Bersikap Pemurah dan Dermawan
Wanita lain yang kedermawanannya telah dicatat sejarah adalah Sakinah binti Husain. Dia adalah wanita yang sangat pemurah dan suka menginfakkan harta yang dimilikinya. Apabila dia tidak mendapatkan harta yang dapat dintakkannya, maka dia akan melepaskan perhiasannya dan memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan juga orang- orang miskin.
Demikian juga halnya dengan Atikah binti Yazid bin Mu’awiyah, yang memberikan seluruh hartanya kepada keluarga Abu Sufyan yang miskin.
Wanita yang lainnya adalah Ummul-Banin, saudara Umar bin Abdul-Aziz. Dia ini telah menjadi simbol kemuliaan dan kedermawanan, dia mengatakan, “Setiap kaum memiliki keinginan dan kesenangan pada sesuatu, dan kesenanganku adalah memberi (bersedekah).” Setiap hari Jum’at, dia memerdekakan seorang hamba sahaya dan menaikkannya di atas kuda di jalan Allah , seraya mengatakan, “Aku sama sekali tidak menyenangi sifat kikir. Seandainya ia itu baju, maka tidak akan pernah aku kenakan. Dan seandainya ia jalan, niscaya aku tidak akan pernah melaluinya.”
Begitu juga Zubaidah, istri khalifah Harun Ar-Rasyid, yang menggali sungai bagi penduduk Makkah dan menyambungkannya dengan mata air dan pelataran tadah hujan, yang dinamakan “Ain Zubaidah” (Mata air Zubaidah) yang menjadi salah satu dari keajaiban dunia pada saat itu. Pada saat para pekerjaanya meminta biaya yang banyak buat proyek ini, dia mengucapkan kata-katanya yang abadi, “Bekerjalah meskipun satu tebasan golokmu dibayar satu dinar.”
Seandainya kita paparkan semua lembaran-lembaran sejarah kedermawanan dan sifat pemurah para wanita Muslimah, niscaya buku ini tidak akan pernah cukup mencatatnya. Cukuplah bagi kita mengetahui bahwa beberapa contoh dari Ummul-Mukminin di atas tidak akan pernah lenyap dari kehidupan masyarakat Islam sejak fajar Islam sampai sekarang ini. Bahkan setiap saat dan tempat di dunia ini selalu ada dan muncul ke permukaan. Mereka ini telah membuktikan kebaikan dan kedermawanan dengan memberikan banyak intak dan sumbangan yang sangat besar, baik untuk pembangunan madrasah, masjid, rumah sakit dan lain sebagainya.
Dengan kebaikannya itu mencari tempat-tempat yang membutuhkan bantuan, hingga akhirnya mereka mendirikan proyek-proyek yang bermanfaat bagi kaum Muslimin dan Muslimat, serta memberikan bantuan kepada mereka yang sedang dalam kesulitan dan orang-orang miskin serta anak anak yatim. Selain mereka juga memudahkan kesusahan yang dialami oleh orang-orang yang dirundung susah dan memberikan pakaian kepada mereka yang hidup dalam kekurangan.
Wanita Muslimah yang menyadari petunjuk agamanya tidak akan pernah meremehkan sedekah meskipun hanya sedikit, tetapi justru dia akan memberikan infak sesuai dengan kemampuannya. Dia yakin akan mendapatkan pahala dari Allah se meskipun pemberiannya itu sedikit, dengan berpegang teguh pada petunjuk Allah melalui firman-Nya,
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kamampuannya. ” (Al-Baqarah: 286)
Seraya mengamalkan petunjuk Rasulullah yang mengajarkan,
“Takutlah kepada neraka meski hanya dengan (bersedekah) sebutir kurma, “(HR. Muslim)
Juga sabdanya,
“Wahai Aisyah, pagarilah dirimu dari api neraka meskipun hanya dengan bersedekah sebutir kurma, karena hal itu dapat membendung jarak antara orang yang lapar dengan orang yang kenyang. “(HR. Ahmad)
Wanita Muslimah juga diperbolehkan untuk bersedekah dari makanan yang terdapat di rumahnya atau dari harta suaminya, manakala suaminya memberikan izin kepadanya. Dengan demikian itu dia akan mendapatkan pahala dari apa yang diinfakkan, demikian halnya dengan suaminya, juga akan mendapatkan pahala atas jerih payahnya mencari harta tersebut, dan penjaga harta itu juga akan mendapatkan pahala, seperti yang dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan perawi lainnya, di antaranya adalah,
“Apabila seorang wanita berinfak dari makanan di rumahnya-dalam riwayat Muslim disebutkan, rumah suaminya- tanpa merusaknya (menghabiskannya), maka dia akan mendapatkan pahala atas apa yang diinfakkannya, dan suaminya juga mendapatkan pahala atas usahanya mencari rezeki itu, dan pegawainya juga mendapatkan hal yang sama, yang masing-masing tidak mengurangi pahala yang lain. “(HR.Bukhari)
Islam menginginkan kaum Muslimin dan Muslimat supaya menjadi unsur pembangunan dan kebaikan serta penopang di dalam masyarakat mereka. Di mana kebaikan mereka senantiasa mengaliri orang-orang lemah dan orang-orang miskin sesuai dengan kemampuan mereka. Islam telah menjadikan pada setiap kebaikan yang mereka lakukan sebagai sedekah, seperti yang telah ditetapkan Rasulullah dalam sebuah haditsnya,
“Setiap orang Muslim itu wajib bersedekah.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki sesuatu untuk bersedekah?” Beliau menjawab, “Dia bekerja dengan kedua tangannya untuk memberikan manfaat bagi dirinya lalu bersedekah.” “Kemudian bagaimanajika hal itu juga tidak dapat dilakukannya ? tanya para sahabat tersebut. Rasulullah menjawab, “Maka hendaklah dia membantu orang yang membutuhkan bantuan.” Para sahabat bertanya lagi, “Lalu bagaimana bila hal itujuga tidak dapat dilakukannya ?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia beramar ma’ruf (menyuruh berbuat kebaikan) dan menahan diri berbuat kejahatan, sesungguhnya yang demikian itu baginya adalah sedekah.” (HR. Bukhari)
Islam telah membuka semua pintu untuk berbuat kebaikan, baik bagi orang laki-laki maupun perempuan, kaya atau miskin. Islam telah mewajibkan bagi setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat untuk berbuat kebaikan dan menyebutnya sebagai kebaikan, supaya dengan demikian itu orang-orang miskin yang tidak memiliki apa- apa tidak merasa bahwa dirinya tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial karena kemiskinannya. Oleh karena itu, Islam telah membukakan pintu bagi mereka untuk ikut andil dalam kegiatan sosial tersebut. Islam telah menjadikan setiap kebaikan sebagai sedekah yang pelakunya akan mendapatkan pahala, sebagaimana orang kaya akan diberikan pahala atas apa yang diinfakkannya dan disumbangkannya,
“Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari)
Dengan demikian itu Islam telah merealisasikan partisipasi setiap anggota masyarakat untuk berbuat kebaikan, membangun, menumbuhkan, mengembangkan dan memperbaiki masyarakat. Islam telah memberikan ketenangan, ketenteraman, kegembiraan dan kebahagiaan ke dalam had mereka secara keseluruhan dengan keikutsertaan tersebutyang menjadikan manusia merasakan kemanusiaan, menjaga kehormatannya serta menempatkannya di hadapan tanggung jawab dalam kehidupan ini, dan merealisasikan kedudukannya di muka bumi ini.
Wanita Muslimah yang pemurah lagi dermawan akan mengutamakanpemberiannya bagi orang-orang miskin dan orang-orang yang tidak punya yang tidak meminta-minta, yang karena pemeliharaan diri untuk tidak meminta-minta itu orang menyangka mereka sebagai orang kaya. Dia mengutamakan mereka ini semampu mungkin, karena mereka inilah yang paling berhak menerima pemberian dan sedekah serta paling berhak mendapatkan pemeliharaan. Mereka inilah yang mendapat perhatian khusus dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui sabdanya,
“Orang miskin itu bukanlah merekayang meminta-minta sebutir dua butir kurma, tidak juga sesuap dua snap nasi, tetapi orang miskin adalah mereka yang memelihara diri dari meminta-minta.” (Muttafaq Alaih)
Sedangkan dalam buku Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebut- kan,
“Orang miskin itu bukanlah orang yang berkeliling mendatangi orang-orang dan meminta sesuap dua suap nasi, sebutir dua butir kurma, tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang dapat memenuhi kebutuhannya dan dia tidak dikenal, dan diberikan
sedekah kepadanya dan tidak pergi meminta-minta kepada orang.”
Wanita Muslimah yang benar-benar sadar mengutamakan pemberiannya bagi anak-anak yatim sesuai dengan kemampuannya. Lebih dari itu, mungkin akan menanggung biaya hidupnya jika dia hidup dengan harta melimpah ruah dan dalam kemudahan, di mana dia akan mendidiknya dan memberikan nafkah kepadanya serta memperhatikan kondisi mereka, dengan nafkahnya yang sangat beharga itu dia mengharapkan balasan dari Allah yang telah menjanjikan kedudukan yang tinggi dan tempat yang tehormat bagi orang yang menanggung kehidupan anak yatim, yaitu Allah akan menempatkannya berada di sisi Rasulullah di surga kelak, seperti
yang dijelaskan oleh Rasulullah sendiri melalui sabdanya,
Aku dan orang yang menanggung kehidupan anak yatim berada di surga seperti ini. Beliau mengisyaratkan telunjukdanjari tengahnya rosembari merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari)
Sebagaimana wanita Muslimah yang bertakwa juga akan mengutamakan pemberiannya bagi para janda dan orang-orang miskin, yang petunjuk agamanya telah memerintahkannya untuk berbuat baik kepadaa kedua kelompok masyarakat tersebut, dengan menjanjikan akan memberikan pahala yang besar bagi orang yang berbuat baik kepada keduanya, yang hampir setara. dengan pahala orang puasa yang senantiasa bangun malam atau orang yang berjihad di jalan Allah, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya,
“Orang yang berusaha membantu seorangjanda dan orang miskin itu seperti orangyang berjihad dijalan Allah. “Dan, aku (perawi hadits ini) mengira beliau bersabda, “Seperti orang yang bangun malam (untuk shalat malam) dengan tidak merasa letih, dan seperti orangpuasa yang tidak pernah berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Yang demikian itu karena berbuat baik kepada wanita janda dan Juga orang miskin serta menanggung kehidupan anak yatim merupakan perbuatan yang paling mulia dan amal kemanusiaan yang paling tehormat yang sesuai dengan kepribadian wanita Muslimah, serta akan menambah kelembutan, kemanusiaan, kebersihan diri dan kemuliaan pada dirinya.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 337-341)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































