Setelah area sekolah SD Negeri di Blang Bintang yang terletak tidak jauh dari Bandara Aceh telah dipilih menjadi “markaz komando” tim kemanusian Wahdah Islamiyah, selanjutnya atas arahan Ustadz Umar tim kemudian memilih tiga ruang kelas yang strategis untuk mobilisasi kerja yang lebih baik.

Ruangan pertama dipilih sebagai gudang logistik yang mana penanggungjawabnya diamanahkan kepada Ustadz Kasman Bakri, ruangan kedua disulap menjadi klinik darurat yang dikomandoi oleh dr. Asyikun, dan raungan ketiga adalah ruang istirahat yang juga difungsikan sebagai dapur khusus relawan.

Meja-meja yang biasanya digunakan anak-anak sebagai tempat belajar, disusun serapi mungkin sesuai arahan Ustadz Umar untuk dijadikan sebagai tempat istirahat relawan. Mushollah yang ada dalam area SD tersebut oleh Ustadz Umar dijadikan sebagai markaz dakwah dengan agenda-agenda yang cukup padat, mulai dari ceramah/kultum setelah melaksanakan salat lima waktu, kelompok-kelompok TPA anak-anak pengungsi, dan juga sebagai tempat untuk pelaksanaan satu agenda penting relawan yaitu trauma healing.

Sebagai seorang dai yang memiliki dedikasi dan perhatian besar terhadap dakwah, kondisi berkumpulnya warga di kamp-kamp pengungsian khususnya yang berada dalam kontroling tim relawan Wahdah Islamiyah tidak disia-siakan oleh Ustad Umar. Beliau sendirilah yang menyusun jadwal ceramah atau kultum, trauma healing, kebersihan, bahkan sampai jadwal petugas dapur.

BACA JUGA: SEJARAH TOKOH-TOKOH WAHDAH ISLAMIYAH LAINNYA

Perkara paling mendapatkan perhatian khusus oleh Ustadz Umar adalah masalah kebersihan markaz dan lokasi sekitarnya, hampir setiap pagi beliau sebagai komandan lapangan bersama masyarakat melakukan aktivitas pembersihan area sekitarnya. Wajah SD yang berubah menjadi sangat menarik bagi masyarakat.

Suasana yang bersih dan teratur menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, khususnya para pengungsi sehingga memilih mendirikan tenda darurat di sekitar lapangan SD dan menghabiskan waktu bersama-sama bersama dengan tim Wahdah Islamiyah dimana Ustadz Umar sebagai koordinator umum dalam komunitas tersebut.

Karena hubungan yang sangat akrab dengan semua kalangan, baik tokoh masyarakat setempat, ibu-ibu, khususnya anak-anak, masyarakat menjuluki beliau dengan nama “Teuku Umar”. Nama seorang tokoh pejuang cerdik, sangat dekat kepada masyarakat asal Meulaboh Aceh yang sangat terkenal.

Semangat dakwah Ustadz Umar Soleh sangat luar biasa, tidak perduli dengan siapa beliau berhadapan, dan di tempat mana beliau berada, akan selalu hadir pesan-pesan dakwah dari untaian-untaian kalimat yang terlontar dari lisannya. Bahkan tidak jarang tempat-tempat berkumpunya banyak orang dijadikan sebagai moment menyampaikan dakwah, warung kaki lima, warung kopi, pasar, bahkan pinggir jalan, dijadikannya sarana menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat.

Nampak kepiawaian Ustadz Umar melakukan pendekatan khususnya kepada anak-anak. Sudah menjadi kebiasannya, selalu membawa cemilan, permen, atau hadiah-hadiah kecil, mainan anak-anak di dalam tas kecil yang selalu membersamainya. Tiap kali berjumpa dengan warga apalagi anak-anak, sudah menjadi kebiasaan beliau membagi hadiah-hadiah, sehingga warga pun sangat senang kepadanya khusnya anak-anak akan sangat senang dan bahagia jika melihat ustad Umar, ditambah dengan kreatifitas dan kemampuan beliau menghadirkan games (permainan) yang beranekaragam untuk anak-anak.

Semangat dakwah Ustadz Umar Soleh begitu sangat nampak, salah satu moment cukup menarik dalam perjalanan kerelawanan bersama beliau adalah saat berada dalam pesawat Adam Air, suasana keberangkatan dari Jakarta menuju Aceh selama ±3 jam diselimuti cuaca buruk, hujan dan petir, terlebih sekitar sejam sebelum mendarat di Aceh terdengar dan terlihat petir yg menyambar berkali-kali membuat awak dan penumpang pesawat menjadi sangat tegang, meskipun saat itu nampak perjalanan penerbangan dalam suasana santai karena seluruh penumpang bahkan pilot dan para kru pesawat seluruhnya menggunakan kaos relawan, bukan pakaian resmi yang lazimnya kita saksikan dalam penerbangan.

BACA JUGA: SEJARAH LENGKAP USTADZ UMAR SOLEH

Dalam kondisi yang cukup meneganggkan oleh cuaca buruk itu, beberapa relawan SAR UI yang membawa gitar, berupaya mencairkan suasana tegang dengan bernyanyi. Melihat kondisi tersebut, raut wajah Ustadz Umar pun terlihat berubah menunjukkan ketidaksenangan, beliau lalu meninggalkan tempat duduknyaa berjalan mendekati anak-anak muda tersebut dan dengan sangat ramah menegur, menasehati, serta memberikan pencerahan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim menghadapi kondisi yang menegangkan yang sedang dialami.

Melihat kesungguhan Ustadz Umar, akhirnya mereka minta maaf dan menghentikan nyanyian dan musik yang sudah mulai memenuhi ruangan pesawat. Tidak ingin kehilangan moment, terlanjut beliau menasehati para pemuda yang sedang asyik bernyanyi dan bermain musik itu, Ustadz Umar melanjutkan menceramahi seluruh penumpang pesawat beberapa lamanya meskipun saat itu di hadapan beliau beberapa penungpang yang dari penampakannya berasal dari lembaga dakwah lain yang juga turut bersama untuk penyaluran bantuan.

Bagi beliau dakwah harus disampaikan kepada sipa saja selama kondisi itu memungkinkan dan ada kesempatan. Inilah bentuk pengaplikasian dari sabda Rasulullah bahwa “Agama ini adalah Nasehat, yang diperuntukkan kepada siapa saja”, terlebih lagi sebuah “kemungkaran” jelas terjadi dihadapan mata lalu tidak ada yang bergerak mengingkari”.

***********

Bersambung, Insya Allah..

Makassar, Januari 2021

Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan