Mencintai Tetangga Seperti Mencintai Dirinya Sendiri
Wanita Muslimah yang senantiasa membuka dirinya bagi hidayah Allah akan selalu berhati lembut, berjiwa pemurah, berperangai halus, dan sangat mencintai tetangganya serta memiliki kepekaan perasaan terhadap hal-hal yang dapat menyakiti mereka atau merusak kehormatan mereka atau dapat mencoreng nama baik mereka. Selain itu, dia juga mencintai kebaikan bagi mereka seperti mereka mencintai bagi dirinya sendiri, merasa bahagia atas kebahagiaan mereka, dan merasa sedih atas kesedihan yang mereka rasakan. Hal itu didasarkan pada pemahamannya terhadap sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berikut ini,
“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. (Muttafaq Alaih)
Sedangkan dalam riwayat Muslim dan Anas, dia menceritakan, Rasulullah pernah bersabda,
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya tidaklah seorang hamba beriman sehingga dia mencintai tetangganya (atau mengatakan) saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”
Tidak pernah lepas dari ingatan wanita Muslimah yang benar-benar sadar untuk senantiasa membantu tetangganya yang hidup kesulitan dengan memberikan sesuatu, hadiah atau hibbah. Atau setiapkali masakannya tercium oleh mereka sehingga mereka menginginkannya padahal mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membuat seperti masakannya itu, maka dia akan mengirimkan sebagian masakannya itu kepada mereka, sebagai usaha merealisasikan solidaritas sosial yang sangat ditekankan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam ucapannya kepada Abu Dzar
“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berikanlah kepada tetangga-tetanggamu. ” (HR. Muslim)
Dalam sebuah riwayat disebutkan,
“Apabila engkau memasak sayur, maka perbanyaklah airnya, kemudian perhatikanlah anggota keluarga tetanggamu, lalu berilan mereka dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)
Wanita Muslimah yang dilembutkan perasaannya oleh Islam tidak pernah tega membi1arkan tetangganya mengalami kesulitan, kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan senantiasa mengulurkan tangannya dengan Lebaikan, atau menghormati dan memberinya makan, khususnya jika dia berada dalam kemudahan dan banyak rezeki, menikmati nikmat yang diberikan Allah kepadanya, dan pada saat yang sama dia juga menikmati sabda Rasulullah ,
“Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang sedang tetangga di sampingnya menderita kelaparan, sedang dia mengetahui.”(HR. Thabarani dan Al-Bazaar)
Demikian juga sabdanya,
“Tidak termasuk Mukmin orang yang kenyang sedang tetangganya kelaparan. “(HR. Thabarani dan Abu Ya’la)
Berbuat Baik kepada Tetangganya Sesuai Kemampuan
Wanita Muslimah yang benar-benar menyadari petunjuk agamanya tidak penah melupakan diri untuk berbuat ma’ruf kepada tetangganya, bahkan semampu mungkin dia memberikan kebaikan meskipun hanya sedikit, dan tidak merasa malu, atau karena kesenangannya berbuat berlebihan atau berbangga-bangga tidak mau memberikan dalam jumlah yang sedikit, dengan alasan karena pemberian sedikit itu tidak laik baginya sehingga tidak jadi memberinya, dan akhirnya tidak dapat memberikan kebaikan bagi dirinya dan juga tetangganya hanya karena menunggu jumlah yang banyak, sedang dia tidak sanggup mencapai jumlah itu. Dan selanjutnya hilang kesempatan baginya untuk berbuat kebaikan. Inilah yang senantiasa diperingatkan Rasulullah , khususnya kepada kaum wanita, di mana beliau bersabda,
“Wahai sekalian wanita Muslimah, tidak diperbolehkan seorang tetangga mengabaikan tetangganya yang lain (tidak mau membantunya), meski hanya sedikit. “ (Muttafaq Alaih)
Sedang Allah Subhanahu Wata’ala juga befirman,
“Dan, barangsiapa berbuat kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Az-Zalzalah: 8)
Rasulullah juga bersabda, “Takutlah kepada api neraka meskipun dengan (bersedekah) sebutir kurma.” (HR. Bukhari)
Meskipun pengertiannya bersifat umum, namun hadits ini juga mencakup larangan bagi tetangga yang diberi untuk tidak menghina pemberian tersebut. Pada saat itu hadits itu berarti, Tidak diperbolehkan bagi seorang tetangga menghina kebaikan yang diberikan oleh tetangganua yang lain, meskipun kebaikan itu hanya sedikit. Tetapi sebaliknya, tetangaa itu harus mensyukurinya, karena dengan mensyukuri kebaikan akan terwujud kasih sayang di antara tetangga, di samping akan tumbuh pula kecintaan, kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan mereka, selain mensyukuri atas kebaikan itu sendiri merupakan akhlakpokok Islam, seperti yang ditegaskan Rasulullah sekaligus diperintahkannya,
“Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak bersyukur kepada manusia.
lslam menginginkan tersebarnya kecintaan, kasih sayang dan kelembutan antartetangga. Jalan mencapai semuanya itu sangat banyak dan beraneka ragam, misalnya adalah saling memberi hadiah. Oleh karena itu Rasulullah melarang, terutama kaum wanita untuk menghina hadiah pemberiannya atau hadiah pemberian tetangganya meskipun hanya sedikit. Yang demikian itu karena wanita memiliki sensitivitas yang cukup tinggi dalam masalah seperti ini, yang tidak jarang berpengaruh pada jiwa dan perasaannya terhadap tetangga, karena yang terpenting nilai kemanusiaan yang terkandung pada hadiah tersebut dan bukan pada nilai materil hadiah itu. Wanita Muslimah tidak boleh sama sekali melupakan nilai kemanusiaan ini, sehingga dia tidak akan meremehkan hadiah yang diberikan kepada tatangganya, atau yang diterima dari tetangganya, karena dalam pandangan Islam nilai itu tidak berada di depan materi.
**********
Penulis : Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
(Di Sadur Dari Buku Jati Diri Wanita Muslimah, h. 233-236)
Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)











































































