Alhamdulillah pada kesempatan ini kembali kita lanjutkan salah satu pembahasan yang sangat penting bagi setiap muslim utamanya bagi para penuntut ilmu. Pembahasan yang selalu menjadi perhatian besar di kalangan para ulama yakni pentingnya niat dan keikhlasan.
Sebagian besar para ulama dalam karya-karya dan kitab-kitab mereka selalu menyampaikan dibagian awal tentang perkara tersebut salah satunya terdapat dalam Kitab Arbain An-Nawawi. Sebab perkara ini adalah perkara yang sangat penting karena darinyalah kita akan meraih pahala dalam aktivitas ibadah kita atau tidak.
Para pemerhati hati telah mengetahui melalui bashirah iman dan cahaya Al-Qur’an bahwa kebahagiaan tidak akan diraih kecuali dengan ilmu dan ibadah. Semua orang celaka kecuali orang-orang yang mengetahui, semua orang yang mengetahui celaka kecuali orang-orang yang beramal, semua orang yang beramal celaka kecuali orang yang ikhlas dan orang-orang yang ikhlas pun dalam bahaya yang besar.
Amal tanpa niat hanya kelelahan dan kesia-siaan, niat tanpa ikhlas adalah riya’, ikhlas tanpa ilmu adalah bagaikan debu yang beterbangan. Allah Ta’ala berfirman:
Artinya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).
Begitu banyak dikalangan manusia yang mengangap remeh perkara tersebut, padahal ia adalah kunci setiap amalan itu akan meraih pahala atau sia-sia bagaikan debu yang beterbangan. Perkara butuh untuk di ilmu dan pelajari.
Bagaimana sebuah niat bisa lurus dari orang yang tidak mengetahui hakikat niat?
Atau bagaimana orang yang berusaha membenarkan niat bisa ikhlas bila dia tidak memahami hakikat ikhlas?
Dan bagaimana cara keduanya itu bisa diraih agar kita meraih pahala dari-Nya?
Maka salah satu tugas pertama atas diri setiap muslim yang ingin menaati, berkhidmah dan beribadah kepada Allah adalah hendaknya di mengetahui (berilmu tentang) niat, agar dia mendapatkan ilmunya kemudian meluruskannya dengan amal perbuatan.
Salah satu hadits masyuhur di tengah kaum muslimin adalah hadits dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiallahu anhu beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda:
Artinya: “Hanyasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itupun kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu untuk harta dunia yang hendak diperolehinya, ataupun untuk seorang wanita yang hendak dikawininya, maka hijrah-nyapun kepada sesuatu yang dimaksud dalam hijrahnya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Niat memiliki posisi terpenting dalam Islam. Karena penilaian sebuah perbuatan itu merupakan ibadah atau bukan, bergantung pada niatnya. Allah Ta’ala akan memberikan balasan atas sebuah perbuatan berdasarkan niat. Karena niat inilah yang memaknai sebuah perbuatan memiliki nilai atau justru tidak bernilai. Perbuatan manusia di dunia secara lahiriah tidak ada bedanya, tapi niat yang membuat nilai hakiki sebuah perbuatan berbeda dengan yang lainnya, bahkan terkadang ada perbuatan besar tapi tidak mendapatkan pahala sedangkan perbuatan yang kecil mendapatkan pahala yang besar, semua tergantung dari niatnya.
Haditsdi atas juga menjadi salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’I rahimahullah berkata: Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Imam Syafi’i rahimahullah berkata: Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata: Hadits ini merupakan sepertiga Islam.
Niat merupakan syarat layak diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena ingin meraih wajah Allah), apapun profesi kita, tukang becak, guru, mahasiswa, dosen dan utamanya para penuntut ilmu. Maka niatkanlah dalam hati apa yang kita kerjakan hanya untuk Allah Ta’ala semata.
Olehnya itu para salaf telah memberikan pesan yang sangat berharga bagi kita untuk senantiasa meluruskan niat dan memperbanyak niat dalam kebaikan, karena niat untum kebaikan akan meraih ganjaran pahala dari Allah subhanahu wata’ala.
Abu Imran al-Jauni rahimahullah berkata, “Para Malaikat naik membawa amal-amal, lalu Allah memanggil, ‘Buang buku catatan itu.’ Maka para malaikat berkata, ‘Wahai Rabb kami, dia berkata baik dan kami menulisnya di atasnya.’ Allah berfirman, ‘Dia tidak menginginkan Wajahku dengan amalnya.’ Lalu Allah memanggil dengan berfirman, ‘Tulislah untuk fulan begini dan begini’, dua kali. Malaikat berkata, ‘Ya Rabb dia belum melakukannya.’ Allah berfirman, ‘Dia sudah berniat melakukannya’.” (Lihat Mukhtasar Minhajul Qasidin, hal 665).
Umar bin al-Khattab radhiallahu anhu berkata, “Sebaik-baik amal adalah menunaikan apa-apa yang Allah fardhukan, menjaga diri dari apa yang Allah haramkan dan kebenaran niat untuk apa yang ada di sisi Allah.”
Sebagian dari mereka berkata, “Tunjukkan kepadaku sebuah amal yang akan senantiasa aku amalkan karena Allah.” Maka dikatakan kepadanya, “Niatkan kebaikan, karena dengan itu kamu senantiasa beramal walaupun tidak melakukan. Niat akan beramal walaupun tidak ada amal, karena barangsiapa berniat shalat malam lalu dia tidur, maka diitulis untuknya pahala niatnya sekalipun dia tidak melakukannya. Sebagaiman dalam hadits:
Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki menyisihkan waktu di malam hari untuk berdiri shalat, lalu dia tertiidur darinya, kecuali ditulis baginya pahala shalatnya, dan tidurnya adalah sedekah yang dianugerahkan untuknya (dari Tuhannya).” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Dalam perkara menuntut ilmu, niat adalah perkara yang sangat penting. Dia belajar apakah untuk meraih wajah Allah? Atau dia belajar untuk meraih harta dan kehidupan dunia?
Renungilah hadits dari Nabi sallallahu alaihi wasallam tentang bahayanya seorang pelajar dan penuntu ilmu yang niatnya untuk meraih kehidupan dunia dan kedudukan di kalangan manusia. Bahwa ia tidak akan mencium aroma syurga di akhirat kelak.
Artinya: “Barangsiapa yang belajar suatu ilmu yang seharusnya hanya dicari karena wajah Allah, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak akan mencium aroma syurga di Hari Kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Semoga ini menjadi renungan dan pelajaran bagi penuntut ilmu dan juga para orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya agar senantiasa memperhatikan dan menata dengan baik niat-niat dalam hati kita.
Karena sesungguhnya ilmu itu tidak akan bisa diraih secara sempurna tanpa niat yang luruh untuk mengharap wajah Allah. Sebagaimana nasehat Imam Syafi’I bahwa, “Ilmu tidak akan bisa diraih kecuali dengan mengharap wajah Allah.”
***********
Bersambung, Insya Allah…
Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd., M.Pd
(Penulis Buku, Aktivis Media Islam, Pimpinan Mujahid Dakwah Media, Pengurus Madani Institute dan Pembina Daar Al-Qalam)
Referensi: Buku Mukthasar Minhajul Qashidin, Kitab Adabul Alim Wal Mutaallim, Kitab Ta’lim Muta’allim, Kitab Ihya Ulumuddin, Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Bukhari, dan Kitab Hadits Lainnya.
Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…
Artikel: www.mujahiddakwah.com (Menebar Dakwah dengan Al-Qur’an dan Sunnah)








































































