Di bawah kepemimpinan D.N. Aidit, PKI mencoba menghilangkan kesan buruk akibat peristiwa Madiun 1948 dengan memanfaatkan hak untuk tampil legal dalam konstelasi politik.
Pemilihan umum pertama tahun 1955, PKI memperoleh suara 39 kursi dari 157 kursi yang diperebutkan oleh organisasi politik perserta pemilihan umum. Hasil pemilihan umum tersebut menunjukkan bahwa pengikut komunisme di Indonesia pada tahun 1955 berjumlah sekitar 15 juta jiwa atau sekitar 15,2 persen dari seluruh rakyat Indonesia.
Pada tahun enam puluhan, keadaan perekonomian di Indonesia semakin memburuk, kehidupan rakyat semakin sulit. Kondisi ekonomi dan kehidupan masyarakat yang demikian, menjadi persemaian subur semakin melebarnya pengaruh PKI yang datang kepada buruh tani dengan janjian akan membagi tanah.
Pasca lahirnya Tiga Tuntutan Rakyat (TRITURA) yang salah satu isinya adalah tuntutan agar PKI dan organisasi-organisasi mantelnya dibubarkan dan dinyatakan terlarang di seluruh Indonesia kondisi semakin memburuk. Penyuaraan anti PKI meluas hampir ke seluruh Indonesia termaksud di Makassar dan sekitarnya.
Terjadi banyak aksi-aksi massa yang melakukan pengrusakan terhadap asset-aset bahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap berafiliasi kepada PKI. Sebut saja aksi pengrusakan rumah orang-orang Jawa di Balang Boddong Makassar dan penangkapan Aktivis pemuda Rakyat yaitu Aminuddin Patta Lolo.
Aksi kemudian terus menjalar ke daerah-daerah lain di Sul-Sel, Bone misalnya Andi Mappa ketua PKI, Igoo Garnida Heri Erianto sekjen PKI dan Kalwater ketua SOBSI Bone, keturunan Belanda, juga sebagai kalapas dibunuh oleh massa.
Di Bantaeng, juga terjadi pembunuhan terhadap M.Ali Yusuf ketua DPC PKI Bantaeng di dalam sel penjara. Ia dikeluarkan atas desakan anggota Muhammadiyah di bawah pimpinan Usman Maesar dan Suaib Naba. M Ali Yusuf dibawah ke depan masjid Raya Bantaeng lalu dibunuh oleh massa.
Seperti inilah sekilas gambaran sutuasi politik di awal tahun 60an, massa yang geram dengan tindakan-tindakan PKI melakukan serangkaian aksi.
APA PERAN KH. FATHUL MUIN DG MAGGADING MERESPON KONDISI INI?
Sebagai salah satu petinggi dalam kepengurusan Muhammadiyah Sulawesi Selatan, kiai melakukan respon cepat untuk menghadapi masalah yang sedang terjadi. Muhammadiyah secara keorganiasasian cepat merespon situasi dan kondisi yang berkembang saat itu, khususnya yang barkaitan dengan masalah gerakan PKI yang terus merajalela, maka Pengurus Komando Kesiapsiagaan dan Kewaspadaan Muhammadiyah (nama KOKAM sebelum diubah pada tahun 90an) dibentuk dengan tujuan membentengi generasi muda Indonesia khususnya Umat Islam dari pengaruh buruk PKI.
Angkatan pertama Pengurus Kokam diketuai oleh Abdul Kadir Sarro dan wakil M. Ja’far Tinri adapun Kokam Kotamadya Ujung Pandang yang menjadi pusat kegiatan operasi diketuai oleh Tajuddin Ibrahim. Dimana rumusan perjuangannya sederhana “Menghancurkan sampai lenyap Gespatu-PKI adalah termaksud ibadah”
Menurut berbagai informasi yang penulis kumpulkan bahwa KH. Fathul Muin dalam berbagai kesempatan melakukan pertemuan, pengarahan, dan konsolidasi bersama KOKAM memilih langkah-langkah strategis melenyapkan gerakan PKI di Sulawesi Selatan.
Usman Maesar sebagai tokoh penggayangan PKI di Bantaeng yang juga merupakan salah satu murid terdekat (sekretaris pribadi) KH. Fathul Muin menyampaikan kepada penulis bagaimana semangat KH. Fathul Muin menghadapi semua gerakan-gerakan PKI.
Sehingga pasca aksi di Bantaeng Usman Maesar diamankan pihak berwajib lalu diboyong ke penahanan di kota Makassar. Sesampai di Makassar orang pertama yang menjemput Usman Maesar ada KH, Fathul Muin Dg Maggading.
KH. Fathul Muin tidak hanya menggerakkan kalangan pria untuk memberikan sumbangsi terbaiknya menghalau laju dan gerakan PKI, Nasyatul Aisyiah (NA) yang berada dibawah komando kepemimpinannya ketika itu tidak ketinggalan.
Dalam Catatan laporan (1960-1967) Roslimah Wahid BA yang dinobatkan sebagai ketua NA ketika itu menuliskan:
“Dalam rangkan pengganjangan G30S, N.A, telah ikut mengambil bagian sebagai Dapur Umum bagi petugas yang menjaga R.B. St. Khadijah dan kompleks Jl. Muhammadiyah selama 15 hari.
Penggalan perjalanan sejarah ini menunjukkan bahwa masyarakat muslim Sul-Sel akan selalu berada di garda terdepan menjaga keutuhan NKRI dri serangan ideology PKI.
***********
Bersambung, Insya Allah..
Penulis: Ustadz Syandri Syaban, Lc., M.Ag
(Almuni Internasional Islamic University Islamabad Pakistan, Dosen STIBA Makassar dan Kontributor mujahiddakwah.com)
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































