Berbuat Adil terhadap Orang yang Tidak Disenangi
Terkadang kehidupan mengharuskan seorang wanita Muslimah untuk berhubungan dengan orang yang tidak disenanginya. Misalnya, dia harus tinggal satu rumah dengan wanita yang tidak disukainya, tidak pernah ada hubungan harmonis antara keduanya, dan hatinya pun tertutup baginya. Hal itu merupakan kenyataan yang sering terjadi dalam rumah tangga dan tidak dapaf diingkari. Jiwa ini laksana pasukan tentara yang dikerahkan, apabila antara mereka saling mengenal, maka mereka akan saling menyatu, dan apabila tidak saling mengenal, maka akan saling berjauhan, seperti yang diterangkan hadits Rasulullah yang telah disepakati keshahihannya. Lain bagaimana mungkin wanita Muslimah yang berada di bawah bimbingan Islam dan mendapat petunjuknya akan mengalami hal semacam ini?
Apakah dia bertindak, bersikap dan bereaksi negatif? Ataukah dia hidup penuh kelembutan, kasih sayang dan bersikap adil kepada orang lain, bahkan sampai kepada orang yang tidak disukainya sekalipun?
Jawabannya adalah bahwa wanita Muslimah yang mendapat pancaran petunjuk agamanya, dan yang jiwanya mendapat percikan toleransinya, akan senantiasa berbuat adil, lemah lembut dan murah senyum, tidak menampakkan kebencian kepada orang yang tidak disukainya, tetapi dia akan senantiasa menyembunyikan dan tidak memperlihatkan rasa bencinya terhadap wanita lain itu, di mana dia akan menampakkan wajah ceria, berlemah lembut dan bertutur kata menyenangkan. Inilah sifat yang terdapat pada diri Rasulullah dan para sahabatnya. Seperti apayang disampaikan oleh Abu Hurairah berikut ini,
“Sesungguhnya kami selalu tersenyum di hadapan setiap kaum, meskipun hati kami melaknat mereka.”(HR. Bukhari)
Dari Urwah bin Zubair, bahwasanya Aisyah pernah memberitahukan kepadanya, ada seseorang meminta izin untuk menemui Nabi , maka beliau berkata, “Berikanlah izin kepadanya, maka seburuk-buruknya anak kabilah, atau seburuk-buruknya saudara kabilah.” Pada saat orang itu masuk, Rasulullah melembutkan ucapan kepadanya. Lalu aku (Aisyah) pun berkata, “Wahai Rasulullah, tadi engkau telah berkata kasar, lalu engkau berkata-kata lembut kepadanya. Maka beliau menjawab, “Wahai Aisyah, Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah adalah orang yang dijauhi oleh orang lain karena takut akan kejahatannya.”(Ibid)
Yang demikian itu karena lemah lembut dan kasih sayang kepada orang lain merupakan salah satu sifat orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Berbicara pelan dan lembut serta tidak judes kepada orang merupakan salah satu faktor kerukunan, kecintaan dan kedekatan hubungan yang memang diperintahkan Islam, dan dipesankan Supaya mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, wanita Muslimah yang telah dipoles oleh Islam tidak akan terpengaruh perasaan dalam mencintai dan membenci orang lain, tetapi dia akan bersikap netral, objektif, adil dan realistis dalam bersikap kepada wanita yang tidak disukainya. Dalam mengambil sikap itu dia senantiasa menggunakan akal, bersandar pada agama, kepribadian dan akhlaknya, sehingga tidak akan memberikan kesaksian kecuali dengan kebenaran, tidak mengambil keputusan kecuali dengan adil. Dalam bersikap dan mengambil keputusan dia akan senantiasa bepedoman pada wanita-wanita sahabat Nabi (Ummahatul-Mukminin) yang mereka semua berada di puncak keadilan dan ketakwaan dalam menghukumi sebagian atas sebagian yang lain.
Aisyah Radhiallahu Anha adalah istri Rasulullah yang paling dekat dengan hati beliau, dalam hal ini dia mendapat saingan dari Zainab binti Jahsy. Sudah barang tentu keduanya saling cemburu, namun kecemburuan tersebut tidak menghalangi keduanya untuk memberikan kesaksian yang benar sehingga masing-masing mensifati satu sama lain dengan sifat yang ada padanya tanpa mengurangi sedikit pun serta tidak menutupi kebaikan yang terdapat padanya.
Dalam buku Shahih Muslim disebutkan, Aisyah pernah berbicara tentang Zainab, “Dialah wanita yang kedudukannya menyaingi kedudukanku di sisi Rasulullah . Dan, aku tidak pernah melihat seorang wanita pun yang labih baik agamanya dari Zainab, lebih bertakwa, lebih jujur perkataannya, dan lebih senang menyambung tali silaturahmi, lebih besar sedekahnya, serta lebih banyak bekorban bagi dirinya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Meskipun Zainab seorang yang cepat marah, namun dia cepat kembali reda dari kemarahan.”
Sedangkan dalam Shahih Bukhari Aisyah juga pernah berbicara mengenai haditsul-ifki (berita bohong) yang selanjutnya dia diselamatkan Allah dari segala keburukan, dengan tetap menghargai kesaksian yang diberikan oleh Zainab binti Jahsy, “
Rasulullah juga menanyakan kepada Zainab binti Jahsy mengenai kasusku itu, di mana beliau bertanya, ” Wahai Zainab, apa yang engkau ketahui dan apa yang engkau lihat tentang kasus ini?” Zainab pun menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak mendengar dan melihat kasus itu, demi Allah, aku tidak mengetahui tentang diri Aisyah melainkan kebaikan.” Kemudian Aisyah berkata, “Dialah yang menyaingiku di sisi Rasulullah, dan Alah melindunginya karena kewara’annya.”
Orang-orang yang mau menelaah buku-buku Sirah akan mendapatkan berbagai ungkapan dari Ummul-Mukminin, yang semuanya mengandung keadilan dan kebijaksanaan.
Di antara ungkapan itu adalah apa yang diriwayatkan dari Ummu Salamah mengenai diri Zainab, “Zainab itu sangat mengagumkan Rasulullah, beliau memberikan banyak perhatian kepadanya, sedang dia adalah wanita shalehah, teguh pendirian, senang menjalankan puasa dan rajin bekerja. Dan, menyedekahkan semua hasil kerjanya kepada orang miskin.”
Demikian halnya apa yang diriwayatkan dari Aisyah masih tentang diri Zainab, yaitu ketilka Aisyah menerima berita tentang kematiannya, “Dia telah pergi selamanya seorang wanita yang sangat terpuji, taat beribadah, yang menjadi tempat berlindung anak-anak yatim dan para janda.”(As-Samthu Ats-Tsamin, hal.110)
Aisyah mengungkapkan tentang diri Maimunah, di mana dia berkata,
“Demi Allah, Maimunah telah pergi, dia adalah salah seorang yang paling bertakwa di antara kami dan paling senang menyambung tali silaturahmi di antara kami.”(Al-Ishaabah, VIII/192)
Demikian itulah akhlak, sifat adil dan bijak dari para Ummahatul- Mukminin terhadap wanita-wanita yang menjadi saingannya dalam mendampingi Rasulullah , meskipun di antara mereka terdapat kecemburuan dan persaingan serta sensitivitas. Bila kita bayangkan sikap antarmereka yang masing-masing saling bersaing, lalu bagaimana sikap mereka terhadap wanita-wanita lain yang bukan menjadi saingan mereka. Dengan sirah mereka yang penuh keteladanan ini, para Ummul-Mukminin itu telah meletakkan manhaj bagi wanita-wanita Muslimah tentang “hidup berdampingan'” antarmanusia yang baik yang menyingkirkan kebencian dengan cara memperluas pandangan akal, membatasi kecemburuan yang berlebih-lebihan -bila kecemburuan itu memang ada dengan cara mendahulukan sikap adil, berbuat baik dan melakukan persaingan yang sehat. Dengan demikian itu, wanita Muslimah dapat berbuat adil terhadap wanita yang tidak disukainya, bagaiamarnapun tingkat kedekatan hubungan dengan dirinya, selain dia juga bersikap adil dalam memberlkan keputusan terhadapnya, lemah lembut dan baik dalam mempergaulinya














































































