Sisihkan waktu berolahraga
Ketahuilah bahwa badan sehat akan sangat memengaruhi kebahagiaan. Kalau seseorang fsiknya sakit, ditambah dengan lemahnya iman, maka pasti dia akan susah untuk merasakan kebahagiaan. Kalau badan seseorang sehat, maka pasti banyak hal yang bisa dia lakukan dengan maksimal. Akan tetapi jika seseorang punya penyakit gula misalnya, maka pasti ketika mendengarkan kajian akan cepat mengantuk, ketika shalat malam pun tidak bisa lama. Berbeda dengan orang yang badannya sehat. Maka harus ada waktu yang kita sisihkan dari sela-sela kesibukan kita masing-masing untuk bisa berolahraga.
Sehatnya badan adalah hal yang akan mendatangkan kebahagiaan. Oleh karenanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
“Barangsiapa yang pagi hari aman di rumahnya, sehat badannya, dia memiliki makanan (untuk dimakan) hari itu, maka seakan-akan dunia telah didatangkan baginya.” (Adabul Mufrad no. 300)
Maka barangsiapa yang memiliki kondisi badan sehat, maka pekerjaan apapun itu baik belajar atau aktiftas lainnya akan lebih stabil. Apapun profesi seseorang, baik dia seorang direktur, Da’i, pegawai, dan lainnya, harus ada waktu berolahraga untuk membuat badan lebih sehat dan lebih segar.
Memiliki sifat Al-Khafii
Sifat Al-Khafii memiliki makna tidak ingin tampil atau tidak ingin dikenal orang banyak. Kata Nabi صلى الله عليه وسلم,
“Sesungguhnya Allah mencintain hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan menyendiri.” (HR. Muslim no. 2965)
Orang yang seperti ini adalah orang yang berusaha melakukan sesuatu tanpa harus tampil di depan banyak orang. Dan itu adalah hal yang lebih baik untuk dilakukan. Karena ketika seseorang memiliki sifat seperti itu, akhirnya banyak waktu yang dia bisa lakukan untuk hal-hal yang sifatnya privasi. Mungkin dia bisa punya waktu yang lebih bersama istrinya, anak-anaknya, orang tuanya, dan kerabatnya. Juga mungkin dengan seperti itu dia kana punya waktu lebih untuk membaca Alquran, belajar agama. Akan tetapi ketika seseorang sering tampil menjadi pusat perhatian banyak teman dan relasinya, akan membuat waktunya berkurang untuk sendiri, akhirnya dia tidak bahagia. Sebagaimana telah disebutkan bahwa terlalu banyak teman akan merepotkan seseorang.
Oleh karenanya sering saya bertanya, apakah enak jadi orang terkenal? Tentunya tidak enak. Ada asisten dari seorang yang terkenal mengatakan bahwa kalau si fulan (artis) pergi ke pusat perbelanjaan bersama istrinya, maka dia hanya punya waktu 10 menit bersama istrinya, setelah itu pasti orang-orang akan mendatanginya minta foto dan lainlainnya. Hal ini tentunya menyusahkan dirinya sendiri.
Orang yang terkenal akan selalu was-was ketika berada di tempat umum. Dia takut kalau dilihat oleh orang lain. Dahulu ketika Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berjalan dan diikuti oleh orang-orang, maka dia akan berhenti dan menanyakan keperluan orang tersebut. Jika ada keperluan dia penuhi, dan jika tidak ada maka dia akan menyuruh mereka pergi. Lihatlah Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang tidak senang kalau jalan kemudian diikuti banyak orang. Karena tatkala seseorang terkenal dan diikuti banyak orang, maka privasi kita akan terganggu.
Oleh karenanya Nabi صلى الله عليه وسلم melarang seseorang untukmelakukan sesuatu yang bisa mendatangkan ketenaran. Contohnya adalah pakaian, kendaraan. Rasulullah melarang seseorang mengenakan pakaian yang bisa mendatangkan perhatian banyak orang. Begitupun dengan kendaraan, jangan menggunakan sesuatu yang tampil beda. Karena ingin tampil beda atau ingin menjadi bahan perhatian adalah penyakit dan tidak dibenarkan dalam syariat. Kalau sekiranya seseorang memiliki mobil mewah dengan pintu atau bagian atap yang bisa terbuka otomatis, pasti akan mencuri perhatian orang banyak. Memang benar ada kelezatan tatkala kita bisa menjadi perhatian orang, akan tetapi dalam syariat tidak disukai. Menjadi perhatian banyak orang hanya akan mengurangi kebahagiaan
seseorang. Karena dengan seperti itu, seseorang akan mulai mencari pujian dari orang lain. Hati yang awalnya diniatkan karena Allah, kemudian mulai tersisihkan sebagiannya untuk manusia, kemudian juga seseorang akan mulai mencari komentar-komentar manusia.
Maka agar kita bisa menjadi lebih berbahagia, maka jadilah hamba yang Al-Khafii yaitu menjadi seseorang yang tidak suka dengan ketenaran. Dan hindarilah hal-hal yang bisa membuat kita tampil di depan banyak orang. Seseorang hanya akan menghabis-habiskan waktunya jika untuk pencitraan. Kalaupun akhirnya satu dunia memuji Anda, akan tetapi rendah di hadapan Allah, maka akan menjadi sia-sia. Adapun jika satu dunia menghina Anda, akan tetapi di hadapan Allah Anda hamba yang mulia, maka penghinaan mereka tidak akan memengaruhi Anda. Fokuskan hati kepada Allah, karena kebahagiaan berasal dari Allah. Jangan mengira bahwa menjadi orang yang terkenal bisa membuat bahagia. Betapa banyak orang yang berada di puncak-puncak ketenarannya yang akhirnya bunuh diri. Mereka berada di puncak ketenaran akan tetapi dia stres, hubungan dengan keluarganya tidak baik. Karena dia mencari ketenaran, Allah akhirnya mencabut kebahagiaan dari dirinya. Wahai saudaraku, apa enaknya hidup yang di luar rumah dihormati, akan tetapi di dalam rumah tidak dihargai? Namun sebaliknya jika di luar rumah kita tidak dihargai, akan tetapi di rumah dihargai, maka pasti Anda akan bahagia. Maka ketahuilah bahwa tatkala seseorang ingin menjadi terkenal, akan membuat dia mengabaikan urusan keluarganya. Akhirnya suatu kebahagiaan yang seharusnya menjadi modal dasar, hilang karena sibuk mencari ketenaran yang pada asalnya itu adalah kebahagiaan sekunder.
Penulis : Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc MA














































































