MUJAHIDDAKWAH.COM, JAKARTA — Ormas Islam Wahdah Islamiyah menegaskan komitmennya untuk terus mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dan penyelesaian krisis kemanusiaan di Gaza melalui pendekatan kemanusiaan, persatuan umat, serta penguatan diplomasi Indonesia di kancah internasional.
Sikap ini ditegaskan dalam Tabligh Akbar Palestina bertajuk “Gaza Terkini: Fakta, Iman, dan Solidaritas” yang diselenggarakan oleh Komite Solidaritas Palestina (Kita Palestina) bekerja sama dengan Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) pada Rabu (23/09/2026).
Kegiatan yang disiarkan secara daring melalui Zoom Meeting dan Live Streaming Wahdah TV tersebut menghadirkan pimpinan Wahdah Islamiyah, pengamat geopolitik, serta ulama dari Palestina guna meninjau perkembangan situasi Gaza sekaligus merumuskan langkah strategis solidaritas umat.
Dalam tausiyah kepemimpinannya, Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah, Ust. Dr. K.H. Muh. Zaitun Rasmin, Lc., M.A., menyampaikan bahwa dukungan terhadap Palestina merupakan amanah konstitusi sekaligus panggilan iman bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak pernah surut. Landasan iman dan spirit persatuan umat menjadi motor penggerak utama agar kita konsisten memperjuangkan keadilan, menyalurkan bantuan, serta mengawal diplomasi damai hingga Palestina meraih kemerdekaannya,” tegas Ustaz Zaitun Rasmin.
Senada dengan hal tersebut, Pengamat Timur Tengah dan Ph.D (Cand.), Ust. H. Pizaro Gozali Idrus, menilai peran Ormas Islam seperti Wahdah Islamiyah sangat krusial sebagai pilar second-track diplomacy (diplomasi jalur kedua) yang memperkuat posisi politik luar negeri Republik Indonesia yang bebas dan aktif.
“Di tengah tekanan konstelasi global, Pemerintah Indonesia perlu terus konsisten menjalankan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat peran mediasi di PBB maupun OKI. Sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan seperti Wahdah Islamiyah menjadi kekuatan diplomasi yang sangat diperhitungkan dunia internasional,” jelas Pizaro Gozali Idrus.
Hubungan antara Indonesia dan Palestina bukan sekadar hubungan diplomatik biasa antar dua bangsa. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan melawan penjajahan, dari rasa senasib sebagai bangsa yang pernah diinjak kekuatan imperialis, dan dari keyakinan moral bahwa kemerdekaan adalah hak setiap manusia.
Tahun 1944 menjadi salah satu titik penting yang jarang dibicarakan dalam sejarah Indonesia. Pada masa itu, Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang. Janji kemerdekaan belum pasti, dan dunia internasional masih memandang Nusantara sebagai wilayah kolonial.
Tokoh Palestina Syekh Muhammad Amin al-Husseini, Mufti Besar Palestina sekaligus Presiden Kongres Muslim Dunia, menjadi salah satu figur internasional pertama yang secara terbuka mendukung kemerdekaan Indonesia. Pada 6 September 1944, melalui siaran Radio Berlin, ia menyerukan pengakuan terhadap hak bangsa Indonesia untuk merdeka.
Laporan: Media KITA Palestina















































































