“Ilmu manfaat kuncinya itu adalah beradab kepada guru,” (Dr. Adian Husaini).

Dalam kitab Ta’limul Mutaallim, Syaikh Az-Zarunuji berpesan, “Ketahuilah bahwa penuntut ilmu tidak bisa meraih ilmu dan tidak akan mendapat manfaat ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan ahlinya, memuliakan guru dan menghormatinya.” Artinya, guru merupakan sumber ilmu yang manfaat, manakala disertai dengan penghormatan kepadanya. Ingatlah, bahwa ilmu yang bermanfaat (nafi’) merupakan kunci kesuksesan setiap murid di dunia dan akhirat. Ia juga merupakan ilmu yang menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk menuntutnya.

Ustadz Adian mencontohkan salah satu bentuk adab atau penghormatan kepada guru, yakni dengan senantiasa menerapkan “suhbah” atau mendatangi guru-guru sekaligus tokoh-tokoh hebat dalam rangka menuntut ilmu, salah satunya lewat berdiskusi seputar masalah umat. Hal itu beliau lakukan sejak belajar di “sekolah Arab”, di pondok pesantren (SMA), saat kuliah di IPB, saat menjadi wartawan, sampai ketika kuliah di ISTAC. Bahkan beliau tidak segan meskipun harus berguru kepada seniornya sendiri.

Sebab, baginya, belajar itu, selain kapan saja dan dimana saja, juga kepada siapa saja, asalkan ia baik dan mempunyai otoritas. Bahkan, sejak dulu sampai sekarang beliau selalu megedepankan silaturahim kepada guru-gurunya itu. Hal ini sejalan dengan perintah seorang ulama bernama Habib ibnu Syahid kepada anaknya—sebagaimana yang dikutip KH.

Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, “Adabul ‘Alim wal Muta’allim”—supaya sang anak bergaul kepada para fuqaha’ dan mempelajari adab-adab mereka karena hal itu lebih disukainya ketimbang si anak menghafal banyak hadits.

Diantara guru-gurunya: H. Bishri, Kyai Sayyidun, Kyai Hanbali, KH. Didin Hafidhuddin, KH Syamsuddin, Ustadz Abbas Aula, Ustadz Abdul Hanan, Ustadz Abdurrahman al-Baghdadi, KH. Abdullah bin Nuh, KH. Sholeh Iskandar, Pak Hartono Mardjono, Pak Husein Umar, Pak Ahmad Sumargono, KH. Cholil Ridwan, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, dan masih banyak lagi. Artinya, dalam belajar, selain pendidikan formal, Ustadz Adian selalu mengedepankan silaturahim kepada para tokoh tersebut.

Bahkan, kadang setelah Shubuh, beliau sudah berangkat untuk menemui mereka. Baginya, berdiskusi kepada mereka, meskipun tidak lama, merupakan satu pembelajaran yang sangat berharga dan tidak mudah dirasakan oleh orang lain. Salah satu adab yang diajarkan olehnya lewat metode “shuhbah”, ialah bagaimana beliau mampu bersabar menuntut ilmu kepada guru-gurunya itu. Mulai dari dimarahi sampai harus berpergian jauh ke rumah sang guru.

Latar belakang itu yang membuatnya begitu marah ketika melihat beragam pembulian terhadap guru yang akhir-akhir ini sering terjadi. Baginya, hal itu merupakan pelanggaran berat. Kalau ia lemah dari segi pembelajaran, hal itu masih bisa ditolerir, karena memang potensi akal yang Allah berikan tidak sama. Tapi, kalau sudah tidak punya adab, lebih baik murid itu dikeluarkan dari tempatnya belajar.

Sebab, selain adab bisa dimiliki oleh semua orang, kebiadabannya terhadap guru, juga akan membuka pintu baginya untuk merusak ilmu. Artinya, seberapa besar ilmu yang telah ia raih, sebesar itu pula kerusakan yang akan ia buat dengan ilmunya di masa mendatang. Maka, secara tidak langsung, kebiadaban membawa ketidakbermanfaatan ilmu, sehingga ilmu menjadi rusak dan salah digunakan.

Maka, Jangan hanya karena metode pengajaran seorang guru tidak disukai dan hanya karena ditegur ataupun dimarahi, membuatnya berhenti belajar bahkan sampai harus membuatnya mencaki maki, bahkan berbuat yang lebih buruk dari itu kepada guru. Miris ketika mengetahui ada kasus pemukulan guru oleh murid sampai meninggal, kasus penghinaan guru oleh wali murid hanya kerena muridnya dimarahi, dan lain sebagainya.

Satu hal yang mesti diingat, bahwa guru juga manusia. Mereka bukan Nabi ataupun Malaikat yang tanpa dosa. Mereka bisa berbuat salah. Tapi, pernahkah terbesit bahwa apakah kita sudah lebih baik dari mereka? Apakah kesalahan mereka membuat diri kita lebih tinggi serta mulia dihadapan mereka? Pun kalau mereka berbuat salah, kesalahan yang mereka buat tidak sebanyak kita. Perbuatan buruk mereka tidak sesering kita. Dan perilaku mereka yang sekiranya kurang berkenan, tidak mampu melebihi celanya diri kita.

Maka, terkait hal ini, Imam al-Nawawi pernah berdo’a, “Allahummastur ‘aiba mu’allimi ‘anni wa la tudzhib barkata ‘ilmihi minni” (Ya Allah, tutupilah aib guruku dari pandanganku. Dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku).

Adab kepada guru sudah lama dicontohkan oleh khalifah Harun Al-Rasyid saat mengirim anaknya untuk belajar ilmu dan adab kepada seorang ulama bernama al-ashma’i. Suatu saat, di sela-sela pembelajaran, sang khalifah melihat anaknya sedang menuangkan air dengan satu tangannya kepada gurunya yang sedang berwudhu.

Selesai dari itu, sang khalifah segera menegur Al-Ashma’i, dengan mengatakan, “Saya mengirim anak saya kepada anda untuk belajar ilmu dan adab. Tapi mengapa tadi anda hanya memerintahkan anak saya menggunakan satu tangannya untuk menuangkan air? kenapa tidak anda suruh juga dia, menggunakan tangan yang satunya lagi untuk menggosokkan kaki anda.” Artinya, disamping sang anak sudah beradab, orang tua pun mendukung, bahkan lebih menekankan lagi, bukan justru memarahi gurunya atau bahkan menganggapnya sebagai tindakan perbudakan. (Lihat kisahnya dalam Kitab Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnuji).

Begitu juga dengan sikap Imam Syafi’i terhadap gurunya, Imam Malik. Suatu ketika, setelah Imam Malik wafat, beliau mengetahui bahwa di Andalusia Imam Malik sangat dipuja secara berlebihan, dikultuskan, bahkan sampai ada yang selalu mengunggulkan pendapat Imam Malik dan membenarkannya. Melihat fenomena tersebut, membuatnya harus beristikharah selama 1 tahun dalam rangka hendak mengambil posisi sebagai pengkritik pemikiran yang sudah tersebar di Andalusia tadi. Artinya ia mencoba mengambil langkah untuk mengkritik Imam Malik itu sendiri. Meskipun, sebetulnya tujuannya baik, yakni hendak menunjukkan bahwa imam Malik juga manusia dan ia juga punya salah dan kekurangan, sehingga tidak perlu sampai dipuja secara berlebihan apalagi dikultuskan. Artinya, kritik yang coba dilontarkan, tidak sampai menyebarkan semua aib dan kekurangan Imam Malik sehingga menjatuhkan derajatnya. (Lihat Manaqib Imam Syafi’i karya Imam Fakhruddin Ar-Razi).

Berbeda dengan Imam Malik, Prof. Muhammad Zainy Uthman pernah disinggung oleh seseorang seputar pemikiran Prof. Al-Attas. Orang itu mempermasalahkan pendapat Prof. Al-Attas yang selalu dibenarkan dan disebarluaskan oleh Prof. Zainy dan murid-muridnya yang lain. Menurutnya, apakah pasti bahwa Prof. Al-Attas tidak mempunyai kesalahan? Sebagai insan adabi, Prof Zainy menjawab dengan mengatakan, untuk apa mengkritik dan mencari kesalahan Prof. Al-Attas kalau ada yang lebih urgen dari itu, yaitu tentang pemikiran Al-Attas seputar problem utama umat Islam dan cara menyelesaikan problem tersebut.

Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud pun juga sangat beradab kepada gurunya, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Tatkala diminta untuk mengisi materi, setiap kali mengutip pendapat Al-Attas, ia selalu menggunakan narasi, “Ini menurut guru saya, Prof. Naquib Al-Attas.” Bahkan, sampai saat ini, Prof. Wan masih berdiri di bawah bayang-bayang Al-Attas, dengan alasan bahwa potensi yang dimilikinya belum pantas untuk mengungguli Al-Attas. Itulah mengapa, sampai detik ini, ia tidak merumuskan konsep baru, melainkan masih menggunakan konsep “islamisasi ilmu” yang dicetuskan pertamakali oleh gurunya tersebut.

Sama halnya dengan Imam Al-Ghazali, Ibnu hajar al-Atsqalani, Imam Bukhari, dan ulama lainnya. Sepintar dan sebaik apapun, mereka masih bermadzab kepada Imam Syafi’i. Artinya, mereka masih mengakui otoritas dan kepakaran Imam Syafi’i, dan tidak pernah ada rasa malu dalam diri mereka untuk mengakui hal tersebut.

Di sinilah pentingnya setiap anak mengkaji kitab-kitab adab. Diantaranya: “Adabul Insan” (karya Sayyid Utsman, mufti Betawi), “Ta’limul Muta’allim” (karya Syaikh Burhanuddin Az-Zanuji), “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” (karya KH. Hasyim Asy’ari), “Adabul Mufrad” (karya Imam Bukhari), Gurindam 12 (karya Raja Ali Haji), dan lain sebagainya. Kitab-kitab inilah yang akan menjadi pijakan awal bagi orang tua ataupun guru dalam menanamkan adab kepada setiap anak dan muridnya supaya bisa memposisikan guru secara adil.

Namun, disamping murid dituntut untuk selalu beradab, guru pun juga harus memposisikan dirinya sebagai seseorang yang pantas untuk diperlakukan secara mulia dan terhormat. Dalam hal ini, Ustadz Adian menekankan supaya setiap guru tidak menganggap dirinya sebatas “tukang kerja”, melainkan seorang “mujahid intelektual”. Maka salah jika ada istilah “guru tidak tetap”. Sebab, sampai kapanpun dan dimanapun ia akan tetap menjadi guru. Yang tidak tetap hanyalah status kepegawaiannya. Dengan memposisikan dirinya sebagai mujahid intelektual, ia akan menjadi guru yang orientasi utamanya bukanlah materi, meskipun ia membutuhkan itu. Sementara, jika ia memposisikan dirinya sebagai tukang ngajar, dia akan mengajar tanpa jiwa atau ruh seorang guru. Ia sekedar datang ke sekolah dengan senantiasa mengharap bayaran.

Ingatlah, guru adalah kunci kebaikan dan kesuksesan setiap anak. Artinya, peran mereka bukan sekedar datang, mengajar, dan mengharap imbalan, melainkan juga menanamkan adab. Sebab, kesuksesan hakiki setiap anak, tidak diukur dari seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tapi seberapa besar adab sudah tertanam dalam dirinya. Karena, percuma saja ia pintar tapi tidak baik dan bermanfaat.

Di sinilah pentingnya setiap guru bersikap ikhlas, sabar, komitmen, dan sungguh-sungguh. Kalau gurunya ikhlas, murid pun akan menjadi ikhlas. Maka, sudah semestinya setiap guru berusaha menjadi yang terbaik, baik dari segi adab maupun keilmuannya. Sudah semestinya, dengan posisinya sebagai mujahid inetelektual, mereka menunjukkan kualitasnya di hadapan murid sehingga mampu menawan hatinya. Lebih-lebih ketika mengetahui bahwa salah satu adab murid kepada guru ialah memilih guru yang berkualitas dari segi ilmu dan adab, juga berpengalaman.

Dan dengan mengutip Dr. G.J. Nieuwenhuis, M. Natsir berkata, “Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada diantara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” Artinya, seselompok guru yang senang berkorban, hanya ada pada guru-guru yang memposisikan dirinya sebagai mujahid intelektual. Merekalah kunci kebangkitan umat.

Disamping itu, melalui guru, murid bisa dapat berkah. Namun, berkah dari guru tidak akan bisa diberikan kalau ia sendiri tidak ikhlas. Bahkan tidak hanya guru, setiap orang tua pun mesti ikhlas. Maka, harus ada kesinambungan antara guru, orang tua, dan murid. Kalau salah satunya tidak saling mendukung, tidak saling ikhlas, dan tidak saling meridhai, maka tidak mungkin sang murid bisa mendapatkan ilmu yang berkah, ilmu yang bermanfaat, dan hidup yang sukses di dunia dan akhirat.

Adapun tujuan adab murid kepada guru berupa “khidmat” bukan apa-apa melainkan untuk mendapatkan ridha guru. Sebab itu lebih penting dari menumpuk pelajaran di kepala. Ridha guru yang akan mengantarkan ilmu kepada keberkahan. Sebagaimana makna berkah itu bertambah baik, maka manakala ilmu sudah menjadi berkah, niscaya yang akan dihasilkan dari ilmu itu adalah kebaikan, sekalipun secara kuantitas tidak banyak.

Keberkahan ilmu itulah yang akan membuat setiap insan merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Terkadang ilmu saja tidak membuat seseorang mencapai apa yang diinginkannya. Tapi ingatlah, bahwa do’a guru-guru yang baik yang pasti bisa membuat cita-cita terasa mudah dicapai.

Keberkahan itulah kunci kesuksesan. Mungkin kuantitas ilmu dapat mempengaruhi seberapa banyak kekayaan dunia didapatkan. Tapi ingatlah bahwa banyaknya ilmu, tidak menjamin kebahagiaan di akhirat. Bahkan keberkahan itulah yang nantinya akan membawa seseorang memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Kalau sudah berkah, ia akan menjadi orang yang baik dan bermanfaat dengan ilmu yang dimilikinya.

Ingatlah bahwa dengan memuliakan guru-guru, seseorang tidak akan menjadi hina. Mungkin khalayak ramai akan mencemooh serta menganggap hina perbuatan-perbuatan seperti yang dilakukan oleh beberapa orang di atas. Tapi ingatlah bahwa disisi Allah kehinaan itu berubah menjadi kata kemuliaan.

Sebagai penutup, ada baiknya merenungkan penggalan syair tentang salah satu adab murid kepada guru dalam buku, “Untaian Syair Baru Tentang Adab Murid dan Guru” (2018: 26-27) karya Dr. Muhammad Ardiansyah:

Tanpa Sabar Bisa Bubar

Guru itu pelanjut para anbiya’
Tugasnya sangat berat dan luar biasa
Menjalani tugas membimbing manusia
Meraih ridho Allah Yang Maha Esa

Tugas yang diberi mari dikerjakan
Janganlah itu dianggap jadi beban
Jika rela hati saat ditunaikan
Tugas berat pun akan terasa ringan

Guru itu juga manusia biasa
Meski sabar kadang bisa marah juga
Bersabarlah ketika dimarahinya
Jangan berhenti berguru kepadanya

Marah guru itu bukan karena benci
Tapi ingin murid perbaiki diri
Hilangkan prasangka buruk dalam hati
Teruslah belajar jangan engkau lari

Kekurangan guru jangan disebarkan
Dengan adab ilmu itu bertentangan
Manusia pasti punya kekurangan
Dan jauh dari sifat kesempurnaan

Seorang beradab akan bijaksana
Yang diingat bukanlah aib gurunya
Jasa guru itu banyak tak terkira
Juga tak terbalas hingga akhir masa.

************

Kamis, 22 Oktober 2020

At-Taqwa College Cilodong-Depok

Penulis: Fatih Madini
(Mahasiswa At-Taqwa College Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)

Tinggalkan Balasan