Perlahan, tapi pasti agama Islam mulai berkembang di Abessinia, yang kini disebut Ethiopia. Namun, perkembangan itu tak berjalan mulus karena mendapat perlawanan dari kaum Nasrani yang tinggal di wilayah utara Ethiopia, seperti Amhara, Tigray, serta Oromo.
Sehari-hari, masyarakat Oromo sebenarnya mempraktikkan tradisi Waaqa yang dipengaruhi budaya Islam. Tapi nyatanya, mereka tak suka Islam berkembang di negeri itu. Mereka bahkan ingin sekali melenyapkan kaum Muslim dari Ethiopia. “Ekspansi yang dilakukan masyarakat Oromo selama berabad-abad di wilayah selatan Ethiopia bertujuan untuk menghapuskan Islam dari kawasan itu,” kata sejarawan Ulrich Braukamper.
Namun, upaya itu tak pernah berhasil. Hingga kini, Islam tetap eksis dan menjadi agama terbesar kedua di Ethiopia, setelah Nasrani. Sensus tahun 1994 menunjukkan, jumlah penduduk Muslim di Ethiopia mencapai 32,8 persen dari total populasi di negara itu. Umumnya, umat Islam berada di wilayah Afar, Oromo, Tigray, dan Gurage.
Sedangkan menurut sensus nasional 2007 terbaru, Islam adalah agama yang paling banyak dipraktikkan di Ethiopia setelah Kristen. Tercatat, pemeluk Islam di negeri ini mencapai lebih dari 25 juta (atau 33,9 persen) penduduk Ethiopia.
Di posisinya yang bukan mayoritas, umat Islam di Ethiopia pernah mencapai kegemilangan, yakni ketika mampu mendirikan kesultanan Muslim. Sejarah mencatat, ada beberapa kesultanan Muslim yang pernah berjaya di Ethiopia, di antaranya Kesultanan Adal, Kesultanan Aussa, Kesultanan Harar, Kesultanan Ifat, serta Kesultanan Shewa.
Namun, pada 1890-an, masa kejayaan itu mulai mencapai titik ujung. Posisi umat Islam kian terhimpit ketika Raja Yohanes IV mengeluarkan kebijakan untuk mengkristenkan Ethiopia. Akibat kebijakan yang dibarengi aksi kekerasan itu, banyak umat Islam yang terpaksa berpura-pura mengaku memeluk Nasrani. Siang hari jadi Nasrani, sementara malam hari beribadah secara Islam. Dalam Islam, prinsip ini disebut taqiah, yakni menyembunyikan keyakinan demi keselamatan.
Saat itu, Muslim yang tak mau menerapkan taqiah memilih angkat kaki atau hijrah ke tempat lain. Mereka membanjiri wilayah perbatasan menuju Hijaz. Namun, ada juga yang tak mau taqiah, tapi tetap tinggal di Ethiopia. Oleh penguasa, warga yang tetap menunjukkan jati diri keislamannya itu dicap sebagai pemberontak.
Belakangan, umat Islam dan ulama Ethiopia bangkit menolak perlakuan Raja Yohanes IV. Adalah Syaikh Ali Adam, ulama pertama yang angkat senjata melawan kebijakan penghapusan Islam dari Ethiopia. Ulama kharismatik itu memulai perjuangannya di Shawa. Bersama pengikutnya, dia dihadang tentara Raja Yohanes IV di Wahelo, sebelah barat laut danau Hayk. Di tempat ini, Syaikh Ali Adam dan pengikutnya gugur.
Patah tumbuh hilang berganti. Sepeninggal Syaikh Ali Adam muncul Thalha. Dia memimpin perlawanan terhadap aksi pemurtadan. Dia pula yang menentang perintah kepada umat Islam untuk membangun gereja. Kelompoknya juga berhasil mengalahkan pasukan Raja Yohanes yang dipimpin Ras Mikael. Pertumpahan darah ini tentu sangat disayangkan, mengingat negeri ini pernah dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai negeri kerukunan agama.
Bukan tanpa alasan jika Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Abessinia yang raja dan mayoritas rakyatnya memeluk Nasrani. “Rasulullah memilih Etiopia (Abessinia atau al-Habasyah) karena pada zaman itu, negeri tersebut masih menjalankan injil secara murni,” kata pakar hadis dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Ahmad Luthfi Fathullah.
Ia mengatakan, kelompok yang menjalankan injil secara murni akan terbuka dan mudah menerima Islam. Mereka juga dapat memahami sikap Rasulullah SAW dan kenabiannya. “Al-Habasyah adalah satu-satunya negeri pada zaman Rasulullah yang menjalankan injil secara murni. Berbeda dengan wilayah Nasrani yang sudah melenceng dari Injil seperti Romawi.”Dijelaskan Luthfi, pada masa hijrah pertama ini jumlah umat yang sudah memeluk Islam belum sampai 100 orang sehingga masih banyak wilayah menjadi kantong Nasrani.
Menurutnya, ada hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa hijrah yang pertama ini. Yakni, jika di suatu tempat kita berada dalam kondisi terdesak maka bisa pindah ke tempat lain. Jika suatu saat kondisi di tempat asal membaik, sebaiknya kita pulang.
Lutfi menganalogikan hal tersebut dengan orang menimba ilmu. Jika daerah asal tidak mendukung, dia bisa hijrah ke daerah lain yang lebih mendukung. “Jika sudah mendapatkan ilmu maka ia bisa kembali ke kampung halaman untuk membangun kampung halaman.”
Pada hijrah gelombang kedua ke Abessinia, jumlahnya sahabat yang ikut bertambah menjadi sekitar 80 orang. Nah, pada hijrah kedua ini, menurut Lutfi, sang raja yang beragama Nasrani akhirnya memeluk Islam. Karena itu, saat sang raja wafat, Rasulullah SAW yang berada di Madinah menyempatkan untuk melakukan shalat ghaib bagi jenazah Raja Najasyi.
Hijrah ke Etiopia ini, lanjut Luthfi, memberi pelajaran kepada para sahabat Nabi kala itu. Yakni, hijrah harus dilakukan dengan persiapan. Di antaranya harus memilih tempat yang bisa menerima kita. Sekadar contoh, para sahabat Rasulullah SAW pernah berupaya hijrah ke Thaif. Namun, upaya yang dilakukan setelah hijrah ke Etiopia ini menumbuk kegagalan dan penolakan.
Lain halnya dengan hijrah ke Madinah yang menuai sukses. “Hal itu lantaran melalui proses panjang. Rasulullah terlebih dahulu mengumpulkan pengikut di Madinah. Setelah ada sahabat yang bisa menerima Islam di Madinah, barulah Rasulullah dan sahabat hijrah ke sana.”
************
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel : www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)






































































