Seorang pelajar memilih malas dalam belajar. Hingga tiba suatu waktu dimana ada ujian dimana ia harus maju dan menjawab secara lisan di depan teman-temannya. Karena malas, jawabannya pun pasti, salah dan tidak ada yang benar. Pelajar itu pun malu dan sadar bahwa kemalasan telah menjatuhkan harkat dan martabat dirinya.
Begitulah kira-kira ilustrasi yang hadir dalam kehidupan umat manusia, termasuk hari ini dimana nyaris semua cemas dengan kehadiran Corona. Kecemasan yang membuat orang begitu protektif karena khawatir akan keselamtan jiwanya.
Tetapi, kalau mau dilihat ke belakang, semua ini terjadi boleh jadi karena kita sendiri yang “abai” dalam memahami kepemimpinan, sehingga soal pemilihan pemimpin, masih mengarah pada “serangan fajar” yang diterima. Bukan siapa kandidat, bagaimana kiprahnya, dan sejauh mana bisa dipercaya untuk memimpin.
Pada saat yang sama, pola hidup sehat, penegakan disiplin ibadah juga dibiarkan rendah. Sama sekali kita tidak takut kalau meninggalkan sholat, padahal resikonya jelas pada kehidupan akhirat. Kini orang takut Corona melebihi takut akan adzab Neraka.
Alih-alih bertaubat, sebagian masih ribut di media dan media sosial, mencari panggung politik dan berharap cara “branding” selama ini masih laku di mata publik. Itulah keadaan hari ini, semua sibuk dan ribut, dan tidak ada solusi yang ditemukan. Konyolnya masih ada juga arus yang berjalan kuat atas nama investasi.
Tetapi, kembali pada diri sendiri, seperti ilustrasi seorang pelajar di atas, kita tidak bisa hanya sedih, meratap, dan hanya menanggung rasa malu. Harus ada kesadaran dalam diri untuk berubah dan berbenah.
Segera melakukan agenda perbaikan diri. Mulailah dengan disiplin mendirikan sholat, membaca Alquran, dan membaca hadits-hadits Nabi, karena ternyata masalah sekarang ini zaman Nabi juga sudah pernah terjadi dan ada cara mengatasinya.
Lebih jauh, saatnya kembali semangat mendalami dan mengamalkan Islam, yang mungkin selama ini sebatas diyakini tapi belum diilmui sehingga tidak dijadikan jati diri apalagi diamalkan setiap hari. Berapa kali sholat lima waktu setiap hari yang ditegakkan? Berapa sering diri membantu sesama? Berapa suka hati kita mendoakan sesama?
Seberapa lembut lisan kita kepada teman dan saudara. Jangan-jangan tajam melukai hati dan perasaannya seperti pisau yang memotong rambut. Ubah semua itu dengan apa yang seharusnya kita lakukan menurut Allah dan Rasul-Nya.
Beruntung kita tidak hidup di zaman Nabi Musa alayhissalam, yang kala melakukan kesalahan sangat fatal harus taubat dengan cara membunuh diri sendiri.
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahan), karena itu bertaubatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima taubatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima taubaht, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 54).
Jadi, solusi dari menghadapi situasi sulit ini adalah kita harus sadar, mengakui kesalahan-kesalahan selama ini, baik secara individu maupun kolektif, memperbanyak taubat dan berbuat kebaikan.
Jujur jangan lagi dusta. Lurus jangan lagi bengkok. Tegakkan amanah jangan lagi khianat. Dan, terakhir, sadarlah sebelum terlambat. Inilah pelajaran yang harus dipahami untuk selanjutnya diamalkan selamanya.
Sungguh Allah menyukai orang-orang yang kembali lagi (taubat) lantas berbuat kebaikan. Insya Allah dengan itu, Corona akan Allah hentikan.
*************
Bogor, 17 Maret 2020
Penulis: Ustadz Imam Nawawi
(Ketum Pemuda Hidayatullah)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)







































































