يحتاج في التعلم و التفقه إلى جد الثلاثة: المتعلم و الأستاذ و الأب إن كان في الأحياء

“Dalam proses menuntut ilmu dan mendalaminya, dibutuhkan kesungguhan dari tiga pihak: murid, guru, dan orang tua jika masih hidup.” (Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim).

Begitulah syarat kesuksesan dalam pendidikan menurut al-Zarnuji. Kalau salah satu atau bahkan salah duanya tidak terpenuhi, jangan harap hasilnya. Apalagi tiga-tiganya. Bisa dikatakan “mutlak gagal” atau “mustahil berhasil”.

Namun, kalau cuma dikatakan bahwa tiga unsur itu harus bersungguh-sungguh, bagaimana cirinya? Seperti apa contohnya? Dan aspek aja saja yang mesti mereka lakukan dengan sungguh-sungguh. Mari kita bahas!

Pertama, murid. Kesungguhannya mesti meliputi aktivitas adab berupa khidmat (khususnya kepada ilmu dan guru) dan ilmu berupa: mendengarkan dan memperhatikan, memahami dan merenungi, menghafal, mengulang-ngulang, bertanya, berdiskusi, mengamalkan, dan mengajarkan.

Lebih penting lagi, kesungguhannya harus menempa dirinya menjadi insan adabi dan seorang “pembelajar”. Yakni orang yang menjadikan tradisi keilmuan sebagai hal yang utama dengan tidak melupakan adab atau soft skill lainnya. Dua soft skill itulah bekal utama setiap murid untuk menghadapi era disrupsi.

Zaman ini menuntut setiap murid mempunyai lebih dari satu soft skill dan menguasai lebih dari satu bidang ilmu (multidisiplin) untuk untuk mempertahankan eksistensinya serta menjawab berbagai persoalan kehidupan di masa mendatang.

Soft skill terpenting yang mesti tertanam dan terkuasai dengan baik dalam diri setiap pemuda, adalah critical thinking, creativity, communication (berbicara ataupun menulis), collaboration dan sikap sebagai seorang pembelajar tadi.

Lagipula, yang lebih laku “dijual” di era ini adalah soft skill. Sebab, dengan soft skill, adalah untuk mudah menguasai hard skill serta mampu menghadapi segala macam soal kehidupan.

Saya setuju dengan pendapat bahwa yang membuat Rocky Gerung pintar dan diakui oleh banyak kalangan, termasuk kalangan intelektual, bukanlah gelar akademiknya. Melainkan sikap dia sebagai seorang yang pembelajar.

Dia adalah orang yang senang berfikir kritis, senang diskusi, bertanya, menganalisis, berani, cakap dan cepat dalam mengambil kesimpulan serta tindakan. Dan yang lebih penting adalah dia seorang yang rajin membaca dan menulis.

Saat ini pun, orang tidak bertanya, apa gelar Ustadz Abdul Somad, almarhum Ustadz Arifin Ilham, termasuk apa gelar Rocky Gerung.

Maka, alangkah baiknya untuk tidak melupakan adab dan hanya terpaku dengan ilmu-ilmu yang disenangi atau dirasa sesuai dengan bakat dan potensi. Baiknya, ilmu-ilmu lain tetap “dilahap” sembari terus mencari atau mendalami satu ilmu yang disenangi atau sesuai dengan bakatnya tadi.

Siapa tahu nilai-nilai yang tertanam dan di antara ilmu-ilmu yang tidak disenangi atau dirasa tidak sesuai dengan bakat dan potensi itu justru menjadi bekal hidupnya nanti. Bahkan berubah menjadi skill dan kepakaran khusus untuknya. Dan siapa tahu hal sebaliknya justru berlaku untuknya.

Itulah mengapa analogi “ikan disuruh manjat pohon” bagi pendidikan yang menyeragamkan murid tidak sepenuhnya benar. Sebab, klaim yang menyatakan bahwa bahwa dirinya adalah “ikan” tidak bisa sepihak.

Mesti melibatkan pihak lain yang lebih adil, bijaksana dan berpengalaman seperti orang tua dan guru? Bisa jadi di kemudian hari ia justru berperan sebagai “kera” yang paling ahli memanjat pohon.

Pihak kedua, guru. Kesungguhannya bukan sekadar datang ke sekolah kemudian mengharapkan uang, gaji, sertifikasi cair, dan berbagai macam materi lainnya. Bukan orang yang datang ke sekolah lalu sekadar mengajar, tanpa sedikit pun memperhatikan dan masuk ke ruang lingkup murid, apalagi sampai tidak peduli benar-salah dan baik-buruknya akhlak murid.

Kesungguhannya harus meliputi aspek mendidik (menanamkan nilai/adab) dan mengajar (transfer ilmu). Perannya bukan sebagai pekerja, melainkan seorang mujahid intelektual. Sehingga lahirlah sosok guru teladan yang ikhlas dan senang berkorban demi kepentingan adab dan ilmu muridnya.

Sebab, “Jangan berharap bayangan suatu benda akan lurus, jikalau faktanya, benda tersebut bengkok,” ujar Imam Ghazali dalam Ihya’-nya.

Guru seperti inilah yang menurut M. Natsir dalam Capita Selecta-nya menjadi tolak ukur maju-tidaknya suatu bangsa. Guru seperti inilah yang ruhnya dikatakan dalam ungkapan Arab terkenal, lebih baik dari materi, metode bahkan dirinya sendiri.

Dan guru seperti inilah yang menurut Dr. Adian Husaini dalam buku Pendidikan Islam-nya menjadi faktor terkuat lahirnya empat generasi gemilang: sahabat, Shalahuddin, Muhammad al-Fatih dan santri 1945 (ketika mempertahankan kemerdekaan dari serangan tantara sekutu, Belanda dan Inggris). Ialah asas bangkitnya peradaban.

Ketiga, orang tua. Kesungguhannya tidak hanya meliputi dukungan materi si anak seperti SPP bulanan dan uang jajan. Yang terpenting justru dukungan keilmuan. Di antaranya: pertama, tetap berperan sebagai guru keluarga.

Jika tidak mampu, beralih ke poin kedua, menyerahkan pendidikan anaknya kepada guru yang ‘alim, baik dan berpengalaman serta mengikhlaskan dan meridhai apapun yang dilakukan sang guru kepada anaknya (kecuali kalau tindakannya sudah di luar batas dan bertentangan dengan syariat).

Tidak etis rasanya kalau tindakan khidmat ditentang oleh orang tua. Khidmat bukanlah sarana untuk memperbudak murid, melainkan sarana bagi si murid untuk naik derajatnya disisi Allah, meraih hikmah dan keberkahan ilmu melalui ridha guru.

Guru kami, Dr. Muhammad Ardiansyah dalam buku Catatan Pendidikan-nya menuliskan, “Salah besar jika ada orang tua yang marah ketika melihat anaknya menyapu di sekolahnya. Atau membersihkan kamar mandi dan ruang lainnya. Padahal pelajaran yang didapat dengan khidmah itu terkadang lebih banyak dan cepat tertanam di hati daripada belajar di kelas, seorang penuntut ilmu tidak hanya memahami teori ilmu, tetapi juga langsung mengaplikasikan adab ilmu.”

Ulama asal Betawi sekaligus guru langsung Ustadz Ardiansyah, KH Ahmad Musthafa, menyatakan, “Dengan kesungguhan ilmu bisa dipahami. Dengan amal ilmu menjadi bermanfaat. Dengan ridha guru ilmu menjadi berkah”

Murid Imam Malik, Abdurrahman bin Qasim mengatakan, “Aku berkhidmah kepada Imam Malik selama dua puluh tahun. Delapan belas tahun aku habiskan untuk mempelajari adab, dan hanya dua tahun mempelajari ilmu. Alangkah bahagianya, seandainya semua waktu itu dihabiskan untuk mempelajari adab.” (Lihat Muhammad Ardiansyah, Catatan Pendidikan, 2017: 131)

“Ketahuilah sesungguhnya penuntut ilmu itu tidak akan memperoleh ilmu dan menjadi bermanfaat ilmunya itu, kecuali dengan memuliakan ilmu, ahlinya, dan memuliakan guru serta menghormatinya,” ujar al-Zarnuji dalam Ta’lim-nya.

Kuantitas ilmu tidak menjamin kehidupan yang cerah. Keberkahan ilmulah yang membuat setiap insan merasakan kehidupan hakiki. Terkadang ilmu saja tidak membuat seseorang mencapai apa yang diinginkannya. Tapi ingatlah, bahwa doa guru-guru yang baik yang pasti bisa membuat cita-cita terasa mudah dicapai.

“Sekali lagi perlu kita camkan, bahwa tanggung jawab pendidikan anak itu ada pada orang tua; bukan pada sekolah pesantren, atau universitas. Karena itu, penting dan mendesak sekali pemahaman tentang bagaimana ornag tua bisa menjadi guru keluarga. Semoga kelak di akhirat nanti, anak-anak kita tidak menuntut kita, karena mereka tidak mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan yang benar.” (Adian Husaini, Kiat Menjadi Guru Keluarga: Menyiapkan Generasi Pejuang).

***********

Rabu, 7 April 2021

At-Taqwa College Cilodong-Depok

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok & STID Mohammad Natsir, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan