MUJAHIDDAKWAH.COM, MAKASSAR – Pendidikan dinilai memiliki peran strategis dalam menanamkan kepedulian terhadap Masjid Al-Aqsa dan Palestina kepada generasi muda. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Baitul Maqdis bertajuk “Menyiapkan Generasi Pembebas Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis dari Rumah dan Sekolah” yang digelar di Pusat Dakwah Muslimah dan secara online yang di hadiri sekitar 200 lebih peserta, Sabtu, (11/7/26).
Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah, Ustaz Ir. Nurasalam Siradjuddin, M.Pd., menegaskan pentingnya memasukkan pembelajaran tentang Baitul Maqdis ke dalam sistem pendidikan sebagai upaya membangun kedekatan generasi terhadap Masjid Al-Aqsa sejak dini.
“Saya berharap dengan memasukkan pembelajaran Baitul Maqdis di sekolah-sekolah kita menjadi salah satu legal standing dan garda terdepan untuk mengenalkan Masjid Al-Aqsa dan Palestina kepada murid-murid kita sehingga memiliki keterikatan dan pemahaman tentang masjid mulia tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut perlu diwujudkan melalui integrasi materi Baitul Maqdis dan kepalestinaan dalam kurikulum maupun program pembelajaran khusus di seluruh jenjang pendidikan.
“Sekarang yang mesti kita pikirkan adalah bagaimana materi-materi tentang Baitul Maqdis dan kepalestinaan bisa masuk dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah kita, baik melalui proses integrasi ataupun program materi khusus, mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi,” lanjutnya.
Ia berharap seminar ini menjadi titik awal lahirnya gerakan edukasi yang lebih terstruktur di lingkungan Wahdah Islamiyah.
“Semoga apa yang kita dapatkan di Seminar Baitul Maqdis ini menjadi tonggak dan sejarah kita di Wahdah Islamiyah dalam memberikan kontribusi melalui penyebaran ilmu dan edukasi terkait Masjid Al-Aqsa dan Palestina,” harapnya.

Sementara itu, Ketua KITA Palestina, Ustaz H. Syaibani Mujiono, S.Sy., M.Si., Ph.D., mengajak para peserta memandang perjuangan membela Al-Aqsa melalui pendekatan pendidikan. Dalam sambutannya, ia mengibaratkan guru sebagai jantung perjuangan umat.
“Fungsi jantung memompa dan memberi oksigen ke seluruh tubuh yang membutuhkan sehingga tubuh menjadi sehat. Maka jantung diibaratkan dengan sebuah konsep gerakan yang menjadi salah satu penggerak perjuangan Islam. Maka profesi gurulah yang menjadi jantung dalam perjuangan Islam untuk menjelaskan kepada generasi Islam, termasuk dalam memperjuangkan kecintaan terhadap Masjid Al-Aqsa dan Baitul Maqdis kepada generasi di sekolah kita,” ungkapnya.
Melalui seminar ini, para peserta diajak memahami bahwa perjuangan membela Al-Aqsa tidak hanya dilakukan melalui dukungan kemanusiaan, tetapi juga melalui pendidikan yang mampu menanamkan kecintaan, pemahaman sejarah, dan kepedulian terhadap Baitul Maqdis kepada generasi sejak usia dini.
Laporan: Media KITA Palestina














































































