Wanita Muslimah dengan tugas dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, adalah pembawa risalah dalam kehidupan. Oleh karena itu dia harus memiliki sifat sosial, dinamis dan dapat memberikan pengaruh, selama keadaan hidup dan keluarganya mengizinkan untuk itu, mau bergaul dengan wanita-wanita yang lain sesuai dengan kemampuannya serta mempergauli mereka dengan akhlak luhur yang diajarkan Islam yang menjadikannya berbeda dari wanita-wanita yang lain.
Di mana saja berada, dia selalu menjadi lentera yang menyinari, pelita hidayah, sumber bimbingan, dan menjadi aktivis yang senantiasa nembangun, melakukan perbaikan dan penyadaran terhadap semua orang, baik melalui ucapan maupun perkataan.
Yang demikian itu karena wanita Muslimah yang mendapatkan pancaran sinar petunjuk Al-Qur’an Al-Karim dan yang mendapat bimbingan Sunnah Nabawi yang suci, merupakan sampel petama kepribadian sosial yang tinggi yang memiliki kemampuan untuk melakukan kewajiban dakwahnya di kalangan masyarakat kaum wanita, dengan mata, otak dan hati terbuka bagi hidayah agama yang agung ini yang sejak awal sejarah kehidupan wanita di dunia ini telah mengangkat kaum wanita, dan membekalinya dengan segudang akhlak mulia, yang telah dijelaskan oleh nash nash agama ini baik dari Al-Qur an maupun Al-Hadits. Selain itu, islam telah menjadikan berakhlak dengan akhlak tersebut sebagai kewajiban agama, yang karenanya seseorang akan mendapatkan pahala dan akan dihisab karena meninggalkannya. Sehingga nash-nash ini mampu menjadikan kepribadian wanita yang jujur kepada Rabb-nya sebagai sampel satu-satunya bagi wanita yang memiliki sifat sosial yang tinggi, terdidik, bertakwa, suci, baik dan menjaga diri.
Wanita Muslimah yang benar-benar memahami hukum-hukura agamanya akan tampak di setiap masyarakat kaum wanita, berperangaikan nilai-nilai agamanya yang haq dan sifat-sifatnya yang baik dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, serta menjadikan sifat-sifat di atas sebagai perhiasan. Tegaknya kepribadian sosial wanita Muslimah ini yang berbeda dari kepribadian wanita lainnya merupakan proyeksi dari nilai-nilai lslam tersebut dalam tingkah laku sosialnya dan pergaulannya dengan orang lain. Dari sumber yang besar inilah wanita Muslimah mengairi tradisi, kebiasaan, tingkah laku dan pergaulannya. Dan, dari sumber yang jernih lagi tawar ini pula wanita Muslimah menyirami dirinya guna membersihkan jiwanya dan membentuk kepribadian sosialnya.
Berakhlak Mulia
Wanita Muslimah yang benar-benar bertakwa memiliki akhlak mulia, pandai bergaul, suka menolong, lemah lembut dalam bertutur kata, bisa menempatkan diri dalam pergaulan, mencintai dan dicintai. Dalam semuanya itu dia mengikuti akhlak Rasulullah yang oleh pembantunya, Anas bin Malik diberikan kesaksian bahwa beliau adalah “Orang yang paling baik akhlaknya.” (Muttafaq Alaih).
Yang demikian itu karena dari akhlak Rasulullah melihat sesuatu yang tidak pernah dilihatnya pada akhlak orang lain dan tidak pernah dibayangkan keberadaannya pada orang lain pula. Mari kita simak, Anas menceritakan satu sisi dari akhlak Rasulullah ,
“Aku pernah menjadi pelayan Rasulullah selama sepuluh tahun, selama itu pula beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, Ah. Dan, tidak juga menegur apa yang saya kerjakan dengan ucapan, Mengapa kamu mengerjakan ini? Atau sesuatu yang tidak aku kerjakan dengan ucapan, Mengapa kamu tidak mengerjakan ini?” (Muttafaq Alaih)
Rasulullah benar-benar berperangai dengan akhlak yang agung. seperti yang disifatkan oleh Rabb-nya melalui firman-Nya,
“Dan, sesungguhnya kamu benar-benar ada pada akhlak yang agung. (AI-Qalam: 4)
Beliau senantiasa memperdengarkan nasihatnya kepada para sahabatnya mengenai pengaruh dari akhlak mulia ini dalam membentuk kepribadian manusia Muslim, dan dalam mengangkat derajatnya di sisi Allah serta ketinggian kedudukannya di tengah-tengah umat manusia. Di antara nasihatnya tersebut adalah,
“Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. ” (Muttafaq Alaih)
Demikian juga sabdanya,
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat tempat duduknya dariku di antara kalian pada hari Kiamat kelak adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan, Sesungguhnya orang yang paling aku bend darn yang paling jauh tempat duduknya dariku pada hari Kiamat kelak adalah At-Isartsarun (orang yang banyak bicara tanpa membawa manfaat), Al-Mutasyaddiqun (orang yang banyak bicara tanpa teliti dan memahaminya) sertaAl-Mutafaihiqun? Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui Tsartsarun dan Al-Mutasyaddiqun, lalu apa yang dimaksud dengan Al-Mutafaihiqun ? Beliau menjawab, Yaitu orang-orang yang Sombong’. “(HR. Tirmidzi)
Para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, baik laki-laki maupurn perempuan mendengarkan bimbingan Nabawi tentang akhlak mulia. Dengan mata sendiri, mereka menyaksikan sosok hidup akhlak mulia pada kepribadian Rasulullah, lalu akhlak mulia itu pun mengkristal pada diri mereka sehingga menjadi salah satu kelebihan mereka. Dari sini muncul generasi berakhlak di masayrakat teladan pada kurun yang paling baik.
Anas bin Malik Radhiallahu Anhu berkata, “Nabi adalah seorang yang sangat penyayang. Tidak seorang pun datang kepadanya melainkan diberi nasihat dan beliau memberinya sesuatu tersebut jika sesuatu itu ada pada dirinya. Ketika didirikan shalat, datanglah seorang Badui dan menarik kainnya seraya berucap, ‘Aku punya sedikit keperluan, dan aku khawatir akan melupakannya.’ Lalu beliaupun berangkat bersamanya hingga keperluannya itu terpenuhi. Kemudian beliau kembali dan mengerjakan shalat.”(HR. Bukhari)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak merasa keberatan untuk mendengarkan permohonan orang Arab Badui tersebut, dan memenuhi keperluannya, padahal saat itu iqamah sudah dikumandangkan. Beliau tidak merasa jengkel terhadap apa yang dilakukan oleh orang Badui yang menarik kainnya tersebut dan yang memaksa beliau untuk memenuhi keperluannya itu sebelum shalat dilaksanakan, karena beliau ingin membangun masyarakat berakhlak mulia dan mengajarkan kepada kaum Muslimin melalui perbuatannya itu bagaimana seharusnya seorang Muslim memperlakukan orang lain, serta menetapkan bagi mereka dasar akhlak yang harus dijunjung tinggi oleh masyarakat kaum Muslimin.
Apabila akhlak mulia itu menurut orang-orang non-Muslim bermuara pada baiknya pendidikan dan sehatnya pertumbuhan serta majunya pengajaran, maka menurut kaum Muslimin bermuara pada petunjuk agama yang menjadikan akhlak sebagai perangai yang mendasar dalam diri seorang Muslim, dan mengangkat timbangan kebaikannya di akhirat kelak, karena tidak ada amal yang lebih berat dalam timbangan orang Mukmin pada hari Kiamat kelak selain akhlak mulia, seperti yang diterangkan Rasulullah melalui sabdanya,
“Tidak ada sesuatu apapun yang lebih berat dalam timbangan orang Mukmin pada hari Kiamat selain akhlak mulia. Dan sesungguhnya Allah membenci orang buruk dan hina akhlaknya. “(HR. Tirmidzi)
Bahkan Islam menjadikan akhlak mulia sebagai unsur penyempurna iman. karena Islam telah mengkategorikan orang yang paling baik akhlaknya sebagai orang yang paling baik imannya. Hal itu dapat dilihat dalam sabda Rasulullah berikut ini,
“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. “(HR. Tirmidzi)
Selain itu, Islam juga menjadikan orang yang paling baik akhlaknya sebagai orang yang paling dicintai oleh Allah, hal itu telah dipertegas oleh hadits dari Usamah bin Syuraik, yang menceritakan
“Kami pernah duduk di samping Nabi , seakan-akan di atas kepala kami ada burung, tidak seorang pun dari kami yang berbicara, tiba-tiba datang sekumpulan orang dan bertanya, Siapakah hamba yang paling dicintai Allah Ta ‘ala?” Beliau pun menjawab, ‘Orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka’. ” (HR Thabarani)
Saudariku, tidak mengherankan bila orang yang paling baik akhlaknya disebut sebagai orang yang paling dicintai Allah Subhanahu Wata’ala, hal itu disebabkan karena akhlak mulia dalam syari’at Islam merupakan suatu yang sangat agung, sesuatu yang paling berat yang diletakkan dalam timbangan seorang hamba pada hari Kiamat kelak, seperti yang kita lihat pada hadits di atas. Dan sebaik-baik sosok manusia yang bisa kita jadikan contoh dalam berakhlak mulia ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Semoga kita senantiasa bisa mencontoh beliau dalam kehidupan sehari-hari. Allahumma Aamiin..
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h.273-277)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)










































































