkenalkan konsep Pentalogi Edukasi Baitul Maqdis yang terdiri atas lima pilar. Pertama, penguatan aqidah sebagai fondasi perjuangan. Kedua, pemahaman sejarah Baitul Maqdis yang menjadi pijakan agar umat tidak kehilangan arah. Ketiga, pemahaman geopolitik serta akar konflik Palestina. Keempat, relevansi perjuangan Palestina dengan sejarah dan peran Indonesia. Kelima, penyusunan peta jalan aksi nyata dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Menurut Ustaz Agung, sejarah Baitul Maqdis memiliki hubungan erat dengan perjalanan para nabi, mulai dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sahlan melalui peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa tersebut, katanya, menjadi simbol estafet perjuangan para nabi sekaligus menunjukkan keterkaitan spiritual antara Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsa.
Pada aspek keindonesiaan, ia menjelaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina memiliki dasar historis dan konstitusional. Menurutnya, amanat Pembukaan UUD 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan menjadi landasan moral bangsa Indonesia untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina.
Pada akhir pemaparannya, Ustaz Agung mengajak seluruh elemen pendidikan untuk mengambil peran nyata dalam perjuangan membela Al-Aqsa. Salah satu langkah yang ia tawarkan adalah mendorong hadirnya kurikulum Baitul Maqdis di lembaga pendidikan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang memahami sejarah, memiliki kepedulian terhadap Palestina, serta siap melanjutkan perjuangan melalui jalur ilmu dan pendidikan
“Perjuangan untuk Al-Aqsa bukan hanya dilakukan di medan konflik, tetapi juga di ruang-ruang kelas, melalui ilmu, pendidikan, dan pembinaan generasi,” pungkasnya.
Laporan: Media KITA Palestina













































































