Berbuat Baik kepada Tetangga Non-Muslim
Wilayah berbuat baik kepada tetangga itu sangat luas bagi seorang wanita Muslimah, tidak hanya pada kerabat dekat atau karena adanya ikatan agama, tetapi meluas sampai kepada tetangga non- Muslim, seiring dengan petunjuk, toleransi, dan pesan Islam kepada seluruh umat manusia dengan perbedaan agamanya masing-masing selama mereka tidak menyakiti atau memusuhi kaum Muslimin.
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak pula mengusir kalian dan negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)
Bertolak dan logika kemanusiaan yang luas ini, seorang sahabat, Abdullah bin Amru, apabila disembelihkan baginya seekor kambing, dia bertanya kepada pelayannya, “Apakah engkau sudah menghantarka pemberian kepada tetangga Yahudi kita? Karena pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
“Jibril senantiasa berpesan kepadaku tentang (hidup) bertetangga, sehingga aku menyangka dia akan mewarisinya.” (Muttafaq Alaih)
Begitu luas rahmat Islam bagi manusia! Dan begitu Islam sayang memelihara orang-orang yang berada di pelukan Islam dan di bawah naungannya. Sejarah telah mencatat bahwa Ahlul Kitab hidup bertetangga dengan kaum Muslimin di pelbagai belahan dunia Islam dalam keadaan aman dan tenteram baik harta, jiwa, kehormatan dan keyakinannya. Kaum Muslimin telah berbuat baik kepada tetangganya, menghormati mereka, menjamin kebebasan keyakinan mereka, dan membiarkan rumah ibadah mereka tetap berdiri tegak sejak lama di negeri-negeri Muslim, sedang di sekelilingnya ribuan kaum Muslimin memperlakukan tetangganya dan kalangan Ahlul Kitab dengan baik, juga sangat perhatian, memberikan perlindungan, berbuat baik dan adil kepada mereka.
Mendahulukan Tetangganya Terdekat dalam Berbuat Baik
Tidak pernah hilang dari ingatan wanita Muslimah yang benar-benar sadar dan mendapatkan hidayah agamanya aturan yang telah ditetapkan Islam dalam hal berbuat baik kepada tetangga, di manalslam telah berpesan untuk mendahulukan berbuat baik kepada tetangganya terdekat sebagai usaha mempertahankan kekuatan hubungan antara dua tetangga yang berdampingan, dan menjaga kemungkinan timbulnya kesalahpahaman, dalam rangka mewujudkan kasih sayang, kecintaan dan kelembutan.
Dan Aisyah Radhiallahu Anhu, dia menceritakan,
“Aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai dua tetangga, kepada tetangga mana aku harus memberikan hadiah? Beliau menjawab, Kepada yang paling dekat pintu rumahnya’. ” (HR. Bukhari)
Dengan pengaturan seperti itu tidak berarti wanita Muslimah larus memalingkan pandangannya dan perhatian berbuat baik kepada tetangganya yang jauh, karena semua rumah yang berada dl sekitar tempat tinggalnya adalah tetangganya, dan mempunyai hak hidup berumah tangga Pendahuluan tetangga terdekat itu hanya merupakan pengaturan semata, yang Rasulullah sangat memelihara perasaan tetangganya terdekat, karena biasanya tetangga dekat memiliki hubungan, mu’amalah dan kekeratan yang lebih kental.
Wanita Muslimah yang Jujur sebagai Tetangga Terbaik
Tidak diragukan lagi bahwa wanita Muslimah yang berpancarkan pada petunjuk agamanya merupakan tetangga terbaik di masyarakat. Yang demikian itu karena berbuat baik kepada tetangga merupakan akhlak lslam yang paling dasar dan mendalam dalam perasaan wanita Muslimah yang sejak kecil di didik akhlak islam yang cemerlang, yang menjadikan tetangga yang paling banyak berbuat baik kepada tetangganya sebagai tetangga paling baik di sisi Allah,
“Teman yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik kepada temannya, dan tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya. “(HR. Tirmidzi)
Petunjuk Nabi mempertegas bahwa tetangga yang baik merupakan salah satu sendi kebahagiaan manusia Muslim dalam kehidupan ini, karena dia menjamin kesejukan pandangan, ketenangan, kegembiraan, dan keamanan bagi tetangganya,
“Di antara kebahagiaan orang Muslim di dunia adalah tetangga yang baik, rumah yang luas dan kendaraan yang menyenangkan.”(HR. Imam Ahmad dan Al-Hakim)
Orang-orang shaleh terdahulu sangat menghargai nilai hidup bertetangga yang baik dan menganggapnya sebagai nikmat yang tidak dapat ditukar dengan materi, dan sebagai harta rampasan perang yang tidak dapat disetarakan dengan perhiasan kehidupan dunia. Hal itu telah diakui oleh catatan sejarah yang mengisahkan bahwa tetangga Sa’id bin Al-“‘Ash yang rumahnya ditawar dengan harga 100.000 dirham. Kemudian tetangga itu berucap kepada penawar itu, “Ini harga rumah, lalu berapa engkau akan membeli hidup bertetangga dengan Sa’ id?” Ketika mengetahui peristiwa itu, Sa’id mengiim harga yang sama dan menyuruh tetap menempati rumahnya tersebut.
Demikian itu lembaran putih tetangga yang baik, lalu bagaimana lembaran tetangga yang jahat?
Tetangga Jahat dan Lembaran Hitamnya
Banyak nash-nash shahih yang mempertegas bahwa lembaran tetangga jahat bewarna hitam pekat dan menyeramkan. Wanita Muslimah yang benar-benar bertakwa tidak mendekati dan sangat takut terhadap tempat kembali (neraka) tetangga jahat tersebut, dan perasaannya dihantui perasaan takut untuk berkumpul dengan mereka, membenci dan menjauhi mereka.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h.236-239)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































