Generasi tabi’in sangat memperhatikan sarana tarbiyah ini. Bisyr bin Harits berkata pada dirinya, “Sungguh, engkau hanya enak-enakan, mendengarkan hadits lalu mendiktekannya. Sebenarnya, yang diinginkan oleh ilmu adalah amalan. Maka dengarkan, pelajari lalu amalkan dan lari dari dunia. Tidakkah engkau melihat kepada Sufyan Ats-Tsauri bagaimana beliau memburu amalan beliau mengetahui lalu mengamalkan,mengajarkan dan lari dari dunia! Mencari ilmu itu sesungguhnya menunjukkan atas lari dari dunia bukan mencintainya.”
Generasi-generasi ini terus waris mewariskan sarana tarbiyah ini. Satu generasi mewariskan kepada generasi yang lain. Abu Abdillah As-Sulami mengatakan, “Sesungguhnya kami mengambil Al-Qur’an ini dari kaum yang mengabarkan kepada kami bahwa mereka, apabila mempelajari sepuluh ayat, mereka tidak pindah kepada sepuluh yang lain hingga mereka mengamalkan sepuluh ayat tersebut. Dahulu kami mempelajari Al-Qur’an dan belajar mengamalkannya, dan akan datang suatu generasi setelah kami yang mewarisi AI-Qur’an dengan meneguknya seperti meneguk air tapi tidak sampai kerongkongan mereka, bahkan tidak sampai sini dan beliau meletakkan tangannya di tenggorokan bagian atas. “
Lebih dari itu, mereka menganggap bahwa lalai dari mengamalkan ilmu adalah musibah yang patut diratapi. Ruwaim bin Ahmad mengatakan, “Apabila Allah memberimu anugerah kepandaian berbicara dan beramal, lalu Dia mencabut kepandaian berbicara itu darimu dan tetap memberimu rezeki amalan maka jangan risau karena itu adalah suatu kenikmatan. Tetapi, apabila Dia mengambil rezeki amalan dan tetap memberimu kepandaian berbicara maka ratapilah dirimu karena itu adalah musibah. Dan, apabila Dia mengambil darimu kepandaian berbicara dan beramal maka ketahuilah bahwa itu adalah hukuman.”
Manhaj para tabi’in dalam tarbiyah ‘mengamalkan ilmu’ adalah tidak boleh menyebarkan dan mengajarkan ilmu kecuali setelah mengamalkannya. Tidak cukup bagi mereka hanya mengamalkan apa yang mereka pelajari, tetapi wajib bagi mereka menyebarkan ilmu ini dengan mengajarkannya kepada orang lain, dan menyebarkan amalan dengan memberikan teladan, berada di barisan terdepan untuk mempraktikkan ilmu ini. Sufyan At-Isauri mengatakan, “Pelajarilah ilmu(agama) ini. Apabila kalian telah mempelajarinya maka hafalkan. Apabila kalian telah menghafalnya maka amalkan. Apabila kalian telah mengamalkannya maka sebarkan.”
Bilal bin Sa’ad berkata, “Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berkata dia tidak membiarkannya begitu saja sehingga dia melihat kepada amalannya. Apabila amalannya sesuai dengan perkataannya maka dia tidak membiarkannya hingga melihat kepada sifat wara’nya. Apabila telah sesuai dengan perkataan dan amalannya maka dia tidak membiarkannya hingga melihat kepada apa yang dia niatkan. Apabila niatnya telah selamat maka selamat pula semua hal tersebut. Sesungguhnya orang mukmin itu mengatakan perkataan yang sesuai dengan amalannya, sedangkan orang munafik berkata dengan apa yang dia ketahui dan beramal dengan yang dia ingkari.”
Lebih tegas mereka menggambarkan betapa tidak bermanfaatnya ilmu tanpa amalan sampai tingkatan yang sebagaimana dikatakan Yahya bin Jabir At-Tha’i, “Aun bin Abdillah mendatangi kami, dia masuk masjid lalu memberikan ceramah yang tidak pernah kita dengar semisalnya, kemudian berkata, Apakah di antara kalian ada yang sakit sehingga kita bisa menjenguknya? Kami menjawab, Yazid bin Maisarah. Kemudian kami mengunjunginya dan kami mendapatinya sedang berbaring di atas kasur, lalu Aun memberikan ceramah yang menjadikan kita lupa dengan ceramah yang telah dia sampaikan di masjid, maka Yazid bin Maisarah duduk dan berkata, ‘Bagus, bagus, sungguh engkau telah menghamparkan lautan yang luas, lalu engkau keluarkan darinya sungai yang besar dan engkau munculkan pepohonan yang banyak. Apabila pohonmu berbuah maka engkau akan memakannya dan memberikannya kepada yang lain, namun apabila pohonmu tidak berbuah maka akan datang setelahnya kapak’. Lalu dia bertanya, ‘Apa setelahnya?” Aun berkata, ‘Kemudian ditebang’ Dia berkata, ‘Kemudian apa? Diletakkan di dalam api. la berkata, ‘Demikianlah keadaannya’.
Kelalaian dari mengamalkan ilmu yang dipelajari akan semakin menambah tuntutan atas dirimu dan engkau patut mendapatkan hukuman dari Allah atas kelalaianmu tersebut. Fudhail bin Iyadh berkata, “Diampunkan tujuh puluh dosa bagi orang yang bodoh sebelum diampunkan satu dosa bagi orang alim.” Ummu Darda berkata kepada seseorang, “Apakah engkau sudah mengamalkan apa yang telah engkau ketahui?” Dia menjawab, “Belum.” Maka beliau berkata, “Mengapa engkau memperbanyak tuntutan Allah atas dirimu?”
Malik bin Dinar berkata tentang orang yang belajar ilmu namun tidak mengamalkannya, “Perumpamaan hal tersebut adalah seperti orang yang mencari kayu bakar lalu mengikatnya, kemudian dia pergi untuk membawanya namun dia tidak mampu mengangkatnya, lalu dia terus menggabungkan yang lain dalam ikatan tersebut.”
Anggaplah bahwa ilmu tanpa amalan adalah salah satu tanda istidraj dan kebinasaan. Hamid Ad-Daqqaq berkata, “Apabila Allah menghendaki kebinasaan seseorang maka Dia menghukumnya dengan tiga hal, di antaranya: Dia memberinya rezeki ilmu namun tidak memberinya rezeki amalan para ulama.”
Bahkan mereka membandingkan antara amalan dan ilmu yang mereka dapat lalu mereka merasa sedih atas kelalaian mereka dalam beramal meskipun mereka sudah bersungguh-sungguh. Maimun bin Mihran berkata, “Tidaklah aku bandingkan perkataanku dengan amalanku kecuali aku dapati dalam diriku ada perasaan protes.”
Ibrahim At-Taimi berkata, “Tidaklah aku bandingkan perkataanku dengan amalanku kecuali aku khawatir dianggap termasuk orang yang mendustakannya.”
Oleh karena itu, mereka berwasiat kepada generasi setelah mereka dan sering mengulang-ulangnya bahwa ilmu tanpa amalan adalah tidak ada nilainya. Abdul Qadir Jailani berkata kepada anaknya, “Hati-hati engkau, jangan hanya datang dengan ilmu saja. Sebagaimana tidak bermanfaatnya tuduhan tanpa bukti maka begitu pula tidak bermanfaatnya ilmu tanpa amalan.”
Bagian dari manhaj pendidikan mereka adalah menitikberatkan kepada kualitas bukan kuantitas dari ilmuu atau dari amalan. Wahb bin Al-Wird berkata, “Janganlah keinginan salah seorang di antara kalian adalah banyaknya amalan. Hendaklah keinginannya adalah baik dan benamya amalan karena terkadang seorang hamba mengerjakan shalat namun dia bermaksiat dalam shalatnya, dan terkadang puasa namun bermaksiat dalam puasanya.”
Saudaraku, mulai sekarang mari kita mempraktekkan salah satu sarana tarbiyah yang sangat menjadi perhatian bagi para tabi’in. Dimana Manhaj para tabi’in ini dalam tarbiyah ‘mengamalkan ilmu’ mereka istiqamoh tidak boleh menyebarkan dan mengajarkan ilmu kecuali setelah mengamalkannya. Tidak cukup bagi mereka hanya mengamalkan apa yang mereka pelajari, tetapi wajib bagi mereka menyebarkan ilmu ini dengan mengajarkannya kepada orang lain, dan menyebarkan amalan dengan memberikan teladan, berada di barisan terdepan untuk mempraktikkan ilmu ini.
**********
Sumber: Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal, hal 155-159
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































