“Cobalah kalian perlahan mulai membangun otoritas. Caranya, melalui lisan dan tulisan. Jangan merasa cukup dan puas hati dengan gelar akademik. Terus belajar, lalu bangunlah otoritas melalui aktifitas mengajar, khutbah, ceramah, menulis makalah dan buku.” Begitu kira-kira pesan guru kami di pondok.

Dengan aktifitas tadi, sebenarnya kami diajak mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari. Mumpung masih ada guru, kalau ada yang kurang bisa dilengkapi, kalau salah bisa dikoreksi. Istilahnya, learning by doing.

Pesan yang sama juga saya terima ketika ngaji kepada guru-guru di Jakarta. “Kalau udah khatam satu kitab, ente kudu bisa ngajarin ke orang lain. Jangan sampe orang yang nggak jelas ngajinye, tau-tau jadi Ustadz.” Belakangan, saya juga sering menyimak video kajian Gus Baha. Ulama muda ini juga pernah mengingatkan agar kita menyampaikan otoritas keilmuan. Bukan untuk sombong, tapi agar masyarakat kenal, siapa yang ahli ilmu dan siapa yang bukan. Logikanya sederhana, bidan, montir saja perlu pasang merk biar dikenali, apalagi Ustadz.

Saya sepakat dengan para guru nan alim dan shaleh ini. Zaman now, seorang berilmu tidak boleh “terlalu tawadhu”. Tunjukkan otoritas keilmuannya kepada masyarakat luas. Ini penting, agar orang awam tidak tertipu dengan penampilan. Kalau zaman dulu ada Nabi palsu, bisa jadi kini muncul ulama palsu.

Kasihan umat kalau belajar Tafsir kepada orang yang tidak paham bahasa Arab. Musibah, jika masyarakat belajar Hadits kepada orang yang tidak jelas gurunya. Celaka, jika orang awam belajar aqidah kepada tukang ramal yang fasih cocoklogi. Rusak agama ini jika banyak orang bertanya hukum kepada mufti gadungan. Tersesat jika para murid belajar tasawuf kepada pendukung pluralisme.

Dulu, seorang diberi gelar setelah diuji ratusan ulama dan diakui keilmuannya. Tidak tiba-tiba muncul jadi ulama tanpa latar belakang yang jelas. Imam Syafi’i diberi gelar Nashir al-Sunnah karena pembelaannya terhadap Sunnah yang luar biasa. Imam al-Asy’ari diberi gelar Imam Ahlussunnah karena jasanya membentengi aqidah umat pada zamannya.

Imam al-Ghazali digelari Hujjatul Islam juga setelah diuji ratusan ulama dan berhasil menjawab tantangan pemikiran yang ada. Ibn Hajar al-Haitami dan Syamsuddin al-Ramli juga harus diuji ratusan ulama sebelum menyebarkan kitab yang ditulisnya.

Kini, gelar itu kadang dibuat sendiri sesuka hati. Tanpa ada proses ujian yang ketat dari para ahli. Padahal, secara keilmuan, masih jauh dari otoritas yang mumpuni. Terlalu percaya diri, tapi kadang tidak tahu diri. Merasa sudah pakar, tapi kalau bicara kadang tidak dipikir lagi.

Dalam urusan dunia saja kita harus merujuk pada ahlinya. Misalnya, perlu ada dokter ahli agar masyarakat tidak salah berobat. Harus ada montir pengalaman agar kendaraan yang rusak jadi baik kembali. Penting ada teknisi listrik ahli agar tidak terjadi konsleting yang menyebabkan kebakaran. Maka, untuk urusan agama lebih wajib lagi hadirnya ulama yang otoritatif.

Kehadiran ulama yang otoritatif ini diharapkan akan membawa kemaslahatan untuk umat. Rujukan yang jelas dan sanad keilmuan yang kuat membuat kajian mereka terasa mencerahkan, mencerdaskan dan membahagiakan. Sebaliknya, jika yang muncul ulama palsu, umat akan rusak. Tiap hari dijejali angan-angan, ramalan dan kebohongan yang dibungkus dalil-dalil agama.

Kasihan, kondisi semacam ini sejatinya lebih buruk dari wabah COVID 19. Karena wabah itu hanya menyerang tubuh manusia. Sedangkan ulama palsu yang bergetayangan akan mematikan hati dan akal budi. Saat ini, saya pribadi sudah bahagia dengan kehadiran Gus Baha, Buya Yahya, Asatidz INSISTS, dan banyak lagi ulama lainnya. Semoga, terus bertambah lagi ulama-ulama yang otoritatif, sehingga umat selamat dari kekeliruan ilmu yang sudah terlanjur menyebar saat ini.

************

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah, M.Pd.I
(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok, Penulis Buku dan Kontributor mujahiddakwah.com)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)