Bersikap Pemurah dan Dermawan
Di antara sifat wanita Muslimah yang berpegang teguh pada ajaran agamanya dan yang menghiasinya dengan akhlak toleransi adalah pemurah dan dermawan. Dia ini tidak pernah kikir terhadap orang-orang yang dalam kesulitan atau sedang membutuhkan, memberikan apa yang mereka inginkan. Dan, senantiasa mempersembahkan kebaikan setiapkali para da’i menyerukan untuk memberikan sumbangan.
Wanita ini yakin sepenuhnya bahwa kebaikan yang dipersembahkan- nya itu tidak akan diabaikan oleh Allah, tetapi akan senantiasa dijaga oleh- Nya, seperti yang difirmankan-Nya di dalam AI-Qur’an,
“Dan, apa saja harta yang baikang kalian infakkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (AI-Baqarah: 273)
Selain itu, wanita ini sangat percaya bahwa apa yang diinfakkannya dijalan Allah akan diberikan ganti oleh-Nya dengan berlipat ganda, di mana dia akan mendapatkan kemuliaan yang agung di dunia dan pahala yang besar di akhirat,
“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah Subhanahu Wata’ala adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui. ” (Al- Baqarah: 261)
Juga firman-Nya,
“Dan, barang apa yang kalian infakkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39)
Demikian halnya dengan firman-Nya pada surah yang lain,
“Dan, harta apa saja yang kalian infakkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kalian sendiri. Dan, janganlah kalian membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan, apa saja harta yang baikyang kalian infakkan niscaya kalian diberi pahalanya dengan cukup sedang kalian sedikit pun tidak akan dianiaya.” (AI-Baqarah: 272)
Selain itu, wanita Muslimah ini juga mengetahui bahwa jika dia kikir dan tamak untuk mengumpulkan dan menumpuk-numpuk harta kekayaan, akan dikurangi dan dimusnahkan harta kekayaannya itu, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah melalui sabdanya berikut ini,
“Tidak ada hari di mana seorang hamba melalui waktupagi harinya melainkan dua malaikat turun, lalu salah satu dari keduanya berdoa, Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang vang berinfak.” Sedangkan yang lainnya berdoa, Ya Allah, berikanlah kebinasaan bagi orang vang kikir’. “ (Muttafaq Alaih)
Sedangkan dalam hadits qudsi Allah befirman,
“Berinfaklah, wahai anak Adam, niscaya engkau akan diberikan infak.” (Muttafaq Alaih)
Wanita Muslimah yang jujur benar-benar yakin bahwa harta yang diinfakkannya di jalan Allah tidak akan mengurangi jumlah harta yang dimilikinya, tetapi sebaliknya akan mengembangkan, mensucikan dan memberikan berkah. Di mana hal itu telah dipertegas oleh Rasulullah melalui sabdanya,
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta… “ (HR. Muslim)
Bahkan dia berkeyakinan bahwa harta yang diinfakkannya di jalan Allah itulah yang akan kekal karena dicatat di buku amal shalehnya. sedangkan selain harta itu akan hilang. Rasulullah telah menarik perhatian kaum Muslimin dan Muslimah pada pengertian yang tinggi itu dalam berinfak dan menunjukkan kedermawanan dan kemurahannya, yaitu ketika beliau menanyakan kepada Aisyah tentang sisa dari daging kambing sembelihan,
“Bagian mana yang masih tersisa?” Aisyah menjawab, “Tidak ada yang tersisa melainkan hanya tulang bahunya.” Maka beliau berkata, “Semuanya utuh kecuali tulang bahunya.”
Karena semua hal di atas, wanita Muslimah yang benar-benar memahami hukum-hukum agamanya akan bersegera menginfakkan hartanya yang dimilikinya setiap kali mendengar seruan dai yang menyerukan untuk berinfak.
Diantara kedermawanan yang diketahui oleh wanita Muslimah adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari lbnu Abbas dia bercerita,
“Nabi pernah keluar pada hari raya, kemudian beliau mengerjakan shalat dua rakaat, tidak mengerjakan shalat sebelum dan sesudahnya. Setelah itu beliau mendatangi kaum wanita dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka wanita-wanita itu bersedekah dengan gelang dan kalung mereka.”
Sedangkan dalam riwayat Bukhari disebutkan,
“Kemudian beliau mendatangi kaum wanita dan memerintahkan mereka untuk bersedekah, maka merekapun memberikan cincin baik yang tidak bepermata maupun yang bepermata dan diletakkan di kain Bilal yang digelar.”
Masih dari riwayat Bukhari, dari lbnu Abbas bercerita,
“Nabi mengerjakan shalat dua rakaat pada hari raya, tidak mengerjakan shalat sebelum dan sesudahnya. Kemudian beliau mendatangi kaum wanita didampingi oleh Bilal, lalu beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Maka mereka pun melepas anting-anting yang mereka kenakan.” (HR. Bukhari)
Para Ummul-Mukminin dan para wanita salaf telah memberikan teladan yang baik dalam hal kedermawanan dan infak, yang semuanya telah dicatat sejarah dengan huruf yang tertulis dengan cahaya. Di antaranya adalah kisah yang diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dalam bukunya yang berjudul Siyaru A’lami An-Nubala’ yang menulis biografi Ummul-Mukminin Sayyidah Aisyah, disebutkan bahwa dia pernah bersedekah sebanyak 1000 dirham, padahal saat itu dia juga sedang membutuhkannya. Mu’awiyah juga pernah mengirimkan 1000 dirham kepadanya, lalu dia (Aisyah) membaginya dengan tidak mengambilnya sepeser pun. Kemudian pelayannya berkata kepadanya, “Seandainya engkau membelikan kami daging dengan satu dirham saja.” Maka Aisyah menjawab, “Mengapa engkau tidak mengatakan sebelumnya.” Selain itu, Mu’awiyah juga pernah mengirim kalung seharga 1000 dirham, lalu dia membagi-bagikannya kepada para Ummul-Mukminin. Ibnu Zubair pernah mengirim sejumlah uang kepada Aisyah, yang jumlahnya 1000 dirham. Lalu dia memanggil pelayannya untuk membagi-bagikan uang itu kepada semua orang. Ketika sore hari tiba, Aisyah berkata, “Wahai pelayan, persiapkanlah makanan untuk aku berbuka.” Karena pada saat itu dia sedang puasa dahr, maka sang pelayan pun bertutur, “Wahai Ummul-Mukminin, bisakah engkau membelikan kami daging satu dirham saja?” Aisyah menjawab, Jangan menyalahkan aku, seandainya tadi engkau mengingatkanku, maka aku akan membelikan daging.” Saudaranya, Asma’, tidak kalah dermawan darinya. Telah diberitahukan oleh Abdullah bin Zubair , dia menceritakan, “Aku tidak pernah melihat dua wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma’.” Kedermawanan mereka berdua berbeda. Kalau Aisyah, dia mengumpulkan terlebih dahulu satu persatu hingga apabila telah terkumpul, dia membagi-bagikarmya. Sedangkan Asma tidak menunggu hari esok untuk membagikan hartanya.
Ummul-Mukminin Zainab binti Jahsy bekerja dengan tangannya sendiri dan menyedekahkan hartanya. Dia ini adalah orang yang paling dermawan dalam bersedekah, memberi sumbangan dan berbuat kebaikan. Mengenai dirinya ini, Rasulullah telah berkata kepada istri-istrinya yang lain melalui hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah Radhiallahu Anha,
“Yang paling cepat menemuiku di antara kalian adalah yang palina panjang tangannya. Aisyah bertanya, ‘Mereka (istri-istri Nabi) salina memanjangkan tangannya. Ternyata yang paling panjang adalah tangan Zainab karena dia ini bekerja dengan tangannya sendiri dan bersedekah'”
Umar bin Khaththab pernah mengirim sedekah kepada Zainab binti Jahsy. Setelah sampai di tangannya, dia berkata, “Semoga Allah memberikan ampunan kepada Umar. Saudara-saudaraku lebih berhak mendapat bagian sedekah ini daripadaku.” Mereka berkata, “Semua sedekah ini diberikan kepada anda.” Zainab bertutur, “Subhanallah, hamparkanlah kain dan letakkan sedekah itu di atasnya.” Selanjutnya Zainab mengatakan kepada Barzah binti Rafi’, perawi kisah ini, “Masukkan tanganmu dan ambillah secukupnya dan berikan kepada Bani” Fulan, dan juga untuk orang-orang miskin dan anak-anak yatim dari Bani Fulan.” Hingga tinggal tersisa sedikit dari sedekah itu Lalu Barzah binti Rafi’ berkata kepadanya, “Semoga Allah mem- berikan ampunan kepadarnu, wahai Ummul-Mukminin. Demi Allah, kami mempunyai hak atas sedekah ini!” Maka Zainab pun bertutur, “Bagian kalian adalah yang tersisa dari sedekah itu.” Dan, kami hanya menemukan yang tersisa itu berjumlah delapan puluh lima dirham. Kemudian Zainab binti Jahsy menadahkan tangannya ke langit seraya berucap, ” Ya Allah, semoga aku tidak menda- patkan pemberian dari Umar lagi setelah tahun ini.” Dan akhirnya Zainab meninggal sebelum tahun berikutnya tiba.
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, ketika dibawakan beberapa jumlah sedekah kepada Zainab, dia berkata, “Ya Allah, semoga harta seperti ini sampai padaku lagi, karena sesungguhnya ia adalah fitnah.” Kemudian dia membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang membutuhkannya. Setelah Umar Radhiyallahu Anhu mendengar berita mengenai hal itu, maka dia pun berkata, “Inilah wanita yang dinarapkan kebaikannya.” Lalu Umar mendekati pintu rumahnya seraya mengucapkan salam dan berkata, “Telah sampai padaku tentang harta yang engkau bagi-bagikan.” Tidak lama kemudian, Umar mengirimkan kembali seribu dirham kepadanya, dan Zainab tetap membagi-bagikannya hingga tidak tersisa sepeser pun.
Saudariku, dari penjelasan di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa perintah untuk bersikap pemurah dan dermawan, tidak hanya satu atau dua nash yang menyebutkan akan tetapi ada begitu banyak. Dan cukup banyak pula sejarah yang mencatat kisah wanita-wanita salaf yang betul-betul sami’na wa ‘ata’na dengan segala perintah yang Allah berikan kepada hambanya. Semoga Allah senantiasa menghiasi diri-diri para Muslimah dengan sikap akhlakul karimah, sikap yang dimiliki wanita Muslimah terdahulu. Allahumma Aamiin…
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 333-339)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)









































































