Kehidupan kita saat ini adalah kehidupan yang semu, dan semua kita akan meninggal dunia. Akan tetapi yang menjadi perhatian kita adalah bagaimanakah kehidupan kita yang sesungguhnya di kampung akhirat? Sudahkah kita mempersiapkan untuk kehidupan kita yang abadi di akhirat kelak?
Ingatlah bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah kesuksesan di akhirat, serta kerugian yang sesungguhnya adalah kerugian di akhirat pula. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.”Ingatlah! Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. AzZumar : 15)
Percuma seseorang sukses di dunia, punya rumah banyak, punya mobil banyak, punya pakaian yang mewah, punya pembantu yang banyak, akan tetapi tidak sukses di akhirat. Sesungguhnya seluruh perbendaharaan dunia tersebut akan ditinggalkan dan tidak akan ada yang dibawa masuk ke kuburan. Lihatlah ke kuburan-kuburan, terdapat banyak model orang di bawahnya, ada yang mantan pejabat, mantan pimpinan perusahaan, orang miskin, dan yang lainnya. Akan tetapi mereka semua sama saat ini, seluruh jabatan mereka tanggalkan, seluruh harta mereka tinggalkan, dan yang tersisa hanyalah mereka dan amal mereka. Oleh karenanya saya ingatkan bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah kesuksesan di akhirat. Jika sukses dunia dan akhirat bisa diraih, maka ini lebih bagus. Namun jika hanya salah satunya, maka sukseslah di akhirat, dan jangan sampai sukses di dunia namun merugi di akhirat.
Maka dari sini kita sadar tentang pentingnya pembahasan muhasabah. Para ulama menjelaskan bahwasanya muhasabah adalah langkah awal agar kita memperbaiki diri kita. Dan Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa meninggalkan muhasabah adalah di antara sebab seseorang mudah bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Orang yang hilang dari dirinya muhasabah, maka dia akan terus berjalan menjalani hari-hari tanpa kepedulian, hingga akhirnya mudah baginya terjerumus ke dalam kemaksiatan. Ibnul Qayyim mengatakan,
“Meninggalkan muhasabah dan enggan mengevaluasi (membiarkan perkara berjalan begitu saja), dan menggampangkan terhadap suatu urusan urusan, maka hal ini akan mengantarkan seseorang kepada kebinasaan. Dan inilah kondisi orang-orang yang terperdaya. Yang mneutup mata dari berbagai akibat, larut dalam keadaan, dan dia bersandar bahwa Allah maha mengampun, hingga akhirnya melalaikan untuk memuhasabah jiwanya dan tidak melihat kepada akibat. Bila demikian, maka mudah bagi dia untuk terjerumus dalam dosa-dosa, dan dia tentram (menyukai) akan hal itu dan sulit untuk melepaskan diri dari dosa tersebut. Seandainya dia sadar, maka dia tahu bahwasanya pencegahan lebih mudah daripada meninggalkan sesuatu yang disukai dan biasa dilakukan.” (Ighatsatu Al-Lahfan 1/82-83)
Ibnul Qayyim mengatakan bahwa orang yang cuek, tidak peduli dengan hari akhirat, menggampang segala urusan, maka dia akan mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan. Akhirnya orang yang terbiasa dengan maksiat tersebut akan jarang bermuhasabah. Maka ketika dia jarang menghitung-hitung makasiat yang dia lakukan, maka dia akan merasa bahwa maksiat yang dia lakukan masih sedikit, sehingga akhirnya dia terus berjalan di atas kemaksiatan.
Oleh karenanya tatkala seseorang memuhasabah dirinya, maka mudah bagi dirinya untuk meninggalkan kemaksiatan. Sedangkan jika dia tidak pernah bermuhasabah dan terjerumus dalam maksiat maka akan susah baginya untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut.
Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah juga menyebutkan beberapa perkataan salaf tentang muhasabah. Di antaranya adalah perkataan Imam Ahmad dari Wahab rahimahullah. Beliau berkata,
“Telah tertulis dalam hikmah-hikmah keluarga Daud, bahwa wajib bagi seorang yang berakal agar tidak terlalaikan dengan empat waktu. Yaitu waktu dimana dia bermujat dengan Rabbnya, dan waktu dia menghisab jiwanya, dan waktu yang dia bersama dengan teman-temannya yang memberitahukan tentang kesalahan-kesalahannya dan jujur atas dirinya, dan waktu dia berdua antara dirinya dan kesenangan yang halal dan yang terpuji.” (Muhasabah An-Nafs – Ibnu Abi ad-Dunya 1/30)
Waktu bermunajat dengan Rabbnya
Hendaknya seseorang memiliki waktu untuk bermunajat dengan Rabbnya. Dia meninggalkan segala perkara dunia, meninggalkan istri dan anak-anaknya, dan memiliih satu waktu dimana dia bermunajat kepada Rabbnya seperti dalam shalat-shalat sunnah, pada waktu sepertiga malam terakhir, dan waktu-waktu yang lainnya yang bisa dia sisihkan untuk bermunajat kepada Rabbnya.
Waktu bermuhasabah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa seorang mukmin harus menysihkan waktu dalam satu hari untuk dia menghisab dirinya. Karena hal itu akan memberikan pengaruh kepada dirinya. Oleh karenanya saya mengingatkan bahwa tidak perlu seseorang menyisihkan waktu satu jam yang akhirnya memotong waktu kerja Anda, akan tetapi saya meminta agar Anda menyisihkan waktu 3-5 menit pada waktu yang tepat seperti di sore hari, sebelum tidur, atau sepertiga malam terkahir (menjelang subuh), untuk bermuhasabah dan memikirkan dosa-dosa apa-apa yang telah dilakukan. Ketahuilah bahwa ini adalah sunnah yang sudah banyak ditinggalkan oleh orang-orang, padahal ini adalah wasiat para salaf untuk menghisab diri kita.
Waktu berkumpul dengan teman-teman
Tentunya yang dimaksud di sini adalah berkumpul dengan teman-teman yang baik. Teman-teman yang jujur dan mau mengur diri kita takala kita melakukan kesalahan. Bukan teman-teman yang hanya berbicara tentang hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak pernah mengingatkan kita akan akhirat. Ketika seseorang telah merasa angkuh dan sombong sehingga tidak ada lagi temannya yang mau menegurnya, maka sungguh dia berada dalam kebinasaan. Akhirnya tatkala dia terjerumus ke dalam kemaksiatan, tidak ada yang mau menegurnya.
Waktu bersenang-senang dengan cara yang halal
Maka perlu untuk kita bermuhasabah karena itu bisa memberikan faidah bagi diri kita. Kita yang sebelumnya masih suka ghibah bisa jadi berhenti dengan muhasabah. Dan Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman tentang dosa ghibah,
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)
Maka cobalah tanya kepada diri kita, sudah berapa banyak orang yang kita ghibahi? Mungkin kita akan lupa karena kita tidak pernah muhasabah. Kalaupun ada sebagian yang kita ingat, maka pertanyaan selanjutnya adalah apa saja ghibah kita terhadap orang tersebut? Tentu mungkin kita lupa, tapi ingatlah bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak lupa. Dosa ghibah tersebut tidak akan hilang dari catatan amal kita. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,
“Pada hari itu mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah : 6)
Oleh karenanya jika kita tidak menghisab jiwa kita, maka kita akan terlepas untuk melakukan maksiat. Dan sebaliknya jika kita senantiasa menghisab diri kita, maka itu akan menjaga kita dari maksiat. Dan ingatlah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman tentang keadaan orang-orang di akhirat kelak,
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” (QS. Al-Isra’ : 14)
Para hari kiamat nanti catatan amal kita akan terbuka, dan Allah memerintahkan kita untuk membacanya. Allah memrintahkan kita untuk menghisab amalan kita sendiri.
Oleh karenanya menghisab diri ini perlu untuk kita kerjakan. Tidak perlu kita bermuhasabah dalam waktu yang lama, cukuplah dengan 5-10 menit. Diwaktu itu kita mengingat tentang apa-apa yang kita telah lakukan hari ini. Dengan menghisab diri, kita bisa memperbaiki diri kita. Jika kita salah, maka kita bisa segera beristighfar kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan kita berharap dengan istighfar tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita.
Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada pegawai-pegawainya. Umar menasihati mereka dengan berkata,
“Hisablah dirimu dalam kondisi lapang sebelum datang hari persidangan Allah yang berat. Barangisiaoa yang menghisab jiwanya dalam kondisi lapang sebelum datang hisab yang berat pada hari kiamat kelak, maka perkaranya akan kembali kepada perkara yang dia sukai, dan kesudahnhya adalah kebahagiaan. Dan barangsiapa kehidupannyamelalaikan dia dari hisab, maka dia akan berujung pada penyesalan dan kesedihan.” (Syu’abul Iman 13/166 no. 10117)
Sungguh tidak ada yang melarang diri kita untuk kerja dan bermuamalah dengan dunia, akan tetapi sisihkanlah waktu untuk menghisab diri kita sebelum datang yaumul hisab.
*************
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc. MA
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah








































































