Orang mukmin itu mengatakan perkataan yang sesuai dengan amalannya, sedangkan orang munafik berkata dengan apa yang día ketahui dan beramal dengan yang dia ingkari
Abu Qulabah mengatakan, “Apabila Allah menganugerahkan kepadamu suatu ilmu maka kerjakan ibadah kepada-Nya, dan janganlah apa yang menjadi hasratmu adalah apa yang dibicarakan orang-orang.”
“Sesungguhnya pengetahuan otak bukanlah pengetahuan yang diinginkan atau yang diakui oleh Islam, karena dia hanya pengetahuan luar yang mati. Ada dan tidaknya sama saja, sedang pengetahuan yang hidup adalah yang keluar dari hati, lalu menggerakkan semua anggota tubuh dan memberikan pengaruh tertentu dalam akhlak nyata. Pengetahuan semacam itulah yang sebenarnya yang diminta oleh Islam agar tumbuh di hati orang-orang sehingga mereka menjadi kaum muslimin yang sebenarnya. “
Ilmu yang hanya ada di otak selama tidak direalisasikan dalam amal nyata adalah bagaikan tinta di atas kertas. Oleh karena itu para shahabat dan tabiin sangat memahami masalah ini sehingga mereka mempraktikkan apa yang mereka ketahui. Seakan-akan kita sedang bersama seorang alim rabbani, yaitu Abdul Qadir Jailani yang menunjuk kita ketika berkata kepada muridnya, “Nak, ilmumu menyerumu, sesungguhnya aku sebagai penuntutmu apabila engkau tidak mengamalkanku, dan pembelamu apabila engkau mengamalkanku. Diriwayatkan dari Rasulullah beliau bersabda, ‘Ilmu menyeru kepada amalan, apabila pemiliknya menjawab maka dia tetap bersamanya, namun apabila tidak maka dia akan pergi.”
Akan pergi barokahnya dan yang tersisa hanya kesusahannya, hilang syafaatnya bagimu dan berhenti dari ikut andil dalam memenuhi kebutuhanmu. Yang tersisa hanya kulit luarnya saja karena sesungguhnya intisari ilmu adalah amalan.”
Ketahuilah, ilmu yang kalau hari ini tidak menjauhkanmu dari maksiat dan membawamu kepada ketaatan maka besok dia tidak akan menjauhkanmu dari api neraka Jahannam.”
Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Dahulu ada bersama kita seorang alim dan seorang abid (ahli ibadah). Suatu ketika, orang alim tersebut bertanya kepada abid, ‘Mengapa engkau tidak mendatangiku padahal orang-orang mendatangiku dan membutuhkan ilmuku?’ Si abid menjawab, ‘Aku menguasai sedikit ilmu lalu aku mengamalkannya. Kalau sudah habis apa yang ada padaku maka aku akan mendatangimu’,”
Oleh karena itu, mereka sangat berambisi untuk selalu mengamalkan ilmu dan itulah cara mereka dalam mendidik anak didik mereka. Ibrahim Al-Harbi berkata, “Ayahku membawaku menemui Bisyr bin Haris dan berkata, ‘Abu Nashr, anakku ini terkenal dengan menulis hadits dan ilmu’. Beliau menjawab, ‘Nak, sesungguhnya ilmu itu harus diamalkan. Kalau tidak bisa mengamalkan semuanya maka dari setiap dua ratus harus ada lima yang diamalkan sebagaimana zakat uang dirham’.”
Mereka menganggap bahwa amalan adalah zakatnya ilmu yang wajib dikeluarkan sebagaimana zakat mal. Tidak boleh disimpan dan ditumpuk tanpa ada amalan. Kalau tidak begitu, ilmu akan sirna dan pemiliknya berada dalam penyesalan dan selanjutnya tidak akan mendekat kepada kebenaran.
Ilmu adalah alat amal maka kalau orang menghabiskan umurnya hanya untuk mencari alat lalu kapan dia beramal?
Hafsh bin Humaid mengatakan, “Aku bertanya kepada Daud AtTha’i tentang suatu permasalahan, Daud menjawab, Bukankah seorang tentara apabila hendak terjun dalam kancah peperangan akan mengumpulkan peralatannya, namun kalau dia menghabiskan umurnya hanya untuk mengumpulkan peralatan maka kapan dia akan berperang? Sesungguhnya ilmu adalah alat amal maka kalau dia habiskan umurnya hanya untuk mencarinya lalu kapan dia beramal?
Ketika Daud At-Tha’i duduk bersama Abu Hanifah, Abu Hanifah berkata kepadanya, “Abu Sulaiman, segala peralatan telah kita persiapkan.” Daud bertanya, “Lalu tinggal apa lagi?” Beliau menjawab, “Tinggal kita mengamalkannya.”
Sungguh, generasi ini telah mengajarkan kepada kita tentang keseimbangan antara ilmu dan amalan. Jangan sampai salah satu dari keduanya melampaui yang lain. “Karena tidak adanya keseimbangan antara ilmu dan amalan merupakan kerusakan. Sebagaimana gemuknya salah satu dari sayap burung sedang sayap yang lain kurus. Ketika ia naik dan terbang tinggi maka tidak ada keseimbangan dan kemungkinan besar ia akan jatuh mati dan remuk.”
Salah seorang pendidik lain yang hidup setelah generasi tabi’in, namun terdidik dalam pendidikan mereka meskipun iarak antara dia dan mereka cukup jauh, yaitu Abdul Qadir Jailani berkata kepada anaknya, “Nak, kepandaian lisan tanpa diiringi amalan hati itu tidak mendekatkanmu kepada kebenaran meskipun hanya selangkah.”
“Nak, mengamalkan ilmu adalah cahaya ilmu, kejernihan yang paling jermih, permata dari segala permata dan intisarinya. Mengamalkan ilmu adalah menyehatkan hati dan mensucikannya. Kalau hati baik maka semua anggota tubuh juga baik, dan apabila hati suci maka semuanya juga ikut Suci.”
Imam Ibnu Al-Jauzi menekankan kembali masalah ini dalam tarbiyah, beliau mengatakan, “Hanya dengan bentuk luarnya saja ilmu tidak bisa memberikan manfaat, tetapi harus disertakan maknanya, dan maknanya itu hanya bisa diperoleh dengan mempelajarinya untuk diamalkan. Setiap kali ilmu menunjukkan suatu keutamaan maka dia berusaha untuk mewujudkannya, dan setiap kali melarangnya dari kekurangan maka dia bersungguh-sungguh menjauhinya. Bila sudah demikian maka ilmu akan menyingkapkan rahasianya kepada pelakunya dan memudahkan jalan baginya.”
Saudaraku, Begitulah generasi ini memandang ilmu, yaitu belajar untuk beribadah dengannya dan mengamalkan konsekwensinya serta mendekatkan diri kepada Allah dengannya. Tidaklah cukup kalau ilmu hanya untuk menjadi perbendaharaan otak. Andaikata setiap orang mengamalkan apa yang diketahui maka tidak akan ditemui sedikit pun permasalahan di muka bumi ini.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 152-155
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































